21215

EMAK meninggal dengan membawa ucapan yang kemudian selalu aku ingat lewat potongan pembicaraan dengan anak perempuanya: Saya tidak ingin cepat mati. Kenyataan ia akhirnya dirawat lagi ke klinik seperti biasanya, yang sudah ia jalani selama empat tahun terakhir karena merasa “cocok”, telah membuat anak-anaknya—terutama satu-satunya anak perempuannya—terlalu menuruti keinginannya. Dalam seminggu sepulang dari klinik, ia mengeluh sulit bernapas, memuntahkan isi makanan, sampai harus diberi infus di rumah. Ia juga segera meninggalkan kasur di dalam kamar menuju ranjang di ruang tengah agar Bapak bisa mengurusnya lebih lekas. Ketika anaknya menyarankan untuk dibawa ke rumahsakit umum, ia menolak, dan selalu menyebut nama klinik itu, yang mau tak mau, akhirnya menuruti kemauan keras sekaligus manjanya. Pada malam setelah dirawat, ia mau makan buah dan bisa tertidur. Itulah malam ketika aku menelepon Mbak dan percakapan kami, setidaknya sampai saat itu, masih terlihat baik-baik saja. Pada siang hari sebelumnya, ia minta “anak-anakku” pulang, demikian Mbak berkata. Kami tidak tahu bahwa panggilan itu adalah isyarat.

*

Ini adalah jalan mundur. Emak terlihat ceria. Ia selesai memasak untuk menu berbuka puasa: ikan kembung bumbu kuning, sop, tempe goreng, dan mug besar berisi teh manis yang telah diberi es batu. Tubuhnya gemuk, tapi dua kakinya masih kuat menopangnya, sebagaimana dua kaki itu telah membuatnya berjalan jauh, dari satu desa ke desa lain, dari satu pasar ke pasar lain, untuk satu kemampuan mencari uang yang sederhana: bermodalkan ucapan, pintar menghitung, tapi tidak bisa membaca. Ia sang matriark di keluarga kami. Bapak sering dibuatnya bergegas bila ada suara teriakan dari mulutnya. Tetapi Bapak juga yang telaten mengurusnya. Berkebalikan dengan Emak, Bapak orang yang irit bicara tapi suka bergerak. Ini semua sebelum usia mengambil segala kekayaan di dalam tubuh mereka.

*

Aku melihatnya dalam sepuluh detik yang lama: Keluarga yang memandikanmu lupa bahwa gigi palsumu belum dicopot.

Ketika semua orang sudah berkumpul di luar rumah untuk menyambut kerandamu, aku masih mencari-cari barisan gigi palsumu. Kami membuka ikatan kafan di kepalamu, dan kulihat wajahmu untuk kali terakhir. Ini aneh dan di luar kebiasaanmu. Biasanya kamu akan menyambutku ketika aku pulang ke rumahmu. Kamu diam saja seperti benda padat, dengan mata terkatup dan muka yang bersih, kendati ada nada humor dari bibirmu yang dipoles lipstik. Siapa yang memolesnya? Aku bertanya-tanya, seakan-akan kamu akan pergi ke suatu tempat yang spesial, meski aku tahu, saat hari-hariku di rumah, kamu sering berdandan bila hendak pergi (aku harus menutup hidung ketika kamu menyemprotkan parfum ke badanmu). Akhirnya, seseorang melepaskan gigi palsumu itu, dan menaruhnya di dalam kafan. Kami mengikat tali, memperbaiki ikatan keranda dari serutan bambu, dan seketika membawamu ke luar rumah. Di sana lah, di depan pintu, Ayah sudah bersiap melepasmu.

Sebuah pikap telah menunggumu.

*

Ia dipapah dengan cara yang ditidurkan. Kalimat ini muncul berhari-hari kemudian saat aku mengingat hari itu karena, bagaimanapun, aku belum pernah melihat Emak dibopong saat aku masih berada di lingkaran dunianya, dunia yang menelanku, betapapun ia sering mengeluh sakit. Dalam dunia yang telah menutupi pandanganku terhadap tubuhnya, digantikan sebuah keranda, lebih dari empat orang mengangkatnya di depan rumah, bertumpu di bahu di setiap ujung bambu penopang jenazah, menjalani satu prosesi yang kuketahui sejak kematian kakak tiga tahun lalu: pasangan hidupmu, memegang golok di tangannya, akan mengetuk-ngetuk tepian keranda yang berisi tubuh padatmu, lalu ia berjalan di bawah keranda, dan berputar kembali. Sebuah prosesi selamat tinggal.

*

27 hari setelah kamu pulang, satu gigi gerahamku tanggal.

Setelah 27 hari, ketika aku menulis ini, dadaku masih bergetar. Seolah-olah kamu sebenarnya sungkan mengucapkan selamat tinggal ketika kita belum tuntas benar bertemu, dengan cara yang kuhafal sejak aku benar-benar mencari rumahku sendiri. Kamu pergi tidak mengucapkan apa-apa kepadaku, seakan ini kepergian yang biasa saja, seperti gigi gerahamku yang tiba-tiba tanggal hanya dalam sekali sesapan saat aku dalam perjalanan tadi. Saat kekosongan itu tiba, aku mencari-carimu dengan memungut cerita dari orang-orang yang menemanimu untuk kali terakhir. Rasanya tetap saja ada yang hilang justru ketika kantung ceritaku penuh tentangmu. Rasanya gigimu tidak lagi utuh, tetapi kamu toh tetap harus mengunyah atau minum kopi.

*

“Kematian orangtua menyimpan kenangan jauh dalam diri kita, memicu reaksi yang membuat kita tercengang, dan bisa melepas sejumlah kenangan dan perasaan yang kita sangka telah lama hilang tersapu angin, betapapun kita sudah mempersiapkan diri dan, tentu saja, berapapun usia kita. Dalam periode yang disebut masa berkabung yang lamanya tak pasti itu, kita seolah-olah berada dalam kapal selam, sunyi di dasar samudera, waspada dengan tekanan air, kadang dekat dan kadang jauh, menyapu-nyapu kita dengan kenangan.”—The Year of Magical Thinking, Joan Didion (2005).

*

Emak meninggal dengan kenyataan yang membuatku (sampai kini) masih sulit memaafkan diri sendiri: ia bolak-balik berobat tanpa aku menemaninya.

Dari sedikit orang yang meneleponku, Emak berada di urutan teratas, terlebih ketika kami menyadari bahwa aku, anak terakhirnya yang menemaninya tidur sebelum digantikan cucu-cucunya, bakal sulit untuk sering pulang. Ucapannya selalu sama selama limabelas tahun terakhir sejak aku meninggalkan rumah demi menjalani masa depan tak tentu: Apakah kamu sudah makan? Asal kamu sehat, Emak sudah senang.

Begitulah. Dalam pembicaraan terakhir, ia mengatakan bahwa ia baru pulang dari klinik untuk berobat rutin, dan obrolan selanjutnya adalah obrolan yang terlalu mudah aku duga sebelum mengangkat telepon darinya: “Apakah kamu punya uang?” Kadang-kadang aku sering bercanda, “Mau berapa, Mak? Rp2 milyar?” Eh, banyak banget! katanya. Lalu aku menimpali, “Emak kerja apa sekarang?” Emak tertawa. “Kerja apa? Jalan saja sakit!” Kami sama-sama tertawa.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s