Racun Tambang Emas Indonesia

Lebih dari sejuta penambang skala kecil di negeri ini terpapar racun merkuri, menyebabkan anak lahir lumpuh.

Oleh Richard C. Paddock

IPAN, 16 BULAN, menderita kejang kali ketiga pagi ini. Kepalanya kelewat gede dari badannya dan kakinya setipis tongkat. Punggungnya melengkung, anggota tubuhnya kaku. Ia menangis kesakitan.

Ibunya, Fatimah, berusaha menenangkan Ipan, tapi tak banyak yang ia bisa lakukan. Seorang dukun berkata jiwa anaknya kerasukan arwah monyet, kalong, dan gurita. Atas saran si dukun, Fatimah dan suaminya, Nursah, mengganti nama putranya dari Iqbal ke Ipan dan menyuapi Ipan dengan nasi kepal isi daging cumi.

“Kata dukun, itulah mengapa kaki Ipan terlihat seperti kaki monyet,” ujar Nursah. “Sebetulnya saya tak percaya, tapi saya akan berusaha segala cara.”

Dokter mengatakan dalang sebenarnya sangatlah gamblang: keracunan merkuri. Orangtuanya penambang skala kecil yang biasa memakai logam berat itu untuk memproses emas selama bertahun-tahun sebelum Ipan lahir, termasuk ketika Fatimah mengandung.

Jutaan manusia di 70 negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan telah terpapar kadar tinggi merkuri sejalan pertambangan skala kecil tumbuh dan berkembang selama 10 tahun terakhir. Program Lingkungan PBB (UNEP) menaksir sedikitnya 10 juta penambang, termasuk kurang-lebih empat juta perempuan dan anak-anak, bekerja sebagai “pengrajin” tambang emas skala kecil, yang menghasilkan sebanyak 15 persen dari produksi emas dunia.

Lebih dari sejuta penambang mengais kehidupan menggali emas ilegal di sedikitnya 850 hotspot, ujar Yuyun Ismawati, pemenang Anugerah Lingkungan Goldman 2009 yang meneliti secara ekstensif soal pertambangan skala kecil. Banyak dari penambang ini menjadi mangsa pihak berwenang yang korup, yang mengambil bagian emas ketimbang menegakkan hukum untuk melarang penggunaan merkuri.

Indonesia, negara kepulauan berpenduduk terbesar keempat di dunia, memiliki salah satu problem merkuri terburuk, menurut Stephan Bose-O’Reilly, pakar kesehatan anak yang menjadi relawan di kelompok lingkungan Yayasan Bali Fokus.

“Indonesia adalah hotspot global sesungguhnya,” kata Bose-O’Reilly dari lawatan terbarunya meneliti penambang emas. “Saya tak pernah melihat yang lebih buruk dari di sini.”

Ipan adalah satu dari sedikitnya 46 korban yang diduga keracunan merkuri, yang teridentifikasi oleh dokter di daerah miskin di Lombok Barat, sebuah pulau wisata bersebelahan dengan Bali. 131 orang lain menderita keracunan merkuri telah ditemukan di pulau Jawa, Lombok, dan Sulawesi, menurut Ismawati.

Ada banyak korban lagi yang luput terpantau di desa-desa terpencil di seantero Indonesia. Hitung-hitungan secara nasional, menurut Ismawati, ada 100 ribu–200 ribu orang menderita karena racun merkuri, dan 10 ribu–20 ribu anak cacat lahir akibat terpapar merkuri sejak dalam kandungan.

Beberapa penambang memanaskan merkuri di dapur mereka, tempat uap dapat mencapai konsentrasi empat kali lipat dari jumlah yang dianggap aman menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dosis tinggi merkuri, yang jadi racun neurologis, sudah terang didokumentasikan sebagai penyebab difabel sejak lahir, termasuk lumpuh dan gangguan sistem saraf. Peristiwa keracunan merkuri paling dikenal terjadi di Jepang pada 1950-an saat sebuah pabrik membuang limbah logam berat ke Teluk Minamata. Lebih dari 2.000 orang teracuni makanan laut di teluk itu, membunuh beberapa orang, dan puluhan anak-anak menderita difabel parah sejak lahir.

Di Indonesia, buruh anak menjadi pemandangan lazim di tambang emas, dengan anak-anak seumuran 8 tahun menggali bijih emas dan anak seumuran 12 tahun membakar amalgam yang mengandung emas-merkuri.

Mujiburrahman, 14 tahun, yang tinggal di kampung Luang Baluk, Lombok Barat, berkata dia mulai memanaskan merkuri selama dua tahun terakhir. “Aku membakar amalgam (campuran emas, perak, maupun logam lain) dua atau tiga kali dalam seminggu,” katanya. “Aku tak pernah pakai pakaian pelindung.” Uapnya, kata dia, “terbang bebas begitu saja.”

Dokter telah mengidentifikasi 24 anak di desa-desa pertambangan di kecamatan Sekotong, Lombok Barat, NTB, mengalami difabel sejak lahir atau penyakit lain akibat merkuri.

Di antara mereka adalah Lailatul Azwa, yang lahir pada September tanpa lengan kiri. Seperti Ipan, dia menderita kejang-kejang.

Bocah enam tahun bernama Aida lahir dengan jari-jemari kerukut di kedua tangan.

Nyimas, yang menderita pembesaran tengkorak dan cacat serius, meninggal awal tahun ini pada umur 8 tahun. Bocah perempuan itu nyaris dalam keadaan pasif sepanjang hidupnya.

“Uap merkuri sangat beracun bagi otak, terutama sekali selama masa pertumbuhan, dan karena itu paparannya dapat menjerat ibu hamil dan anak-anak kecil,” ujar profesor Philippe Grandjean dari kesehatan lingkungan Harvard, pakar terkemuka tentang efek paparan merkuri.

Demam Emas

Pertambangan skala kecil mulai mencungul di Indonesia setelah penguasa militer Suharto lengser pada 1998, dan berkembang marak di era pemerintahan berikutnya. Nyaris semua penambang tradisional memakai merkuri untuk menyuling emas, bahkan sekalipun praktik itu telah dilarang pemerintah sejak 2014.

Para penambang skala kecil ini menghasilkan 5 milyar dolar emas dalam setahun, menurut Atmadji Sumarkidjo, staf khusus Luhut Panjaitan, menteri koordinator politik, hukum, dan keamanan. Itu setara 7 persen dari total produksi emas nasional. Produk domestik bruto Indonesia sekitar 873 milyar dolar pada 2015.

Para penambang membuang ratusan ton merkuri ke dalam air, tanah, dan udara, seringkali di area terpencil dan miskin, mencemari makanan dan margasatwa. Di sejumlah desa, keluarga-keluarga memakai limbah tambang terkontaminasi merkuri sebagai pondasi rumah atau untuk mengeraskan pelataran dan jalan.

Di kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tempat para penambang emas skala kecil beroperasi lebih dari 15 tahun, penduduknya diperingatkan dua tahun lalu ketika lembaga lingkungan lokal menguji jambu biji, singkong, pepaya, dan pisang yang tumbuh di daerah itu dan mendapati buah-buah itu telah begitu teracuni merkuri.

“Anak-anak di area pertambangan telah terpapar merkuri sejak dalam kandungan, dan beberapa lahir dalam keadaan difabel,” ujar Ismawati. “Saat beranjak remaja, mereka mengisap udara, meminum air, dan memakan nasi yang terkontaminasi.”

Kawanan penambang berdatangan ke ladang emas yang baru saja ditemukan, acapkali di taman nasional atau di area publik lain, tempat mereka bekerja tanpa mengajukan izin. Mereka menggali dalam-dalam lubang tambang, mendulang di sungai, menghancurkan hutan, dan meracuni lingkungan.

Ballmill—atau mesin penggiling berbentuk silinder—bekerja terus-menerus dengan suara bising di komunitas-komunitas pertambangan, seringnya pula di samping rumah, menggiling bijih bersama merkuri dan air untuk mengekstrak emas. Selagi mesin giling berderak dan berputar, batu itu hancur dan butiran-butiran emas melekat pada merkuri. Sesudahnya, para penambang mengalirkan cairan dan memurnikan yang masih menyisakan merkuri. Tetapi kebanyakan lagi menjadi uap dan mengotori udara atau merembes ke tanah dan mengaliri sungai.

Di tahap akhir penyulingan emas, para penambang biasanya memanaskan campuran merkuri dan emas dengan obor las, menguarkan uap merkuri beracun ke udara. Menghirup uap dari pembakaran amalgam merupakan bentuk paparan paling berbahaya, menurut para dokter.

Memasak Merkuri

Karto Paimin, 67 tahun, tinggal bersama keluarganya di perbukitan yang tenang di sebuah rumah kayu bergaya Jawa beratap limas dengan ruang keluarga yang jembar. Keluarga itu menggali terowongan sedalam 15 meter di lereng bukit di bawah rumah untuk mencari bijih emas, yang mereka proses dengan merkuri di lokasi mesin penggilingan di taman.

Sesudah berjam-jam bekerja, Paimin menghasilkan sebongkah kecil merkuri dan emas, yang kemudian dibawanya ke dapur di ujung rumah. Ruangan belakang itu berlantai kotor, berdinding anyaman bambu, dan memiliki tungku kayu sederhana tanpa cerobong asap. Dua panci besar berisi sop dipanaskan di atas tungku pada pertengahan sore.

Paimin mengeluarkan sepotong pipa sepanjang 46 sentimeter yang salah satu ujungnya tertutup. Dia menyuling amalgam emas-merkuri ke ujung pipa yang tertutup itu dan meletakkannya ke api. Ujung pipa satunya dia letakkan ke piring kecil berisi air di lantai. Putrinya, Yuni, 33 tahun, dan cucunya, Galang, 9 tahun, berjongkok memperhatikan di dekatnya.

Saat pipa itu memanas, merkuri mencair dan mengalir ke piring. Tapi sebagian merkuri itu menguap, dan asapnya menyapu ruangan.

Krishna Zaki dari Bali Fokus membawa alat analis uap portabel ke dapur dan mengetes udara. Dia mendeteksi ada sekira 4.000 nanogram merkuri/ meter kubik, empat kali lipat dari ambang 1.000 yang dianggap aman sesuai standar WHO.

Ismawati seketika mengatakan kepada keluarga itu bahwa udara di dapur tidaklah aman, jadi mereka harus segera ke luar. Tapi tak ada anggota keluarga itu—termasuk anak-anak—mengacuhkan sarannya.

Ketika proses itu rampung, Paimin memungut gelintiran emas panas seberat dua gram, yang dia bisa jual seharga sekira 75 dolar (setara ± Rp1 juta).

Di luar, istri Paimin, Dinah, 55 tahun, mengeluh sakit kepala dan sesak napas. Ismawati memeriksanya dengan sejumlah tes sederhana termasuk menyentuh hidungnya dan menggerakkan pergelangan lengan secara bersamaan. Dia terlihat kurang sehat, dan Ismawati menyarankannya untuk tes paparan merkuri. Dinah terkejut. Dia dan suaminya tak tahu bila merkuri itu berbahaya.

“Sekarang saya tahu,” kata Paimin meratap. “Tapi sebelumnya saya tidak tahu, dan saya memasak merkuri di dapur.”

Sejak zaman Romawi, ketika para budak menambang mineral cinnabar (sulfida merkuri), merkuri jamak diketahui penyebab beragam gejala, termasuk sakit kepala, tremor, kesulitan jalan, dan akhirnya kematian. Tetapi keracunan merkuri bisa sulit didiagnosis karena gejalanya punya banyak kemiripan dengan penyakit lain.

Luasnya masalah kesehatan terkait merkuri di Indonesia hanya diketahui terbatas lewat kerja-kerja seperti yang dilakukan Bali Fokus, para dokter relawan, dan segelintir pejabat pemerintah yang mencari tahu para korban lewat tes merkuri di udara, makanan, rumah, dan air.

Erick Gunawan, dokter pusat kesehatan masyarakat di Sekotong, pulau Lombok, telah melakukan dua kali pengujian di lingkungan pertambangan dengan bantuan Bali Fokus dan menemukan puluhan korban berpotensi merkuri. Dia meyakini ada banyak lagi yang terpapar racun merkuri dan berharap lebih banyak lagi pengetesan.

“Ini seperti gunung es,” dia berkata. “Kamu hanya melihat puncaknya saja, tapi tak tahu apa yang terjadi di bawahnya.”

Klaim Pemerasan

Bencana lingkungan yang terus merambat mulai jadi perhatian para pejabat teras pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menteri koordinator Luhut Panjaitan menyatakan aturan larangan pertambangan ilegal tahun lalu merupakan tantangan keamanan yang dihadapi negara ini. Sumarkidjo, asistennya, berkata ucapan atasannya merujuk para penambang ilegal yang merusak lingkungan dan menyebarkan merkuri di sekitar wilayah pertambangan.

Dia berkata atasannya terutama menyoroti cepatnya kerusakan dan meluasnya penggunaan merkuri oleh para penambang di Pulau Buru yang terpencil, tempat yang dikenal sebagai lokasi tahanan politik Orde Baru, di Kepulauan Maluku di mana demam emas telah memikat ribuan penambang sejak 2012.

“Saat anda lihat Pulau Buru, kerusakannya sudah bukan lagi skala kecil,” katanya. “Butuh bertahun-tahun untuk membersihkan merkuri.”

Gatot Sugiharto, pendiri Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia, berkata para penambang dipaksa menyerahkan setengah pendapatannya ke para polisi dan tentara yang korup, yang mengontrol akses area tambang dan menagih jatah. Dia menduga milyaran dolar masuk ke kantong para pejabat yang seharusnya menegakkan hukum melarang pemakaian merkuri.

“Limapuluh persen penghasilan para penambang diperas,” katanya. “Kadang polisi mengambil semuanya.”

Sumarkidjo setuju bahwa status ilegal, atau liar, yang disematkan kepada para penambang membikin mereka gampang diperas. Dia juga mengakui para polisi dan tentara ambil keuntungan besar dari situasi itu.

“Kantor kami tak bisa membuktikan berapa yang mereka ambil,” kata asisten menteri itu. “Tapi anda tak bisa melakukan perbuatan ilegal tanpa mengawasi peran pihak-pihak berwenang—kepolisian dan militer setempat. Setiap orang ambil jatah mumpung sempat.”

Sugiharto, mantan penambang, menganjurkan perlu legalisasi penambang skala kecil karena itu satu-satunya cara untuk mengakhiri penggunaan merkuri. Bekerja di luar hukum artinya para penambang tak membayar pajak, menggerus pendapatan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Jika mereka bekerja secara legal, katanya, pemerintah dapat mengajari metode non-pemakaian merkuri, mengatur kegiatannya, dan mengumpulkan pajak untuk perawatan kesehatan, pembersihan merkuri, serta pemulihan lahan.

“Karena ilegal, semua aktivitasnya tak terkontrol,” ujarnya. “Mereka memakai merkuri di dalam rumah, menyembunyikan dari masyarakat atau dari pejabat. Ini amat sangat berbahaya karena kadang mereka membakar merkuri di dapur atau di kamar.”

Aksi Global

Luasnya kontaminasi merkuri di seluruh dunia mendorong aksi internasional. Pada 2013, 128 negara meneken Perjanjian Minamata tentang Merkuri, dengan tujuan membatasi perdagangan dan penggunaan merkuri secara global.

Perjanjian PBB itu tak melarang merkuri di pertambangan emas skala kecil, tapi menuntut negara-negara penandatangan untuk mengambil langkah-langkah mengurangi pemakaiannya dan menghentikannya “sedemikian mungkin.” Di antara langkah itu, negara-negara diharapkan merancang rencana aksi terperinci untuk memberantas pembakaran amalgam dan mengedukasi masyarakat soal bahaya merkuri.

Indonesia meneken perjanjian tersebut, tapi sejauh ini belum menjadi bagian dari 25 negara, seperti Amerika Serikat, yang meratifikasinya. Konvensi itu akan berlaku setelah 50 negara meratifikasinya.

Tuti Hendrawati Mintarsih, dirjen pengelolaan sampah dan limbah bahan beracun berbahaya dari kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, mengatakan lembaganya tengah mengembangkan rencana aksi nasional. Tetapi dalam mengatasi problem merkuri, dia berkata, pemerintah terhambat oleh tumpang-tindih hukum dan minimnya pendanaan untuk mencari korban, menyediakan pelayanan, dan membersihkan kontaminasi.

Sementara itu, pertambangan terus saja beroperasi.

Resti Fauzia, usia dua tahun, tak sekali pun mengeluarkan sepatah kata. Dia berhenti berjalan pada umur 18 bulan, ujar ibunya, Ocih. Dia tak bisa menggenggam benda atau berdiri tanpa bantuan. Ketika tidur, otot-ototnya kejang.

Keluarganya tinggal di desa Pangkal Jaya, dekat Gunung Pongkor, sekira 97 kilometer baratdaya Jakarta. Para penambang rakyat telah menggali lubang emas di sana sejak kira-kira tahun 2000. Lebih dari 10.000 penambang kini bekerja di sana.

Selama 15 tahun keluarga Resti mengoperasikan mesin penggiling emas hanya di luar pintu dapur. Para relawan dokter yang bekerja bersama Bali Fokus menguji gadis itu dan menyimpulkan dia menderita akibat keracunan merkuri.

Di hari tim relawan medis memeriksa Ratih, tingkat merkuri di luar dapur mencapai 20 kali lipat dari ukuran ambang batas aman sesuai hitungan WHO.

“Tak ada yang pernah mengatakan kepada saya bahwa merkuri itu berbahaya,” ujar Ocih.*

Catatan:

Naskah ini dimuat National Geographic tanggal 24 Mei 2016, atas kerjasama dengan Pulitzer Center on Crisis Reporting. Dampak racun merkuri memang nyata, meski kita juga mesti skeptis atas pernyataan pejabat (terutama dari Menteri Luhut Panjaitan dalam naskah ini) yang memiliki jaringan bisnis (usaha keluarga maupun patungan) pertambangan, yang juga merusak lingkungan. Saya menerjemahkan naskah ini untuk tujuan pendidikan, dan sebagai bacaan dalam kelas penulisan lapangan di Palu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s