Kisah Penjual Buku yang Pergi Terlalu Cepat

“Pada masa jayanya, Jalan al-Mutanabbi mewujudkan pepatah lawas: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Baghdad yang membaca.”

oleh Anthony Shadid

The Washington Post | 12 Maret 2007

al-mutanabbi-street-nine-months-after-the-bombing-ap-photo-khalid-mohammed
Seorang pria Irak melihat-lihat buku di Jalan al-Mutanabbi, 9 bulan setelah pemboman. ©2007 AP Photo/ Khalid Mohammed (sumber foto: http://goo.gl/sTPqnz)

Itu musim panas 2003, sewaktu Irak diliputi separuh kebenaran soal pendudukan dan pembebasan, sebelum berbalik aksi-aksi nihilistik berwujud pembantaian. Mohammed Hayawi, seorang pria botak, tengah berdiri di tokonya, Tokobuku Renaisans, di jalan al-Mutanabbi yang terkenal.

Di rak setinggi delapan baris berjejal buku-buku karya penyair komunis dan ulama syahid, terjemahan Shakespeare, kitab ramalan astrolog Lebanon, sekuplet 44 jilid karya ayatullah yang dihormati, dan risalah dari pemikir saklek abad pertengahan Ibnu Taimiyyah. Rak-rak buku berdebu menyesaki lantai ubin krem, membentang dan bernoda terbalut usia. Di ruangan sempit, Hayawi menyejukkan diri dengan sebuah kipas; keringat mengucur deras di mukanya yang tembam dan membasahi kemeja birunya.

Kami bertemu sebelum invasi Amerika, dan nyaris setahun kemudian, ia segera mengenaliku.

“Abu Laila,” katanya, memanggilku dengan nama putriku.

Nyaris saban kali bilamana kami berjumpa, ia selalu mengutarakan sepotong kalimat yang sama. “Aku menantang setiap orang, Abu Laila, untuk mengungkapkan apa yang terjadi, apa yang terjadi kini, dan apa yang akan terjadi di masa depan.” Dan, seraya minum secangkir teh yang mengepul hangat bahkan di hari yang panas, ia menggelengkan kepalanya.

Sebuah bom mobil meledak pekan lalu di Jalan al-Mutanabbi, meninggalkan sepotong jejak yang kian lazim saja di Baghdad, suatu gambaran akan kekacauan, kekejaman yang memilukan, dan situasi tak terbayangkan yang terus berulang. Sedikitnya 26 orang tewas. Hayawi si penjual buku salah satunya.

Tidak seperti serdadu AS yang tewas dalam konflik, nama banyak korban rakyat Irak tidak muncul dalam pemberitaan, tercampakkan dalam keadaan tanpa nama yang menjelaskan kematian akhir-akhir ini di ibukota Irak. Hayawi bukanlah politisi atau jagoan perang. Bahkan cuma segelintir orang di Jalan al-Mutanabbi yang mengenalnya. Tetapi hayat hidupnya layak mendapatkan lebih dari sekadar catatan kaki, dan jika tak ada alasan lain, kita hanya perlu ingat seorang pria yang merengkuh Baghdad dalam kondisi apa pun dan ia berusaha memahami sebuah negeri yang kian sulit dinalar lagi. Menghabiskan waktu bersamanya di masa yang singkat, selalu bersikap ramah dan lembut sesederhana orang biasa, kini Hayawi lenyap ditelan serakan reruntuhan di sebilang jalan itu yang takkan pernah sama lagi.

Sesudah kematiannya, aku mengenang obrolan kami di hari musim panas itu. Sebagaimana kebiasaanya, ia akan menghentikan ucapannya pada topik yang paling penting dan mengeluarkan rokoknya. Ia mengusap pipinya yang berkeringat. “Apakah mukaku terlihat seperti orang berumur 39 tahun?” katanya menyeringai. Lantas keningnya berkerut, tampak muram. “Kami tak ingin mendengar ledakan, kami tak ingin mendengar serangan lagi, kami ingin kedamaian,” katanya kepadaku. Entah apakah ia bisa terlelap, kantong mata hitam selalu terlihat di bawah sepasang matanya yang jernih. “Orang Irak pengin merebahkan kepalanya di atas bantal dan bersantai.”

 

Pemikir Independen

Hayawi bekerja di tokobuku seumur hidupnya. Ayahnya, Abdel-Rahman, mendirikan toko itu pada 1954, dan sesudah meninggal pada 1993, lima anaknya mewarisi bisnis itu, menggantung potret si patriark, yang memakai topi musim dingin ala Rusia, di tembok berpanel kayu. Selama bertahun-tahun, Hayawi dan kakak sulungnya mengembangkan bisnis sang ayah. Mereka memiliki toko lain di al-Mutanabbi—Tokobuku Legal dan Tokobuku Nibras—bersama sebuah bisnis yang menjual Alquran di seluruh kota.

Keluarganya adalah muslim Sunni, tapi Hayawi mengecilkan pentingnya identitas itu demi mengasah kepekaan diri, dan ia tinggal bersama istri dan putranya, Ahmed Akram, di lingkungan yang didominasi muslim Syiah. Ia bangga atas kemandiriannya, menjadi pribadi yang merayakan pusaran abu-abu, suatu cerminan terbaik dari intelektual yang sudah sepatutnya merepresentasikan Jalan al-Mutanabbi.

Kali pertama kami berjumpa saat aku masuk ke tokobukunya sebelum invasi, tatkala Saddam Hussein masih berkuasa pada 2002. Seperti biasa, ia begitu mencolok dengan rambut plontos, dan bahkan saat itu, ia langsung mengajakku bicara. “Invasi Irak ke Kuwait itu salah,” katanya, cukup berani—unek-unek yang dianggap penghinaan kala itu.

Tapi lama kemudian, ia sulit memahami obsesi Amerika atas Irak dan Saddam. Mengapa, katanya, krisis demi krisis terus berlangsung? Untuk senjata pemusnah massal? Kami tidak punya satu pun. Jika pun punya, ia berseru, kami akan menembakkannya ke Israel. Sebuah perang hanya untuk menjungkalkan Saddam?

Sesudah invasi dan pemerintahan jatuh, Hayawi menggambarkan dirinya sebagaimana kebanyakan rakyat Irak di tahun pertama yang bergejolak: tidak untuk Saddam dan tidak pula untuk kebahagiaan dengan Amerika. Tentu saja ia marah—pada kekacauan, tiadanya rasa aman, minimnya pasokan listrik.

“Janji orang Amerika pada Irak seperti berusaha menggenggam air di tangan,” ujarnya dalam satu perbincangan. “Tumpah di sela jari-jarimu.”

Namun ia tak pernah kasar; ia pria dengan rasa welas yang melimpah dan itu mencerminkan kualitas bertahan hidup di Irak yang nyaris mustahil akhir-akhir ini.

Hayawi membenci pendudukan tapi menyumbangkan suara dalam pemilu yang dibekingi Amerika Serikat. Ia muslim taat, tapi cemas atas naiknya sentimen agama dalam politik. Di tokobukunya, ada buku-buku karangan ulama Syiah yang pernah dilarang beredar, diimpor dari Iran, bersanding dengan buku-buku karangan ulama Sunni berpandangan radikal, termasuk di antaranya Muhammad Abdul Wahhab, mufti agung abad ke-18 yang menyiarkan Islam di bawah naungan Kerajaan Saudi. Pertimbangan laba mungkin mengilhami saling-silang pandangan eklektiknya—memilih yang terbaik dari beragam sumber—tapi Hayawi tampaknya juga hendak memberi kita pernyataan: Jalan al-Mutanabbi, Baghdad-nya dan Irak-nya, menghormati keragaman.

Ia selalu menjadi sosok membanggakan. Sangat sering Hayawi akan mengulangi kisah ini: berkendaraan dengan mobil Chevrolet Caprice warna kuning menuju Suriah untuk kepentingan bisnis, ia dihentikan di pos pemeriksaan AS, dijaga oleh dua Humvee, di luar Sungai Efrat di kota Ramadi, Irak bagian barat. Melalui seorang penerjemah, salah satu tentara Amerika, berpakaian loreng dan tersaput debu angin gurun, mulai mengajukan pertanyaan rutin.

“’Apa yang Anda lakukan di sini?’ Si tentara bertanya.

“Lantas aku membalas, ‘Apa yang Anda lakukan di sini? Anda tamu saya. Apa yang Anda kerjakan di Irak?’”

“Dia tertawa dan menepuk pundakku,” Hayawi mengenang.

 

Suaka di tengah Perang

Pintu masuk Tokobuku Renaisans ialah pembatas pinggir jalan. Di luar terdengar sirene ambulan dan mobil patroli polisi. Tembakan sudah biasa. Suara klakson meraung di dua jalur lalu lintas, satunya yang mengarah ke jalan al-Mutanabbi. Di dalam, Hayawi menjalankan bisnis setiap hari sejak ia diwarisi toko itu dari ayahnya.

Terakhir kali aku melihatnya pada 2005. Ia duduk di belakang meja, menyesap secangkir teh seharga 10 sen, dan di dekatnya satu pak rokok Gauloise.

Seperti biasa setiap pagi, jam demi jam, Haji Sadiq, penukar uang, berjalan tergesa-gesa ke tokobuku.

“Berapa kurs sekarang?” Hawayi berteriak.

“Aku enggak akan ngasih tahu kecuali kamu mau menukar,” jawab Haji Sadiq.

Hayawi melambaikan tangan ke teman-temannya yang melintasi jalan di depan tokonya. Seorang wanita paruh baya berdiri di pintu, meminta sedekah. Para pedagang kaki lima menjajakan segala barang dari buku hingga handuk.

Hari beranjak dalam ritme kehidupan yang kini telah pudar. Dua penjual buku orang Kurdi datang, membawa hadiah madu dari Sulaimaniya di utara. Mereka bersalaman dalam bahasa Kurdi, lanjut bercakap dalam bahasa Arab. Haji Sadiq kembali, menyebut nilai mata uang yang kurang-lebih sama seperti kemarin. Listrik padam tanpa seorang pun memperhatikan. Para pembeli dari Balad di utara mengisahkan situasi di daerahnya, begitupun para pengunjung dari Basra di selatan.

Menjelang petang, listrik menyala dan setangkai pipa diambil. Menguarlah harum tembakau terbalut wangi apel .

“Hidup berjalan terus,” Hayawi berkata kepadaku saat itu. “Kami berada di tengah-tengah perang, dan kami masih bisa minum tembakau.”

 

Khazanah Sastra Menyurut

Jalan al-Mutanabbi selalu terasa mengisahkan riwayat Irak.

Ia adalah labirin tokobuku dan toko alat tulis, mendiami sebuah arsitektur Ottoman yang elegan, merujuk nama seorang penyair terbesar dunia Arab, sang manikam bijak abad ke-10 yang keangkuhannya sebanding kecerdasannya. Jalan itu berlabuh di Kedai Syahbandar, yang menyimpan deretan pipa isap antik. Di dinding ruangan kedai itu tergantung foto yang menggambarkan sejarah Irak: potret tim gulat bertelanjang dada tahun 1936, pengadilan Raja Faisal setelah Perang Dunia II, dan pemakaman Raja Ghazi tahun 1939.

Pada masa jayanya, jalan ini mewujudkan pepatah lawas: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Baghdad yang membaca. Namun, lantaran sanksi PBB menyusul invasi Irak ke Kuwait pada 1990, mengisolasinya dari dunia luar, toko-toko itu berselimut majalah bekas berumur 20 tahun, buku pelajaran usang dan buku babon dengan sampul berdebu, terlihat lebih untuk pajangan ketimbang untuk dijual. Ia menjadi pasar loak yang suram untuk buku bekas, sebagaimana para pedagangnya menjual koleksi pribadi guna bertahan hidup, dan Hayawi dan saudaranya mencari nafkah tambahan dengan menjual buku-buku agama, mengajar sejarah untuk kurikulum universitas, dan membuka kursus bahasa Inggris, yang ia sebut paspor ke luar negeri.

Pada bulan-bulan sesudah invasi, Jalan al-Mutanabbi menampakkan iklim intelektual bebas bagi semua golongan. Terdapat buku karya Mohammed Baqir al-Sadr, teolog cemerlang yang kematiannya, demikian cerita yang beredar, dengan cara eksekutor Saddam membenamkan paku ke kepalanya. Ikonografi Syiah—gambaran ayatullah dan orang suci abad ke-7 yang berbaris menjemput ajal—beredar di mana-mana. Di dekatnya edisi baru majalah FHM dan Maxim yang sampulnya dihiasi model wanita nyaris tanpa busana. Di lapak reyot terdapat cakram padat, berisi pesan-pesan Osama bin Laden, yang dijual seharga 50 sen. Di jalan-jalan terpampang pamflet Partai Komunis yang dikagumi. Sebagaimana si penjual buku berkata, mengutip baris puisi Mutanabbi, “Rimba swara yang buat kau pekak, butuh 10 jari buat kaututup telinga.”

Kini Jalan al-Mutanabbi menuturkan kisah berbeda.

Tatkala pasukan Mongol merebut Kota Baghdad tahun 1258, dikisahkan bahwa Sungai Tigris mengalir warna merah pada satu hari, dan di hari lain warna hitam. Itu berasal dari darah orang-orang tanpa nama, dibantai oleh pasukan berkuda yang keji; dan warna hitam dari tinta buku tak terhitung banyaknya dari perpustakaan dan universitas. Senin lalu, bom di jalan al-Mutanabbi meledak pukul 11:40 siang. Trotoar digenangi darah. Lidah api membubungkan sulang asap hitam, membakar berkas-berkas kertas.

Seorang kolega berkata kepadaku bahwa di dekat tokobuku Hayawi, di jalan kecil dari Kedai Syahbandar yang kini musnah, sehelai spanduk hitam tergantung hari ini. Tertulis aksara Arab yang meliuk-liuk anggun, bersepuh tinta kuning, berisi pesan dukacita untuk Hayawi dan keponakannya “yang terbunuh oleh aksi bom pengecut.”*

_____

CatatanAnthony Shadid adalah koresponden luar negeri untuk The New York Times peraih dua kali Penghargaan Pulitzer untuk reportase internasional, tahun 2004 dan 2010 saat ia meliput Invasi AS ke Irak. Ia menulis tiga buku termasuk House of Stone, memoarnya yang mengisahkan pengalaman personal di tengah peperangan yang melanda nyaris seluruh negara Arab, dan suaranya yang begitu mengagumkan mengangkat kemanusiaan dari dunia yang telah ringsek. Shadid meninggal pada 16 Februari 2012 karena serangan asma selagi berusaha meninggalkan Suriah lewat rute Turki. Umurnya 43 tahun. Ia tak sempat menyaksikan buku memoarnya itu terbit, yang menjadi topik obrolan yang sangat kaya ini, membicarakan bagaimana ia diliputi rasa was-was di Suriah, diculik di Libya, dan ongkos tak terkira harganya untuk mendapatkan cerita di zona perang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s