Mari Mati Bareng

Mengapa bunuh diri berkelompok begitu populer di Jepang?

Oleh David Samuels

The Atlantic | Mei 2007

shinjuku-street

I

Kematian di Saitama

10 MARET 2006, sebuah mobil ditemukan di kawasan hutan Saitama, satu prefektur pinggiran kota dekat Tokyo. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci. Petugas yang diminta menyelidiki lokasi itu menemukan sesuatu sangat familier: sekantong plastik berisi kemasan pil tidur yang tercecer, dan pembakar arang yang mengisap oksigen dari mobil, menyebabkan sesak napas lima pria dan seorang wanita. Dua minggu sesudah kejadian itu saya mendatangi markas besar kepolisian Saitama dan bertemu jurubicara polisi, seorang pria paruh baya berperawakan tinggi-kurus yang semula menolak menjawab pertanyaan apa pun tentang kasus terbaru sekawanan orang yang bunuh diri di prefekturnya. Setelan abu-abu dan kacamata berbingkai hitam yang ia pakai, serta pulpen ganda yang terselip di saku kemejanya, memberinya kesan sangat culun dari karakter manga. Selama lawatan dua minggu saya di Jepang, lima mobil berisi jasad orang-orang mati ditemukan di kawasan hutan di Tokyo. Itu menandakan betapa akrabnya kasus-kasus mengerikan tersebut sampai-sampai urgensinya tak lebih dari sepotong berita numpang-lewat di koran-koran lokal.

“Kami tidak tahu apakah para korban saling mengenal satu sama lain atau bagaimana mereka menjadi akrab,” ujar jurubicara polisi itu sambil mencekal kuat-kuat tas kantor di pangkuannya. Tidak seperti pembunuhan, bunuh diri bukanlah kejahatan sehingga para penyelidik kesulitan mencari pembenaran untuk memecahkan kasus-kasus itu. “Memang,” katanya melanjutkan, “sampai hari ini, 15 hari setelah fakta itu, kami tidak menyadari bagaimana mereka kemudian saling mengenal, atau tidak ada bukti pelanggaran hukum sama sekali menyangkut insiden itu, meski penyelidikan jalan terus.”

Dari 2003 hingga 2005, 180 orang mati dalam 61 kasus yang dilaporkan terkait bunuh diri berkelompok yang dibantu lewat jaringan dunia maya di Jepang. (Sejauh ini tak ada data statistik yang diunggah ke publik untuk tahun 2006.) Kecuali dua kasus, mayoritas lain menunjukkan olah jejak yang amat lazim: Para korban bertemu secara daring (online), memakai nama akun samaran, dan kemudian meminum pil tidur dan menggunakan briket, pembakar arang, dan mengunci mobil atau van yang seketika mengubahnya jadi kamar gas.

Laporan resmi perdana soal kematian di Saitama tercatat pukul 12:30 siang tanggal 10 Maret, menyatakan warga dusun Chichibu memberitahu polisi lokal bahwa ada sebuah mobil dengan enam mayat ditemukan di satu jalan tanah terdekat. Di kursi sopir, demikian laporan polisi yang ditulis dengan sopan, ialah pria berumur antara 20-30 tahun berambut panjang, berpakaian kemeja kotak-kotak dan jins biru. Di sampingnya perempuan usia 20-an mengenakan mantel cokelat dan rok cokelat, dan di sebelah kirinya lelaki usia 20-an berjaket hitam dan bercelana jins. Sopir dan si pria berjaket hitam itu bekerja sebagai pramuniaga. Si wanita ialah pengangguran umur 28 tahun dari kota provinsi Fukuoka. Di bangku belakang adalah pria usia 20-an “berambut normal” memakai jins hitam dan bekerja sebagai arsitek di Saitama; pria pengangguran umur 20-an berjaket merah; dan lelaki berambut agak panjang umur 21 tahun memakai jaket hitam dan jins biru yang bekerja sebagai asisten toko di Kanagawa. Kesamaan mereka yang mencolok adalah usia mereka berkisar 20-an, punya akses ke internet, dan bertemu via online dengan tujuan sekarat bareng-bareng di sebuah mobil.

Saat saya membaca berkas itu di satu kedai teh dekat kantor polisi, saya ditemani reporter muda dari Saitama yang telah meliput bunuh diri berjemaah terkait internet untuk suratkabar Mainichi. Ia mulai menulis laporan soal gelombang bunuh diri ini pada 11 Februari 2003, ketika, dalam kasus perdana yang dicatat oleh pegawai statistik pemerintah, tiga orang membunuh diri di Kota Iruma dengan membakar briket di satu apartemen kosong. Korban adalah pria 26 tahun bernama Michio Sakai, yang bermasalah karena kesulitan menemukan pekerjaan, dan dua perempuan 24 tahun yang dia jumpai di situsweb bernama “Group Suicide Bulletin Board,” yang diaksesnya setahun sebelumnya.

“Di mana mereka menemukan gagasan menggunakan arang?”

“Ada rumor di internet bahwa mati dengan mengisap briket seakan mati dalam tidur,” kata si reporter, berwajah tampan dan jujur, dengan sapuan jerawat di usia akil-balignya. “Ini cara meninggal tanpa rasa sakit sedikit pun.”

Tempat mereka mati di bilik tatami tradisional, dialasi lembaran plastik guna melindungi tikar. Pembakar arang yang merepih lembut ditempatkan di tiap-tiap pojok kamar, dan tubuh mereka terbaring sejajar di tengah ruangan. Si perempuan membawa kantong tidur untuk menjaga mereka tetap hangat dan ketiganya memakai kacamata ski demi menghindari asap.

“Aku enggak paham sama sekali,” ujar si reporter. “Bagaimana kamu bisa mengakhiri hidupmu dengan seseorang yang bahkan enggak pernah bertemu sebelumnya?”

 

II
Bunuh Diri Paripurna

BUNUH DIRI, yang disebut Shakespeare “menjagal diri sendiri” dan dikenal dalam ajaran Kristen sebagai “dosa terhadap Roh Kudus”, mendiami lokus imajinasi sangat berbeda di Barat ketimbang di Jepang, di mana seppuku atau harakiri—mengoyak perut dengan sebilah pedang—telah sekian lama dianggap respons pantas untuk memulihkan nama baik dari rasa malu atau aib. Dalam studi klasiknya berjudul Suicide (1897), sosiolog Prancis Emile Durkheim menarik perbedaan tajam antara bunuh diri di Eropa Barat dan apa yang dilihatnya semacam bunuh diri “altruistik” yang lazim di Jepang. Gambaran mengerikan atas gagasan Durkheim itu tersaji selama Perang Dunia II lewat para pilot kamikaze yang memolopori aksi bom bunuh diri sebagai taktik perang modern. Tiga pengarang termasyhur Jepang pasca-perang—pemenang Nobel Yasunari Kawabata dan Kenzaburo Oe, serta murid terkenal Kawabata, novelis Yukio Mishima—begitu terpikat dengan pemikiran bunuh diri. Kawabata dan Mishima meninggal di tangan sendiri.

Otoritas Jepang terlalu lamban bereaksi lewat upaya tegas apa pun guna mengatasi kematian nasional terbaru sehingga menyebabkan angka resmi bunuh diri meningkat rata-rata sekira 5 persen per tahun selama dekade terakhir. Lebih dari 32.500 bunuh diri dilaporkan pada 2005; dan karena klaim asuransi cenderung ditolak bagi keluarga orang meninggal, banyak kasus bunuh diri dicatat sebagai kecelakaan. Selama dua kali kunjungan saya di Tokyo sepanjang 10 minggu, di tengah jam-jam sibuk yang bikin kita linglung, saya terhenyak oleh pelantang suara yang terdengar begitu datar yang meminta maaf kepada para pelaju atas keterlambatan layanan lantaran ada “insiden yang berhubungan dengan manusia”, suatu ungkapan eufemisme yang resmi dipakai ketika seorang komuter melompat ke arah laju kereta. Kasus-kasus macam itu acapkali dilaporkan sebagai kecelakaan ketimbang bunuh diri. Satu-satunya negara dengan tingkat resmi bunuh diri lebih tinggi adalah Sri Lanka, yang terperosok ke dalam perang sipil berlarut-larut, serta bekas republik Soviet dan negara-negara pecahannya di kawasan Eropa Timur, di mana bencana ekonomi dan perubahan politik maha dahsyat memompa pelbagai disintegrasi sosial akibat kekalahan militer yang amat telak.

Banyak rakyat Jepang menyalahkan kolapsnya “gelembung ekonomi” pada awal 1990-an sebagai penyebab meningkatnya angka bunuh diri, yang melempar ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan dan mendorong banyak keluarga terjerat bermacam utang tak terkira dan sulit dilunasi, seringkali lewat cara pemerasan (tapi legal) dengan suku bunga hingga 40 persen. Namun bahkan saat ekonomi telah melonjak tajam, angka bunuh diri terus melompat. Sementara total angka kelahiran bayi menukik deras, mencapai ke level yang membetot teori fatum Spenglerian sekitar 1,3 anak per perempuan, terhitung terendah dalam sejarah dunia industri.

Manifestasi paling spektakuler meledaknya kultur bunuh diri Jepang, bunuh diri berjemaah via internet, tergolong gejala khas yang berakar dalam era teknologi komputer dan tanpa preseden sebelumnya dalam perilaku sosial masyarakat Jepang tradisional. Pada musim panas 2004, Jepang memutuskan untuk mengatasi fenomena baru yang meresahkan ini dalam caranya yang khas Jepang modern, lewat serangkaian pertemuan informal yang diadakan oleh konsorsium penyedia jasa internet atas anjuran Kepolisian Nasional, sebuah badan penasihat yang mengajukan rekomendasi prosedural, tapi tanpa punya kuasa penegakan, ke prefektur lokal. Kembali ke Tokyo, saya bertemu dengan Kazuhiko Yoshida, anak muda dengan dandanan rambut disasak yang mengepalai divisi kejahatan siber, yang bertugas menyusun kebijakan nasional tentang pelbagai masalah, dari spam hingga penipuan, dari pelanggaran hak cipta hingga pornografi anak.

“Dalam enam bulan pertama kami mengadakan sekitar tujuh atau delapan rapat yang memutuskan apakah kita memerlukan buku panduan,” Yoshida menjelaskan. “Lalu tujuh atau delapan rapat lagi diadakan sampai Oktober yang akhirnya diputuskanlah kita perlu menerbitkan buku panduan.” Agar pedoman itu bisa diterapkan, Yoshida menerangkan, seseorang harus memakai kata mati atau mengungkapkan hasrat untuk mati. Dia juga harus menyebutkan tempatnya meninggal dan metode apa yang dipakai sehingga bunuh dirinya akan tercapai. Percakapan harus berlangsung di forum online (di Jepang populer dengan sebutan ‘textboard’ atau papan buletin) yang secara khusus menunjukkan keinginan bunuh diri. Bila semua kriteria itu terpenuhi, polisi punya hak untuk meminta informasi soal registrasi dan kartu kredit ke penyedia jasa internet. Sejauh ini, Yoshida berkata bangga, total ada 12 upaya ajakan bunuh diri bersama yang dihentikan karena buku panduan baru tersebut.

Memperluas cakupan atas bangkitnya kultur bunuh diri yang begitu populer di Jepang bisa dilacak pada setiap peristiwa tunggal, dan mungkin kali ini bisa berupa publikasi tahun 1993 berjudul Panduan Lengkap Bunuh Diri (完全自殺マニュアル), sebuah buku yang ditulis Wataru Tsurumi, lulusan Universitas Tokyo dan seorang yang gagal dalam karier industri penerbitan. Tsurumi ialah seorang obsesif yang mendaku Nabokovian dengan sikap masa bodohnya atas konsekuensi penerbitan karya tersebut. Dalam kultur yang mengharapkan kau bersikap tunduk, dan berpenampilan cupu (geek) meledak dalam jumlah mengejutkan di panggung budaya, Tsurumi menjadi figur kharismatik yang mencapai ketenaran selebritas di mana status macam itu di Jepang biasanya disandang para bintang pop atau karakter kartun.

Hingga kini, Panduan Lengkap Bunuh Diri menyuapi lebih dari 2 juta jiwa orang Jepang yang putus asa atau sebatas penasaran dengan instruksi teknis yang eksplisit bagaimana mengakhiri hidup lewat 10 metode termasuk gantung diri, tersengat listrik, overdosis, mengisap racun, dan bakar diri. Buku Tsurumi memuat petunjuk tempat-tempat terbaik untuk bunuh diri, profil pesohor beken yang bunuh diri, disertai pelbagai rupa kartun, yang efeknya mengesankan kalau bunuh diri itu gampang dan tanpa rasa sakit, tindakan lazim, dan aktivitas yang bisa diterima secara sosial. Tsurumi menjual hak cipta karyanya ke satu studio film, menelurkan sebuah tayangan yang memercik kesuksesan, diikuti dengan sebuah sekuel. Ia kini pembicara kondang dengan bayaran mahal dan langganan dalam acara-acara pembahasan kultur anak muda tingkat internasional. Sebagaimana ia katakan kepada seorang reporter yang penasaran: “Tidak ada yang salah tentang bunuh diri. Agama atau hukum kami di Jepang tidak mengatakan sebaliknya. Untuk aksi bunuh diri bersama, sebelum ada internet, orang-orang menulis surat, atau menelepon … ini sudah jadi bagian dari kultur kami.”

Pembenaran tanpa rasa menyesal dari Tsurumi karena kandungan bukunya yang mengerikan tidaklah terdengar ganjil bagi semua pembaca Jepang. Berbeda di Barat di mana bunuh diri secara umum dinilai perbuatan sia-sia dari orang yang putus asa, atau yang sakit parah, di Jepang, sebaliknya, ia dipahami kurang-lebih sebagai keputusan rasional yang dapat diambil oleh seseorang yang sepenuhnya waras begitupun oleh sebuah kelompok. Jepang punya sejarah panjang tentang keluarga-keluarga yang bunuh diri bersama, sebagaimana dilakukan oleh sekte dan kelompok bergaya militer, termasuk para pilot kamikaze, atau para pendekar samurai yang menanggung rasa malu dan berharap keburukannya terhapus. Apa yang mengejutkan dari epidemi bunuh diri mutakhir ini, tak kurang dan tak lebih, adalah sekumpulan orang memilih bunuh diri bersama tanpa saling kenal sebelumnya. Panduan Lengkap Bunuh Diri menjadi teks esensial memperluas pemujaan atas kematian yang memintas siapa saja, dan mereka yang bertemu di situsweb semata untuk saling mendukung dan memperkuat niat bersama untuk mati.

Seperti bunuh diri bercorak terorisme di Irak dan di mana pun dalam dunia Muslim, bunuh diri berkelompok di Jepang tidak bisa sebatas diringkus karena produk kemiskinan, rendahnya pendidikan, atau penyakit sosial umum lain. Banyak korban bunuh diri yang mengecap sekolah bagus, punya pekerjaan layak, dibesarkan dalam keluarga dua orangtua, dan bisa dikenali sebagai warga biasa dari negara demokrasi paling aman dan terkaya di Asia. Kesamaan rakyat Jepang dan Muslim Arab terletak pada rasa sungkan yang amat kuat untuk bikin malu dan simpati amat terpendam terhadap para martir. Mereka yang memeluk kematian bisa memulihkan nama baik dan aib dan bahkan menjadi pahlawan lewat aksi tersebut yang sebaliknya bikin bergidik masyarakat individualis Barat.

Ketika kultur positif bunuh diri berjumpa internet, pelbagai halangan yang masih muncul kian mengendor. Sebaran komunikasi internet mempermudah pencari bunuh diri, Islamis radikal, pedofil, dan kelompok pinggiran lain untuk bertemu via daring, dan menjauhkannya dari amatan penuh selidik orangtua, pasangan, dan polisi. Sekali online, mudah bagi sebuah grup menarik anggota dari populasi terombang-ambing ini, yang kesepian, yang penasaran, atau yang jiwanya selalu berontak, dan mereka eksis sepanjang ruang dan waktu dan dalam semua kultur. Alih-alih menghabiskan waktu untuk berdoa, atau mendengarkan musik gembeng, atau membaca novel, atau merajut, atau memelihara belasan kucing, anggota masyarakat yang rentan dan gelisah ini menuangkan interaksi sosialnya lewat komunitas-komunitas virtual, membagi kosakata dan nilai-nilainya menjadi antidot atas rasa kesepian, bahkan mereka menganjurkan para anggotanya menuju kematian.

Bilamana kita masuk ke situsweb populer Jepang 2Channel setiap malam Minggu, kita bisa menonton secara realtime individu-individu bercakap via online yang berharap menemukan rekan yang cocok untuk meninggal. Di sebuah situs bernama “Ayo mati bareng di Shizuoka” (sebuah kota sekira satu jam dengan kereta peluru dari Tokyo), saya duduk di depan layar komputer dan menyaksikan skrip kematian yang dievaluasi dan diuraikan oleh partisipan anonim; ada yang begitu enteng menyampaikan gagasan radikal, ada pula yang mungkin berakhir mati di mobil:

1. MOON: Aku belum punya perlengkapan yang sudah siap, tapi pikiranku sudah siap kapan saja. Dulu Aku gagal bunuh diri karena kupikir aku harus membuka lembaran baru dan berusaha menjalani hidup lagi. Tapi bayangan hitam di hatiku masih terus ada. Aku selalu merasa lelah. Aku pengin tidur, enggak pengin bangun lagi … Aku mencari orang yang mau menemaniku ke sungai kematian bersamaku, dengan membakar briket batubara …

3. HIROPON: Aku pergi dari rumah, tak ada tempat pulang, tak punya pekerjaan, dan uangku menipis. Hidupku sekarang tak ada bagus-bagusnya. Kalau ada hal baik terjadi padaku sekali lagi saja, dan aku masih berpikir mati, maka sudah saatnya bagiku untuk mati. 

4. MOON: Hiropon-san yang baik, Apakah terlalu lancang kalau aku menanyakan alamat email-mu? Bilang saja enggak kalau kamu enggak pengin ngasih tahu, dan aku akan ngasih email punyaku lebih dulu. Tapi, kalau kamu enggak keberatan, tolong kamu duluan yang ngasih tahu, ya …

9. PRIA PARUH BAYA: Jika kamu masih muda dan tinggal bersama orangtua, kamu tidak harus melakukan bunuh diri. Tapi saya, saya pria paruh baya, terlilit utang, tanpa uang, punya masalah kesehatan, tanpa pekerjaan. Tidak ada gunanya bagi saya kalau terus hidup. Saya kira saya akan melakukan bunuh diri, atau mati bersama dengan seseorang yang merasa hidupnya cuma timbunan sampah seperti saya. Ketika kita semakin tua, tak ada yang menghentikan kita … 

12. TAKA: Bagaimana kamu, MOON-san, aku tinggal di Shizuoka. Kita bisa beli briket dan sebuah kompor arang di pusat perlengkapan rumah. Yang kita butuhkan kemudian adalah pil tidur. Mohon izinkan aku ikut … 

31. MOON: Berbeda dengan kecepatan percakapan ini, keinginanku untuk mati makin tinggi … Kalau aku berkata “Kita akan mati besok, tapi masih ada satu kursi kosong. Maukah kamu datang?” Aku akan menganggukan kepalaku dengan cara sebiasa mungkin sebagai tanda setuju untuk pergi dengan seorang teman.


III

Wahyu Abad Baru

PRODUK BUDAYA JEPANG paling berpengaruh dalam dekade terakhir ialah serial kartun animasi berjudul Neon Genesis Evangelion (新世紀エヴァンゲリオン) yang disiarkan lewat televisi nasional pada 1995 dan 1996. Itu membentuk psike orang Jepang di bawah umur 40 tahun seakan begitu sepele dalam pengalaman budaya Barat terkini kecuali mungkin The Beatles dan film Star Wars perdana. Serial itu, diproduksi oleh sebuah kolektif bernama Gainax dan disutradarai animator cult Hideaki Anno, tersusun atas narasi tak beraturan yang gelap tentang dunia post-apokaliptik, mengisahkan petualangan empat anak muda dengan jiwa terkoyak parah yang bergabung dengan teknologi baru yang dahsyat demi menyelamatkan sisa-sisa Bumi dari Malaikat, 17  makhluk imortal ilahiah, yang menebar teror dan kehancuran untuk menghabisi umat manusia.

Kurang dikenal karena kualitas animasinya ketimbang materinya yang gelap, penceritaan non-linear, dan getaran batin yang depresif akut, serial itu secara teratur menuai pujian dari para animator, novelis, teoritikus budaya, dan seniman visual seiring mekarnya budaya pop Jepang. Ia dipuji berkat melukiskan peran gender, mempengaruhi perilaku terhadap dunia sekitar, dan menumbuhkan subkultur otaku yang begitu obsesif—dan sangat menguntungkan—yang menggaet puluhan ribu penggemar berpenampilan cupu yang mengisi kehidupannya dengan mengungkap pesan lebih besar atas tontotan itu dan mengoleksi buku-buku komik porno dengan gambar karakter-karakter perempuan di tontonan tersebut.

Mengenakan jumpsuit militer berwarna hijau dan sepatu bot hitam, sosok Hideaki Anno di depan saya tengah duduk membungkuk dalam-dalam di sofa kantornya yang butut dan menatap tajam. Di negara yang masih menilai kepatuhan sebagai kebajikan, Anno mencolok karena rambut hitam keritingnya dan cuping telinganya yang lebar berbentuk kembang kol. Dipadankan dengan jumpsuit-nya, Anno menampilkan kesan seorang hobbit pemarah dengan kacamata berbingkai hitam. Sebelum membuat anime yang tersohor itu, Anno melewati empat tahun masa depresi, dan selama itu ia tidak bekerja dan mengisi sebagian besar waktunya sendirian di kamar. Pada 2003, Gainax menjual hak live-action Neon Genesis Evangelion ke seorang produser film yang berkolaborasi dengan Weta Workshop, sebuah perusahaan yang punya peranan utama termasuk untuk film Lord of the Rings besutan Peter Jackson. Saya sangat tertarik bicara dengan Anno tentang karakter Rei, gadis yang menghasratkan bunuh diri, depresif, bermata bulat, berpotongan polos, dan ekspresi kosongnya telah jadi model bagi karakter utama perempuan dalam anime Jepang selama sepuluh tahun terakhir.

“Rei adalah orang yang sadar pada fakta apabila dia meninggal, maka ada orang lain yang menggantinya, jadi dia tidak menilai kehidupannya terlampu tinggi,” ujar Anno, yang duduk membungkuk makin dalam di sofanya. “Kehadirannya, eksistensinya—eksistensi hampa—adalah fana. Dia gadis yang teramat sedih. Dia hanya menginginkan sebatas pada apa yang dia butuhkan. Dia bermasalah dalam segala hal; dia menyakiti diri sendiri. Dia tidak butuh teman.”

Anno memahami daya tarik nasional Jepang terhadap karakter Rei adalah produk dari lanskap imajinatif centet yang lahir dari kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua. “Jepang kalah perang dengan Amerika,” ujarnya, tampak tertarik dengan kalimatnya sendiri untuk kali pertama selama wawancara kami. “Sejak itu, pendidikan yang kami terima tidak membentuk pribadi dewasa. Bahkan bagi kami, orang berusia 40-an tahun, dan bagi generasi lebih tua dari kami, usia 50-an dan 60-an, tak ada model yang pantas seperti apa menjadi seorang dewasa seharusnya.” Teori bahwa kekalahan Jepang menguliti negeri itu dari kemerdekaannya, dan menciptakan sebuah bangsa anak-anak permanen, dipaksa hidup lembek di bawah perlindungan Big Daddy Amerika, tersebar meluas oleh para seniman dan intelektual di Jepang. Itu juga menjadi fundamen kartun-kartun populer, kebanyakan menampilkan suatu pemerintahan yang bermaksud baik tapi ternyata menjadi wujud asali yang menyimpan kekuatan jahat dan jauh lebih dahsyat.

Anno diam sejenak, dan membiarkan alis hitamnya menatap ke luar jendela. “Saya tidak melihat satu pun orang dewasa di sini di Jepang,” katanya, mengangkat bahu. “Fakta bahwa kamu melihat pekerja kerah putih membaca manga dan pornografi di kereta dan merasa tidak takut, tidak malu atau apa saja, adalah sesuatu yang tidak akan kamu lihat 30 tahun lalu, dengan orang-orang yang tumbuh dewasa di bawah sistem pemerintahan yang berbeda. Mereka akan terlalu malu membuka sebuah buku kartun dan gambar cabul di sebuah kereta. Tetapi inilah apa yang kami miliki sekarang di Jepang. Kami adalah negeri anak-anak.”

Anak-anak generasi Anno bertemu di tempat seperti Loft Plus One, sebuah ruang pesta bawah tanah di Shinjuku yang dekorasinya menyerupai bar East Village di Manhattan dan berbau klorin. Kesempatan kali ini adalah sebuah acara pesta buku untuk Karin Amamiya, penyanyi punk-rock sayap kanan yang molek dan jadi pemikat kultural setelah baru-baru ini menulis memoar tentang pengalamannya mengiris pergelangan tangan, suatu perilaku yang sedang ngetren di antara gadis-gadis remaja. Pemandangan di ruang bawah tanah semacam versi mimpi buruk generasi bunga dari tayangan hiburan siang hari di televisi Jepang. Seorang penyanyi bernama Akira, mengenakan setelan kulit biawak, jaket kulit rusa, dan topi jerami, memetik gitar dan menyanyi, “Ya, hidup ini enggak gampang dijalani.” Di bawah panggung, seorang gadis SMA merokok sendirian. Ia memakai kostum rok hitam mengembang dan topi renda yang romantik dan gelap, mode populer yang dikenal Gothic Lolita.

Tuan rumah acara petang itu adalah penulis dengan nama pena Con Isshow, artinya “enggak ada matinya.” Memakai kurduroi hijau yang kucel dan kacamata model John Lennon, ia seorang perokok dan peminum berat serta pakar terkemuka seantero negeri tentang perilaku sosial anak-anak muda Jepang, sekalipun atau mungkin karena ia tak pernah merampungkan kuliahnya. Ketelitiannya pada kebersihan sangatlah merepotkan. Berkeringat di bawah lampu, ia memeriksa ruangan.

“Pengiris pergelangan tangan, angkat tanganmu. Penggila pil, angkat tanganmu. Siapa saja yang hikikomori—penyendiri akut—“dan tidak meninggalkan ruanganmu, angkat tanganmu,” Con Isshow menyanyi, dan anak-anak itu menuruti perintahnya dengan sopan.

“Mereka yang berusaha shudan jisatsu—bunuh diri bareng-bareng—“angkat tanganmu.” Jauh di sana, di pojokan klab yang gelap, seorang pria penyendiri berpakaian sweter cokelat mengangkat tangannya, kemudian cepat-cepat menunduk seakan menghindari sorotan.

Takaya Shiomi menatap dari panggung dengan pandangan mencela. Di usianya sekarang 60-an tahun, dengan rambut bak garam dan merica dan tampak kebapakan, dengan tatapan baja diktator proletarian, Shiomi adalah mantan komandan Faksi Tentara Merah, grup teroris yang memoles diri mereka sebagai perpanjangan tangan rakyat Jepang dari revolusi Marxis di seantero dunia. Pada 1970, di bawah kepemimpinan Shiomi, anggota grup itu membajak pesawat menuju Korea Utara; kemudian mereka mengajarkan seni membajak pesawat kepada para pengikut George Habash, nasionalis sekuler sayap kiri pendiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina. (Pada 1972, tiga anggota Faksi Tentara Merah, di bawah arahan Habash, membunuh 26 turis dan melukai lusinan lain di Bandar Udara Lod Israel.) Menghabiskan dua dekade di penjara, kini Shiomi hidup tenang di daerah pinggiran luar Tokyo. Menyandarkan dagu ke buku-buku jemarinya, Shiomi tampak menjadi pembicara kontra-kultur bunuh diri dan melukai diri sendiri yang jadi tema kegemaran anak-anak muda ini.

“Emang siapa sih kalian, hei bangsat?” Shiomi akhirnya meludah, meraih mikropon. “Saya tahu hidup itu berat. Saya juga pernah muda. Emang sangat gampang jadi nihilis, enggak peduli sama sekali, dan berpikir semua hal di dunia ini cuma taik. Jawaban paling manjur untuk pikiran macam itu adalah penjara. Kalau kamu ingin hidupmu berguna, kamu butuh sesuatu yang riil! Pahami dunia! Belajar ideologi!”

Amamiya, yang bepergian dengan Shiomi ke Korea Utara beberapa tahun lalu, lawatan yang disebut media sayap kanan Jepang sebagai aksi provokasi yang disengaja, sudah cukup mendengar ocehan Shiomi. “Yeah, yeah, yeah. Kami sudah tahu,” katanya, mengusir teroris bau tanah itu dengan senyuman menyeringai.

Usai pesta itu menurun tensinya, saya keluar dari klab dengan pria bersweter cokelat tersebut. Usianya hampir 30 tahun, namanya Toji, dan ia tinggal di Shizuoka, kota kediaman Moon. Kami berkeluyuran bersama menyusuri sisi bawah Shinjuku yang kacaubalau, lorong yang berpendar oleh klab penari telanjang dan bar dan konter mi, lantas naik ke sebuah restoran China, tempat mangkal favorit geng Taiwan, yang melayani pangsit sangat enak. Kami memilih sebuah meja di ruang belakang.

Mendengarkan penuturan Toji yang terpikat pada bunuh diri seperti menyimak setiap kisah indoktrinasi yang digerakkan oleh suatu pemujaan, minus si dalang jahat, yang akan membujuk para pengikutnya membuang kepemilikan ragawi mereka dan menenggak Flavor Aid beracun di sebuah hutan Amerika Selatan. Selagi Toji mengisahkan kegilaannya yang terus meningkat pada grup chat online, suatu perasaan tertekan yang membawa pikiran pada parangai ketagihan seperti merokok atau berjudi, ada sesuatu yang sangat berbeda dan terasa jauh pada sikapnya. Ia mungkin juga akan menceritakan satu per satu kehidupannya secara runtut. Semasa kuliah ia mulai tertarik dengan politik dan ekonomi, tapi tak bisa menjalin pertemanan atau mengajak kencan perempuan. Lulus pada 1997 ia masih perjaka. Ia mulai bekerja di bagian pemasaran kredit untuk usaha kecil dan menengah. Ia tidak menikmati pekerjaan itu, dan satu-satunya yang ia pikirkan adalah berhenti. Di malam hari ia akan pulang ke rumah orangtuanya dan berselancar internet, di kamar tidurnya yang sama ia tempati sebagai bocah laki-laki.

“Aku akan melihat situsweb seperti Yahoo Jepang, berita, dan sebagainya,” ujar Toji. Ia juga penggemar Ayumi Hamasaki, aktris film kelas B yang kemudian jadi bintang pop, dikenal karena kostumnya menonjolkan desir seksual dan menggubah lirik-lirik banal dengan pelbagai nama samaran yang membingungkan. Ia sering mengunjungi situsweb fanklab Hamasaki dan ikut nimbrung di papan buletin, keterlibatannya selama dua tahun tapi tak membangkitkan hubungan personal yang mendalam. Merasa lebih tertekan dari sebelumnya, ia mulai mengunjungi situs bunuh diri.

“Segalanya tidak berjalan baik, dan aku pikir lebih baik melakukan bunuh diri daripada terus mempertontonkan diriku yang bodoh kepada orang lain,” ujar Toji. “Aku ingin orang lain di sekitarku berpikir bahwa aku ‘pria baik-baik’. Jadi aku akan menyimpan dalam-dalam perasaanku sendiri.” Ia keluar dari pekerjaan lamanya dan menemukan tempat kerja baru, namun ketertarikannya pada bunuh diri justru tumbuh makin kuat. Ia lebih menyukai ide mati bunuh diri dengan orang lain, sekalipun orang itu tak dikenalnya, karena ia mengaku kurang berani mati sendiri.

“Gagasan untuk mati bareng, dan juga ide mati sekarat menghirup karbon monoksida, sehingga cara matinya lebih ringan dan menimbulkan sedikit rasa sakit, telah memikatku,” katanya. Setiap kali ia akan mengunjungi situs bunuh diri selama 20 menit, berharap untuk membatasi diri menjelajahi konten muram itu kendati juga ia penasaran bila ada sebuah grup yang sekiranya tepat. Ia mulai berpikir untuk bunuh diri lewat langkah-langkah praktis. Lokasinya haruslah paling dekat, dan mempertimbangkan jumlah terbaik dari partisipan di grup bunuh diri tersebut dan mereka harus punya pil tidur yang cukup supaya tujuannya berhasil, mengingat obat-obatan ringan bahkan seperti pil tidur mulai dikontrol ketat di Jepang.

Dua minggu setelah pertemuan pertama kami, Toji mengirimkan pesan setuju atas permintaan saya utuk mewawancarainya lagi. Rencananya sudah tambah serius, katanya. Saya mengambil jalur Tokaido menuju Hara, tempat ia menemui saya di stasiun. Caranya bicara begitu cerdas, tapi tetap saja ada jurang pemisah dari dirinya, tanpa embel-embel pada bujukan, tensi, kehangatan sebagaimana sebuah percakapan normal.

Sewaktu kecil, katanya, ia mengoleksi tabel jam perjalanan kereta, dan ia bangun pagi-pagi untuk memotret beragam kereta yang melewati kota. Sepur favoritnya adalah Kereta Biru di Afrika Selatan dan Falcon di Jepang. Sekali waktu keluarganya menaiki kereta ekspres mewah Odakyu bernama Romansukā untuk menjumpai kerabat di Saitama. Beberapa tahun setelah Toji memiliki pekerjaan, orangtuanya berkata bahwa mereka selalu membayangkan dia bekerja yang ada hubungannya dengan keretaapi. Orangtuanya berharap dia akan punya pekerjaan bagus pada satu hari kelak, dan membina keluarga.

“Ini sangat menyakitkan,” katanya, menunjukkan emosinya untuk pertama kali dan sekali itu saja selama percakapan kami. Apa yang hilang dari hidupnya, ujarnya memutuskan, adalah gairah. Jika ia punya gairah hidup, ia akan berjalan dengan enteng. Sekali waktu ia pernah menjalani pengobatan depresi, tapi berhenti saat dokter baru menggantikan dokter yang biasanya ia temui di sebuah rumah sakit lokal. Seketika ia melihat dokter baru itu arogan dan bersikap tidak menyenangkan.

“Secara pribadi dokter itu berpikir bahwa menggunakan pil adalah sama dengan obat insulin untuk diabetes,” penerjemah saya menjelaskan. “Tapi karena orang-orang di sekitarnya tidak berpikir begitu, ia dipaksa untuk berpikir sama dengan mereka, dan menjauhi pil tersebut.”

Toji adalah individu yang meniti kehidupan masyarakat Jepang abad 21 yang makmur, yang semakin gelisah tapi masih dikontrol ketat itu tiada gunanya. Malam itu, kami pergi ke rumahnya, tempat ia tidur sendirian di kamar masa kecilnya; itu sebuah ruangan dengan dinding polos, satu ranjang, meja, laci, rak buku, dan PlayStation 2 merek Sony terbaru di lantai. Saudara perempuannya, yang kamar tidurnya di bawah ruang utama, tak pernah punya pacar dan takkan mengizinkan Toji masuk ke kamarnya.

Sejak terakhir saya bertemu dengannya tiga minggu lalu, Toji berkata, ia telah mengunjungi lokasi bunuh diri favoritnya dua atau tiga kali dalam sepekan, masing-masing selama sekitar 10 menit. Saat ia online, rasa sepi dan depresinya terangkat, dan ia merasa tujuan hidupnya untuk mati itu tampak jelas. Takkan lama lagi, ujarnya, ia akan menemukan rekan yang serius menginginkan mati sekarat, dan akan mengizinkannya bergabung ke grup mereka untuk sama-sama melakukan bunuh diri.♦
___

 

David Samuels (lahir tahun 1967) adalah penulis nonfiksi kelahiran Brooklyn, New York, dan editor naskah sastrawi untuk The Tablet Magazine, serta editor tamu untuk Harper’s Magazine dan kontributor untuk The Atlantic dan The New Yorker. Dia dikenal berkat karya-karya jurnalisme dan esai bernapas panjang. Karya perdananya, soal musik rap yang jadi laporan utama The New Republic tahun 1991, merebut perhatian khalayak karena pendapat kontroversialnya saat itu soal pendengar utama musik hip-hop berasal dari remaja suburban kulit putih. Artikelnya soal musik rap untuk The New Yorker dibukukan dalam Naskah Musik Terbaik tahun 2000. Karya-karya lain dia, untuk menyebut beberapa, terpilih dalam antologi Naskah Terbaik Politik Amerika 2004 dan Naskah Terbaik Sains dan Alam 2006.

Karyanya di Harper’s acapkali menangkap gambaran satu peristiwa termasuk soal huru-hara di Woodstock 1999 (berjudul “Rock is Dead”, November 1999); sementara karya feature dia untuk The Atlantic dan The New Yorker sering berfokus pada subkultur yang ekstrem dan individu berkepribadian ganda. Profilnya tentang Yasir Arafat pada September 2005 terpilih dalam daftar finalis National Magazine Award untuk kategori reportase.

Dua bukunya, yang terbit tahun 2008, adalah antologi berjudul Only Love Can Break Your Heart; dan The Runner: A True Account of the Amazing Lies and Fantastical Adventures of the Ivy League Impostor James Hogue, pengembangan dari naskah profil yang ditulisnya untuk The New Yorker soal jembel 29 tahun James Hogues, pencuri kroco dan mantan penipu, yang berlagak jadi pribadi baru berumur 19 tahun di Princeton. Kedua buku itu dipuji kritikus sebagai karya dari “jurnalis terkemuka” dan “reporter cemerlang”.

Kritikus menyebut Samuels sebagai “master of the new old journalism” berkat kercedasan dan kejernihannya menulis secara matang. Ia kerap dipadankan dengan Joan Didion, Gay Talese, dan Tom Wolfe, para penulis dari generasi Jurnalisme Baru tahun 1960-an, yang karya-karyanya menekankan, di antara hal lain, pada pengamatan orang pertama, reportase mendetail, dan kecakapan berbahasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s