Proses (Prosa) Wright

Lawrence Wright bicara soal pendekatan “bagal” dan kartu 4×6 cm dalam menggarap prosa nonfiksi. 

Oleh Joanna Cattanach

John Rosman/OPB
John Rosman/OPB

LAWRENCE WRIGHT bersandar di pinggir kolam renang di Pakistan. Pikirannya berkutat pada panggilan telepon yang ia terima berjam-jam lalu. Apakah ia harus di sini ataukah pulang? Seorang sahabat yang baik mestinya pulang. Seorang penulis yang baik mestinya tinggal.

Tetapi ia tak bisa menjadi keduanya—sebagai teman maupun penulis yang baik; tidak untuk cerita yang sedang ia kerjakan.

Kabar itu bikin ia nelangsa. Seorang temannya meninggal, karib baiknya, dan Wright memilih tinggal. Ia mematung di tepi kolam di Pakistan ketimbang terbang ke Austin dan menghadiri pemakaman sahabatnya. Ketimbang menghabiskan waktu bersama istrinya, Roberta, dan kedua anaknya, Gordon dan Caroline. Ia memilih menulis melebihi kehidupan keluarganya, meneliti melebihi persahabatan, Pakistan melebihi seorang kawan dekat.

Wright merosot ke perairan kolam yang gelap, pikirannya berkecamuk; merasa pedih atas kehilangan sahabat baiknya dan jenis teman yang tak kuasa ia lakukan: meninggalkan Pakistan dan mendatangi pemakaman. Ia bertanya-tanya: apakah sebesar itu ia berkorban untuk prosa yang sedang ia garap, dan apakah selayak itu?

Selagi ia berenang di tengah kesejukan kolam, ia pun penasaran, apakah ia harus kembali ke dalam pelukan agama. Sebagai seorang Methodis yang tumbuh agak taat di Dallas, ia meninggalkan salah satu persekutuan gereja Protestan itu selagi remaja, kendati ia menghormati iman dalam diri manusia, bahkan bagi seseorang yang meragukannya. Terlebih bagi seorang yang berenang kesepian di sebuah kolam hotel di Islamabad pada tengah malam untuk mencari jawaban.

Dan tibalah momen itu, di perairan kolam renang, saat ia mendengar apa yang mungkin bagi seorang religius menyebutnya suara Tuhan. Tetapi ia mengatakannya sebagai perasaan, sebuah jawaban yang terang dan simpel dan mendalam. Pekerjaanmu memiliki arti.

Ia mengulangi kata-kata itu sekali lagi di ruangan kerja rumahnya di Austin, 10 tahun setelahnya. “Pekerjaanmu memiliki arti,” ujarnya. “Bukan mengatakan setiap penulis atau seniman pasti mengamini hal sama, tapi itulah yang kuanggap jadi misiku.”

Wright mengalami peristiwa eksistensial serupa dalam hidupnya—cuma segelintir, ia bilang—tetapi malam itu di Pakistan menjadi titik menentukan dalam kariernya. Riset yang membuatnya tetap di sana adalah untuk kepentingan bukunya yang terbit tahun 2006: The Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11 (diterjemahkan penerbit Kanisius tahun 2011 berjudul Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9). Ia menghabiskan hampir 2,5 tahun di luar negeri, bepergian ke Mesir dan Arab Saudi serta Pakistan. Buku itu mendapatkan penghargaan Pulitzer untuk kategori Nonfiksi pada 2007 dan menjadi karya sahih tentang latar serangan al-Qaeda terhadap Menara Kembar lewat kisah beragam karakter termasuk Ayman al-Zawahiri (wakil Osama bin Laden); Pangeran Turki al-Faisal (mantan kepala intelijen Arab Saudi), dan John O’Neill (mantan kepala kontraterorisme FBI). The Looming Tower mengerek karier Wright ke level baru, membuka kesempatan baginya berpenampilan tunggal untuk program spesial HBO, My Trip to Al-Qaeda.

Namun ia tidak menduganya di tahun 2004 itu. Saat itu ia memilih cerita tentang al-Qaeda karena menulis bukanlah apa yang ia kerjakan. Itu sudah menjadi dirinya. Ia mencurahkan sepanjang tahun menulis sejumlah kisah, menyelami bagaimana mengulik ingatan dapat mengubah seorang gadis kecil menjadi pendusta (Remembering Satan: A Tragic Case of Recovered Memory; 1994), melacak terbentuknya al-Qaeda (The Looming Tower), dan menelusuri mengapa para penulis skenario dan aktor kaya-raya tergoda pada Saintologi (Going Clear: Scientology, Hollywood and The Prison of Belief; 2013). Dedikasinya pada kisah—bahkan bagi seorang Wright—bukanlah satu hal yang baru. Itu hal lazim baginya sejak ia belum dikenal sebagai penulis pemenang Pulitzer dan dua kali menyabet National Magazine Award. Untuk Going Clear, ia menyelidiki perbenturan kebenaran dan praktik sembrono Saintologi—sesuatu yang senada dengan fokus penelitiannya saat mengisahkan profil televangalist (perpaduan televisi + evangelis) Jimmy Swaggart (1993) dan Mormon serta si kembar pada masa awal kariernya. Bahkan semasih penulis lepas selagi muda, ia selalu mengejar cerita yang mengandung gagasan besar. Tak peduli kocek yang harus ia sisihkan, waktu terbuang jauh dari rumah, dan upaya keras kepala untuk bikin hidupnya stabil.

Sebagai anak bankir, Wright dibesarkan dalam keluarga Methodis yang bikin jengah di Dallas dan menginjak usia remaja di masa penuh gejolak tahun 1960-an. Agama menjadi tema yang acap dieksplorasi dalam banyak karyanya, tetapi ia kurang tertarik pada segi ajarannya yang kaku, melainkan pada daya pikatnya. Sebagai seorang penentang, ia pergi ke Mesir selama dua tahun untuk menghindari berperang ke Vietnam, dan di sana mempelajari bahasa Arab pada kurun paling krusial dalam sejarah Timur Tengah. Pemahamannya atas karakter, budaya, dan bahasa telah membantunya dalam menulis The Looming Tower serta naskah The Siege, film keluaran 1998 tentang para ekstremis Muslim di New York dan penahanan sewenang-wenang serta penyiksaan terhadap warga Amerika keturunan Arab oleh pemerintah. (Diperankan oleh Denzel Washington, Bruce Willis, dan Annette Bening—menjadi film paling banyak disewa di AS sesudah 9/11.)

Dua buku terbarunya, The Looming Tower dan Going Clear, mendatangkan pujian. Namun pendekatannya dalam menulis dua karya itu dengan sangat teliti bak ilmuwan, bahkan bagi penulis berpengalaman, tetaplah bikin ciut nyali. Ia begitu terorganisir berkat displin, cermat karena ia kreatif. Untuk narasinya, ia merekam setiap sumber (600 narasumber untuk The Looming Tower, 200 untuk Going Clear), terkadang mewawancarai mereka belasan kali, menorehkan ke buku catatan berwarna kuning cerah dengan tulisan tangan (4.100 halaman untuk The Looming Tower). Ia menapis informasi paling penting ke dalam kartu putih ukuran 4×6, yang diaturnya dengan cermat dalam katalog berdasarkan subjek. Wright bersumpah metode penelitiannya tidak bisa ditebak seperti kelihatannya, dan seperti profesor yang sabar, ia bermurah hati mengajarkan metodologinya kepada siapa pun yang sudi mendengarkan.

Itu bukan hanya soal proses “wawancara horizontal” (mendaftar satu per satu sumber) atau “teori gelang karet” (mengulur informasi) maupun “bagal” (karakter pemanggul beban) yang ia terapkan untuk menggulirkan kisahnya. Melainkan juga kelihaiannya menyibak DNA narasi dalam kartu 4×6—entah itu dalam karya buku (ada delapan), skenario film (dua), ataupun drama (6 termasuk serial terbaru yang dikerjakan bersama HBO, God Save Texas, berbasis naskah dramanya tahun 2005, Sonny’s Last Shot.) Riset baginya adalah bagaimana membangun jalur cerita. Ini pintu masuk untuk meyakinkan pembaca bahwa ia memahami akar masalah terorisme dan motivasi anak-anak muda menerbangkan pesawat dan menabrak World Trade Center. Memakai rekaman pengakuan menjelang ajal dari Sarah Northrup, istri kedua L. Ron Hubbard— Wright enggan membocorkan bagaimana ia mendapatkan rekaman itu—ia membuat pembacanya curiga jika pendiri Saintologi tidaklah lebih dari perisak brutal.

Wright memikat pembaca menikmati beratus-ratus halaman, dengan beragam alur cerita dan adegan, serta segudang data dan fakta—dan membuat para pembaca melihatnya sebagai prosa, bukan merasakan sebagai karya penelitian. Ia merancang kerangka dan wawancara sampai benar-benar narasi nonfiksi itu dihayati sebagai fiksi. Metodenya terletak pada kartu dan bloknot berukuran pas (dengan warna yang tepat) dan kemampuannya memandu bertumpuk-tumpuk bahan secara tertib—ya, kebanyakan penulis memang memiliki suatu metode. Mereka, para penulis, punya proses kerjanya sendiri, namun hanya segelintir yang sukses, lewat ragam media, dengan kemampuan yang terus terjaga dan bernapas panjang. Proses dan metode tidak membikin para pembaca terus menyimak. Atau mengapa Larry terus menulis.

Lawrence Wright, usia 66 tahun, masih bekerja keras sekalipun sudah bangkotan. “Aku tidak punya jaminan pensiun,” katanya. Jadi motivasi apa yang mendorong seorang kakek, pemain piano, penulis skenario, pengarang naskah drama, aktor, penulis, staf wartawan The New Yorker, dan—bila kamu bertanya kepada kaum Saintologi—“seorang pengganyang,” melabuhkan risiko nyawanya, reputasinya, keluarganya, dan persahabatannya?

Apa yang membuat seorang lelaki bersitahan di Pakistan?

MENATA PANGGUNG

Suaka ibadah menulis Wright di Austin adalah kamar tidur di lantai atas yang diubah menjadi kantor rumah. Ini jenis tempat yang diangankan sarjana untuk dihuni, dengan karpet hitam tebal dan deretan rak buku melapisi dinding. Ada banyak jendela, tapi meja kerjanya tidak menghadap ke sana. Ia sungkan melihat ke luar jendela selagi menulis. Di satu rak bersama foto keluarga dan para sahabatnya, ada bisbol yang ditandatangani anggota Philadelphia Phillies 1956 dan tandatangan tim sepakbola Dallas Cowboys—penanda untuk tim kampung halamannya. Inilah tempat ia baru saja merampungkan Cleo, naskah drama tentang penggarapan film Cleopatra (1963) yang dibintangi Elizabeth Taylor dan Richard Burton. (“Itu hal favorit yang pernah kutulis,” katanya, menekankan riset dan menulis itu menyenangkan.) Inilah tempat ia mengedit lagi karya yang belum dirilis, Thirteen Days in September: Carter, Begin, and Sadat at Camp David. (Naskah drama atas subjek itu, yang ia tulis, akan dipentaskan di Washington, D.C., pada musim semi.)

Karangan setebal 5 sentimeter tentang kesepakatan perdamaian di Timur Tengah itu, dijepit dengan klip bulldog, berada di atas meja kerjanya. Wright memiliki meja tulis terbuat khusus dari kayu mahoni dan cemara. Lihat, katanya, menunjukkan fitur mejanya yang halus: bagian sayap kiri di tepian meja itu cembung—meja kerja lain tak seperti ini, ujarnya bangga. Tumpukan kertas—catatan dari para koleganya—berada di meja penulisan ulang. Ia menyimak saran-saran mereka: Berpakulah pada rasa ingin tahu khalayak, tidak setiap orang mengenal perjanjian Camp David 1978, tulis seorang kolega.

Seperti penulisnya sendiri, kantor itu menguarkan aroma maskulin. Wright terlihat bugar, dengan rambut beruban tebal. Satu-satunya yang menandakan ia berumur adalah kacamata baca berbingkai tanduk. Dibalut korduroi dan sepatu cokelat, ia membahas menggunakan telepon sekali pakai saat berbincang dengan para teroris dan surel terenskripsi untuk berkomunikasi dengan kaum Saintologis, seakan itu perkara sehari-hari yang sangat biasa seperti kita mengatur alarm rumah atau mengingatkan diri untuk mematikan kompor. Saat jenak berpikir, ia menyilangkan lengannya di belakang kepala. Saat bicara, ia terdengar seorang New Yorker yang cerdas tapi dengan aksen Texas. Terkadang kamu merasakan ada nada yang agak sedikit intimidatif saat ia bicara sewaktu ia menatapmu dengan mata birunya yang tajam, dan tersenyum saat ada yang lucu serta terbahak kala ketemu banyolan segar.

Ia sebesar dan seluas perkakas di ruangan ini karena ia adalah majikannya, seorang penulis yang dikitari oleh penelitiannya. Tak jauh darinya ada dua papan tulis geser memuat catatan buku. Untuk buku tentang Saintologi, ia menulis di papan itu daftar kronologi tanggal dan peristiwa. Untuk The Looming Tower, di papan satunya, ia membubuhkan karakter utama yang terbagi ke dalam tiga kolom berwarna. Di papan yang sama ia tuliskan aksara Arab, dari kanan ke kiri, sebuah latihan untuk perjalanan risetnya ke luar negeri. (Untuk memoles bahasa Arab, ia menyewa guru pribadi yang datang ke rumahnya delapan sampai 10 jam dalam sepekan.) Di tumpuan terdekatnya adalah kamus berukuran Gutenberg. Di salah satu sudut ruangan ada kursi usang berdecit tempat para tamu diajak untuk duduk, dan bercericit. Dan mendengarkan Larry. Dan berusaha tidak mencicit.

Bicaranya meluap-luap sewaktu obrolan kami menyinggung kartu catatan, dan ia melangkah menuju kabinet logam, dengan kedalaman 61 sentimeter, yang terpacak di satu pojokan. Setiap kartu catatan itu memuat ketikan informasi, selarik paragraf atau secukupnya. Ia membagi tiap-tiap kartu itu berdasarkan subjek, dan memisahkannya sesuai katalog menurut subjek. “Ini terlihat kuno, aku paham, tapi aku belum menemukan cara yang lebih baik,” ujarnya sambil menelusuri kartu-kartu catatan itu untuk bahan penulisan The Looming Tower. Ada label untuk masing-masing penerbangan dalam peristiwa 9/11—di landasan Pennsylvania, ke menara kembar dan ke Pentagon. Ia menunjukkan kartu berlabel merah bertuliskan “Pemancungan” dan label hijau “al-Qaeda.” Tidak semuanya tentang al-Qaeda, ia mengingatkan. “Aku bisa menyimpan informasi setebal 51 sentimeter tentang al-Qaeda.”

Segera kemudian ia menutup laci dan berdiri di tempat yang dulunya balkon tapi kini ruangan kantor tambahan. Di atas meja makan yang kokoh, di tengah ruangan kecil, ia melonggokkan berkas-berkas penelitian tentang Camp David, dari awal sampai akhir. Di sela tumpukan itu wajah Jimmy Carter mengambang.

SETIA PADA PROSES

Selama 25 tahun Wright memulai setiap pekan dengan mengayuh sepeda ke sebuah toko roti setempat untuk sarapan bersama teman dekat dan rekan penulis H.W. Brands, Gregory Curtis, dan Stephen Harrigan. Robert Caro, pemenang dua kali Pulitzer yang menulis biografi apik Lyndon B. Johnson (Presiden AS ke-36), kadang juga mampir. Mereka inilah yang pendapatnya diindahkan oleh Wright. Komentar mereka berakhir di tumpukan catatan di meja khusus tempatnya menulis ulang.

Ia selalu melewati pagi hari dengan penelitian dan petang hari dengan menulis. Pada pagi hari 11 September 2011, ketika menara kembar rontok, Wright duduk di kantor rumahnya di Austin dan meraih bloknot berwarna kuning cerah dan menulis sebuah nama di daftar teratas: Khaled al-Maeena. Ia menuju kotak bloknot, dan mengambil kertas catatan baru tempatnya menulis pagi itu. Maeena adalah seorang pengkritik keras Kerajaan Saudi. Seiring bertambah dan berkembang catatannya, ia terus menuliskan nama dan nomor telepon. Ia tengah mencari “bagal”—si pemanggul beban—untuk narasinya, karakter yang dapat mengangkut perhatian pembaca ke dalam dunia tersembunyi al-Qaeda. Satu nama muncul dalam halaman obituari The Washington Post dan menarik perhatiannya: John O’Neill, saat itu kepala keamanan World Trade Center dan mantan kepala kontraterorisme FBI. O’Neill sekian lama memburu Bin Laden. Alih-alih Bin Laden yang menemukannya.

Daftar itu seketika mencakup dimensi internasional: Saudi, Pakistan, Sudan. Seiring terus bergulir, si lelaki yang setia pada proses dalam penulisannya ini segera mengambil alih. “Setelah aku mendapatkan nomor telepon narasumber, aku menulisnya di tepi halaman. Dan saat aku bicara dengan para narasumber, aku menandainya sehingga aku tahu aku pernah mengobrol dengan mereka. Dan ketika kamu mewawacarainya, kamu bilang, ‘Siapa lagi yang harus kuajak bicara?’ Seketika ada ribuan nama.”

Selagi bicara itu, ia membolik-balik halaman bloknot aslinya, kini berumur 13 tahun, untuk bahan The Looming Tower. “Ini berkembang terus. Inilah proses mengisi alam semesta dari cerita yang kamu tulis. Kamu mengetahui secara umumnya saja siapa yang ada dalam cerita. Kamu mengetahuinya dalam surat kabar secara umumnya saja nama-nama mereka dan kamu selalu mengatakan, ‘Siapa lagi yang mesti kuajak bicara?’ dan kamu lantas bicara dengan mereka, kemudian bertanya hal yang sama, dan seterusnya. Akhirnya, kamu benar-benar tenggelam dalam cerita. Sampai kemudian kamu tidak lagi mendengar nama-nama narasumber yang baru. Dan pada momen itulah kamu tahu bahwa semesta ceritamu sepenuhnya sempurna.” Itulah apa yang dinamakan Wright sebagai reportase horizontal. “Itu aturan mendasar dalam jurnalisme: Ajak bicaralah setiap orang.”

Pria yang setia pada proses ini menakik pula pada apa yang disebut peliputan vertikal. “Beberapa dari mereka berwawasan luas, sangat menarik, lebih jujur dari yang lain. Dan kamu kembali ke mereka untuk mengajaknya bicara lagi dan lagi dan lagi. Kamu perlu kembali ke sumbermu. Kamu perlu menyadari bahwa mereka adalah kunci. Mereka adalah narator kunci untuk ceritamu,” kata Wright. “Sepertinya memang ada 600 narasumber [untuk The Looming Tower], tapi beberapa dari mereka aku wawancarai puluhan dan mungkin bahkan ratusan kali. Karena mereka adalah orang yang mampu menuturkan kisah dalam cara yang paling otentik dan menarik.”

Salah satu sumber pertama yang diwawancarai Wright untuk The Looming Tower adalah Khalid Khawaja, pria yang menurut Mariane Pearl bertanggungjawab atas pemancungan kepala suaminya, reporter The Wall Street Journal Daniel Pearl, di Pakistan. Khawaja diyakini membiarkan para penculik tahu kalau Pearl adalah Yahudi. “Aku biasanya percaya naluriku bila ada bahaya mengintai atau orang cuma bicara omong kosong. Kamu harus mengembangkan naluri ini. Aku merasa cukup linglung di Pakistan,” kata Wright.

Kunci lain dalam proses ini ialah membangun ketegangan, atau dalam istilah Wright, “teori gelang karet.” Tanamkan pertanyaan pada benak pembaca dan ulurlah jawabannya sebisa mungkin, ujarnya. Ia memulai halaman pembuka The Looming Tower dengan pertanyaan simpel: “Di kabin kelas satu di kapal pesiar menuju New York dari Alexandria, Mesir, seorang penulis dan pendidik paruh baya yang getis bernama Sayyid Qutb mengalami krisis iman. ‘Haruskah aku pergi ke Amerika sebagaimana mahasiswa normal yang mendapatkan beasiswa, yang hanya makan dan tidur, atau haruskah aku jadi orang yang spesial?’” Qutb, penulis yang menjadi Karl Marx-nya gerakan Islam, akhirnya kembali ke Mesir dan dieksekusi gantung.

Untuk film HBO, My Trip to Al-Qaeda, Wright menuturkan kalimat pembuka, “Kamu tak pernah tahu kapan hidupmu berubah selamanya.” Khalayak dibiarkan penasaran: Bagaimana hidupnya berubah? “Fakta bahwa aku menulis skenario film telah membantuku memahami bagaimana menuntun pembaca. Kamu tahu: menatah karakter dan membangun adegan yang lebih mencekam dan menukik bagi pembaca,” ujarnya. Di sisi lain, ia menggamit teknik jurnalistik untuk menggarap tangga dramatis. “Aku selalu merasa bahwa perihal nyata lebih menakjubkan ketimbang hal-hal imajiner. Ini hanya pemikiranku,” ujarnya. “Rasanya kamu tak bisa membuatku takjub dengan hal-hal yang serba dibuat-buat. Realitas melemparkan begitu banyak kejutan pada kita.”

Wright sepenuhnya merawat sejumlah bloknot serta rekaman percakapan, di mana hanya yang terpenting diletakkan ke dalam kartu catatan. Menjaga tumpukan bahan ini secara terorganisir dan gampang diraih di kabinet arsip miliknya adalah kunci menjaga “kereta terus bergerak”—bukan hanya bagi penulisnya, tapi juga bagi pembaca, ucapnya. “Secara tidak sadar, jika kamu beranjak dan memutuskan mulai menulis karena kamu tak punya bahan yang pas di tanganmu dan kamu tak menguasainya, maka kukira hasilnya pun merefleksikan itu.”

Asisten penelitiannya, Lauren Wolf—yang membantu proses kerja Going Clear, mentranskrip  wawancara dan bekerja dengan bos serta mentornya dalam penulisan nonfiksi bergenre narasi (atau dikenal pula ‘long-form’). Bekerja dengan Wright membantu Wolf belajar kapan kita berhenti meneliti dan mulai menulis. Melihat secara dekat bagaimana Wright bekerja, ujarnya, “membuatku tak terlalu berusaha keras menghasilkan draf pertama yang sempurna.” Mendengarkan wawancaranya, kata Wolf, kita akan mengetahui kekuatan suatu jeda panjang. Ia tidak cemas dengan keheningan, ujarnya. Ia akan membiarkannya berlama-lama sementara kebanyakan reporter akan mengisi keheningan itu dengan basa-basi tiada guna. Subjek wawancara juga menginginkan keheningan. “Berkat dia, caraku kini mendengarkan pun berubah,” kata Wolf.

John Burnett, koresponden nasional untuk National Public Radio di Austin, memakai sistem penelitian Wright dalam serial investigasi terbaru dan “itu benar-benar menyelamatkan cerita,” ujarnya. “Aku menyukai fakta dia orangnya baik dan analog sekaligus 3D” dalam dunia kini yang terhubung lewat Dropbox. Wright mendekati subjek ketika kebanyakan reporter sungkan menyentuhnya, melacak asal-usul al-Qaeda pra-9/11 dan kemudian menggarap riwayat Gereja Saintologi yang tersembunyi dan doyan berpekara, menurut Burnett. “Aku kira siapapun tak sanggup meladeni kedua topik itu seambisius dirinya.”

Kelihatannya mudah bagi Wright, tapi hasilnya tak selalu sukses. Pada awal tahun kariernya, ia tertatih-tatih, melakukan ini-itu sebagai pekerja lepas. Ia merasakan tekanan untuk bisa menghidupi kebutuhan keluarganya dan menghasratkan karya yang laku keras. Pada satu acara pesta peluncuran bukunya, Noriega: God’s Favorite—novel yang terbit tahun 2000—ternyata hanya empat orang yang hadir. Itu satu fakta yang kerap jadi terminal bagi karier para penulis yang cuma datang sekelebatan. Tetapi sahabatnya, Mimi Swartz, kontributor Texas Monthly, berkata ia tetap mengejar cerita yang sulit, tak peduli ongkos dan waktu yang dipertaruhkan. “Apa yang kupikirkan soal awal tahun kariernya ini, ketika susah payah keuangannya, ia terus saja mengejar kisah-kisah berdampak luas” katanya. “Begitu banyak penulis yang menyerah. Sebaliknya ia berani mengambil langkah besar. Ia terus berusaha hingga berhasil.”

TEMA AGAMA

Karya buku dan esai Wright acapkali mengeksplorasi keyakinan agama beserta rasa aib, penghinaan, dan konversi yang biasa dialami para penganutnya dari Mormon, Saintologis, sampai Muslim. “Aku terpesona pada bagaimana seseorang bisa merengkuh orang baik yang idealis dan menanamkan keyakinan yang tak pernah mereka kira yakini dan melakukan tindakan yang tak pernah mereka sangka lakukan. Kita semua dipengaruhi dalam hidup kita suatu gagasan besar maupun sepele.” Dalam Twins: And What They Tell Us About Who We Are—bukunya yang terbit tahun 2000, ia mengarungi kehidupan bayi kembar yang terpisah sejak lahir dan risetnya menunjukkan bahkan bayi kembar yang dibesarkan terpisah pun akan berbagi minat dan pertautan pada keyakinan agama.

“Keyakinan agama jauh lebih kuat ketimbang keyakinan politik. Dalam observasiku, orang bisa punya pandangan politik yang sangat keras. Jarang hal itu benar-benar mempengaruhi perilakunya. Tapi pandangan agama yang sangat teguh memang punya sifat dasar yang berbeda. Pandangan itu sangat mengakar. Dan tak hanya bagi individu tapi bagi masyarakat,” ujarnya. “Aku kita para reporter cenderung melihat agama sebagai sesuatu yang tidak suka dibahas karena dianggap tidak sopan atau tak relevan. Aku tak sepakat. Aku kira peta bumi agama harus jadi gudang senjata setiap reporter.” Dengan memindai keyakinan agama orang per orang, katanya, “kamu mungkin mengetahui apa yang menarik mereka sehingga mendorong mereka meyakini jalan yang mereka tempuh.”

Keyakinan religius Wright tumbuh kuat semasa muda di Dallas pada 1960-an. Keluarganya termasuk jemaat Gereja Methodis Bersatu tempatnya bergabung bersama Young Life, sebuah kelompok pemuda, dan kemudian anggota Kampanye, satu divisi lebih sengit yang sumpahnya disaksikan anak muda sebaya dan mengikat mereka dengan akad persahabatan dan Kabar Baik. Bagian dari pekerjaan mereka termasuk memeragakan peran sebagai seorang pendusta, penggoda, dan penyangsi saat akan melanjutkan sekolah tinggi.

“Aku yakin aku tidak mengajak siapa pun berpindah keyakinan di sekolah,” kata Wright. “Malahan mereka lebih sering meyakinkan diriku.” Peran yang ia peragakan adalah seorang intelektual yang mengklaim diri Tuhan seperti seorang pembuat jam yang menciptakan jam dan lalu mati. “Alam semesta ini sebuah jam dan tak ada campur tangan Tuhan. Dan aku melakukan peran itu dengan sangat meyakinkan,” katanya. Sesudahnya, kenang Wright, pemimpin grup berkata kepadanya agar menyangkal ucapan yang ia lontarkan dalam peran tersebut. “Aku tak bisa. Aku sebenarnya mengungkapkan unek-unek semua anggota Young Life. Jadi, aku pergi kuliah dan menjadi eksistensialis.” Kini ia tak bisa memastikan label agama untuk dirinya. “Aku kepincut tapi tidak optimis,” katanya.

Wright meninggalkan Texas untuk studi ke Tulane University di New Orleans tempatnya bertemu Roberta, dan kemudian kuliah di Universitas Amerika Kairo. Ia kembali ke AS pada 1971 dan mengambil kesempatan kerja perdana sebagai wartawan di Race Relations Reporter di Nashville—suatu ironi bagi seorang pemuda kulit putih tapi tak menghalanginya meliput isu rasial di Selatan. Dua tahun kemudian ia bekerja untuk Southern Voices dari Atlanta dan menulis lepas untuk sejumlah majalah nasional sampai berlabuh di Rolling Stone sebagai kontributor editor. Pada 1992 ia menjadi staf penulis yang didambakan di The New Yorker, tetapi tentu setelah beberapa kali tulisannya ditolak. Artikelnya tahun 2011, “The Apostate” tentang penulis skenario Paul Haggis dan kehidupan publiknya yang terbelah karena Gereja Saintologi menjadi dasar bagi karya narasinya, Going Clear.

KRONIKUS ULUNG

“Bertahun-tahun lalu kami hanya mengobrol tiada habis tentang bagaimana kami bisa sukses. Seperti apa rasanya jadi orang sukses dan bagaimana kami mencapainya,” ujar Stephen Harrigan, anggota klub sarapan yang bekerja dengan Wright di Texas Monthly pada 1980-an—Wright hanya enam bulan di sana—dan baru belakangan ini menulis naskah drama. Harrigan, salah satu penulis paling sukses di Texas, sepakat bahwa keberhasilan karier menulis Wright berkat kecakapan organisasionalnya yang ulung.

Namun terkadang seorang penulis “menjumpai perkara yang membuatnya tergerak menulis,” kata Harrigan, yang melihat draf perdana The Looming Tower dan segera tahu akan jadi karya mencorong. “Sambutan dan pencapaian atas buku itu memberinya dimensi personal sebagai pengarang dan pengakuan internasional. Dengan kata lain, identitas anyar sebagai penulis, kekuatan baru, suatu tujuan baru,” ujar Harrigan. “Mencapai kesuksesan seperti itu dan [lantas menulis] Going Clear agak menenangkan batinmu.”

Jika Wright melakukan sesuatu, kata kolega dan keluarganya, ia akan mengerjakannya mati-matian. Usai menulis artikel majalah soal mengenang 20 tahun pembunuhan Kennedy, ia sendiri menghipnotis dirinya di tahun 1983 itu untuk menyingkap apakah ia salah satu di antara anak-anak sekolah di Dallas yang dikabarkan tertawa saat berita kematian Kennedy diumumkan. Di bawah pengaruh hipnotis, ia ingat mendengar semburan napas dan pengumuman itu lewat sistem alamat publik. Tapi ia tak bisa mengingat apakah ia tertawa. Ketika ingin memainkan “Great Balls of Fire” untuk ulangtahunnya ke-40, ia mulai berlatih pada usia 38 tahun, memulainya dengan belajar memainkan lagu “Somewhere Over the Rainbow.” Kini, ia berlatih dengan Floyd Domino, pemain piano “boogie woogie” pemenang Grammy. Wright juga bermain di seputaran Texas bersama band WhoDo, berpenampilan koboi urban dengan jins hitam, sepatu bot hitam, dan kemeja koboi berkancing mutiara hitam bersulam banteng putih.

Bahkan sesudah ia menerbitkan buku, ia masih menyentuhnya. Ketika Wright mendengar mantan jurubicara Saintologi Tommy Davis pindah ke Austin, ia mencoba menemuinya. Davis akhirnya menjawab permintaannya tahun lalu dan berkata kepada Wright, “Pandanganku tak berubah.” Wright tak terkejut bahwa Davis masih mempertahankan posisi di kubu gereja. “Satu-satunya hal yang kutahu adalah aku tak ingin dia lantas punya kesempatan untuk berkata, “Sudahlah, Wright tak pernah menanyakanku.”

Keuletan itu tetap saja tak berpihak padanya. Gereja Saintologi membuat situsweb, LawrenceWrightGoingClear.com, Gimana Lawrence Wright Ketauan Bo’ong Banget, yang membelejeti bab demi bab bukunya, dan laman utama situs itu menampilkan muka Wright yang direka-ulang dengan mata tajam mengerling di balik sampul buku—jelas sekali mengirim pesan dirinya iblis.

Pada awal 2000-an, anggota Pasukan Gabungan Anti-Terorisme datang ke rumah Wright di Austin dan pengin tahu mengapa ia mengontak nomor telepon di L0ndon milik seorang pengacara yang mewakili jihadis. Wright bilang itu untuk riset, tapi mereka ingin tahu tentang Caroline Wright, putrinya, yang namanya tak terdaftar dalam tagihan telepon. Itulah bagaimana ia mengetahui mereka menguping percakapannya. Nama putrinya muncul dalam transkrip telepon yang didapatkan secara ilegal bersama nama-nama anggota al-Qaeda.

Selama reportasenya untuk The Looming Tower, Wright beradu argumen dengan anggota Ikhwanul Muslimin dan lantas mendapati dirinya hampir berkarib dengan orang yang dipastikan “tangannya berlumuran darah.” Keluarganya cemas akan lawatannya ke luar negeri. Istrinya lebih khawatir pada pengikut Saintologi. Wright melucu bahwa seenggaknya mereka tak memancung kepalanya. Roberta tak berpikir itu sebagai lelucon.

Ya, ia letih menulis Saintologis dan teroris. Meski ia penulis tahan banting dan tipe suami setia, kartu-kartu catatannya menjemukan, waktu terbuang jauh dari rumahnya melelahkan, dan penelitiannya menelan banyak waktu bahkan sekalipun dibantu oleh asisten. Tetapi cerita-cerita ini, ujarnya, adalah pemikat hati. Mereka menggairahkan. Mereka tak ingin lepas. Dan Larry pun sungkan melepasnya. “Ini semata soal cerita. Kisah. Prosa. Kamu tahu, aku orangnya sangat simpel. Aku didorong kerinduan untuk menuturkan kisah besar. Tak peduli apa pun kondisinya. Aku hanya ingin memiliki kesempatan untuk menciptakan narasi dan hal ini sudah jadi bagian fundamental dari diriku,” tuturnya. “Ada pengorbanan untuk keinginan menjadi sekadar pencerita dan tidak menangguk keuntungan atau tidak berperan sebagai penengah atau apalah sebutannya. Tetapi aku seorang kronikus.” Tubuhnya mencondong ke depan, ia mengangkat lengan di atas kepalanya, lantas jemarinya menjepit kacamata baca. Sekilas ia tersenyum dan menghela napas dalam-dalam, merosot dalam perasaan murung bahwa bila ia menarik diri dari pekerjaannya, sesungguhnya itu menentang kariernya yang tak mengenal kata pensiun.

Wright akan selalu berdiri di tepi kolam di Pakistan dan memilih cerita melebihi sahabat baik. Melebihi keluarga. Melebihi keselamatan. Ia akan sekali lagi mengetuk pintu penganut Saintologi . Ia akan mengisi lagi kartu catatan di kabinet arsipnya yang dipenuhi berkas penelitian, dan menorehkan lagi kerangka kerja di papan tulis.

Ia takkan berhenti karena ia tak bisa berhenti.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s