Si Bocah dan Pesawat Terbang

PETANG tadi seorang bocah, yang memegang mainan pesawat plastik bercat hijau dengan tali pengikat, berusaha terbang melintasi jalan ubin di depan rumah. Mesin pesawat itu berdengung dari mulutnya, tidak mengarah pada satu tujuan sebagaimana kamu merencanakan perjalanan, tapi si bocah kembali berputar menyeret pesawatnya — yang sejak tadi menyaruk tanah — dari ujung ke ujung gang. Ayahnya, tapi kupikir kakeknya, menyetop lintasan si bocah untuk mengambil jas hujan yang dijemur di pagar rumah yang kutempati; dan, saat berbalik melenggang halaman yang dirimbuni pohonan rambutan, si bocah mengikutinya sembari terus menarik pesawat itu.

Tiba-tiba hujan, yang menderas sedari pagi dengan gelegarnya yang meninabobokan, turun kembali dengan cara sesulit kamu menduga kematian.

Petang pun menyelam dengan rautnya yang basah. Si bocah telah menghilang. Jalan kembali sepi. Dan seperti himne, suara jangkrik bersahutan dari sepetak tanah liar di belakang rumah yang gelap.

Duapuluh tahun dari sekarang si bocah takkan mengingat dia pernah terbang dalam angan-angan.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s