Seni Menulis Profil

Obrolan sekilas bersama David Remnick, pemimpin redaksi The New Yorker, yang menulis profil Bruce Springsteen, musisi yang disebut sebagai penyair dari kelas pekerja Amerika.

remnick-on-bruce

David Remnick menulis untuk bersenang-senang. Ini mungkin sentimen aneh yang datang dari pemimpin redaksi The New Yorker, majalah yang dikenal berkat tradisi ulung sastrawinya dan prestise jurnalistiknya. Tapi “bersenang-senang” dalam pengertian ini janganlah dibaca sebagai perihal sepele. Apa yang dimaksud Remnick bermain-main dalam menulis ialah tapal-jejak naskah-naskah profil New Yorker, yang membuat penulis majalah itu berminggu-minggu atau berbulan-bulan meneliti dengan cermat dan bepergian ke sana kemari dan menayangkan ribuan kata. Dalam kesempatan naskah profil terbarunya yang komprehensif tentang Bruce Springsteen sepanjang 15 ribu kata (terbit dalam edisi 30 Juli 2012 berjudul “We are Alive”), kami menggali pemikirannya soal seni menulis profil kiwari dan bagaimana bentuk penulisan sosok itu bermula dan berkembang di majalah tersebut.

Ia mungkin menulis untuk bersenang-senang, tapi David Remnick ialah pengeritik tajam untuk dirinya sendiri. Tatkala bersiap menulis, ia berulangkali mengeluh pada dirinya yang kecewa, gagal, selip pada perkara yang penting, atau tak berdaya mengejar subjek yang selamanya berada di luar jangkauannya. Tetapi ia tak punya kesabaran untuk menyalahkan narasumber yang sulit diajak bekerjasama atau hambatan pendanaan—terutama sekali makin susah kini mengakses pesohor beken. “Membicarakan subjek adalah perkara paling menyebalkan dalam jurnalisme,” katanya. “Aku menulis profil saat kau tak pernah sekalipun berjumpa dengan orang tersebut. Janet Flanner menulis profil yang mengagumkan soal Adolf Hilter. Aku pikir kita tak bisa leluasa mengakses Hilter!”

Akses—punya atau tidak, atau apa yang diperlukan untuk menggaetnya—mungkin menentukan konten, struktur, atau suara profil bersangkutan. Betapapun menjaga akses mungkin saja tidak begitu penting atau bahkan berguna sekalinya diperoleh, Remnick menolak para wartawan yang ogah-ogahan bekerja keras meraih akses. Sebagaimana ia mendeskripsikan profesi ini, reportase seringkali artinya “menelepon berulang-ulang dan terus-menerus ke nomor yang sama sampai kau begitu menjengkelkan bahwa orang yang kau telepon itu bikin perhitungan ada baiknya memberimu waktu mengobrol yang kau butuhkan ketimbang kemudian kau harus menanggung serangan bertubi-tubi dari panggilan telepon dan email.”

Gambaran atas keuletan itu, Remnick mengingat upaya Seymour Hersh, “salah seorang reporter paling jagoan yang kukenal.” Cerita Remnick, saat itu Hersh “sedang mengerjakan laporan Watergate. The New York Times perlu mengejar ketertinggalan dengan Washington Post … Itu membunuh mereka. Ia butuh mendapatkan Charles Colson, salah satu si brengsek dalam kasus Watergate (penasihat khusus Presiden Nixon), lewat telepon. Bagaimana ia melakukannya? Ia datang ke kantor pukul 8 pagi—tak seorang pun ke kantor suratkabar pukul 8 pagi—dan lewat telepon putar, ia mengontak nomor rumah Chuck Colson setiap 15 menit sampai pukul 7 petang. 8 pagi sampai 7 petang, setiap 15 menit lewat telepon putar. … Ia dapat Chuck Colson, dan jadilah laporan halaman utama.”

“Saat aku dengar seorang penulis berkata bahwa narasumber meletakkan gagang telepon,” Remnick menyimpulkan, “rasanya kepalaku langsung mendidih.”

Seymour Hersh hanyalah satu persona terkenal yang disebut Remnick. Ia terbuka mengakui bahwa rasa frustrasinya yang memotivasi itu berasal dari ambisinya meraih prestasi tinggi yang telah ditunjukkan para penulis New Yorker lain. Dalam obrolan tak kurang satu jam, ia menyebut para penulis yang telah menciptakan standar mumpuni gaya bercerita sastawi macam Mark Singer, Ian Frazier, Roger Angell, AJ Liebling, John Updike, Donald Barthelme, Alice Munro, Dexter Filkins, Jane Mayer, Janet Malcolm, Kenneth Tynan, dan George WS Trow. Dan takkanlah lengkap menyebut penulis profil mutakhir tanpa Gay Talese dan penjelajahannya yang memukau dalam merengkuh Frank Sinatra di puncak ketenarannya (diterjemahkan dengan apik oleh Yusi Avianto Pareanom, Frank Sinatra Kena Selesma; Banana, 2005).

“Pencapaian hebat Gay Talese,” ujar Remnick, “saat ia menulis untuk Esquire tahun 1960-an dan 70-an, ialah memadukan bentuk dasar cerita pendek—bentuk konservatif cerita pendek, seperti Irwin Shaw, jenis cerpen macam itu—untuk laporan utuh tentang sosok kondang, kadang-kadang. … Ketika ia menulis Frank Sinatra, tidak ada kutipan yang gembrot dari Frank Sinatra … kenyataannya ia tak punya akses pada Frank Sinatra sama sekali. Sama sekali! Selain dari kejauhan. Jadi ia belajar bagaimana membuat kekurangan menjadi keuntungan, dan ia menulis sebuah karya besar.”

Apa pun yang terjadi dengan akses, selebihnya dalam menulis profil bergantung pada si penulis. Remnick melihatnya sebagai peluang penulis untuk bebas secara kreatif dan intelektual, dan sarannya adalah menentang bentuk yang tipikal dan sudah jadi formula. “Profil hanyalah: adegan pembuka, mengelaborasi adegan pembuka, adegan yang membentangkan riwayat hidup, pembukaan lagi pada keadaan sekarang, dan akhirnya, sebuah pekerjaan. Itu sah-sah saja, bisa jadi menarik, tapi itu macam riwayat pekerjaan—secara resmi tidaklah menarik.”

Alih-alih, ia mengagumi dan terinspirasi untuk berusaha menyamai atau bahkan menandingi para penulis yang berani ambil risiko, sepanjang ceritanya jujur. “Satu hal tentang profil, di luar parameternya bahwa ia faktual—bahwa fakta harus ditulis fakta, dan aku meyakininya secara penuh, dalam pengertian konservatif: segala sesuatunya bisa jadi radikal. Struktur, struktur kalimat, pemilahan kata, kekuatan deskripsi … segala perkakas ini, yang terbuka untukmu sebagai penulis sastrawi, haruslah terbuka pula untukmu sebagai penulis profil.”

Profil terbaru Remnick tentang Bruce Springsteen mungkin saja tidaklah radikal dari segi struktur, tapi meski demikian, ia memikat dan manusiawi—pencapaian yang sulit untuk subjek seperti Springsteen, yang kelewat kesohor kini ketimbang sosok biasa saja. “Aku melihatnya sangat tulus,” ujar Remnick yang menikmati bertatap muka dengan Springsteen beberapa jam. “Sebagai orang yang telah meliput banyak isu politik, aku tahu seperti apa rasanya menerima sekeranjang bualan yang isinya cuma sampah.”

Tentu saja, itu tak berarti Springsteen mau curhat blak-blakan kepada Remnick, yang digambarkannya “sangat cerdik—tentang pemberitaan dirinya, tentang kekuatan yang dimiliknya, tentang daya pikatnya yang menggairahkan.” Remnick buru-buru menambahkan, “Tidak dalam pengertian seksual, maksudku secara jurnalistik, ia tak menyadari pesonanya sendiri. Pada titik ini ia sangat pandai bicara. Ketika aku pertama kali menontonnya dan ia diwawancarai televisi, ia macam anak pantai yang menggelikan. Ia pria bengal yang tahu tentang rock ’n’ roll. Dan ia bicara dengan aksen Pantai Jersey. Sekarang ia membaca Karamazov Bersaudara (karangan Dostoyevsky). Dan ia panjang-lebar bicara tentang kekuatan dogmatisnya dan hubungannya dengan audiens.”

Meski cakap artikulasinya, itu tak mengandaikan bahwa sosok macam Springsteen telah melewati jutaan wawancara selama kariernya sejauh ini. “Ada beberapa unsur latihan,” ujar Remnick, “dan untuk beberapa pertanyaan ini, kemungkinan bukan kali pertama ia mendengarnya, dan jawaban yang ia lontarkan sepenuhnya dalam bentuk paragraf yang tidak disampaikan oleh orang berumur 24 tahun. Dia 62 tahun! Dan dia dalam puncak kekuasaan untuk tempo yang sangat lama.”

Dan apakah Remnick berpikir Springsteen bakal mengapresiasi naskahnya ketika ia melihatnya? Apakah reaksinya akan negatif atau positif atau berada di antara keduanya? “Ada para wartawan,” kata Remnick, “yang berpikir bahwa hal terbaik yang terjadi setelah naskahmu terbit adalah kalian, kau dan subjek yang kau tulis, ditabrak bus sehingga kau tak pernah bertemu. Jika subjek itu senang banget atas naskahmu, kau cukup penasaran atas kecerdasanmu atas reportase dan penulisan. Jika sebaliknya, dan subjek itu marah beneran, kau mungkin bertanya-tanya apakah kau keliru. Aku lebih suka tak pengin tahu. Aku menulis tidak untuk subjek.”

Untuk sejumlah profil yang ditulisnya, Remnick cenderung memilih subjek yang bikin ia terpikat secara personal: para musisi, pengarang, politisi, bahkan tiran. Tetapi ia sangat menyadari potensi untuk gagal atau ambisinya keliru. “Dulu kepikiran pengin nulis profil Bob Dylan,” katanya memberi contoh, “dan aku kira sekarang itu bakal jadi kesalahan fatal. Alasan utamanya, sudah cukup banyak tulisan tentang Dylan, katakanlah, sepanjang 27 tahun usia kita, dan kupikir ia bakal jadi subjek paling sulit dipahami, dan aku sudah melihat orang lain melakukannya dan kupikir itu akan jadi bencana.”

Sulit membayangkan orang yang selalu gelisah macam Remnick menakhodai New Yorker—bisa dibilang salah satu majalah paling dihormati dalam sejarah, secara luas bertahan di puncak performanya di bawah kepimpinan Remnick. Tetapi sosok editor yang kita ajak omong ini tidak sekalipun menunjukkan pengin cepat rehat secara kreatif ataupun intelektual. “Mudah cepat puas mungkin kesalahan kita di usia muda,” ujarnya. Kemudian, tidak puas atas pemikirannya itu, ia memberi isyarat penuh pertimbangan, “Atau di usia pertengahan. Atau di usia berapa pun.”*

— Chris Mohney

 

Sumber: http://goo.gl/0wU6J

 

Rekomendasi: Remnick menulis enam buku, salah satunya Lenin’s Tomb: The Last Day of the Soviet Empire yang meraih penghargaan Pulitzer tahun 1994. Ia membangun karier di The Washington Post sejak 1982, dan menjadi koresponden Moskwa untuk suratkabar itu sejak 1988. Sebuah panel tahun 2012 memilihnya sebagai satu dari 100 wartawan terkemuka AS selama satu abad terakhir. Salah satu naskah profilnya tentang Muhammad Ali (berjudul “American Hunger”) dikembangkan menjadi buku berjudul King of the World: Muhammad Ali and the Rise of an American Hero (1998). Buku terbarunya adalah profil Barack Obama. Remnick memimpin The New Yorker sejak 1998.

Untuk naskah profil yang dibicarakan ini, Remnick memotret penampilan Springsteen: “Ia pria langka berumur 62 tahun yang tidak malu memamerkan bokongnya—bokong yang dengan indah dibungkus jins hitam kelewat ketat—kepada duapuluh ribu pelanggan yang membayarnya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s