Rahasia Jurnalisme Data

“Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami.”

Hassel Fallas • ProPublica • 4 Nov 2013

djh_2
Ilustrasi diambil dari sini

 

SAYA MENGHABISKAN beberapa pekan terakhir di AS dalam program Douglas Tweedale Memorial Fellowship bersama International Center for Journalists, dan berbincang dengan sejumlah ruang redaksi Amerika soal pendekatan jurnalisme data. Saya bagi apa yang saya pelajari.

Langkah terbaik memulai jurnalisme data: kau hanya perlu memulainya. Ketika kau mengawalinya, kau jangan takut gagal. Setiap kesalahan bikin pengalaman dan pengetahuan kau bertambah, bagi perkembangan dirimu dan untuk meningkatkan kualitas jurnalisme yang kau praktikkan.

Mudah bagi kau berkata “aku tak pandai dalam matematika” dan memutuskan jurnalisme data bukanlah bidangku. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya juga tidak pandai dalam matematika sampai saya putuskan untuk merobohkan dinding mental itu, dan mendapati bahwa cara belajar terbaik dan termudah adalah mengaplikasikan teori ke dalam proyek nyata.

Pada 2008 bahkan sebelum saya tahu ada perihal yang disebut “data-driven journalism” alias jurnalisme data, saya menyusun analisis setdata yang ringan dan sederhana mengenai kunjungan wisatawan internasional di Kosta Rika. Selama mengolahnya, saya mulai belajar formula Excel, menghitung variasi, menganalisis total angka berdasarkan tahunan, musiman, triwulanan, dan seterusnya.

Pelan-pelan kemampuan saya mengolah data mulai meningkat, dan berkembang pula kompleksitas data dalam proyek saya. Saat ini saya bekerja di Unit Data La Nación di Kosta Rika.

Ini tiga hal yang bisa kau awali guna meningkatkan kemampuanmu dalam jurnalisme data:

Pertama, bicaralah pada pengembang dan teknisi web soal bagaimana pendekatan proyek analisis data yang kau buat—perangkat lunak apa yang dipakai, bagaimana formula dan metodologinya, apa tujuan proyekmu.

Kedua, tetap pada proyek kau! Jangan gampangan menyerah ketika belajar memakai teknik atau perangkat lunak baru seperti Open RefineTableauTabula atau lainnya untuk menjernihkan, menganalisis atau memvisualisikan data.

Ketiga, ringanlah berbagi kepada orang lain dari apa yang kau pelajari. Semakin sering pertanyaan yang diajukan orang lain akan mendesak kau menunjukkan tantangan dan memotivasi kau mencari jawaban-jawaban yang tepat yang belum kau pikirkan, meningkatkan kemampuanmu dan mendorong kau mencoba pendekatan-pendekatan berbeda.

Yang ingin saya katakan: bila kau ingin melakukan jurnalisme data, lekas dan mulailah. Cara yang baik pula untuk mengawali belajar termasuk dengan kursusbuku dan panduan online.

Saya juga merekomendasikan insiatif global seperti Hacks & Hackers yang mengadakan pertemuan di banyak negara, baik di dalam dan luar Amerika Latin.

Kau juga harus berkomitmen untuk terus belajar. Bahkan sekalipun kemampuanmu sudah mumpuni dan memahami secara mendalam soal teknik, perangkat, dan metodologi analisis dan visualisasi, akan selalu ada tantangan lebih besar di depan—setdata yang lebih gede, perangkat lunak terbaru untuk diujicobakan, teknik baru untuk dicoba, dan pendekatan berbeda guna meningkatkan partisipasi orang-orang yang menjadikan cerita kau penting.

 

Mengapa Penting Jurnalisme Data

Kau mungkin bertanya, “mengapa penting jurnalisme data bagiku?” Suatu penjelasan ringkas yang bagus datang dari Sisi Wei, seorang jurnalis data ProPublica, yang berkata kepada saya selagi saya menjalani penugasan dua pekan di ruang redaksinya.

“Jurnalisme data mengizinkanku memeriksa dan menguji informasi lebih cermat ketimbang sebelumnya. Misalnya, saat saya kuliah, saya kira kita tinggal wawancara para pakar, percaya pada apa yang dikatakan mereka, lantas mengutipnya dalam artikelmu. Tapi belakangan, mengapa tak ambil saja hasil data dari riset mereka lalu menganalisisnya sendiri? Saya bisa menguji apa yang mereka katakan. Bila saya memeriksa data sebelum melakukan wawancara, saya bisa mengajukan pertanyaan soal anomali yang saya temukan atau bertanya mengenai prosedur yang saya pahami lebih baik daripada sebelumnya.”

Saya langsung mengerti apa yang dia maksud—sangatlah membantu dan memuaskan bila kau mampu memeriksa dan menguji informasi dalam cara yang lebih cermat dan segar.

Setiap cerita bagus bermula dengan sebuah ide, pertanyaan atau observasi, ujar Sarah Cohen, editor liputan berbasis bantuan komputer di The New York Times selama hampir setahun.

“Dan kemudian, kita ambil data atau dokumen yang membantu kita memperluas dampak dari observasi kita,” tambahnya. Kami mengobrol di kafetaria pekerja Time awal pekan ini.

Itulah bagaimana serial cerita khususnya meraih penghargaan Pulitzer, yang diliput Cohen bersama rekan-rekannya di The Washington Post lahir.

Serial itu mengekspos kegagalan Distrik Kolumbia yang lari dari tanggungjawab atas kematian 229 anak-anak di pusat perlindungan antara 1993 dan 2000.

“Saya merasa cerita-cerita ini lebih berdampak ketimbang investigasi tradisional, karena menunjukkan ia bukanlah insiden terpisah, bukan hanya problem seketika itu saja,” Cohen menyimpulkan.

Manfaat besar lain dari jurnalisme data adalah bagaimana ia meningkatkan kualitas jurnalisme dan keterlibatan dengan khalayak lewat visualisasi dan basisdata interaktif.

Di Argentina, La Nación di Buenos Aires memahami manfaat ini dengan sangat baik. “Menempatkan data dalam menjalin kontak dengan warga negara lewat aplikasi berita atau visualisasi interaktif adalah upaya menggerakkan partisipasi warga di era mobile dan on-demand,” ujar Angelica “Momi” Peralta, Manajer Pengembangan Multimedia dan Interaktif La Nación.

Argentina tidak punya Undang-Undang Kebebasan Informasi. Portal-portal data terbuka pemerintahannya baru saja diluncurkan, sehingga para wartawan La Nación membangun setdata sendiri sejak awal dengan menukil PDF, di antara teknik lain. Mereka juga membagi data yang mereka kembangkan dalam format terbuka sehingga bagi yang tertarik pada data tersebut bisa mengaksesnya.

“Kami percaya membagi data itu sebuah keharusan. Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami, dan data yang kau tampilkan berada dalam sorotan, sehingga sekali ia menjangkau perhatian warga negara (lewat mobile atau visualisasi), akan menjadi lebih sulit bagi mereka yang ingin data itu lenyap,” ujar Peralta kepada saya via surel.

 

Ide dan Proses

Sepengalaman saya, kesuksesan jurnalisme data bergantung pada kesabaran, seberapa banyak kerja tim, dan kegigihan untuk tak gampang menyerah. Saya ceritakan bagaimana ruang redaksi saya menangani sebuah proyek yang kami garap bersama.

Maret lalu, selama rapat dengan tim saya, kami datang dengan ide menginvestigasi praktik daur ulang sampah rumahtangga di 81 daerah di Kosta Rika, dan melihat bagaimana pemerintah daerah mendukung upaya ini. Seketika saya mulai menggali isu ini dengan membaca aturan hukum dan regulasi yang relevan, disamping studi akademis tentang subjek tersebut. Saya juga membuat dua basisdata.

Langah pertama yang kami susun dengan menapis data dari Sensus Penduduk Kosta Rika tahun 2011. Untuk pertama kalinya Sensus itu menanyakan apakah tiap-tiap rumahtangga memisahkan plastik, kertas, aluminium, dan kaca dari sampah biasa.

Saya lantas menghimpun setdata kedua dengan menelepon dan meminta informasi dari seluruh 81 pemerintah daerah.

Saya tahu dari sensus itu bahwa 40 persen rumahtangga Kosta Rika memisahkan sampah daurulang, tapi lebih dari itu, apa yang ingin saya ketahui: Di daerah mana yang warganya paling giat memisahkan sampah daurulang? Apa yang dilakukan orang-orang ini dengan pelbagai sampah yang sudah dipisahkan? Apakah pemerintah daerah menangani sampah daurulang ini dengan tanggap, atau upaya ini berakhir sia-sia? Berapa ton sampah yang mereka kumpulkan setiap bulan, dan berapa yang didaurulang?

Sensus menjawab dua pertanyaan pertama, tapi tidak untuk dua pertanyaan terakhir. Pertanyaan terakhir ini hanya bisa dijawab dengan bertanya kepada pemerintah daerah.

Basisdata kedua dikumpulkan dari liputan. Saya ke lapangan untuk mengonfirmasi temuan-temuan saya, bicara dengan para pakar, pejabat pemerintah, perkumpulan dan perusahaan di tengah masyarakat.

Itu langkah penting, saran Cohen dari Times. “Para jurnalis data harus menyisihkan sebagian waktunya ke lapangan untuk menguji bagaimana datanya bekerja dalam dunia tiga dimensi. Hal sama juga dengan para reporter yang sehari-hari bekerja di lapangan. Mereka perlu menghabiskan waktunya dengan data untuk melihat bagaimana temuannya direpresentasikan. Setiap catatan sebenarnya bagian dari apa-apa yang sedang terjadi. Dan tanpa kedua perspektif ini, saya kira kau akan menemukan cacat besar dalam laporanmu.”

Akhirnya, dengan bantuan dari sejumlah kolega saya, kami mengaduk dua basisdata bersamaan sehingga kami bisa mengetahui angka terperinci dan lokasi rumahtangga yang memisahkan sampah daurulang dari sampah biasa, dan pemerintah daerah mana yang tidak sungguh-sungguh mengambil sampah ini secara terpisah dan justru mencampur kantong daurulang dengan sampah biasa.

Kami juga sekarang punya sebuah data yang menunjukkan kota-kota dengan angka tertinggi sampah daurulangnya, dan mana saja yang upayanya ini disokong pemerintah daerah mereka.

Sejalan dengan analisis data, kami mengembangkan sebuah basisdata interaktif yang mengizinkan pembaca berinteraksi dan mencari informasi daerahnya sendiri, dan dengan data itu mereka bisa “menyampaikan ceritanya.”

 

Rahasianya: Jangan Simpan Rahasia

Akhirnya, jika kau akan memulai jurnalisme data, kau harus tahu satu rahasia besarnya: Jangan menyimpan rahasia dari tim yang kau ajak kerja bersama. Berbagilah semua temuanmu, rancanganmu, dan data yang kau peroleh.

Setiap ide yang enggan dibagi kepada orang lain ditakdirkan mati cepat karena asupan oksigen yang dibutuhkan sebuah proyek berbasis data agar ia terus bernyawa, bergantung pada seberapa banyak yang kau bagi dan seberapa banyak kau mengemongnya dengan balasan dan respons balik dari timmu.

Jangan simpan informasi untuk dirimu sendiri. Bagilah semua data dan temuanmu di tahap paling awal. Simpan catatanmu di suatu tempat yang orang lain bisa mengaksesnya, seperti wiki atau layanan jaringan penyimpan berbagi. Dari awal mula libatkanlah pengembang, desainer, dan ahli multimedia bersama semua aspek ceritamu. Itu semua akan memperkaya perspektifmu dan mendorong kualitas pertanyaanmu.

Kau mungkin juga menemukan sumber-sumber baru (data maupun manusia) yang boleh jadi tak pernah kau pikirkan sebelumnya, selain juga perangkat dan metode baru untuk memeras dan menganalisi data. Ini akan membantu pekerjaan kau lebih baik.

Bicaralah blak-blakan tentang idemu, bahkan bila itu masih berupa gagasan. Teruslah mengajak bicara dengan tim ketika sudah menjadi sebuah proyek, saat sudah jadi sebuah rancangan, dan saat kau melangkah terlalu jauh ke dalam proyek.

Dan buang anggapan bahwa jurnalis dan teknisi dan desainer grafis harus bekerja sendiri-sendiri. Di sebuah ruang redaksi, setiap orang bisa melakukan pekerjaan jurnalisme.

Pada titik itulah saya suka dengan seuntai kalimat yang saya dengar selama saya di ProPublica. Datang dari Scott Klein, Editor Senior dari divisi Aplikasi Berita: “Lupakan untuk berkata kepada pengembang web: “OK, ini ada data, garaplah. Tugasku sudah selesai.” Proyek kau hanya bisa sukses jika sepenuhnya dikerjakan sebagai sebuah tim.

Saya bisa mengonfirmasikan ucapan Klein itu berdasarkan pengalaman saya di La Nación selama mengembangkan sebuah basisdata yang menyingkap identitas lebih dari 100.000 entitas perusahaan cangkang di negeri-negeri suaka pajak. Ini adalah proyek global yang dihelat International Consortium of Investigative Journalists, di mana La Nación bergabung dengan pelbagai ruang redaksi lain di seluruh dunia (di Indonesia adalah Majalah Tempo) dan bekerja bersama untuk menyajikan investigasi berdampak global.

Hal itu takkan mungkin terjadi jika suratkabar enggan menghimpun sebuah tim multidisplin yang bisa bebas berkomunikasi dan bekerja bareng dalam situasi apapun yang kita butuhkan.

Tantangan berikutnya, saya akan coba mempelajari dasar-dasar pengembangan perangkat lunak. Saya tahu soal pandangan yang melawan argumen seorang jurnalis atau bukan harus belajar koding. Tapi selama dua pekan terakhir saya berada di ruang redaksi ProPublica, saya melihat mengapa penting bagi jurnalis untuk setidaknya punya kemampuan dasar pemrograman.

Bila kau menghadapi volume data yang besar, sekalipun kau paham koding dasar bakal membantumu, untuk mendapatkan hasil maksimal dari datamu dan menganalisinya dengan cara sebaik mungkin, kau hanya bisa melakukan itu lewat komunikasi lebih baik dengan teknisi web.

Saya tahu ini terlihat bikin kau kecut, tapi sekali lagi, saran terpenting yang saya miliki untuk para wartawan adalah setidaknya cobalah dulu jurnalisme data, dan bila kau menguasainya, teruslah belajar.•

____

Hassel Fallas adalah jurnalis data di La Nación di Kosta Rika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s