Eliza Sommers dan keberuntungan itu

SETELAH rehat dari menulis fiksi selama delapan tahun, tapi dihabiskan untuk menulis dua memoar dalam rentang itu, Isabel Allende pada 1999 menerbitkkan kembali novel yang mengisahkan sejarah keluarga kelas menengah di Cile, Daughter of Fortune, yang nafasnya setarikan dengan dua novel lain: karya perdana dia berjudul Rumah Arwah (1982) dan Potret Warna Sepia (2000); keduanya diterjemahkan Ronny Agustinus dan ketiga novel terjemahan itu diterbitkan Gramedia. Putri Keberuntungan, yang edisi terjemahannya muncul lebih dulu pada 2009 (dan beda penerjemah), adalah awal mula penuturan cerita itu, yang bertolak pada abad ke-19. Allende menempatkan kota pelabuhan Valparaiso sebagai lokasi cerita dan keluarga imigran dari Inggris sebagai profil tuturan. Tak bisa tidak, visi Allende mengenai sejarah, kosmopolitanisme, perjuangan kelas, peperangan, dan ide-ide serta peristiwa besar hingga merentang jauh pada kudeta militer Pinochet pada 1970-an, sekaligus pandangannya mengenai perempuan, menjadi suara majemuk dalam kisah ketiga novel tersebut, dan pelbagai kecamuk itu berhulu dari sosok-sosok perempuan sebagai tokoh utama fiksinya.

Eliza Sommers, dalam novel ini, adalah bayi yang ditemukan nyaris mati di dekat rumah oleh Miss Rose; pribadinya dibentuk dari rutinitas ketat Miss Rose dan kebebasan di ruang dapur pembantu Mama Fresia. Jeremy, yang menjalankan roda bisnis keluarga lewat Perusahaan Ekspor dan Import, berpandangan konservatif. Tujuannya pergi dari London untuk memadamkan perilaku Rose, yang dianggap bikin aib keluarga setelah menjalani kisah asmara memabukkan di tengah masyarakat puritan Victorian yang aristokrat tapi lapuk. Sebaliknya, John Sommers, kapten kapal yang membawa keceriaan dengan cerita-ceritanya di belahan dunia lain dengan spontanitasnya. Namun pondasi keluarga ini bersandar pada rahasia. Kelak, saat Jeremy diberitahu bahwa Eliza adalah anaknya John, mereka sudah terlalu terlambat ketika Eliza tengah mencari kekasihnya ke San Francisco yang menarik ratusan ribu pemuda di tengah demam emas.

Eliza ditemani Tao Chi’en, tabib yang mengenalkan praktik medis akupuntur tapi terjebak dalam perjalanan sebagai koki. Mereka seterusnya berada dalam pusaran masa lalu yang nelangsa dan masa depan yang pelan-pelan tersingkap saat menyadari ada “sesuatu yang jauh lebih rumit dan lebih mengagumkan daripada persahabatan lama.” Eliza menemukan dirinya menjadi sosok yang baru, yang diliputi angin kebebasan, suatu perjalanan yang meski menderita tapi jauh lebih mendewasakan ketimbang terkurung di rumah besar Sommers. Nantinya, cucu perempuan dari pasangan beda ras ini jadi sandaran kisah Allende dalam novel Sepia.

Isabel Allende menerjemahkan paparan sejarah ke dalam beragam sudut penceritaan. Itu adalah bentuk strateginya, membagi sepuluh tahun kurun ruang psikologis tokoh-tokohnya ke dalam tiga rentang waktu, dan nuansa feminisme dan gairah hidup penulisnya sungguh kental dari cerminan Eliza. Bakat alami yang sederhana dari Eliza, yakni ingatan dan penciuman, jadi rangsangan penyelamatnya di tengah kerumunan perangai manusia yang tamak, bunuh-bunuhan, korup, culas, dan sebagainya. Pendek kata, itu adalah sisi anggun dari kemanusiaan.

Saya membaca  novel ini bukan karena terlambat, dan (memang terlepas nasib sastra di sini selalu terlambat dari akses sastra dunia), tapi dalam satu perjalanan bertahun lalu, novel ini hilang di kereta saat saya turun di Jogja. Lalu terbit Rumah Arwah, lantas Potret Warna Sepia, dan selanjutnya—saat sekilas menatap novel ini dua bulan lalu di tumpukan buku sebuah tokobuku di pusat kota—saya tahu saya akan mengambilnya nanti karena ironisnya, novel yang bagus dari segi kritik dan kualitas amatlah jarang dilahap oleh sebagian besar konsumen yang digerakkan oleh rezim tren penghamba best-seller.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s