Filep Karma

FK
Filep Karma di stasiun Tugu Yogyakarta setelah datang menghadiri sidang pra-peradilan atas kasus rasialisme yang menimpa mahasiswa Papua. ©2016

Ia besar bukan dengan peluru. Dan satu setengah bulan usai kejatuhan Soeharto menyulut bara kebebasan politik di Papua yang nantinya berumur pendek, sebutir peluru melesat begitu dekat hingga menggores sebilah pipinya dan ia merasakan panas dari timah api yang terbakar memancar di belakangnya. Ia bersyukur, bagaimanapun, dan menyadari berhari-hari kemudian saat dirawat di ranjang rumah sakit di samping seorang polisi, si opsir itu mengatakan bahwa peluru tersebut, yang akan membunuhnya bersama ratusan orang Papua lain yang dibuang ke laut di hari aksi menuntut referendum, sudah pasti datang dari penembak jitu. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara dan ia mengajukan banding dan bebas. Tetapi, dengan menyimpan hati nurani yang makin bergolak, ia kembali mencium bilik jeruji negara Indonesia—kali ini dalam tempo yang panjang—dan itulah senjatanya: Seseorang dengan sepenuh sadar mengangkut kata-kata kebebasan yang diringkus dari kemerdekaan dan kemanusiaan yang dibunuh, dan sebab itulah ia dibui, dan kata-kata itu bukannya padam tapi justru kian menemukan api.

Kita akan berkata cukup atas penyiksaan dan pengabaian yang mematikan semangat, tapi ia memahami bahwa kesabaran melebihi kurungan tempatnya menghadapi segala keterbatasan—kau bisa sebut apa saja: perasaan alamiah seorang manusia untuk mencurahkan kasih sayang kepada keluarga, komunikasi dengan dunia luar, kemerdekaan bergerak. Ia jatuh sakit dan, karena negara menolak mengobatinya, ia diharuskan tidur telentang dengan mengangkat kedua kakinya bersandar ke tembok. Pose tidurnya itu, bersama kardus-kardus, toples-toples, tas punggung, lembaran-lembaran koran dan barang-barang lain, dengan hanya mengenakan celana pendek dan telanjang dada dan muka menentang langit-langit dan kacamata bertengger di atas cambangnya yang lebat, di atas kasur lipat, yang menyiratkan kesenyapan perlawanan dalam kondisi yang berantakan, tersebar lewat sebuah harian lokal dan memicu amarah puluhan anak muda yang tergabung dalam organisasi militan. Sesudahnya, berkat publikasi itu, otoritas penjara mengizinkannya berobat ke rumah sakit terdekat. Anak-anak muda itu pula lantas menggalang dana publik bagi para kamerad mereka yang telah mendekam di penjara karena menyuarakan kebenaran. Terhubung dalam jaringan solidaritas yang kian meluas, ia kemudian diterbangkan ke satu rumah sakit di Jakarta, sebuah ibukota dari negara yang terlalu banyak mengisap kekayaan politik dan ekonomi yang ditopang aparatus penindasan bertahun-tahun.

Ia menolak bebas tapi presiden baru, yang dengan cepat mengecewakan harapan jutaan pemilihnya, mendesaknya dan ia agak limbung untuk mengenali lagi pacar yang direnggutnya selama sebelas tahun: sekeping kehidupan bebas. Terkejut atas sehelai kenyamanan yang diberikan penjara, ia lantas meminta waktu sejenak untuk memintasi lagi mistar penghubung antara dunia dalam batinnya dan realitas yang terlalu lama digelayuti udara berbau amis darah dan genangan kebusukan dan tipu muslihat dan sampah kekerasan yang setia menanti di setiap kelokan. Karena begitu cepat ajal menjemput aksi-aksi perlawanan, ia memahami bahwa satu-satunya kebenaran adalah gelak tawa atas ketakutan yang muncul dari kekacauan.

Bertahun-tahun ia tetap mengenakan pakaian yang sama: seragam pegawai negeri, dengan sebuah pin bendera Bintang Kejora tersemat di atas kancing kemeja, dan sebuah topi lusuh dengan bendera Timor Leste pemberian seorang kawan, dan cambang yang dibiarkan panjang untuk sebuah janji yang ia ikrarkan, bahwa ia akan memotongnya bila bangsanya telah merdeka, dan bahwa bila tujuan itu belumlah tercapai hingga akhir hayatnya, maka ia minta dikuburkan bersama cambang tersebut.

Kenyataan bahwa ia pernah menghadapi kematian tak hanya sekali justru memberinya langkah baru. Kesegaran leluconnya, kata-katanya yang memantik api kesadaran bagi generasi muda yang sudi mendengarkannya, dan kombinasi antara kekuatan tubuhnya yang telah pulih dan kegemarannya menyelam pantai-pantai biru Papua, telah membuatnya dengan santai melawat sendirian ke pulau Jawa tempatnya bertemu dengan sejumlah kawan. Ia banyak tersenyum dan tergelak di stasiun yang akan membawanya pergi untuk satu urusan keluarga dan ia bermil-mil dari tanah kelahirannya dan kita, sebagai temannya, merasa khawatir atas nasib buruk yang bisa menimpanya kapan pun sebagaimana seorang pembela hak asasi manusia terkenal di negeri ini begitu mudah diracun di pesawat. Tetapi, melihatnya kian sehat dan keramahan dan kehangatan memancar dari ekspresi tubuhnya, kita menyadari bahwa untuk seseorang yang telah melewati bermacam-macam kesusahan akibat ekspresi politik, ketakutan itu telah ia tanam dan ia tinggalkan di dalam penjara. Terbebas dari belenggu itu, ia pun keluar untuk menghadapi risiko apapun demi masa depan bangsanya.*

FK di sidang perdana pra-peradilan Obby Kogoya, PN Sleman 220816 © Cahyo Purnomo Edi
Filep Karma hadir di sidang perdana pra-peradilan Obby Kogoya, mahasiswa Papua di Yogyakarta yang dikriminalisasi oleh kepolisian Indonesia, di Pengadilan Negeri Sleman. Kogoya ditetapkan tersangka hanya karena hendak menengok puluhan koleganya di asrama Kamasan yang dikepung kelompok-kelompok vigilante, yang bekerjasama dengan polisi, pada pertengahan Juli 2016. Kuasa hukum Kogoya dari LBH Yogya mengajukan pra-peradilan karena menilai tindakan polisi sewenang-wenang dengan mengerahkan kekuatan berlebihan serta membuat rekaya kasus pidana terhadap mahasiswa Papua. Kogoya ditangkap, tangannya diikat ke belakang punggung, diinjak, dan hidungnya ditarik seakan “setengah binatang”. Karma dalam bukunya menyebut bahwa diskriminasi dan rasialisme yang tumbuh subur terhadap orang Papua di seluruh daerah di Indonesia bekerja lewat penyosokan “rambut keriting dan kulit hitam dan suka mabuk” dan sebagainya, yang sejalan represi negara Indonesia terhadap kebebasan politik masyarakat sipil Papua sejak 1960-an. ©2016 Cahyo Purnomo Edi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s