Naskah Papua dan Saya: sekilas pengungkapan

SUDAH lama sekali saya tak menulis naskah panjang. Terakhir, jika memang ia disebut demikian, itu dua tahun lalu mengenai tiga korban tewas dari muslim Ahmadiyah di Cikeusik, Banten. Naskah pertama, yang lebih pendek, tampaknya bisa memuaskan. Naskah kedua, agaknya, kurang berhasil, terutama dengan cara saya menyampaikan kisah itu dari ingatan orang-orang di seputar almarhum. Namun, begitulah, jika kita menulis, anda memang perlu siap menerima kegagalan.

Dan kemarin saya merampungkan tulisan tentang Papua.

Itu adalah cerita mengenai diri saya sendiri, sebetulnya. Liputannya telah saya lakukan setahun lalu. Saya mengunjungi kota Merauke selama tiga minggu, kota di ujung timur Indonesia, yang dikenal sebagian besar warga Indonesia karena satu lagu sekolah yang membayangkan bahwa “Indonesia terdiri pulau-pulau, dari Sabang sampai Merauke, tapi satu-kesatuan.” Di sana juga ada sebuah jalan bernama Sabang.

Saya lantas melanjutkan perjalanan ke Jayapura dan bertemu dengan para tapol Papua di Lapas Abepura. Saat tercenung di sebuah wisma penginapan, dekat Uncen, saya mendapat kabar dari keluarga bahwa kakak saya sakit parah. Saya menyadari kemudian, berhari-hari selanjutnya, saya menghadapi kematian orang terdekat.

Demikianlah. Bulan-bulan berlanjut. Saya ambil pekerjaan ini-itu, sesungguhnya tak kemana-mana, menerjemahkan dan menyunting laporan terjemahan, selain pada akhir tahun lalu pergi ke Ternate. Pada awal tahun, saya memutuskan pindah ke Jogja. Enam bulan kemudian saya menikah. Pada dua bulan berikutnya, selang-seling dengan pekerjaan-yang-membutuhkan-uang-cepat, saya berusaha menyelesaikan liputan Papua seraya mendengarkan kabar Emak yang sakit.

Tapi, syukurlah, selama dua minggu terakhir, saya berkutat pada laporan yang saya kumpulkan selama setahun belakangan, membaca lagi dan lagi puluhan makalah, berbagai artikel, yang terkait liputan saya. Pada akhirnya, saya mengirimkan naskah itu sepanjang 9.500 kata (belum disunting). Ia padat dengan sejarah, sebagian menengok sejarah politik Papua dari 1961 hingga kini. Sebagian cerita bertumpu pada tahun-tahun menentukan, tapi bagian paling dramatis, yang mengubah peta kekerasan di Papua kini yang bertolak dari sejumlah kebijakan pemerintah Jakarta pasca-Orde Baru.

Ketika menulis, saya membayangkan audiens naskah tersebut adalah non-Papua, seperti saya.

Bagaimanapun Papua adalah wilayah paling tertutup, paling termiliterisasi, paling sulit dipahami oleh sebagian besar orang Indonesia. Tentu saja, menulis Papua, dengan kata lain, menulis ekspresi merdeka.

Sembari membereskan meja kerja, menaruh buku-buku dan kertas-kertas laporan ke laci, merapikan seisi rumah, saya bertanya-tanya, “Apakah naskahnya sendiri akan berhasil, atau justru gagal?”

Saya berharap naskah itu bisa dibaca selain-saya dalam waktu dekat.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s