Yang hilang [atau Luput] dari ‘Surat Panjang’

GambarADA PEREMPUAN, usia 41 tahun, tak banyak disebutkan personifikasi dirinya, masih menyimpan perasaan cinta pada teman lelaki masa kecilnya, tinggal di sebuah apartemen di Jakarta, bekerja sebagai wartawan, berada dalam pusaran peristiwa kejatuhan Suharto, penyendiri tulen, bacaannya berlimpah, kehidupannya dalam tegangan antara kecemasan tanpa akhir dan ketakpedulian tanpa kompromi. Ia menulis surat yang ia simpan sendiri dalam jurnal kepada yang ia harapkan cintanya itu sebelum kemudian ia meninggal karena menderita kanker paru-paru.

Surat-surat itu, berisi 37 notasi, mencatat beragam ingatan, pengetahuan, kenangan, kisah keluarga, mimpi buruk, romantisisme muda, humor gelap, monolog, lamunan keji—pendeknya, segala hal yang ingin ia bagi kepada pujaan hatinya. Namun isi surat bukanlah suatu perjalanan yang lempang, ia lebih suatu sketsa, atau kepingan-kepingan cerita tanpa alur, kecuali keseluruhan surat itu sendiri dibaca sebagai satu alur tunggal. Dan mengingat teman-masa-kecil-yang-selalu-ia-puja itu takkan pernah ia gapai lagi, bahkan dalam mimpi, ia membikin garis rentang berupa metafora puitis tapi menyedihkan terhadap surat-surat itu sebagai “jarak jutaan tahun cahaya”. Suatu jarak “yang tak akan dapat ditempuh dalam usia kita sebagai manusia.”

Dewi Kharisma Michellia, yang menulis kisah itu (perlu juga menambahi catatan di sini bahwa usianya baru 22 tahun), menggarap cerita berbentuk surat ini (disebut novel epistolary) dalam kepadatan yang nyaris bikin sesak. Tiada jeda yang dapat menengahi badan cerita yang merayap bak selimut malam itu. Kendati begitu, imajinasinya bersayap, suatu hal yang boleh jadi memberi peluang menjanjikan pada karya (-karya) berikutnya, tapi juga tak pelak membuat kita (pembaca) perlu sangat sabar mengikuti arus cerita tanpa putus. Dan dalam hal ini (ada baiknya) ia perlu selalu (diingatkan) mengekang-diri pada prinsip “teori gunung es”-Hemingway; bawah segalanya tak perlu dilisankan eksplisit, bahwa ruang berpikir perlu diberi tempat bagi pembaca.

Nyaris segala tokoh cerita tak dibubuhi nama, yang memang diniatkan oleh pengarang, hanya diberi atribusi. Teman lelaki masa kecilnya itu ia tulis ‘Tuan Alien’; ia mendapat surat undangan pernikahan setelah sangat lama tak saling kabar bahwa si Alien akan menikahi perempuan (seorang pengarang terkenal), dan dari situlah ada “kehendak bebas”—atau boleh kita sebut angan-angan—yang bikin si tokoh utama (perempuan yang berumur sangat dewasa) menuliskan surat (tapi kemudian urung dikirimkan); ia berkenalan dengan “Tuan Pemilik Tokobuku”, lelaki gay dari Prancis yang menikah dengan lelaki kelahiran Belanda, dan mereka mengadopsi anak lelaki sebelum pasangannya itu mati, mewarisi koleksi buku dan kontak rekan melimpah di luar negeri, dan kelak warisan itu dipakai usaha mendirikan tokobuku, selain kegemarannya memasak bak koki dengan referensi sempurna. Tokoh lain: seorang seniman yang sempat menjalin asmara (agaknya bukan jenis hubungan didorong birahi tapi pertautan intelektual macam Beauvoir dan Sartre), serta “Nyonya Pemred” yang sebagian ceritanya mirip tokoh utama: kolega kerja yang menikah usia 40-an dengan atasannya si pemimpin redaksi setelah ditinggal mati istrinya. Selebihnya, jenis orang yang berpapasan di jalan untuk gula-gula cerita, selain anggota keluarga yang memberi fondasi novel ini.

Orangtuanya—ibu yang dokter psikiatri, ayah yang peneliti lantas jadi birokrat (-cum-politisi tapi keburu mati)—menjelaskan struktur psikologis si tokoh utama. Ibunya dari keluarga ningrat dari Bima, sebaliknya ayahnya dari Bali. Keduanya beda agama meski adat lah yang jadi celah konflik antara keluarga besar, yang menginginkan anak lelaki—bukan ketiga-tiganya perempuan, suatu konsep patrilineal yang memengaruhi pengabaian terhadap anak terakhirnya (si tokoh utama) yang diharapkan lahir seorang putra tapi justru “punya lubang”. Si Ibu dekat dengan kedua anak pertamanya, sementara si Ayah lebih dekat dengan putri bungsu. Jalin-menjalin melalui narasi pengucilan, anak-kandung-yang-menyimpan-lubang-kosong-bernama-pulang, solilokui (untuk alasan khusus, saya lebih suka menyebutnya desolate) menjelajahi batin tokoh utama. Kelak, pada sisi yang seluruhnya gelap, ia membayangkan ada sosok Ayah-yang-Lain menjelang ia meninggal, yang bisa bikin kematiannya tenang dan lapang.

*

Bila ada yang hilang, atau luput dari novel ini, yang sekiranya bisa memberi preferensi untuk sekuelnya (saya berharap demikian), sebagai catatan tanda sayang, tentu saja saya akan berpaling pada sejarah 1965-1966. Betapapun sudah banyak karya sastra yang menuliskan tentang tema itu (dari sisi korban hingga sisi jagal), pengarang hanya menyebut sekali kejadian terkait pembunuhan besar-besaran itu terhadap satu generasi terbaik di Indonesia (lihat, “Surat Ke-7”). Itu saat kakak keduanya lahir pada 1965, jeda dua tahun dari kakak pertamanya, dan si tokoh utama lahir pada 1967. Mereka saat itu tinggal di Bali, pada 1965 kedua kakaknya dititipkan keluarga ibunya ke Bima. Sesekilas itu.

Di Bali, kini sudah banyak yang menuliskan pusaran politik yang mendalam dan mencacah sesama anggota keluarga itu, peristiwa tersebut menewaskan 80.000 orang atau sekitar 5 persen penduduknya tewas. Saya kira dengan jumlah sebesar itu (belum ada bandingannya dari skala dan durasi), pengarang fiksi yang merujuk konteks Bali (kendati hanya diperlakukan sebatas latar atau peristiwa sekilas) perlu memberi ruang fiksi lebih besar untuknya. Dengan kata lain, ruang fiksi itu pun memberi peluang psikologis bagi tokoh-tokoh fiksinya.

Catatan tambahan adalah sesuatu yang membuka celah anakronisme: keterangan fiksi yang bertentangan dengan logikanya sendiri.

Misalnya, anak adopsi dari pasangan gay (yang agaknya kosmopolit), bagaimana mungkin ia belum pandai membaca tulisan bahasa Inggris sementara orangtua angkatnya itu (mau-tak-mau) dibayangkan sebagai para pelintas benua? Saya kira pengajaran sejak dini bagi mereka adalah perkara krusial, thus semestinya—kecuali bila hendak melawan logika umum—si anak adopsi sudah diajarkan bicara bahasa Inggris, bahkan mungkin membaca dan menulis, dan komunikasi antara ketiga individu beda bahasa-ibu itu menjadi pijakan penting dalam hubungan segitiga keluarga tersebut.

Perkara lain ialah deret hitung, dan logika-sejarah yang menyertainya. Hingga 2008, tokoh utama bekerja wartawan selama 12 tahun terakhir, artinya ia bekerja sejak 1996, namun dalam satu cerita si tokoh utama terlibat dalam momen pembicaraan krusial yang menyinggung tahun 1994 saat pembredelan ketiga media, suatu momen yang jadi titik balik militansi perlawanan, bukannya mengendur, terhadap rezim Suharto (lihat, Surat Ke-5)—koreksi  bila taksiran saya keliru.

Terakhir, kembali ke “teori gunung es”, dan sesuatu yang membuat saya meringis pada perkembangan sastra Indonesia belakangan ini—yang tergelincir jadi kitab motivasional alih-alih membuka kemungkinan-kemungkinan—bahwa kadar fiksi semestinya lebih pintar dari si empunya penulis.

Saya belum yakin si tokoh utama, yang tinggal di apartemen, terus-menerus menonton tayangan televisi ala Jakarta. Semestinya (dengan uang yang bukan lagi penghalang) ia juga langganan televisi kabel, dan mestinya ia bisa menikmati tontonan dari saluran luar negeri. Dan karena ia wartawan, penyosokan pada dirinya bisa dimainkan bahwa ia juga pelahap siaran berita CNNAl Jazeera dll, dan hal itu bisa dipakai untuk misalnya mengabarkan peristiwa-peristiwa genting dari seberang lautan, katakanlah ada Musim Semi Arab yang sekilas mengingatkannya pada Musim Semi Praha-nya Kundera (si tokoh utama menyinggung nama pengarang Ceko itu). Namun, di atas itu, suara pengarang (Segala Yang Diketahuinya sebagai Tuhan adalah Mesin) bisa sedikit diminorkan, dikecilkan hingga nyaris sebagai bisikan, dan biarlah tokoh-tokoh itu memiliki nadanya sendiri, barangkali berupa poliponik.

Saya mengharapkan sungguh Michellia membawa suara itu ke dalam sekuel novel berikutnya, sebagaimana seruan Kundera dalam Art of Novel, yang mendeklamasikan diri sebagai Janacekian: bersihkan novel dari otomatisme teknik novelistik, dari verbalisme novelistik; padatkan.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s