Kucing, Pekerjaan Rumah, dan Bacaan

Sejumlah bacaan untuk naskah tentang Aceh
Sejumlah bacaan untuk naskah tentang Aceh

SAYA dikejutkan pada akhir tahun lalu, empat kucing di rumah meninggal akibat virus mematikan dalam sepekan. Itu juga pelajaran yang kelak menjadi bekal bagi kami: bagaimana merawat kucing-kucing kampung yang kadung datang ke kehidupan kami, bahkan ketika pada awalnya hanya dari kehilangan ikan banjar goreng di dapur, disantap dengan sentosa dalam lambung si kucing yang, seperti umumnya kucing, tak menunjukkan rona muka bersalah kemudian.

Dan cerita setelahnya bukanlah sejarah, tapi saat ini.

Ada rengekan saban pagi dan petang untuk jadwal makan. Malam-malam, ketika terjangan birahi membadai dari si kucing, ada ngeong memekakkan di sembarang tempat yang tidak romantis amat: di tepi dinding sumur, di atas genteng, di lorong gelap. Pada bulan puasa tahun lalu menjelang Lebaran, ia melahirkan, dengan tiga anak; satu jantan, dua betina. Kami meninggalkan mereka dengan makanan yang cukup untuk tiga hari saat mudik. Pada pertengahan Agustus, ketika saya di Aceh, mereka sudah bisa bermain di luar dan mulai memiliki nama. Kami juga mendapatkan dua ekor tambahan sebagai adopsi, yang kami kira sementara tapi justru selamanya. Sampai musim hujan yang tiba pada akhir tahun, musim buruk yang menewaskan banyak kucing (demikian menurut dokter hewan keliling), membuat mereka terserang epidemi. Kami masih baru dalam merawat, dan hal ini jadi keteledoran utama dari kematian mereka, ketika dokter hanya berani memeriksa dua kucing yang sudah dalam keadaan menjemput maut. Itu virus yg terkenal yang melumpuhkan kesehatan kucing seketika. Besoknya, dan nyaris selama sepekan, kami mengubur satu demi satu kucing di satu kebun di depan rumah. Serangan itu hanya menyisakan satu ekor jantan, dan si induk betina pun selamat.

Pada pergantian tahun, kami memutuskan pindah.

Di tempat baru kami cepat menjaga si kitten jantan dalam keadaan yang pendiam, barangkali sedih, barangkali pula tengah melawan virus yang gagal membunuhnya. Terbiasa dikelilingi banyak kucing, dan merasa si jantan mungkin juga kesepian, pada satu malam, saya membawa seekor anak kucing betina yang satu kakinya terluka, lagi-lagi datang begitu saja di tengah obrolan saya dan teman-teman di sebuah pendopo. Ia kemudian bisa berjalan normal dan mulai bermain dengan si jantan yang selamat. Ada bonus tambahan, lagi-lagi, si induk betina melahirkan lagi. Kemudian, seekor kucing betina di kampung tempat kami tinggal sering datang ke rumah dan, mau tidak mau, ia pun kami adopsi. Lalu ada rintihan dari seekor bayi kucing yang dibuang di sebuah petak kosong di tepi jalan, yang suaranya terdengar dari rumah kami, pada malam buta. Ia kelak mengalami luka pada satu matanya, dan ia mendapatkan asupan susu dari si induk betina. Kini kami memiliki delapan ekor kucing sembari mengendalikan populasi mereka. Bulan ini ada dua betina yang akan kami bawa untuk disteril lewat satu perkumpulan pecinta kucing lokal sesudah dua kucing lain sudah dipadamkan birahinya secara medis.

Kucing-kucing, anda tahu, menyimpan jalinan perasaan yang adiktif. Mereka makhluk egosentris, memandang diri mereka sebagai majikan sekaligus, mengutip Murakami, “makhluk kecil yang lemah dan mudah terluka.” Sekali anda merawat, anda sulit melepasnya.

Tetapi, pada saat bersamaan, saya masih membawa pekerjaan dari tahun lalu. Pelan dan sangat pelan, pada akhirnya, saya bisa menyelesaikannya pada bulan lalu, sehimpun naskah dari riset saya di Aceh. Dan itu adalah proses belajar bagi saya pribadi, secara pemikiran, sebab ada banyak buku yang saya baca, ada sebagian laporan di sebagian jurnal yang perlu bagi saya untuk membacanya dengan penuh sabar. Ia akan terbit pada pertengahan tahun ini.

Meski begitu, ada selalu kesempatan lain untuk mencuri waktu guna membuka buku yang berminat, dengan sukarela, untuk saya baca. Ada buku narasi nonfiksi terjemahan: Negeri Fast Food karangan Eric Schlosser, wartawan Atlantic Monthly, dicetak ulang Insist lewat ‘print on demand’; dan yang kedua, The Lost City of Z (Gramedia, 2015) karangan David Grann, wartawan The New Yorker. Pada satu malam saya juga membaca sekumpulan cerita pendek terbaru dari Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Bentang Pustaka, 2015). Saya mungkin akan mengulas buku-buku yang sudah selesai saya baca, kendati kadang itu seringnya saya abaikan.

Ketiganya—kucing, pekerjaan menulis dan menyunting, membaca—bermuara pada satu tempat: rumah.

Tahun lalu: ada dua buku yang saya ikut terlibat di dalamnya, sebagai penyunting dan penulis. Tahun ini, untuk sementara, ada satu buku yang akan terbit. Mungkin ada sejumlah lain yang menyusul. Tahun ini pula saya telah menimbang beberapa isu, juga sejumlah profil, yang akan saya pilih salah satunya untuk saya lakukan liputan, satu kesenangan yang terakhir saya jalani tiga tahun lalu. Tentu saja, saya harus menyelesaikan sejumlah deadline lain.

Imbasnya pula, jurnal pribadi ini tambah sepi sonder disapa.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s