Kuasa Gabo

Foto: Isabel Steva Hernandez (Colita)/Copyright Corbis
Setiap orang dari Clinton hingga Castro mendengarkannya. Tetapi sanggupkah dia menyelamatkan Kolombia dari gerilyawan sayap kiri dan regu pembunuh sayap kanan?

oleh Jon Lee Anderson

SEWAKTU Gabriel García Márquez meninggalkan apartemennya di Bogotá, dia bepergian dengan Lancia Thema Turbo berwarna abu-abu metalik tahun 1992, sebuah sedan ukuran sedang dengan kaca anti-peluru dan rangka kendaraan penahan serangan bom. Sedan itu dikendarai Don Chepe, mantan pejuang gerilya bertubuh gempal yang telah bekerja untuknya lebih dari 20 tahun. Sejumlah agen rahasia, terkadang enam orang, mengikutinya di kendaraan lain. Sebuah sedan pelapis anti-bom bertenaga mesin besar mencolok merupakan perangkat menenteramkan jiwa di sebuah negeri tempat nyaris 200 orang diculik saban bulan, dan lebih dari 2.000 ribu jiwa dibunuh. Pada pertengahan Agustus, Jaime Garzón, penulis satire politik yang populer, dibunuh saat menuju tempat kerja. Seorang pria turun dari sepedamotor dan menembak kepala Garzón selagi menunggu lampu merah. Seperti García Márquez, Garzón bertindak sebagai penengah antara gerilyawan sayap kiri dan pemerintah, dan dia menerima ancaman kematian dari sejumlah kelompok paramiliter sayap kanan yang tak ingin seseorang bernegosisasi dengan musuh mereka.

Bogotá telentang bermil-mil melintasi dataran tinggi pegunungan hijau gerimis di sebelah kawasan paling utara dari Andes. Pemandangan kota merupakan barisan panjang punggung bukit diselimuti luasnya pemukiman kumuh menyedihkan yang disesaki bekas para petani dan keluarganya, yang pindah ke sana dari wilayah perdesaan. Selama limabelas tahun terakhir, 1,5 juta rakyat Kolombia mengungsi dari rumahnya lantaran kekerasan politik. Empatpuluh persen wilayah negara itu dikontrol oleh kelompok gerilyawan Marxis, yang berperang dengan pasukan pemerintah, dan mereka juga bertempur dengan milisi-milisi sayap kanan yang dibekingi tuan tanah kaya dan pedagang obat bius.

Beberapa bulan lalu, aku menaiki taksi dari hotel tempatku menginap di Bogotá ke sebuah rumah di satu distrik kolonial lawas bernama La Candelaria, di jantung kota, tempat pedagang batu zamrud mengundangku untuk makan malam. (Selain kopi, minyak, kokain, dan heroin, Kolombia kaya dengan zamrud, dan menyuplai sekitar 60 persen pasar dunia.) Sopir menghentikan mobilnya di jarak 100an kaki dari rumah penjual zamrud kenalanku, dan aku pun keluar. Selagi mendekati pintu depan dari jalan raya yang dilindungi gapura, aku melihat dua sosok berlari melompat ke arahku. Salah satunya—bertubuh pendek dengan pandangan liar dan terlihat kucel—menyatroniku ketika aku memencet bel rumah. Segera kemudian pintu terbuka dan dua anjing Alsatian menggeram melewatiku dan menyerangnya. Hari berikutnya aku ceritakan pengalaman itu kepada García Márquez. Dia tergelak seraya geleng-geleng kepala menyikapi ketololanku. Tak ada orang Kolombia berpikiran waras bepergian ke jalan itu pada jam segitu, katanya. “Itu adalah tempat yang baik untuk terbunuh.” Warga dari kalangan kelas menengah dan kaum kaya telah lama pindah ke luar pusat Bogotá dan bermukim di pinggiran utara kota. Bahkan di sana pun mereka masih dilanda ketakutan bila sewaktu-waktu dirampok maupun diculik oleh komplotan penjahat, dan segelintir yang mampu seperti García Márquez memiliki mobil berlapis baja, pengawal, maupun keduanya.

García Márquez dan istrinya, Mercedes, tinggal di sebuah flat dua tingkat yang lapang di apartemen empat lantai dengan jendela terbuka menghadap taman. Apartemen itu terbalut warna putih—karpet, sofa, dan dinding—dan dipenuhi pajangan seni, termasuk karya awal seniman Botero berukuran sangat besar dan seri miniatur Indian erotis yang amat elok. Sehari setelah aku diselamatkan oleh kedua anjing pedagang zamrud, kami bertiga bercakap di pojokan ruang keluarga yang luas. Lusinan video—The Last Temptation of Christ besutan Martin Scorsese di atas tumpukan—tertata di satu rak dekat televisi. Kerai tersingkap ke atas jendela, dan kamar itu diliputi cahaya remang yang menggenangi bau samar tembakau dari rokok yang diisap Mercedes. Mercedes, yang menikah dengan García Márquez selama 41 tahun, berperawakan tinggi dengan rambut cokelat sebahu. Dia cucu imigran Mesir, terlihat dari tulang pipinya yang lebar dan mata cokelatnya yang tajam nan besar. García Márquez pria pendek berdada bidang dengan gestur hati-hati nyaris bak raja. Dia berumur 72 tahun dan mata cokelatnya yang lembut, berpadu kerutan mukanya, memancarkan keteduhan. Rambut ikalnya beruban, kumisnya putih, dan alis matanya hitam lebat. Tangannya elok, dengan jari-jari panjang dan ramping. Dia jago mengobrol, dengan penuh perhatian dan pesona, yang dalam istilah orang Kolombia disebut mamagallista—tukang ngebanyol.

Selama rangkaian beberapa bulan mengobrol denganku, García Márquez berulangkali menyebut Mercedes, dan selalu dengan ungkapan bangga penuh kasih sayang. Saat dia membicarakan persahabatannya dengan Fidel Castro misalnya, dia berkata, “Fidel bahkan percaya kepada Mercedes melebihi dia percaya padaku,” seraya menambahkan bahwa Marcedes adalah “satu-satunya orang yang kukenal yang bisa mengomeli Fidel.” Di saat lain, dia menyinggung sahabatnya itu, dan usai kami membincangkannya selama beberapa waktu, dia berujar dengan penuh pertimbangan, “Mercedes tak ingin Fidel ada di dekatnya lagi,” dalam cara yang membiarkanku agak ragu. Mercedes adalah “pijakannya,” kata seorang temannya. “Mercedes adalah orang yang praktis, orang yang dia indahkan setelah kekayaannya, Eon di sisinya. Dia akan sepenuhnya tersesat tanpanya.” Mereka memiliki dua putra: Rodrigo, yang tinggal di Los Angeles dan baru saja menulis dan menyutradarai film panjang pertamanya; dan Gonzalo, desainer grafis yang tinggal di Mexico City.

García Márquez punya beberapa rumah. Betapapun dia warganegara paling terkenal di Kolombia jauh sebelum menerima Nobel Sastra pada 1982, Bogotá tidak pernah jadi kediaman utamanya. Dia dan Mercedes selama bertahun-tahun telah menghabiskan banyak waktunya di Mexico City, dan selama itu mereka tinggal di beberapa rumah lain di Cuernavaca, Barcelona, Paris, Havana, Cartagena, dan Barranquilla di pantai Karibia. Semuanya dilengkapi padanan perabotan senada—dengan karpet putih, meja kopi lebar dari kaca, karya seni modern, perangkat suara yang amat terpilih, dan sebuah komputer Macintosh. Perhatian García Márquez pada benda-benda itu nyaris obsesif. Perabotan itu memungkinkan dia dapat bekerja di manapun dia berada. Dia berkata bahwa dia biasa terjaga pukul lima pagi, membaca buku sampai pukul tujuh, lantas berpakaian, membaca surakabar, dan menjawab surel; lalu pada pukul 10 pagi—“apapun yang terjadi”—dia sudah di meja kerjanya: menulis. Dia akan berhenti kerja sampai pukul 14:30, bergabung dengan keluarganya untuk makan siang. Sesudah itu kegiatan menulisnya berakhir, dan sore hingga malam hari dia mengabdikan waktunya untuk “janji temu, keluarga, dan teman-temannya.”

Baru-baru ini García Márquez telah mengerjakan tiga novel dan dua jilid memoar, sambil sesekali menulis karya jurnalisme. Dia mengawali kariernya sebagai wartawan, dan buku terbarunya, Kabar Penculikan, terbit tahun 1996, mencerminkan gaya menulis yang gamblang seperti kolom-kolomnya di suratkabar ketimbang gaya “magis” dalam novel dan cerita-cerita fiksinya yang membuai. Buku itu mengisahkan penculikan sepuluh orang Kolombia pada 1990 oleh Pablo Escobar, gembong kartel narkoba Medellín. Buku itu berbasis wawancara yang panjang dengan para korban dan orang-orang yang terlibat dalam negosiasi penuh drama untuk pembebasan sandera. Karakter utamanya, wartawan dan politisi dengan jaringan luas, adalah orang-orang dari dunia sosial dan profesional yang tak asing bagi kehidupan García Márquez dan Mercedes.

Politik dan jurnalisme menyita banyak waktunya sejak awal tahun ini ketika dia menjadi pemilik mayoritas majalah berita mingguan Cambio. Dia membeli Cambio dengan uang dari Hadiah Nobel, yang sebelumnya disimpan di satu bank Swiss selama 15 tahun. “Berani sumpah itulah kenyataannya, aku lupa punya uang di Swiss,” klaimnya. Mercedes lah yang “mengingatkannya” kalau uang itu ada di sana. Cambio bikin mereka tetap di Bogotá saat mestinya di Meksiko atau Eropa. Dia menghadiri rapat-rapat editorial dan menyetujui laporan-laporan mingguan itu, serta menulis artikel yang akan jadi tajuk utama. Sirkulasi majalah itu antara 14 ribu dan 15 ribu eksemplar. “Orang-orang di Kolombia sangat tertarik apapun yang dikatakan Gabo,” kata Pilar Calderón, redaktur pelaksana Cambio.

“Gabo” adalah panggilan García Márquez oleh hampir semua orang di negara berbahasa Spanyol. Gabo, atau el maestro, atau di Kolombia disebut Nuestro Nobel, pemenang Hadiah Nobel kami. Seorang karib mengatakan kepadaku bahwa García Márquez dalam banyak hal disebut El Único Nobel, satu-satunya Nobelis Sastra—yang menurutku sahih belaka, setidaknya di Amerika Latin. Karib lain, Enrique Santos Calderón, pemimpin redaksi harian terkemuka Kolombia El Tiempo, berkata bahwa Hadiah Nobel merupakan pemulihan nama baik atas kultur Kolombia. “Di negeri yang segalanya berakhir seperti comberan, Gabo adalah simbol kebanggan nasional.”

Luasnya perasaan takzim untuk García Márquez diperkuat oleh rumor yang beredar awal musim panas ini soal penyakit misterius yang menimpanya. Dia dirawat selama sepekan pada pertengahan bulan Juni, dan kemudian mengurung di apartemennya di Bogotá. Dia diminta menjalani perawatan untuk rasa letih, gangguan syaraf, dan leukemia. Tujuh tahun lalu, kanker tumor diangkat dari salah satu paru-parunya, dan desas-desus soal apa yang salah dengannya kini makin tambah mengerikan. Pada 9 Juli, seseorang yang berlagak mewakili agensi berita mengirim kabar lewat internet yang segera menyebar bahwa dia meninggal di Mexico City pada malam sebelumnya.

García Márquez berkata mulai merasa sakit pada musim semi lalu, dan bertambah lemah sampai bikin dia kepayahan. Dia memeriksa diri ke satu rumahsakit. Sesudah dideteksi soal apa yang salah dengannya (kanker getah bening, meski tidak disadari secara terbuka selama beberapa bulan), dia mulai menerima perawatan sampai merasa jauh lebih baik. Satu pagi, tak lama setelah kembali dari rumahsakit, aku berjalan bersamanya di taman di bawah apartemennya. Dia berpakaian mantel wol biru tua, celana olahraga warna biru, dan sepatu lari. Kami diikuti dalam jarak dekat tapi secara diam-diam oleh perawat bersetelan putih dan Don Chepe, pengawal sekaligus sopirnya. Sesudah kami berjalan beberapa menit, tiga anak muda yang mengayuh sepeda di sebilah jalan tepi taman mengenalinya dan berseru dengan ucapan bersemangat, “Maestro, bagaimana kabar Anda?” Gabo tetap terpaku pada langkahnya, meski menyadari mereka dengan lambaian ringan tapi terus berjalan. Aku melihat tiga pemuda itu turun dari sepeda dan menatap khawatir selagi Gabo melangkah tanpa ragu. Segera aku mengangkat tangan dan mengacungkan jempol. Mereka tersenyum penuh syukur.

Beberapa hari kemudian, seorang kawan mengantarku untuk menemui sejarawan sayap kiri terkemuka yang sangat dekat dengan pemimpin Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia/ FARC), organisasi gerilya tertua, paling besar dan sangat kuat di negara itu. Mendengar aku baru saja bersama Gabo, tamu kami bertanya, “Bagaimana kabar beliau?” Ekspresinya serius dan penuh perhatian. Ketika aku bilang Gabo sudah bisa berjalan dan membaik meski berat badannya turun, mulutnya merapat. “Mereka bilang beliau kena kanker,” tuturnya pelan. Dia berharap kabar itu bohong. “Dalam situasi negara yang kacau saat ini, negeri ini tak dapat menanggung beban berat untuk kabar semacam itu.”

Beberapa tahun lalu, García Márquez menyamakan penderitaan Kolombia serupa “holocaust Alkitab.” Negeri ini telah dilanda kecamuk perang sipil selama lebih dari setengah abad, dan korban kekerasan terbanyak menimpa rakyat sipil. Mereka dibunuh oleh tentara di penghadang jalan, disandera dan disiksa oleh regu pembunuh paramiliter, diledakkan oleh ranjau darat, ditembak oleh pengedar narkotik karena berada di tempat dan waktu yang salah, dibantai karena diduga bersimpati pada kubu satu atau kubu lainnya. Musim gugur lalu, Human Rights Watch menyatakan gambaran hidup mengerikan di Kolombia dengan menyimpulkan, “Pelanggaran atas hukum kemanusiaan internasional—hukum perang—bukanlah konsep abstrak di Kolombia, melainkan cerita suram kehidupan sehari-hari…. Terkadang kaum bersenjata sangat terpilih menentukan korban. Kali lain mereka sesuka saja membunuh orang-orang di dekatnya untuk menyebarkan ketakutan. Jelaslah kesediaan bertindak kejam menjadi lakon paling mencolok dari perang Kolombia.”

García Márquez mengawali kehidupan pengarang selama tahun-tahun perdana konflik berdarah apa yang dikenal sebagai La Violencia, dimulai pada 9 April 1948 saat politisi populis Jorge Eliécer Gaitan dibunuh di jalan depan kantornya di Bogotá. Antara 200 ribu dan 300 ribu orang, kebanyakan warga perdesaan, terbunuh selama La Violencia, yang berakhir kira-kira sampai awal tahun 1960an. FARC berkembang sebagai pasukan bolshevik ala Sovyet yang bercokol di pedalaman selama periode itu. Kelompok gerilyawan besar yang lain, Tentara Pembebasan Nasional (Ejército de Liberación Nacional/ E.L.N.), meriuhkan pergolakan dengan dukungan Kuba dan terinspirasi dari Che Guevara. Pada awal 1980an, saat kartel narkoba Medellín dan Cali kian tambah kuat, dan pasukan paramiliter berperang dengan pengedar narkotik maupun gerilyawan, situasinya menghamparkan kepelikan mengingat ada banyak kemungkinan atas sumber kekerasan. Cukup bisa dimengerti kemudian jika korban sewaktu-waktu merasa bingung soal siapa pelaku kekerasan terhadapnya. Di lembar perdana Kabar Penculikan, Maruja Pachón, yang baru saja diculik oleh pria bersenjata selagi menuju rumahnya dari tempat kerja dengan sopir yang mengendarai Renault, berusaha mencari tahu identitas penyekapnya:

Maruja berupaya memperhatikan para penculiknya, tapi cahaya di ruangan itu sangat suram. Dia memberanikan diri untuk bertanya: “Siapa kalian?” Pria dengan radio dua arah menjawabnya dengan suara tenang:

“Kami dari M19.”

Jawaban omong kosong: M19, bekas kelompok gerilyawan, sudah diakui legal dan tengah berkampanye untuk jatah kursi di Konstituante.

“Aku serius,” kata Maruja. “Kalian pengedar atau gerilyawan?”

“Gerilyawan,” jawab orang di depannya.

Tentu saja orang itu bohong. Dia adalah orangnya Pablo Escobar, dan penculikan Maruja dimaksudkan untuk menekan pemerintah membuat kesepakatan dengan para bos kartel narkoba serta menyetujui untuk tidak mengekstradisi mereka ke Amerika Serikat, tempat mereka akan menghadapi hukuman lebih berat ketimbang di dalam negeri.

Perbedaan aktivitas pedagang narkoba dan gerilyawan makin kabur setelah Pablo Escobar terbunuh, dan kartel-kartel besar berantakan pada medio 1999. Bisnis narkoba kini terpecah di antara puluhan mini-mafia, paramiliter, dan gerilyawan. FARC, organisasi gerilya paling kaya di Amerika Latin, mengendalikan kawasan tempat paling banyak kokain di dunia diproduksi. Diyakini mereka punya pasukan sekitar 15 ribu orang bersenjata, dan E.L.N. sekira lima ribu serdadu. Kedua kelompok membayar pasukannya, dan mendukung mereka bertindak dalam sejumlah aktivitas kriminal, termasuk mengutip pajak pada produsen heroin dan kokain, menculik demi uang tebusan, dan memeras maskapai minyak Amerika Utara dan Eropa untuk jasa pengamanan operasi pengeboran dan jalur pipa.

Sejak Kolombia menyuplai 80 persen kokain yang dikonsumsi di Amerika Serikat, dan banyak lagi heroin, “narko-gerilya” menjadi faktor penting dalam kebijakan obat bius AS. Militer Kolombia menyatakan butuh bantuan untuk memerangi gerilyawan, dan memberantas gerilya akan pula menumpas perdagangan narkoba. Bantuan macam itu tertunda tahun 1996 dan 1997 lantaran Ernesto Samper, yang saat itu menjabat presiden, dituduh menerima 6 juta dolar dari uang narkoba untuk membiayai kampanye pemilihannya. Tetapi kini presiden baru, Andrés Pastrana, telah memikul kekuasaan tahun lalu, dan Paman Sam dibujuk lantaran Pastrana dapat bekerja atas apa yang pendahulunya gagal melakukan. Pastrana memprakarsasi pembicaraan dengan gerilyawan dan memberikan zona netral tempat militer takkan memasukinya. Dan dia mendapatkan paket bantuan besar. Musim gugur lalu, Kongres AS mengalokasikan 289 juta dolar untuk militer dan kepolisian Kolombia, menjadikan negara itu penerima bantuan militer terbesar ketiga setelah Israel dan Mesir.

García Márquez, yang seringkali menyebut dirinya “si optimis terakhir di Kolombia”, telah terlibat erat dalam perundingan damai. Dia mengenalkan Pastrana kepada sohib lamanya Fidel Castro, yang bisa mengatur pembicaraan dengan para gerilyawan, dan dia membantu memulihkan hubungan baik antara Washington dan Bogotá. “Saya tidak menyatakan bahwa Gabo yang menyelesaikan semuanya,” Bill Richardson, menteri energi AS, berujar awal musim panas ini, “tapi dia katalisatornya.” Gabo beberapa kali diundang oleh Clinton ke Gedung Putih, dan teman-temannya meyakini dia tak hanya membawa tujuan mendesak untuk meraih sejumlah negosiasi penyelesaian antara gerilyawan dan pemerintah, tapi juga pada akhirnya membantu perbaikan hubungan antara AS dan Kuba. “AS butuh keterlibatan Kuba dalam pembicaraan damai di Kolombia karena pemerintah Kuba adalah kontak terbaik bagi para gerilyawan,” Gabo menjelaskan padaku. “Dan Kuba punya letak sempurna, hanya dua jam, sehingga Pastrana bisa pergi ke sana semalam dan melakukan rapat, lalu kembali tanpa ada yang mengetahui apa-apa tentang hal itu. Dan AS ingin hal itu terjadi.” Lantas, seperti biasa, Gabo tersenyum kepadaku dengan cara yang menunjukkan dia tahu lebih banyak dari yang dia ceritakan.

Hingga awal musim panas tahun ini, García Márquez optimis soal negosiasi Pastrana telah berjalan. Tetapi kemudian Gabo jatuh sakit, dan pada Juli, FARC melancarkan serangan militer dari zona netral. Itu termasuk penyergapan pada unit Angkatan Darat di pinggiran Bogotá. Pembicaraan damai, yang telah tertunda, tampak semakin tidak mungkin. Beberapa hari kemudian, menteri pertahanan mengumumkan bahwa AS melatih dan memasok pasukan Batalyon Narkotik Kolombia. Kemudian dia dan kepala angkatan bersenjata terbang ke Washington untuk minta dana bantuan lain sebesar 500 juta dolar. Barry McCaffirey, direktur Kantor Kebijakan Pengendalian Narkotik Nasional, mengklaim bahwa produksi kokain di Kolombia dua kali lipat selama empat tahun terakhir, dan para gerilyawan itu bertanggungjawab. Dia mendesak Kongres untuk menyediakan satu milyar dolar untuk peralatan tempur dan penasihat militer. “Ini adalah situasi darurat,” ujarnya. “Anda menghadapi 25 ribu orang di luar sana dengan senjata mesin, mortir, roket, dan ranjau darat.”

García Márquez membatalkan pertemuan kami di Bogotá karena Pastrana dan Felipe Gonzáles, mantan Perdana Menteri Spanyol, akan datang menemuinya. Segalanya berjalan berat di tengah kebuntuan antara gerilyawan dan pemerintah, tetapi usaha tengah dilakukan dengan mengumpulkan dewan daerah guna bertindak sebagai penjamin netral untuk negosiasi di masa depan. “Aku sangat ingin melihat Clinton sekarang juga, tapi sangat tidak mungkin dalam situasi seperti ini,” ujarnya. Dia tidak mengungkapkan apakah itu merujuk perubahan situasi politik atau kesehatannya, atau keduanya. Namun pendirian Washington yang doyan bermusuhan tampaknya paling membuat pikirannya berkecamuk. “Semuanya telah berubah sejak Kosovo,” katanya. “Situasi di dunia berubah total. Dengan Kosovo, Clinton telah menemukan warisan politiknya yang ingin dia tinggalkan—model imperial Amerika.”

Kritik lain terhadap kebijakan baru pemerintahan Clinton adalah membayangkan analoginya lewat Vietnam, dan mewanti-wanti soal bahaya intervensi militer ke satu negara yang mengandung kompleksitas geografis dan politik. Praktis 440 ribu mil persegi kawasan Kolombia tak bisa diakses. Tiga barisan pegunungan Andes membaginya, dan terdapat rimbun hutan dan dataran luas tanpa jalan raya. Beberapa kawasan dikuasai unit-unit paramiliter yang bertindak brutal, dan dalam banyak kasus operasinya bersekongkol dengan Angkatan Darat, yang menyuburkan tuduhan pelanggaran berat hak asasi manusia. Pada pertengahan Juli, Angkatan Darat, yang hingga kini terkenal tidak mumpuni, menewaskan 200 gerilyawan dalam serangan udara yang dibantu oleh intelijen satelit AS. Korban pertama yang dikenal dari personel militer AS dalam konflik narkogerilya terjadi pada 23 Juli, saat pesawat pengintai AS menabrak sebuah gunung di daerah utama produksi obat bius di selatan Kolombia. Lima tentara Amerika dan dua serdadu Angkatan Udara Kolombia tewas.

Pada 1993, García Márquez menulis bahwa “perang melawan narkotik” oleh Washington hanyalah “alat untuk intervensi lebih lanjut di Amerika Latin,” dan mencela pembuat kebijakan Amerika atas “miskinnya lidah Kastillia” mereka dengan menciptakan istilah “narcoguerrilla.” Istilah itu melandasi AS untuk “mendudukkan pengedar narkotik dan gerilyawan ke dalam satu paket pikiran yang sama, dan konsekuensinya dapat mengirim pasukan ke Kolombia dengan dalih memerangi salah satu dan menangkap yang lain.” Itu pandangan slebor di Kolombia, bahwa campur-tangan gringo bisa memicu perasaan takut dan amarah. Memanglah abad ke-20 dimulai dengan intervensi AS yang menjurus hilangnya segenting tanah Panama, yang dulunya provinsi Kolombia. Dan kini sudah sepuluh tahun sejak AS menginvasi Panama untuk mengekstradisi kepala negaranya Jenderal Noriega. Gabo secara konsisten menentang ekstradisi warganegara Kolombia—seperti Pablo Escobar—ke Amerika Serikat, dan menganjurkan negosiasi dengan para pedagang narkotik maupun gerilyawan adalah satu-satunya upaya realistis untuk mengakhiri, atau setidaknya mengikis, kekerasan di Kolombia.

“Tak seorang pun yang menilai,” tulis Gabo pada 1990, “sejauh mana situasi politik dan sosial kami yang hebat, Kolombia kami yang malang, dengan berabad-abad feodalisme pedesaannya, tiga puluh tahun tanpa solusi dari konflik gerilyanya, sejarah panjang pemerintahannya yang gagal mewakili harapan rakyat, telah dibesarkan oleh para pedagang narkotik dan segala hal yang mereka perjuangkan.”

 

_

Ini satu bagian dari naskah Jon Lee Anderson, sisanya masih ada sekitar 8.500 kata lagi. Saya menerjemahkan secara manasuka, tidak metodis banget, dan karena naskah ini panjangnya lebih dari 12 ribu kata, saya akan menyentuh dan melanjutkannya lagi bila kepengin. Boleh jadi ada naskah lain yang menarik minat saya, dan lanjutan dari terjemahan naskah ini bisa jadi tidak benar-benar tuntas. 

Anderson adalah penulis untuk The New Yorker. Naskah ini terbit pada edisi 27 September 1999 (kini aksesnya harus berlangganan). Dia penulis banyak buku klasik, salah satunya biografi Che Guevara: A Revolutionary Life (1997). Saya teringat profil Gabo ini lantaran akhir pekan kemarin membaca terbitan perdana Circa, penerbit baru di Yogya di jalur indie, yang menerjemahkan salah satu buku nonfiksi Gabo berjudul Kisah-kisah Penculikan (1996).

Iklan

Satu pemikiran pada “Kuasa Gabo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s