Sebuah Halte

Di jalan yang lurus itu ada sebuah halte. Pudar warna hijau termakan waktu, tersusun rangka yang sudah berkarat—mengingatkan pada usia Bapak—dan kesepian di antara riuh kendaraan; nasib malang dari kebutuhan para pelaju yang mengandalkan kehadirannya.

Satu demi satu, setiap hari, bus yang berhenti di halte itu menciumi penumpang, sapaan yang terasa aneh bagi yang berharap akan tiba yang tepat, ke suatu tujuan tanpa perlu bertemu dengan yang lambat. Di tengah klakson yang adu-gegas, pertemuan halte dan bus seakan kisah cinta yang kuno. Adakah yang lebih tua dari umur sebuah jalan?

Seorang ibu, yang setia menunggu di halte itu, mendengar dengung dalam kepala: suara anaknya yang menolak kisah lama; legenda yang pernah mengisi lagu-lagu masa kanaknya. Perubahan, kata si ibu dalam diam yang hiruk, tak pernah serumit ini. Kita semakin tua sementara anak-anak semakin dewasa.

Kota juga kian mengabaikan usia tua. Seseorang, yang kebetulan menjadi walikota, perlu membangun sebuah taman, dengan air mancur yang sulit dijelaskan sumbernya, penuh warna lampu di pohonan palsu.

Di sebuah halte, mendadak saja, bersitatap dan mengobrol demi menunggu bus yang akan membawa kita pulang, terasa seperti rutin yang asing. Alamat tujuan dan rumah pulang adalah kepastian. Di sesela itu ada rasa kantuk, semangat yang menyebar dalam dada saat tanggal muda, serta hubungan yang dekat antara jari dan telepon pintar..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s