Bersenang-senang dengan Raden Mandasia

Raden Mandasia & Singa Tertawa
Raden Mandasia (2016) digarap Yusi Avianto Pareanom sebagai selingan, tapi jadi keterusan, di tengah penulisan novel yang lain. Di sampingnya adalah kumpulan cerita Rumah Kopi Singa Tertawa (2011), keduanya diterbitkan Banana. Kesamaan keduanya:  rigorous, teliti dalam struktur, dan segar dalam mengantarkan cerita.

BILA efek dongeng bisa menawarkan kamu sejenak keluar dari rutinitas, dan kisah petulangan menyeretmu masuk ke dalam motif dari satu (atau sejumlah) tindakan, maka Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi jelaslah pilihan yang mesti kamu baca. Fiksi jenis ini juga memberimu keasyikan lain:  Surgawi lidah, pengalaman erotis, ilmu pertukangan dan pelayaran, permainan logika, ensiklopedia soal tanaman dan bermacam jenis burung. Dan karena ini adalah kisah tempo dulu (saya kurang tahu persisnya kapan, tapi kita dipersilakan menerka belaka), ia juga dilumuri sekuens pertarungan atau adegan kekerasan.

Cerita besarnya: seorang anak muda di usia paling bergairahnya dipaksa minggat dari rumah, dan sambil membawa dendam, ia menjalani petualangan ke negeri-negeri jauh, lalu pulang dengan amarah yang telah pulih. Kita menghadapi dongeng dengan manusia-manusianya yang lugu, lucu, jatmika, sekaligus keropos. Penulisnya, (saya menyebutnya “Paman Wimba” merujuk salah satu tokoh selintas tapi berperan maksimal sebagaimana seluruh karakter lain) yang enggak takut miskin saking pemurahnya, menghadiahi kita seluruh pengalaman hidup manusia.

Dongeng ini juga, demi dewa-dewa yang hidup di masanya, menghindari frasa paling klise sejak kita mengenal cerita silat dan para pendekarnya: berkelebat. Saking murahnya frasa macam itu, Anda takkan menemukannya. Kita justru mendapati beragam umpatan yang aduhai. Karena kisah-kisah di dalamnya nyaris mengisi separuh Bumi, kita menemukan artikulasi cerita yang begitu teliti pada perihal yang sebagian besar dari kita tak mengetahuinya, atau melewatkan begitu saja, dan menyadari sesudahnya menjadi pengalaman baca yang mengasyikkan. Sebagaimana dongeng, ia lentur pada imajinasi, dan strateginya menyamarkan rujukan membuat dongeng yang obsesif pada catatan kaki sejarah terlihat mubazir belaka.

Saya tidak tahu sejak kapan orang memakai cerita demi motivasi (Anda bisa baca Sang Alkemis-nya Coelho—yah, itu satu-satunya karya Coelho yang saya baca), atau latar sejarah sebagai roman (sebut apa saja di sini, salah satunya Arus Balik-nya Pram). Tapi Raden Mandasia lain dari kategori macam di atas. Ini adalah satu jalan memutar: legenda yang hidup bersama dongeng dan mitos didekati oleh pengarangnya dengan acuan baru.

Yang baru itu bisa apa saja, tapi yang menonjol adalah cara penceritaannya. Ia melenyapkan jejak pembingkaian dan pembabakan yang episodik khas suatu babad, dan faktor terpenting lain—yakni bahasa—menjadi jembatan untuk mengocok nunsa serba-mutakhir dan serba-arkaik. Dengan tetap memakai sebutan semisal “sepelemparan tombak” untuk jarak serta perhitungan musim dan pergerakan matahari sebagai ukuran waktu, kita tetap terikat pada kisah lawas.

Dan, memanglah, pilihan atas pendekatan itu menjadi daya kejut yang lengkap di kalimat pungkas. Si pemuda desa Sungu Lembu, karakter utama yang mengisi dongeng 488 halaman ini menulis, bahwa upayanya mengisahkan perjalanannya, sebagai saksi atas kebangkitan dan keruntuhan kerajaan besar, dengan versi yang dia karang manasuka ini adalah suatu pilihan yang sengaja. Sebab, demikian dia menulis, bila dia jadi memakai judul ceritanya sebagai Babad Tanah Jawa, maka dia yakin itu akan bikin gusar banyak orang.

Penyamaran rujukan dan pendekatan baru itu jelaslah memiliki keuntungan berganda untuk dongeng ini: sangat terbuka dibaca oleh anak-anak muda, dan unsur main-mainnya membebaskan kita untuk bersenang-senang atas mitos, sejarah, maupun legenda.

Bila Arus Balik-nya Pram (dua kali lipat ketebalannya dari Raden Mandasia) adalah upaya eksesif pengarangnya atas bangunan kesadaran Nusantara, yang kental dengan epos heroisme pemuda desa bernama Wiranggaleng, maka Raden Mandasia adalah suaka yang menempatkan dongeng sebagaimana adanya. Tidak ada khotbah, apalagi anjuran untuk hidup baik-baik sebagaimana menjangkiti fiksi Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir (maupun fiksi yang dibebani kisah-kisah penderitaan orang Indonesia dalam pusaran sejarah).

Kita membacanya, kita menikmatinya, kita tertawa. Sesederhana dan sepuas itu!

Bagi saya, setelah dihadiahi ketelitian pengarangnya dalam bentuk dan struktur serta kesegaran dalam mengantarkan cerita lewat Rumah Kopi Singa Tertawa (2011), novel pertama Raden “Yusi” Mandasia ini akan selalu memanggil saya untuk membuka lagi halamannya hanya untuk, misalnya, menjawab perkara teka-teki yang disodorkan Putri Tabassum kepada para pelamarnya. Atau, menengok umpatan yang menyenangkan di dalamnya.

Benar-benar bualan yang tapir buntung!

____

Anda bisa pesan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi lewat penerbitnya Banana.

Lelucon: bila tak sampai menarik 40 juta pembaca dari 200 juta penduduk Indonesia,  maka nasib malang belaka sastra Indonenong. 🙂

Iklan

3 pemikiran pada “Bersenang-senang dengan Raden Mandasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s