Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

Kendati sangat menguntungkan dari sisi jurnalistik (bahan yang kau dapatkan lebih sedikit cacatnya), pendekatan ini seringkali menempatkanmu dalam posisi canggung. Katakanlah, kau mendapati dirimu mengunjungi sebatang sungai saban pagi dengan berharap menemukan korban pembunuhan. Banyak koresponden asing yang saya kenal mungkin akan keberatan pada frasa “berharap” yang saya pakai. Mereka mungkin akan berkata: Kami tak ingin hal-hal buruk terjadi; kami hanya ingin menyaksikannya jika itu terjadi. Ini perbedaan yang masuk akal, tapi sekali kita di lapangan, itu bisa terasa semantik. Di lapangan, kita secara aktif dan agresif berusaha melihat dengan mata kepala sendiri realitas perang, kelaparan, bencana—dan siapa sih yang sungkan untuk seenggaknya bersyukur saat menemukan apa yang dicarinya, atau seenggak-enggaknya dia kecewa ketika ternyata yang dicarinya enggak ada?

Saya mulai sadar pertama kali akan situasi sulit macam itu sewaktu di Afghanistan. Di tahun itu, antara 2011 sampai 2014, aparat militer AS untuk urusan publik sedang bekerja giat untuk merancang persepsi yang optimis—dan sungguh khayali—soal kemajuan perang dengan menggolongkan penarikan tentara dari sana sebagai “transisi,” bukan mundur. Upayanya adalah dengan mencegah para wartawan menempel unit-unit pasukan Amerika yang ditempatkan di daerah-daerah yang dikuasi Taliban. Bagi saya dan kolega saya di Kabul, satu jalan untuk mengakali program yang bikin kacau dan sering dapat ejekan itu adalah menempel pasukan keamanan Afghanistan. Kini bayangkan kau ada dalam sebuah misi dengan satu peleton prajurit Afghan di sebuah lembah yang kautahu dikendalikan pemberontak, dan bayangkan, tugasmu menggambarkan fakta itu. Di satu sisi, kau tak ingin serdadu-serdadu itu disergap—orang macam apa yang pengin hal begitu terjadi?—tapi, di sisi lain, satu-satunya alasan kau datang ke lembah itu lebih dini ialah kemungkinan banget mereka dihadang dan kau menghasratkan bersama mereka saat serangan itu terjadi. Yang saya pikir, dengan kata lain, kau ingin mereka disergap.

Atau, yang seringkali saya alami, pertimbangkanlah ini: Sewaktu saya meliput epidemi ebola di Afrika Barat, ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi. Setiap penugasan liputan menyajikan beberapa variasi dari keadaan itu. Liputan terakhir saya di Irak, saya menyaksikan seorang pria terluka parah diseret ke jalan dan babak belur dan dipukuli habis-habisan sampai tewas. Saya merasa, pembunuhan mengerikan atas si pria malang itu yang persisnya saya cari. Saya merasa, saya senang telah menemukannya. Saya tahu, setelah semua itu, kejadian macam itu akan bikin naskah saya lebih baik. Itulah kenapa saya mendorong diri saya ke muka keramaian untuk merekamnya dengan ponsel saya: saya sedang mengantisipasi tantangan pelik yang nantinya bisa saya temui sewaktu menulis.

Saya mengira, ketika orang berpikir soal wartawan yang ditempa oleh pengalaman derita orang lain, menyebutnya dengan istilah estetis “berhati dingin”, kebanyakan berpikir hal seperti itu disematkan kepada fotograger—Kevin Carter, misalnya, menghabiskan waktu duapuluh menit untuk mengabadikan burung pemakan bangkai dan gadis yang kelaparan di Sudan tahun 1993. Koresponden umumnya menghindari kedongkolan hipokrit macam itu bahwa Carter dan fotografer lain menjadi inspirasi. Para koresponden, dengan logika yang harus bekerja, memberi sentuhan estetis setelah bertemu dengan penderitaan itu dan melenggang pergi—sesuatu yang, entah bagaimana, sedikit kurang pantas. Agak kurang pantas, boleh jadi, tapi tidaklah benar. Komposisi adegan dimulai bahkan ketika adegan itu tersibak di depan mata. Selagi pria itu mati, misalnya, koresponden membayangkan kalimat yang akan dia gambarakan dan mengumpulkan informasi yang akan diperlukan saat menulis.

Sampai di sini, perkara yang sedang saya uraikan sepenuhnya masalah internal dan pribadi (entah apakah sebagian diri saya menginginkan sebuah mayat muncul di sungai akan bikin saya sedikit-banyak menyukainya; atau apakah pengalaman menyaksikan derita orang lain dengan hati dingin dapat meringakan atau memperburuk derita mereka), dan karena itulah, dalam sudut pandang subjek, saya berpendapat bahwa mereka tidaklah peduli. Bila saya meyakini tujuan dan nilai dari naskah saya yang terus menempatkan saya dalam posisi canggung macam ini, sejujurnya saya tidak berpikir mereka merasa canggung sama sekali; naskah macam ini, dalam bayangan saya, bakal menenangkan kegelisahan pribadi apapun yang mungkin mengendap selagi saya meliput mereka dan bikin saya lega bersamaan perasaan itu terus menyatroni saya dengan menyelidiki dan mencurigai proses kerja saya. Fakta bahwa rasa tak nyaman ini belumlah mereda, bagaimanpun, seakan menampakkan bahwa saya tidak merasa yakin tentang tujuan dan nilai dari naskah saya. Dan, tidak seperti perkara pribadi dan internal, hal itu menjadi masalah.

Mengapa jadi masalah? Alasan utamanya, untuk naskah-naskah saya, dengan pengecualian langka, semuanya bergantung pada kerjasama para subjek, dan kerjasama ini biasanya ditawarkan berdasarkan pemahaman yang cukup spesifik mengenai tujuan dan nilainya: subjek umumnya meyakini bahwa naskah ini akan memberi manfaat dalam cara yang praktis. Kadang dia berharap keuntungan dari naskah ini secara langsung. Baru-baru ini saya menulis tentang pria Honduras yang dideportasi dari AS setelah tinggal beberapa tahun dan berusaha kembali ke keluarga yang dia tinggalkan. Sebuah penggambaran simpatik atas situasinya yang dimuat di majalah utama Amerika, begitu yang dia kira, bakal meningkatkan peluangnya mendapatkan visa. Atau lebih kerap lagi, demikian dia mengira, subjek dalam naskah saya sesudah diterbitkan bakal mengubah sejumlah komponen kebijakan Amerika yang menyentuh nasibnya. Komandan Afghanistan ingin AS memasok persenjatan berat untuk pasukannya; warga sipil Suriah ingin AS menyetop rezim yang membombardir kota; pasien Liberia ingin AS mengirim lebih banyak dokter; pejuang Kurdi ingin AS mendukung tawaran rakyatnya untuk kemerdekaan; dan seterusnya. Bahwa naskah saya mungkin akan membantunya mendapatkan yang dia inginkan adalah sebuah ilusi yang selalu saya tekankan sepenuhnya kepada subjek karena gagasan itu keliru. Namun saya harus mengakui bahwa disclaimer apapun yang bersikeras saya ungkapan, pada akhirnya, terasa tidak jujur di hati saya—tidak jujur karena saya tahu subjek sendiri tidak membelinya. Tentu saja dia tak membelinya. Jikapun itu sepenuhnya sahih, bila memang tak banyak harapan naskah saya bakal memenuhi keinginannya—dia perlu berpikir, mengapa saya ada di sana, di tempat yang dirundung bahaya dan sengsara, menyia-nyiakan waktu saya dan dirinya?

Sebuah disclaimer yang sepenuhnya jujur akan mengharuskan saya memberitahu pada subjek bahwa tak satupun naskah saya akan bikin perubahan kebijakan atau memperbaiki secara berarti kehidupan orang-orang yang saya tuturkan. Itu akan memaksa saya mengungkapkan bahwa komandan Afghanistan yang saya tulis profilnya tak pernah menerima senjata yang dia butuhkan dan terbunuh selagi melakukan patroli beberapa tahun kemudian—atau pria Honduras yang saya kisahkan gagal mendapatkan visa, berusaha kembali ke AS dengan cara ilegal dan kembali ditangkap dan dideportasi sebelum akhirnya kembali bersatu dengan istri dan anaknya. Namun jauh lebih penting, sebuah disclaimer akan mewajibkan saya memberitahu kepada subjek bahwa membantunya bukanlah tujuan saya mengerjakan kisahnya. Mempengaruhi kebijakan bukanlah tujuan saya. Membuat perubahan nyata sekecil apapun bukanlah tujuan saya, tidak bisa menjadi tujuan saya, karena jika berpikir begitu, saya sekarang ini sudah semestinya ganti pekerjaan.

Saya mungkin perlu mengatakan di sini bahwa saya tengah membahas jenis jurnalisme yang biasa disebut jurnalisme “long-form” atau “naratif”, dan di dalam genre ini ada lapisan lebih khusus lagi yang bisa kau sebut reportase yang mengandalkan penelusuran lebih menukik ke lapangan. Jurnalisme koran, sebagaimana jurnalisme majalah dengan aneka investigasinya, pasti bisa memperbaiki institusi, kehidupan orang-orang, mengubah dunia—dan, demikian asumsi saya, praktisi jurnalisme seperti itulah yang biasanya dicita-citakan. Namun ini berbeda untuk kasus saya. Sementara saya kadang sesekali tersandung dalam ketidakadilan sistemik (sulit menghindarinya bila kau menjalani pekerjaan ini), mengidentifikasi dan menyingkap ketimpangan itu jarang menjadi tujuan utama saya; kecil kemungkinannya bila melihat apa yang saya kerjakan. Alih-alih saya mengukir naskah dengan menggambarkan, sebisa mungkin, kehidupan orang-orang yang biasanya cenderung muncul di jurnalisme koran dan investigatif lewat cara klise atau statistik (atau tidak sama sekali). Dilihat di muka, ini tampak sebuah ambisi yang cukup mulia. Tetapi saya kira jadinya malah agak samar bila mengingat orang-orang yang saya tulis dan untuk siapa saya menulisnya.

Dalam kasus saya, pemirsanya biasanya pembaca New Yorker atau New York Times Magazine, subjeknya biasanya penduduk rentan dari sudut paling miskin dan kejam di dunia. Meski para subjek ini mungkin pernah mendengar New Yorker dan New York Times Magazine, mereka hampir tak pernah membacanya atau tak mengenal siapa orang-orangnya. Ada kata yang terdengar konyol di kalangan media Barat yang kadang dipakai untuk menggambarkan jenis jurnalisme yang saya pakai, yang dimaksudkan sebagai sanjungan tapi selalu bikin saya ngeri seketika karena mengungkapan dengan baik jurang antara pemirsa dan subjek, dan konflik di dalamnya. Kata itu adalah “memanusiakan.” Dengan standar saya sendiri, jika naskah saya berhasil, bila saya menyelesaikan apa yang sudah saya lakukan, saya menyusun beberapa kadar “memanusiakan” situasi—sebuah konflik, suatu krisis—bagi pembaca. Tetapi tentu saja si subjek sama sekali tidak merasa lebih manusiawi atas pengalamannya; subjek, dalam banyak kasus, bahkan tak menyadari lebih manusiawi di mata para pelanggan New Yorker dan New York Times Magazine. Yang sebetulnya sah-sah saja. Karena, percayalah, bila mereka tahu, mereka takkan peduli. Jika diberi pilihan, subjek akan lebih memilih untuk, katakanlah, mendapatkan seratus, atau limapuluh, atau lima dolar. (Sayangnya hal macam itu bakalan tidak etis.)

Jadi mengapa terus melakukan pekerjaan ini? Mengapa saya masih merasa, secara naluriah, pekerjaan ini mendesak dan penting? Saya kira jawabanya ada hubungannya dengan gagasan mencatat. Saya masih percaya ada sejumlah tujuan dan nilai esensial dengan mencatat kehidupan individu, bahkan jikapun orang-orang ini memahami kalau tujuan dan nilai pekerjaan saya bakal jadi sesuatu yang berbeda. Tentu saja, dengan arah tujuan dan nilai yang  berbeda itu, ada masalah di sana—sebagaimana ada masalah dengan kau secara diam-diam menginginkan kematian dan kekerasan terjadi di sekitarmu. Namun saya bisa hidup dengan problem macam ini. Problem ini memudar oleh keyakinan saya soal pentingnya jenis pekerjaan mencatat.

Akhir-akhir ini, untuk alasan lebih bagus atau buruk, saya lebih banyak menulis fiksi ketimbang jurnalisme. Satu keuntungan menulis fiksi: kau tak harus terlibat dalam kontrak diam-diam dengan subjek nyata, dan karena itu tak ada beban yang kita pikul untuk mendefiniskan tujuan dan nilainya, atau apakah tujuan dan nilai itu bertentangan dengan etika yang bikin kita rikuh yang mungkin kita hadapi. Bukannya saya bermaksud bahwa pertaruhan fiksi lebih sepele ketimbang pertaruhan jurnalisme—bagaimanapun, saya tak mempercayai itu; malahan saya cenderung berpikir sebaliknya. Yang saya maksudkan, kau tak harus melihat pembunuhan yang mengerikan untuk menggambarkannya. Kau tak harus memberi harapan palsu kepada orang yang putus asa. Kau bisa hadir dari situasi yang relatif tak ternoda karena kau dapat melakukannya dari awal sampai akhir hanya dengan duduk sendirian di sebuah ruangan yang sepi.

Di tempat itulah kadangkala saya menemukan sesuatu yang menarik.*

_________

Luke Mogelson adalah penulis kontributor di The New York Times Magazine dan penerima National Magazine Award tahun 2014 untuk liputannya berjudul “The Dream Boat”, reportase gila dengan mengikuti perjalanan perahu para migran dari beragam negara yang dilanda perang dan kemiskinam akut dengan melintasi Samudera Hindia menuju Pulau Christmas, Australia, sekira 500 km dari Jakarta. Karya-karya fiksinya terbit di The New Yorker, The Paris Review, The Hudson Review, The Missouri Review, dan The Kenyon Review. Dia tinggal di Paris. Kumpulan cerita fiksinya terbit dengan judul These Heroic, Happy Dead (April 2016).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s