Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

Catatan atas persidangan kasus serangan mematikan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang digelar secara simultan selama 5 bulan pada 2011. Para pelaku pembunuhan dan pengeroyokan hanya dihukum 3-6 bulan penjara; adapun seorang Ahmadi, yang mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya, diseret ke pengadilan di bawah hukum compang-camping dengan vonis 6 bulan penjara. Saya menyentuh kembali esai ini lantaran diminta untuk memeriksa dokumentasi naratif mengenai persekusi terhadap muslim Ahmadiyah di Indonesia, sejak kemunculan fatwa MUI sampai SKB 2008, dalam sebuah buku yang direncanakan terbit akhir tahun ini.
kartun-rest-in-peace-rip-penegakan-hukum-hendrikus-david-arie-mulyatno-sp
“Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum” ©2013 Hendrikus David Arie Mulyatno. Karikatur ini terbit di Suara Pembaruan edisi 17 Oktober 2013 dan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Sumber dari sini.

 

SIDANG KASUS CIKEUSIK berlangsung di Pengadilan Negeri Serang, Banten. Ke-12 terdakwa, dalam 11 berkas, menjalani proses persidangan sejak 26 April 2011, berlangsung di tiga ruangan terpisah, berjalan simultan, satu demi satu terdakwa diproses, setiap Selasa dan Kamis.

Kasus ini juga menjerat Deden Sudjana dari muslim Ahmadiyah. Pada 20 Mei, Sudjana resmi ditahan di Lapas Serang. Pada 8 Juni, ia menjalani sidang perdana. Sudjana diancam pidana penghasutan, melawan perintah petugas, dan penganiayaan[1]. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, salah satu kuasa hukum dari sebuah koalisi bernama Tim Advokasi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara[2], menyatakan dakwaan terhadap Sudjana merupakan bentuk “kriminalisasi dan viktimisasi terhadap korban.” Sudjana diancam maksimal 6 tahun penjara.

Dokumentasi @cikeusiktrial atas proses persidangan, terungkap “fakta-fakta hukum” yang bisa kita pelajari dari beberapa saksi guna menelusuri seluruh kasus ini. Ada beberapa saksi yang keterangannya dapat menjelaskan jejaring mobilisasi, hasutan, dan pelaku, yang sedikit-banyak berperan dalam insiden penyerangan dan pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah di Cikeusik.

Namun, di sisi lain, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam proses persidangan. Hakim dan jaksa lebih berkutat pada “siapa yang menyerang lebih dulu” ketimbang, misalnya, menelusuri jejaring pelaku dan keterlibatan terdakwa dalam perkara. Mereka lebih mengedepankan logika dan pandangan agama daripada pandangan hukum yang menyangkut sidang pidana.[3]

Salah satu yang menonjol, dari 12 terdakwa itu, tak ada seorang pun diancam pasal pembunuhan, hanya pengeroyokan (atau kekerasan bersama-sama) dan penganiayaan yang mengakibatkan pembunuhan[4]. Di samping itu tak ada aparat polisi yang dihukum pidana terkait pembiaran dan tindakan preventif sebelum dan saat kejadian.[5]

Jaksa dan hakim tak langsung menghentikan pernyataan-pernyataan yang menghasut kebencian terhadap muslim Ahmadiyah di ruang sidang. Teriakan “Allahu Akbar,” “Ahmadiyah kafir,” “Ahmadiyah sesat,”[6]—kebanyakan justru dari nada kebencian para terdakwa dan pengunjung—tidak segera diinterupsi oleh hakim. Seorang jaksa bahkan menyatakan “terimakasih” atas nota ekspesi dari tim kuasa hukum karena “telah menambah wawasan kami mengenai Ahmadiyah.”[7]

Namun sidang dalam penjagaan ketat. Polisi tampaknya melakukan prosedur maksimal di tengah kekhawatiran ancaman dan intimidasi sewaktu-waktu terhadap saksi dari muslim Ahmadiyah dan wartawan. Polisi melakukan pemeriksaan di pintu pagar halaman pengadilan. Pengunjung dan wartawan perlu mengisi buku tamu di depan pintu masuk gedung pengadilan. Personel yang bertugas dari aparat gabungan, terdiri Polda Banten, Polres Serang, Polres Pandeglang, serta Brimob dan tim gegana. Jumlah mereka sekira 1.000 personel saat awal persidangan, namun belakangan stabil antara 300-500 personel. Massa pengunjung, kebanyakan memakai sarung, kopiah dan baju koko, plus ibu-ibu dan sejumlah anak-anak, sekira 100-200 orang.

Ada sebagian dari mereka mengenakan atribut “Front Pembela Islam Banten.” Ia dipimpin Abuya Muhtadi dari kampung Cidahu, kecamatan Cadasari. Ayahnya, almarhum Abuya Dimyati, sejawat dekat almarhum Gus Dur, tokoh penting Nahdlatul Ulama. Muhtadi rutin mendatangi persidangan para penyerang. Bahkan, pada dua kali persidangan pertama, ada pengunjung dari Jama’at Ansharut Tauhid, organisasi yang disebut “radikal Islam” yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir pada 2008.

KASUS

Kasus Cikeusik adalah penyerangan dan pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah pada 6 Februari 2011, di kampung Peundeuy, desa Umbulan, sekira 5-7 jam dari kota Serang. Tiga korban tewas dan lima korban luka parah dari muslim Ahmadiyah. Kasus ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya kekerasan terhadap muslim Ahmadiyah selama 10 tahun terakhir. Ia implikasi dari surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri tahun 2008, yang membatasi hak muslim Ahmadiyah melakukan kegiatan ibadah di depan publik, dan melarang penyebarannya karena dituduh “menyimpang”. Ancaman maksimal lima tahun penjara.

Sejak November 2010, jemaat Ahmadiyah Cikeusik, melalui mubalig Ismail Suparman, dipanggil guna diminta pindah sebagai muslim Ahmadiyah, dilarang ibadah dan mengaji. Jalurnya melalui Muspika, Muspida[8] serta Bakorpakem[9]. Suparman menjelaskan ajaran dan status hukum organisasi Ahmadiyah yang berbadan hukum sejak 1953. Pertemuan itu tak mencapai kesepakatan.

Catatan @cikeusiktrial dalam proses persidangan, Kiai Muhamad, bersama 15an orang, termasuk Ahmad Baghawi dari MUI Cikeusik dan lurah Johar, mendatangi Polsek Cikeusik, sekira 10 km dari kampung Peundeuy. Mereka memakai nama Gerakan Muslim Cikeusik, dengan ketua Kiai Muhamad. Kapolsek Map Supur berkata meminta waktu “sepuluh hari” atas desakan mereka. Ia lantas menelepon camat Cikeusik, Danramil, Bakorpakem, serta memanggil Suparman.[10]

Kiai Muhamad juga bicara dengan Sofwan, guru tsanawiyah dari desa Sukawaris, 8 km dari Umbulan. Sofwan bilang “telinganya panas karena mengatakan anak muda tak ada kerjaan,” maksudnya membiarkan komunitas Ahmadiyah di Cikeusik masih berjalan[11]. Sofwan minta nomor telepon Kiai Ujang M. Arif dari Cigeulis kepada Baghawi[12]. Mereka menganggap Kiai Ujang “kharismatik.” Sofwan mengusulkan tablig akbar di kampung Peundeuy, pada 6 Februari, kepada Kiai Ujang. Usul ini disepakati sebelumnya oleh Kiai Ono Ridwan, Kiai Muhamad, Ustad Saahrudin, dan Sofwan sendiri.[13]

Sementara lurah Johar, dalam satu percakapan telepon dengan Kiai Ujang, meminta “bantuan Ujang untuk membubarkan Ahmadiyah.” Jawaban Ujang, seperti disampaikan Johar, “Insyaallah, Pak Lurah, saya koordinasikan dengan teman-teman… Kita atasi bersama-sama. Musyawarah dengan mereka (Ahmadiyah).” Alasan Johar, Suparman telah “meresahkan masyarakat.”[14]

Dalam kesaksian Kiai Kurtubi, Kiai Ujang mengirim pesan pendek kepada Kurtubi pada 3 Februari 2011, pukul 13:00. Isinya minta Kurtubi sebagai orang yang mendebat Ismail Suparman mengenai “kesesatan” ajaran Ahmadiyah. Namun, saat itu Kurtubi di rumahsakit, menunggu anaknya tengah menjalani operasi usus buntu. Pada 4 Februari, Kiai Ujang menelepon guna konfirmasi. Kurtubi tak bisa ikut. Alasannya, Sabtu sudah memasuki awal bulan Maulud, dalam perhitungan umat Islam hijriah. Dia banyak mengisi dakwah. “Siang-malam saya sibuk,” katanya kepada hakim Rasminto. Dia mengusulkan Kiai Endang dan Ustad Babay dari Cikeusik untuk menggantikan perannya.[15] Inisiatif Kiai Ujang menelepon Kiai Kurtubi karena “ilmu agamanya di bawah Kiai Kurtubi.”[16]

Menurut Idris (terdakwa lain) dalam kesaksian untuk terdakwa Kiai Ujang, mengatakan “pertemuan di rumah Ustad Babay” berlangsung 15 hari sebelum 6 Februari[17]. Ini fakta yang berkebalikan. Jika Kiai Kurtubi mengusulkan Ustad Babay mengganti peran dia, mengapa Kiai Ujang sudah bertemu dan membicarakan pengusiran di rumah Babay lebih dulu? Mungkin saja Ujang sudah bicara dengan Ustad Babay sebelum Kurtubi mengusulkan Ujang bertemu dengan Babay. Kesaksian Babay sendiri belum dihadirkan. Namun, jaksa dan hakim tak menanyakan lebih jauh kepada saksi dan terdakwa dalam persidangan.

Kurtubi cuma memberi keterangan tak lebih 15 menit.

Proses sidangnya sendiri berjalan dengan sejumlah pernyataan kebencian dan hasutan anti-Ahmadiyah. Hakim dan jaksa tak memotong atau menginterupsi saat Kurtubi mengatakan “Kami minta pengikut Ahmadiyah diadili” yang disertai teriakan takbir massa pengunjung. Seorang tokoh kiai terpandang, Abuya Muhtadi, duduk di barisan bangku paling depan, segera berdiri dengan gaya kharismatik, tanpa bicara dan menengok sama sekali. Massa langsung terdiam.

Keduanya, Abuya Muhtadi dan Kurtubi, termasuk kiai yang berdemonstrasi bersama massa guna mendesak dibebaskan tujuh kiai yang ditahan di Polres Pandeglang, pada 10 Februari 2011, terkait kasus Cikeusik. Kurtubi mengatakan, “Polisi bisa membebaskan enam jemaat Ahmadiyah dengan jaminan LBH dan KontraS[18], kenapa kiai tidak bisa?” Ketujuh kiai itu dibebaskan sesudah Kurtubi bertemu Kapolres Pandeglang AKBP Alex Fauzy[19]. Dalam pertemuan ini juga hadir Agus Setiawan, pengacara dari Tim Pembela Muslim Banten.

PENYERANGAN

Kenyataannya: “pembubaran” Ahmadiyah itu adalah aksi penyerangan dan pembunuhan. Tak terjadi “dialog” sama sekali. Tak ada “musyawarah.”[20] Sekira pukul 09:00, datang dua mobil Inova dan Suzuki APV, berisi 17 muslim Ahmadiyah, rombongan dari Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Serang, di bawah koordinasi Deden Sudjana. Ada “dialog” antara Kanit Intel Polsek Cikeusik Hasanudian dan Sudjana di rumah Suparman. Tahu bahwa ada “dua mobil mencurigakan” di depan rumah Suparman, Ahmad Baghawi menelepon Kiai Ujang. Ujang, yang datang dari arah utara, berkumpul di masjid Al-Huda, 300 meter dari lokasi rumah Suparman, mengatakan kepada Baghawi, “Tenang saja, yang penting hati-hati.”[21]

Namun sinyalemen “dialog” atau “yang penting hati-hati” itu ialah nada teriakan dari Idris, yang berteriak “Kafir! Kafir!” dan minta polisi “minggir!”—tak ada sikap yang memungkinkan terjadi dialog. Penyerangan dimulai sekira pukul 10:31. Terlihat dalam video, Kapolsek Cikeusik Map Supur tak bisa mengusir Idris dan lainnya yang penuh amarah. Deden Sudjana bersiap di depan rumah Suparman. Salah satu penyerang mendatanginya dan terjadilah baku hantam. Lantas lempar batu dimulai. Idris dan lainnya, para penyerang pertama, mengacungkan golok dari balik jaket. Menurut Idris dalam kesaksiannya, ia mengacungan golok untuk “menakuti-nakuti pihak Ahmadiyah.” Namun dalam kesaksian lain, acungan golok itu untuk “menghentikan lemparan batu.”[22]

Dalam video, ada wajah mirip Kiai Muhamad Munir, terdakwa lain, yang berteriak “Kepung! Kepung!” di tengah massa yang menghancurkan rumah Suparman, merusak mobil dan mengejar muslim Ahmadiyah. Namun dalam kesaksian Munir, ia datang “cuma sebentar” ke lokasi kejadian. Munir mengatakan setelah berjabat tangan dengan Kiai Ujang, ia langsung meninggalkan lokasi. Pengakuan yang sama dipakai Kiai Muhamad, ketua Gerakan Muslim Cikeusik. Ia bilang langsung pulang “karena (perut) lapar.”

Terdakwa Ujang dari Cikeusik (bukan Kiai Ujang dari Cigeulis) mengatakan “emosional” setelah tahu pamannya, Sarta, kena bacokan. Ini alasan yang selalu dipakai tim kuasa hukum para penyerang. Karena pihak Ahmadiyah “menyerang lebih dulu,” mereka pun melawan. Insiden Sarta dibacok dijadikan sebagai “pemicu” mereka menyerang. Dari situ, isu “Sarta dibacok oleh pihak Ahmadiyah” segera menyebar dan menyulut gelombang massa. Tokoh-tokoh kiai berteriak, ‘Ayo barudak! Ula sieun. Ahmadiyana mung saeutik!” atau “Ayo ‘dak! Ahmadiyana melawan!”

Namun, dalam kesaksian Sarta untuk terdakwa Ujang, Sarta mengatakan “tak tahu” siapa yang membacoknya. Saat itu dia di belakang rumah Suparman, hendak merekam kejadian dengan ponsel. Itu sebelum massa datang dengan jumlah lebih besar. “Kejadian cepat sekali,” katanya, “cuma 3 menit.” Lengan kiri dia dibacok. Dia tidak bilang yang membacok adalah salah satu dari 20 muslim Ahmadiyah. Sarta tak melihat siapa yang membacok. Sarta segera dibawa ke Binuangeun guna mendapat pengobatan. Kata Sarta, luka bacokan dapat 41 jahitan.[23]

KORBAN

Tiga korban tewas dari muslim Ahmadiyah. Mereka adalah Tubagus Chandra, Roni Pasaroni dan Warsono.

Hasil otopsi Tubagus Chandra menjelaskan detail-detail kerusakan luka pada bagian tubuh depan, lengan, leher, dada, punggung dan tungkai bawah. Singkatnya, nyaris sekujur tubuh terpapar luka. Detail “kekerasan tumpul” berupa “lecet geser di dada dan wajah” memberi petunjuk “digerakkannya tubuh korban pada permukaan tidak rata,” demikian dokter yang mengotopsi ketiga jenazah. “Digerakkan” artinya diseret. Chandra mengalami “patah berkeping”—istilah medis untuk tulang-tulang yang remuk pada bagian kepala dan sekujur badan. Ada pendarahan yang menyebar luas di bagian otak kepala. Kesimpulannya, kematian korban disebabkan “patah tengkorak.”

Sementara untuk Roni Pasaroni, dari hasil visum, mengalami patah berkeping—tulang-tulang dia hancur. Ada luka di rahang. Ada lecet geser di bagian tulang iga. Rahang atas kepala patah. Ada resapan darah di kepala. Punggung bawah dia menunjukkan luka sayat; tanda dia disabet dengan benda tajam selagi dikeroyok.

Pada jenazah Warsono, kepalanya sobek. Ada lecet geser di bagian dada, yang menunjukkan dia diseret sewaktu ajal mendekat. Ada pendarahan di kepalanya. Saat tubuhnya tak bernyawa, para penyerang masih melukai bagian zakar dengan benda tumpul.

Lima korban luka parah. Salah satunya Ahmad Masihudin, ia mendapat luka di batok kepala dan punggung serta luka sobek di pelipis kanan. Saat kejadian, dia lari ke sawah, bambu dipukul ke kepalanya, leher hendak digolok—belakangan tak terjadi. Para penyerang mengambil uang Rp1,1 juta dari tas dia serta Blackberry Gemini miliknya. Dia diseret ke halaman rumah Suparman, lantas dipukuli beramai-ramai. Dia selamat karena polisi merangkulnya dan menenangkan massa. Menganggap dia sudah tewas, dia dilempar begitu saja ke dalam pikap polisi. Tujuh polisi lantas membawa dia ke rumahsakit Malimping.

Sementara Deden Sudjana, saat memberi keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Adam Damini, mengatakan dia kena sabetan golok, dan tangan kanan dia menahannya, dan ujung golok tersebut mengenai kepala. Kaki kiri dia juga kena sabetan. Jantung dia hendak ditusuk, namun dia mengelak, menimpa tangan kiri. Dia jatuh saat kakinya dibacok. Sudjana dirawat di rumahsakit Pertamina, Jakarta, untuk pengobatan intensif.

Menurut lurah Johar, yang rumahnya berjarak sekira 100 meter dari rumah Ismail Suparman, dia ditelepon oleh Kapolsek Cikeusik Map Supur untuk “minta bantuan mengantarkan tiga jenazah.” Dia bilang, dalam satu keterangan, dia ke lokasi sebelum pukul 08:00 saat di lokasi cuma ada personel polisi. Dia tahu bahwa Ismail Suparman sudah tak ada di rumah. Dia kemudian pulang ke rumah dan “tak keluar lagi” sampai ada telepon dari Map Supur, pukul 11:30. Dia datang ke lokasi lantas minta mobil warga untuk membawa tiga jenazah tersebut, langsung diantara ke Polres Pandeglang. Dia sendiri tak ikut.[24]

SOROTAN

Peran Kiai Ujang M. Arif
Kiai Ujang M. Arif dekat dengan Front Pembela Islam pimpinan Rizieq Shihab. Namun dia mengatakan bukan bagian dari FPI, “hanya kenal dengan tokoh-tokoh FPI.” Ia diduga menyebarkan pesan pendek berisi hasutan dan ajakan “membubarkan” Ahmadiyah di Cikeusik. Isi sms itu, 1) tanggal pembubaran; 2) memakai pita biru untuk membedakan massa dan “menghindari penyusupan”[25]; dan 3) titik kumpul massa di dua lokasi (arah utara di masjid al-Huda, Cangkore, 300 meter dengan lokasi; arah selatan: pertigaan Umbulan). Dalam berkas dakwaan, Kiai Ujang, Idris, dan Kiai Muhamad datang dari arah utara, dari arah Cibaliung. Sementara Kiai Endang dan Kiai Muhamad Munir dari arah selatan, arah Binuangeun.

Penetapan Deden Sudjana sebagai terdakwa
Pada Maret 2011, Sudjana ditetapkan sebagai tersangka. Ini bentuk kriminalisasi terhadap korban. Tindakan Sudjana merupakan sikap perlindungan diri sebagaimana diakui UU Dasar 1945 pasal 28. Dia resmi ditahan di Lapas Serang pada 20 Mei. Pada 31 Mei, berkasnya resmi dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Serang. Pada 8 Juni dia menjalani sidang perdana. Jaksa penuntut umum Supriyadi menyatakan pihak Ahmadiyah “yang menyerang lebih dulu” saat massa memasuki halaman rumah Ismail Suparman[26]. Sudjana diancam pidana pasal 160 penghasutan, pasal 212 melawan aparat, dan pasal 351 penganiayaan. Ancaman maksimal penjara 6 tahun.

Nama-nama hakim untuk 12 terdakwa (11 kasus) berdasarkan ruang sidang: 

Ruang sidang utama: Hakim ketua Cipta Sinuraya; hakim anggota Rehmalem dan Pinta Uli Tarigan. Ruang Sidang III: Hakim ketua Rasminto; hakim anggota Ristati dan Toto Ridarto. Ruang sidang IV: Hakim ketua Agoeng Rahardjo; hakim anggota Martini Marja dan Fauziah Hanum.

Sidang Deden Sudjana: Hakim ketua Sumartono; hakim anggota Lian Hendri Sibarani dan Luthfi.

Tabel: Berkas dakwaan dan vonis 12 penyerang Cikeusik

tabel

Catatan tambahan:

Pada 15 Agustus 2011, atau 16 hari sebelum Lebaran, PN Serang memvonis 6 bulan penjara untuk Deden Sudjana. Dalam pledoi yang disampaikan pada 9 Agustus, kuasa hukum Sudjana membandingkan bias penuntutan dari Kejaksaan Negeri Serang terhadap 12 penyerang dan Sudjana. Ke-12 penyerang dituntut 5-7 bulan penjara, sementara Sudjana 9 bulan. Isi pledoi menyebutkan keterangan saksi bertentangan dengan saksi lain bahkan inkonsisten dengan keterangan sendiri. Poin lain, jaksa memakai “teori konspirasi” seolah-olah “bentrokan” di Cikeusik direncanakan lebih dulu “secara sistematis” oleh Ahmadiyah sendiri; ini menjadi alasan jaksa mereka menuntut rendah ke-12 penyerang. Jaksa juga menuduh Ahmadiyah di Cikeusik melanggar SKB anti-Ahmadiyah 2008 tapi tanpa didukung fakta-fakta kuat, langsung berkesimpulan. Jaksa juga gagal menghadirkan saksi memberatkan dari pihak Ahmadiyah untuk ke-12 penyerang; sebaliknya saksi lengkap untuk kasus Sudjana.

Pada Rabu, 16 November, pukul 07.45 Sudjana menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman pidana di Lapas Serang. Dia dijemput saudaranya dengan mobil menuju rumah keluarga besar dia di Jakarta Selatan. Dalam perjalanan, dia mengisahkan kehidupan Lapas dan menggambarkannya bak “dunia di dalam dunia.” Ada “hukum sendiri,” dia berkata, ceria. Meski ada ancaman via sms ke ponselnya, dia tak mendapat kekerasan apapun. Dia dijaga tiga sipir yang paling ditakuti di Lapas Serang sehingga tak ada yang berani “menyentuhnya.” Saudara yang menjemputnya berkata “terharu” karena Sudjana “tabah dan kuat menjalani masa hukuman…” Namun, dia juga “ngenes,” mempertanyakan hukum diskriminatif terhadap saudaranya serta minoritas agama lain di Indonesia. Tiba di rumah, sekira pukul 10:00, Sudjana disambut haru. Saudara perempuannya berkata, “Saya lega tapi prihatin. Masalah keyakinan ke arah politis yang kemudian ke arah kriminalisasi.”●

 


[1] Jaksa penuntut umum Supriyadi, dalam berkas dakwaan, pada 8 Juni, menyatakan pihak Ahmadiyah yang “menyerang lebih dulu” saat massa memasuki halaman rumah Ismail Suparman, mubalig Ahmadiyah Cikeusik. Jaksa memakai frasa “penyerangan,” alih-alih tindakan Sudjana dan 19 muslim Ahmadiyah lain merupakan sikap pembelaan diri, mempertahankan aset Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Selama 10 tahun terakhir muslim Ahmadiyah Indonesia terus mengalami kekerasan demi kekerasan tanpa ada tindakan serius dari aparat penegak hukum untuk mengadili para pelaku.
[2] Tim kuasa hukum Deden Sudjana, selain LBH Jakarta, termasuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBI), Human Rights Working Group – Indonesia (HRWG), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).
[3] Lihat rilis video: http://www.youtube.com/watch?v=5ryhfl_no3I
[4] Lihat tabel dakwaan dan vonis 12 penyerang Cikeusik.
[5] Saksi-saksi dari Polsek Cikeusik dan Dalmas mengatakan mereka “menyelamatkan diri” karena takut dengan jumlah massa. Alasan lain: mereka memakai pakaian sipil saat bertugas. Polisi-polisi itu membangun blokade tapi massa menerobos. Dalam kesaksian: Jumlah seluruh aparat gabungan sekira 50-60 personel. Mereka membawa senjata dan gas airmata. Tapi mereka tak mengeluarkan tembakan peringatan maupun menghalau massa dengan gas airmata.
[6] Para terdakwa yang sering menyebar siar kebencian antara lain Kiai Ujang M. Arif, Kiai Endang, Kiai Muhamad, dan Kiai Muhamad Munir.
[7] Pernyataan jaksa penuntut umum Zaini untuk terdakwa Kiai Endang saat agenda sidang tanggapan jaksa terhadap eksepsi pembela, 10 Mei. Sepuluh halaman pertama dari 33 halaman nota eksepsi tim kuasa hukum—menyebut diri Tim Pembela Muslim—memuat pandangan agama yang mengedepankan hasutan “Ahmadiyah sesat” dan muslim Ahmadiyah sebagai “antek-antek pengikut si Mirza Ghulam Ahmad.” TPM, yang berdiri tahun 2002, adalah firma hukum yang membela banyak anggota kelompok radikal yang terjerat pidana. Nama-nama pengacara yang membela terdakwa penyerangan Cikeusik antara lain Mahendradatta, Achmad Michdan, Agus Setiawan, Musyafah Achmad, dan Gousta Feriza. TPM salah satu anggota Forum Umat Islam. FUI berdiri Agustus 2005, bertujuan menegakkan fatwa-fawta Majelis Ulama Indonesia (badan semipemerintah bentukan Soeharto pada 1970-an). Mahendradatta, di antara yang lain-lain, adalah senior editor dalam jajaran redaksi Suara Islam, dwimingguan FUI yang isinya menyebarkan propaganda intoleransi dan anti-kebebasan demokrasi.
[8] Muspika akronim Musyawarah Pimpinan Kecamatan, sementara Muspida untuk jajaran daerah setingkat kabupaten. Keduanya alat legitimasi peran negara terhadap hukum di Indonesia ketika perkara hukum warga negara direduksi lewat cara penyelesaian “musyawarah” sebelum menempuh jalur pengadilan. Ini penanda rusaknya hukum di Indonesia, implikasi dari era “Pemimpin Besar Revolusi” Sukarno, dengan barometer keputusan Dekrit 5 Juli 1959 yang membubarkan Badan Konstituante. Ia menjadikan aparat penegak hukum sebagai alat revolusi atau aparat kekuasaan. Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959.
[9] Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat diaktifkan kembali oleh Presiden Yudhoyono melalui kewenangan Kejaksaan Agung dalam UU 16/2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Ia dibentuk pemerintahan Soeharto pada 1984 di bawah sikap paranoid rezim Orde Baru atas “aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara.” Dasar hukumnya penetapan Presiden Sukarno pada 1965 mengenai “penodaan agama” atau UU No.1/ PNPS/1965. Negara Indonesia cuma mengakui enam agama resmi: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Agama Konghucu diakui saat pemerintahan Abdurrahman Wahid. Beleid PNPS 1965 pernah diajukan ke Mahkamah Konstitusi guna judical review tapi ditolak oleh Mahfud MD, ketua MK, pada 19 April 2010. Hanya satu hakim, Maria Farida Indarti, yang mengajukan dissenting opinion atas putusan mayoritas hakim.
[10] Sidang ke-V, 24 Mei, dengan terdakwa Kiai Muhamad dan saksi Map Supur.
[11] Sidang ke-VII, 31 Mei, saksi Sofwan untuk terdakwa Kiai Ujang Muhamad Arif.
[12] Saksi Ahmad Baghawi melengkapi keterangan ini, dalam sidang ke-VI, 26 Mei, saat menjadi saksi untuk terdakwa Ujang M. Arif.
[13] Sidang ke-VII, 31 Mei, saksi Sofwan untuk terdakwa Kiai Ujang M. Arif.
[14] Sidang ke-VIII, 7 Juni, saksi Johar untuk terdakwa Kiai Ujang M. Arif.
[15] Sidang ke-VIII, 7 Juni, saksi Kiai Kurtubi untuk terdakwa Kiai Ujang M. Arif.
[16] Sidang ke-VIII, 7 Juni, saksi Kiai Ujang untuk terdakwa Kiai Endang.
[17] Sidang ke VI, 26 Mei, saksi Idris untuk terdakwa Kiai Ujang.
[18] Empat dari enam muslim Ahmadiyah itu adalah Ismail Suparman, istri dan anaknya, serta Suratep (ketua kepemudaan Ahmadiyah Cikeusik), yang “diamankan” sehari sebelum peristiwa, 5 Februari. Dua lainnya adalah korban selamat dari penyerangan. Mereka dipulangkan pada 8 Februari setelah ada jaminan dari LBH dan KontraS sebagai tim pengacara Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
[19] Belakangan Kapolres Alex Fauzy diganti Ajun Kombes Adi Suseno yang resmi bertugas pada 12 Februari.
[20] Kami memakai frasa yang sama dipakai tim kuasa hukum dan para terdakwa dari pihak penyerang tentang insiden penyerangan dan pembunuhan muslim Ahmadiyah di Cikeusik. Mereka memakai frasa “pembubaran” “pengusiran” “dialog” atau “musyawarah” di ruang sidang. Seringkali hakim dan jaksa juga pakai frasa “bentrokan” untuk menyebut kasus Cikeusik. Ada satu insiden ketika hakim Ristati di ruang sidang III bertanya kepada terdakwa Idris saat sebagai saksi untuk terdakwa Kiai Ujang M. Arif. Ristati bertanya, “Kenapa kalau niatnya dialog kok pakai golok dan teriak-teriak?” Idris tak bisa menjawab. Sidang ke-VI, 26 Mei.
[21] Istilah mencurigakan dari Baghawi saat sebagai saksi untuk Kiai Ujang M. Arif. Sidang ke-VI, 26 Mei.
[22] Idris menginap di rumah Babay sebelum esoknya menuju kampung Peundeuy. Dia sudah membawa golok dari rumah. Alasannya, masyarakat di sana “terbiasa bawa golok” karena “banyak begal”. Saat ditanya oleh hakim, “Apa semua warga di tempat saudara bawa golok?” Idris menjawab “tidak.”
[23] Saksi Sarta untuk terdakwa Ujang Cikeusik, sidang ke-VIII, 31 Mei.
[24] Saksi lurah Johar untuk terdakwa Kiai Ujang, sidang ke-VIII, 7 Juni. Dalam keterangannya, Johar mengatakan rumahnya berjarak “300 meter” dengan rumah Suparman. @cikeusiktrial meragukan jarak ini mengingat kami sudah ke lokasi dan perkiraan jarak rumah dia cuma 100 meter. Juga tak mungkin warga di sana berdiam diri di rumah saat ada serangan dengan jumlah massa 1.500-an orang. Lurah Johar sendiri bilang dia di rumah dan cuma “dengar teriakan massa” seperti “suara geruduk”.
[25] Frasa ini dipakai terdakwa Kiai Munir.
[26] Jaksa Supriyadi memakai frasa “penyerangan” atas sikap dan tindakan pembelaan diri Deden Sudjana dan 19 Ahmadi lain saat peristiwa 6 Februari 2011.

Iklan

Satu pemikiran pada “Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s