Tamaru dalam 1Q84

Saya tak pandai membaca karya fiksi dengan teks Inggris, dan karena itu, saya hanya membaca Murakami lewat terjemahan, selain saya punya dua karya nonfiksinya. Dalam enam bulan terakhir 2013, novel terbarunya diterjemahkan, satu hal yang membuat dunia masih baik-baik saja. Setidaknya di dunia yang krisis dan dihuni 7 milyar manusia ini, ia masih memiliki satu bulan.

Sudah banyak yang bilang Murakami tak mestinya menulis novel ini hinggal tebalnya lebih dari seribu halaman. Terlalu banyak adegan yang diulang-ulang, dan bahkan jika kita ambil satu jarum dari tumpukan jerami, ada bagian otonom sebagai cerpen yang solid—The New Yorker melakukannya. Dibandingkan Kafka on the Shore, 1Q84 terlihat upaya yang tampak terlalu lama dan mubazir bagi Murakami untuk membuat sebuah novel gigantis selama lima tahun. 

Saya takkan mengulangi hal sama. Dengan dua tokoh utama, Kawana Tengo dan Aomame, atau mereka mengambil sebagian besar sudut tuturan novel ini, saya justru tertarik pada peran Tamaru, pesuruh dan perantara Madam dalam komunikasi dengan Aomame. Peran itu menjadi logis dalam kenyataan fiksi 1Q84, sekaligus juga eksposisinya bisa ditempatkan sebagai Murakami sendiri.

Lewat Tamaru, Murakami memberi berbagai rujukan sastra maupun filsafat, termasuk pada karya Anton Chekov dan Marcel Proust. Tamaru pula yang membunuh Ushikawa, satu sudut penceritaan lain yang muncul dalam jilid 3, si jahat yang berusaha memisahkan Tengo dan Aomame. Ketika menghabisi nyawa Ushikawa itu, Tamaru lebih dulu mengisahkan filsuf Carl Jung. Tamaru pula yang menekankan prinsip cerita Chekhov.

Boleh jadi Tamaru (atau Murakami) sedang memperolok dirinya. Karena itu adegan berulang-ulang dalam 1Q84 adalah sesuatu yang memang dibuat secara sadar (tentu saja!), ia menjungkirbalikkan prinsip Chekhov, ia membunuh Ushikawa, tak ada pistol yang ditembakkan, dan Aomame menuntun Tengo ke dunia yang memiliki satu bulan.

Ingat pula Murakami sebal minta ampun pada dua nobelis sastra Jepang sebelumnya. Cerita-ceritanya, yang menjadi proyek dari penolakan tradisi literatur Kawabata dan Kenzaburo Oe, menghadirkan kultur Jepang yang kontemporer.

Apa yang kacau dan berantakan di dunia ini bukanlah sesuatu yang asing, melainkan ia jadi bagian dari keseharian kita. Dan hal yang tak logis lebih sering kita dengar dan saksikan sebagaimana dua bulan dalam 1Q84.

Dalam kalimat Tamaru:

“Sekarang sudah dekat akhir abad ke-20. Keadaan sudah beda dari masa Chekhov. Tak ada dokar, tak ada wanita pakai korset. Entah bagaimana, dunia selamat dari Nazi, bom atom dan musik modern. Cara menulis novel pun sudah berubah drastis.” (Jilid 3,  1Q84, 492-3).

Pendek kata, 1Q84 melanjutkan tekanan Murakami dalam novel-novelnya yang lain bahwa krisis adalah bagian dari kita. Orang Kecil sesungguhnya lebih menakutkan ketimbang Bung Besar-nya Orwell.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s