Pulang

LEBARAN tahun ini tak biasanya saya tak semangat mudik. Biasanya saya akan mengosongkan satu minggu sebelum dan sesudah Lebaran di rumah. Mungkin karena saya sudah menikah. Mungkin jika kelak kita sudah punya anak, kataku pada istri (kami masih canggung menyebut sapaan ini sebagaimana ia menyebutku suami), lebaran artinya berkunjung ke rumah kakek-nenek (semoga Tuhan memberi mereka umur panjang). Bila akhirnya anda tahu sesuatu yang disebut “rumah”, perjalanan pulang (ke kampung halaman) beralih makna jadi pergi.

Kemarin Emak bilang adalah lumrah bila kita sudah menikah akan menemukan alasan untuk tidak pulang. Tapi saya tahu, dalam jalinan janin bayi yang pernah lahir dari rahimnya, Emak merindukan anak-anaknya. Saya akan pulang menjenguk Emak sesudah lebaran, kataku. Sesungguhnya saya khawatir mengenai kondisinya. Berobat kesana-kemari, gonta-ganti dokter hingga sakitnya kian membaik, kabar dari Mbak saya, Emak bilang ia ingin segera sembuh. Mas juga sebelum hari lahirnya (saya belakangan tahu dari pesan pengingat di Facebok) mengatakan ada baiknya saya meluangkan waktu menengok Emak. Mas sudah dua kali, katanya. Bapak juga sempat jatuh, kata Mbak, tapi baik-baik saja, syukurlah. Kasihan Bapak, kata Mbak dalam percakapan terakhir, ia mengurus Emak selama bulan puasa. Kak Tasrif juga dalam keinginan yang meluap. Sakitnya gampang kambuh. Kok ramai sekali? Emak bilang lewat telepon, Suara anak-anak, mereka sudah pulang. Emak menjawab seraya tawa sederhana. Pasti di rumah ramai dengan mereka, batin saya. Mereka akan main playstation hingga malam. Saya takkan bisa tenang. Tapi Kak Tasrif mendapatkan hiburan. Ia lupa sejenak atas keinginannya yang memuncak. Sakitnya bisa mereda dan stabil.

Bahkan dalam keadaan setelah menikah, jalinan itu akan selalu terhubung, dan jauh lebih kuat. Seorang sahabat mengabarkan Papanya meninggal. Ia bilang ia takkan sama lagi. Dua tahun lalu saya menghadapi kepergian orang terdekat, hal pertama dalam hidup saya. Pada lebaran tahun lalu Emak tersedu. Saat saya sungkem di atas pelaminan, tatkala Emak duduk di kursi, airmatanya memburai. Aku ingat kakakmu, kata Emak. Dalam detik yang berdebar, saya juga melihat mata istri kakak yang sembab.

Saya memapah Emak dan Bapak sewaktu berjalan ke rumah mempelai. Jempol kakinya bengkak, dipoles dengan perban, dan ia hanya bisa memakai sandal jepit. Ia kesulitan. Saya memasangkan sandal jepit ke kakinya. Saya tak tahu apa yang dipikirkannya. Saat pulang terakhir sewaktu ia merayakan pernikahan saya, Emak sibuk dengan tamu-tamu undangan. Kami sedikit berbincang. Sewaktu pamit saya melihatnya kian tua. Barangkali ia terus mengenang putranya yang meninggal. Kesehatannya menurun sejak itu.

Mungkin saja pulang artinya menemukan tahun-tahun yang hilang.*

Iklan

2 pemikiran pada “Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s