Mari berkenalan dengan Pamela Colloff, penulis yang bagusnya brengsek banget di Texas

“Tak banyak penulis unik seperti Pam setiap hari. Dalam segala aspek di bisnis ini, ia seperti unicorn—diburu oleh chupacabra, dimakan oleh Bigfoot.”

oleh Lyz Lenz | 24 Februari 2017 | Columbia Journalism Review.

 

Pamela Colloff
©Jeff Wilson

 

PAMELA COLLOFF, yang baru lulus dan enggak punya kerjaan, pergi dari New York bareng temannya, Margaret Brown, pada 1994 dengan Volvo butut tanpa tujuan pasti. Mereka bokek dan pengin mengisi hidup sepenuhnya dengan petualangan dan seni. Pada akhirnya mereka berkelana ke Austin, Texas—negara bagian AS di kawasan tengah-selatan dan berbatasan dengan Meksiko.

Rencananya, mereka di sana cuma sebentar, tetapi Colloff malah enggak pengin cabut. Sewa rumah di sana murah, cuma 300 dolar AS sebulan, dan kondisi ini bikin ia punya waktu menulis.

Dan ada perihal lain: Texas bikin hatinya kepincut.

“Habis aku tiba ke sini, aku selalu punya banyak ide. Kupikir karena ini berbeda dan segalanya serba baru, aku jadi punya banyak ide menulis,” ujarnya.

Di sinilah, di rumah yang serba kebetulan, di luar pusat media tradisional di Amerika, Colloff menemukan panggilannya dan membangun sebuah dinasti.

Direkrut oleh Texas Monthly sebagai penulis pada 1997, ia kini menjadi redaktur eksekutif dan salah satu arsitek yang memimpin majalah tersebut menata reputasi nasional dalam laporan kriminal mendalam dan feature panjang. Di sebuah era yang menuntut serba tergesa-gesa, ketekunannya dalam investigasi, wawancara, dan menyingkap karakter membuatnya diganjar enam nominasi Anugerah Majalah Nasional (National Magazine Awards), lebih dari penulis perempuan dalam sejarah penghargaan tersebut (ia menang satu kali).

Tetapi majalah tempatnya bekerja selama 20 tahun itu kini dalam perubahan. Dalam satu wawancara untuk tulisan ini, redaktur baru Texas Monthly berkata kepada CJR bahwa ia berencana mengubah fokus majalah pada liputan ‘gaya hidup’. Rencana ini menuai protes dari para pembaca setia, dan editornya belakangan mengklarifikasi bahwa liputan perjalanan serta kuliner tetap ada, begitupun laporan politik dan narasi.

Dari kisah nyata kriminal hingga sejarah lisan maupun tokoh politik, cerita memikatnya memberi Colloff reputasi sebagai jagoan jurnalisme sastrawi. Tulisannya matang dalam reportase, ringan dalam eksekusi, dan kaya dalam plot dan karakter, yang dibangun lewat naluri tingkat tinggi. Para wartawan dan pembaca sama-sama menanti cerita barunya. Tetapi kekuatan Colloff bukan sekadar tulisannya, melainkan komunitas yang dibentuknya.

Para penulis yang dibimbingnya menerbitkan buku pemenang penghargaan—karya mereka termuat dalam antologi Best American Sports Writing dan Best Food Writings, serta nongol di majalah prestisius macam The Atlantic dan Wired.

“Dia tipe penulis yang segera berpaling ke kamu tiap kamu butuh bantuan,” ujar Jake Silverstein, redaktur New York Times Magazine dan bekas redaktur Texas Monthly. Silverstein mengutarakan, banyak penulis yang rutin memakai Colloff sebagai teman curhat selagi mereka mengembangkan ide dan bentuk tulisan.

“Kebanyakan orang tahu Pam sebagai penulis jempolan, tapi sedikit yang menyadarinya betapa penting dia sebagai sumber sumbangsih saran editorial ke ruang redaksi,” tambah Evan Smith, CEO dan pendiri Texas Tribune serta mantan presiden dan pemimpin redaksi Texas Monthly. “Pam tak pernah lupa bahwa dia dulu pernah jadi penulis pemula.”

Colloff sendiri mengecilkan perannya sebagai mentor; ia berkata para kolega saling belajar satu sama lain. Namun pengaruhnya tak dapat disangkal: Banyak penulis, baik di Texas Monthly maupun di mana pun, menyebutnya sebagai mentor yang berpengaruh dan dicintai, termasuk oleh Nicholas Jackson, pemimpin redaksi Pacific Standard, yang pernah magang di Texas Monthly pada 2009 dan menyebut Colloff telah sangat membantu sepanjang kariernya.

Pengaruh Colloff juga mamahat warisan Texas Monthly. Michael Levy, yang bekerja sebagai sopir taksi dan sipir Penjara Dallas County, mendirikan majalah itu pada 1973 saat ia berusia 27 tahun. Bersama redaktur pendiri Bill Broyles, wartawan dan penulis skenario, mereka membangun sebuah warisan jurnalisme investigatif dan apa yang disebut Silverstein sebagai “jurnalisme naratif.” Pada awal majalah itu berdiri, para penulis bekerja di sana bareng orang berbakat macam wartawan dan penulis skenario Gary Cartwright dan pengarang Jan Reid.

“Kini,” ujar Silverstein, “mereka bekerja bareng Pam.”

* * *

Colloff, 45 tahun, besar di New York City. Ibunya seorang pengacara dan almarhum ayahnya bekerja untuk CBS sebagai manajer umum cabang New York City sesudah tugas singkat dalam politik. Ia seorang murid yang baik dan jatuh cinta menulis saat SMA setelah Allen Ginsberg—salah satu figur penting Generasi Beat—datang ke sekolah untuk membacakan cerita.

Ia meyakinkan cowok tampan yang ia kenal buat bertanya kepada Ginsberg apakah bisa diwawacara buat tugas sekolah. Ginsberg mau, dan Colloff ketagihan. Dalam satu wawancara dengan Nieman Storyboard, Colloff mengingat, “Aku suka iseng kamu bisa omong ke orang-orang kalau kamu wartawan—sekalipun kamu bukan wartawan sama sekali—dan karena omong begitu, kamu diizinkan mendekati siapa pun dan bertanya pada mereka sebanyak apa pun.”

Setelah SMA, ia kuliah di Brown University, berniat mengambil jurusan jurnalisme. Tapi di sana ia menemui masalah: Brown, yang jadi almamater ayahnya, tidak punya jurusan yang dimaksud. Tanpa ragu-ragu, Colloff merancang kurikulum sendiri lewat kelas belajar dan pengalaman praktis mandiri.

Ia mulai menulis untuk majalah alternatif yang kini sudah koit. Cerita perdananya mengenai sebuah kelompok persaudaraan yang mengajak para cewek teler dan, sebagaimana ia ceritakan kepada majalah Tribeza, merekam mereka “melakukan pelbagai adegan seksual dan lantas menyebarkan kaset videonya.”

“Aku pergi ke kantor surat kabar dengan membawa cerita itu,” ujarnya, “dan pada dasarnya belajar bagaimana melaporkan sebuah cerita investigatif dari lapangan.”

Laporan itu diambil oleh Associated Press, dan Colloff menyaksikan bagaimana reportasenya berdampak pada kebijakan kampus. Dalam satu wawancara dengan CJR, Colloff mengingat masa awal kariernya, “Sangat memuaskan rasanya menyadari bahwa aku bisa melaporkan sesuatu dan mengubah keadaan lewat kata-kata yang kutulis.”

Kemudian tibalah kelulusan dan berkelana dan Austin. Malam pertama di kota, Colloff dan sobatnya Margaret Brown mendatangi sebuah klab yang dinamakan Electric Lounge, tempat salah satu teman Brown bermain di sebuah band rock. Teman itu bernama Chad Nichols, kelak jadi suami Colloff. Pernikahan mereka pada 2005 diumumkan dalam catatan ringan The New York Times:

Mereka seketika saling nyantol satu sama lain. Bagi Tuan Nichols, itu sebuah “epifani’—penampakan benderang. Nyonya Colloff berkata, momen epifani itu tiba saat subuh hari sewaktu ngobrol menyadari ada sebuah novel di dasbor pikapnya.

Colloff berkata kepada Times: “Dia membaca Our Lady of the Flowers – Jean Genet, dan dia mengendarai pikap. … Sebuah kombinasi maut.”

 

COLLOFF MEMUTUSKAN MENETAP. Ia segera melihat Texas Monthly sebagai peluangnya berkarier dan mengirimkan ide cerita selama berbulan-bulan—gagasan tulisan yang tak diingatnya—tanpa respons memuaskan. Pada akhirnya, ia menerima sebuah penugasan dari majalah Details yang kini sudah gulung tikar.

Artikel itu mengenai sesuatu yang intinya mengisahkan ada orang mencari tambahan uang sebagai subjek percobaan obat-obatan dari sebuah perusahaan farmasi di Austin. Sebagai bekal riset, Colloff menyodorkan diri sebagai subjek percobaan itu dan langsung memicu reaksi senewen dari salah satu obat, “yang”—seperti diingatnya—“bikin aku menderita berat tetapi bagus banget buat diolah sebagai cerita.” Sesudah laporan itu dirilis, Evan Smith (saat itu redaktur Texas Monthly) memanggilnya ke kantor dan menawarinya sebagai staf.

Smith mengenang bagaimana ia merekrut Colloff dengan pendekatan yang agak berbeda. Pada 1995, selagi cuti orangtua, Smith pulang ke rumah dengan putrinya, memilah-milah tumpukan surat. Ia membuka sebuah surat bernada dingin yang mengajukan ide liputan dari seorang penulis muda, Pam Colloff. Ia seketika terkesan dengan kedalaman pengetahuan si penulis atas subjek yang pengin ditulisnya.

“Itu surat pengajuan tulisan terbaik yang pernah kuterima,” kenang Smith. “Kisahnya tentang sebuah wilayah di Texas Selatan, tempat Peyote—sebuah jenis kaktus—yang kebetulan atau disengaja bisa dipanen secara legal. Kami sudah menurunkan artikel mengenai topik ini beberapa tahun sebelumnya. Tetapi aku terkesan pada kedalaman detail dan pengetahuannya untuk ide tulisan tersebut. Sangat jelas ia sudah mengunjungi tempat itu dan ia punya data statistik. Aku bilang ‘tidak’ pada ide tulisannya dan ‘ya’ pada Pam.”

Smith memanggil Colloff dan bertanya padanya apakah punya ide tulisan lain, dan Colloff bilang ya—sebuah laporan soal program Lapas dari kementerian yang dijalankan oleh Chuck Colson, mantan penasihat khusus Presiden Nixon. Beberapa bulan kemudian, Smith merekrutnya sebagai penulis staf.

Ia menjelaskan, “Kita bahkan enggak punya cukup uang saat itu buat membayar penulis baru, tapi kamu tidak akan mendapatkan penulis seperti Pam setiap hari. Dia benar-benar unik. Dalam segala aspek yang sangat jarang dimiliki dalam bisnis ini, dia seperti unicorn, diburu oleh chupacabra—makhluk pengisap darah ternak, dimakan oleh Bigfoot—makhluk legendaris raksasa. Dia sosok yang menakjubkan dalam segala hal.”

Smith percaya, betapapun ide tulisan Colloff yang dikirim padanya tersembunyi entah di mana dalam tumpukan berkasnya, laporan-laporannya yang terbit telah memancarkan warisan abadi. Meski ditawari oleh pelbagai majalah di seantero negeri, Colloff tetap bertahan di Texas Monthly selama 20 tahun. Ia dan Nichols telah menikah. Nichols bekerja sebagai korektor di Springbox, agensi pemasaran digital di Austin, dan tetap bermain di sebuah band bernama “The Transgressors.” Mereka dikaruniai dua anak, berumur 9 dan 5 tahun, yang main kejar-kejaran seraya berteriak, “Ingatlah Alamo! Ingatlah Goliad!”—merujuk sebuah pertempuran dan pembantaian dalam sejarah Revolusi Texas pada abad 19.

Menulis di Texas punya tantangan yang unik, terutama keragaman politik pembacanya. Majalah itu memiliki 300.000 pelanggan dan lebih dari 1,5 juta page views saban bulan. Colloff menjelaskan, karena Texas adalah “red state”—kawasan pemilih Republik, lebih banyak pelanggan cetak dari kalangan konservatif ketimbang pembaca online, yang bisa datang dari seluruh kawasan AS.

“Karena itu, dari yang kubaca, menimbulkan banyak asumsi soal pandangan politik pembaca,” ujar Colloff. “Jika aku menulis tentang pernikahan sesama jenis, aku sadar ketika aku menulisnya ada sekelompok besar pembaca yang tak suka dengan tulisan tersebut. Berusaha meraih pembaca yang beragam, kupikir, bikin tulisanmu lebih baik. Bukan berarti asumsi itu adalah modal bagus buat aku sebagai penulis.”

 

RAHASIA MERENGKUH SEMUA KHALAYAK, demikian keyakinan Colloff, terletak pada cerita. Ia berfokus pada aspek mendasar manusia, sesuatu yang setiap orang bisa menelaahnya—seorang ibu menjemput putrinya dari sekolah, seorang pegawai negeri yang bekerja sebaik mungkin.

“Di sanalah awalnya, kisah yang mampu melibatkan manusia, lalu aku memulainya dengan menempatkan nada yang berbeda atau menyisipkan sudut pandang yang tajam.”

Colloff adalah seorang pendongeng; nalurinya digerakkan untuk mengisahkan cerita dengan memancang tujuan dan makna, tanpa membobotinya dengan pesan moral.

“Aku lebih tertarik menyingkap cerita yang menyimpan pertanyaan-pertanyaan berbobot—tentang kekerasan senjata, sistem peradilan pidana, ketimpangan sosial—yang punya gema melampaui fakta-fakta pada kasus khusus yang kutulis,” jelas Colloff.

Smith menambahkan, “Pam selalu memiliki pemahaman naluriah mengenai apa itu jurnalisme, yang tak cuma memberi tahu kepada orang-orang apa yang perlu mereka ketahui, tetapi mengatakan apa yang tidak diketahui yang seharusya orang ketahui. Dan ia mengawalinya dengan kisah yang menakjubkan. Pam adalah pencerita ulung.”

Sewaktu mereka masih kerja bareng, Silverstein menyebut Colloff “Si P yang Gigih” karena dia salah satu reporter yang paling bersemangat, tekun, dan cermat yang pernah ia temui. “Dia membaca setiap transkrip pengadilan, biasanya bahkan sebelum dia mengajukan usulan cerita,” ujar Silverstein. “Dan di balik sikap lembut dan sopan santunnya, dia seorang reporter gigih dan agresif, yang menyiapkan cerita luar biasa yang didorong oleh tujuan moral.”

Colloff tahu ia memetik cerita selagi memikirkannya seraya menggosok gigi atau mencuci piring. “Ketika sebuah cerita mengikutimu, kamu tahu tibalah waktunya cerita tersebut dituturkan,” ujarnya.

Tetapi ia takkan buru-buru menelepon sumber. Colloff melacak sebuah cerita selama bertahun-tahun, menyaksikan sidang-sidang pengadilan dan gugatan banding, menunggu waktu yang tepat untuk ditulis. Colloff bisa melakukan hal semacam ini karena sebagian faktornya Texas Monthly mengizinkannya mengolah cerita bak kita menikmati secangkir kopi di teras rumah—mencecap pelan-pelan sembari menikmati udara petang.

Dedikasi pada cerita itulah yang jadi salah satu sandaran Colloff mengapa ia tak pernah memulai sebuah tulisan dari dirinya sendiri. Ia lebih suka menyimpan suaranya terendam ke dalam tindakan narator. Hasilnya, suara penulis seringkali amat dekat dengan narasi cerita, sehingga secara mulus menyelinap ke sudut pandang subjek, mengungkap detail dan potongan cerita memilukan, seringkali tanpa disela tanda petik frasa atau kalimat.

Hal itu bisa dilihat dari “The Reckoning,” profil tentang Claire Wilson, yang terluka dan kehilangan tunangan dan bayi dalam kandungan pada peristiwa penembakan Menara Universitas Texas pada 1966. Saat menulis Wilson kehilangan jabang bayi, Colloff menuturkan: “Tanpa kesempatan memomong buah hati dalam pelukan, Claire tak tahu caranya berduka atas kehilangan itu; ia belum memutuskan sebuah nama, dan ia merasakan kehilangan itu bak sebuah niskala—abstraksi; raut mukanya tak dapat dikenali.”

Tulisan Colloff membangkitkan perasaan Wilson melebihi untaian kata, menyelinap ke dalam pikiran dan sanubari subjek. Kisahnya punya kualitas sinema, yang takkan mengejutkan mengingat sampai kematian ayahnya pada 1992, sang ayah bekerja di kantor berita televisi. Kepiawaiannya mamahat kata ke dalam gambar ada dalam darahnya.

Colloff menyebut gaya tulisannya yang tajam dan minimalis berkat mentor dan koleganya, Skip Hollandsworth, redaktur eksekutif Texas Monthly yang juga menulis beberapa skenario film. Colloff mengingat bahwa Hollandsworth sekali waktu menyarankannya membuang kutipan dari draf cerita. Hollandsworth menyangkal pernah memberi saran semacam itu. “Apa pun yang aku bilang kepada Pam, ia selalu mengabaikan,” Hollandsworth tertawa. “Dia memang pada dasarnya punya kepekaan naluriah dan sempurna bagaimana sebuah cerita dituturkan.”

 

SEWAKTU DUDUK UNTUK MENULIS, Pamela Colloff mengatur catatan ke dalam apa yang disebutnya “Metode Skip Hollandsworth.” Ia mengambil segala apa pun dari risetnya selama berbulan-bulan—kutipan, nukilan dari surat kabar, observasi, dan catatan—lalu menyalinnya ke dalam satu dokumen Word. Dokumen inilah yang jadi basis seluruh cerita.

Cara menyusun seperti itu nyaris sebuah bentuk sinematik—menempatkan semua suara dan adegan dan kemudian memintalnya ke dalam sebuah narasi. Salah satu ceritanya, “96 Minutes”, disadur menjadi film dokumenter berjudul Tower (2016). Adegan-adegan dari ceritanya terus nempel di kening pembaca selama bertahun-tahun.

Dalam “Flesh and Blood,” kisah pasangan muda yang mendalangi pembunuhan sebuah keluarga dan membakar rumah beserta mayat-mayat, ada sebuah momen ketika sang ayah kembali ke puing-puing rumah dan menyadari reruntuhan kehidupan masa lalunya—sebuah mobil Hot Wheels; secangkir keramik yang pecah; gesper sabuk berbentuk tapal kuda milik anaknya sebagai kado Natal. Momen ini menggugah, penuh dengan rincian detail yang butuh kejelian penulis menghimpun dan melaporkan peristiwa.

Sentuhan minor Colloff pada adegan cerita mewujud lewat suara si subjek, sang karakter, tanpa ada pengimbuhan. Hollandsworth mencatat, Colloff tak pernah merasa perlu mendramatisasi, “Dia membiarkan ceritanya bergerak sendiri. Dia tak perlu menambahkan apa pun.”

Colloff mendekati sejarah lisan dengan sentuhan tipis yang sama—misalnya, pada “96 Minutes” dan “Dreaming of Her,” kisah tentang pembunuhan Selena Quintanilla Perez. Ia menenun suara para saksi ke dalam plot sempurna, dengan naik-turun adegan, tindakan, dan penyelesaian. Proses ini menuntut berbulan-bulan wawancara, riset, dan penulisan secara ekstensif, serta cek fakta yang melelahkan. (Ia berkata setiap cerita ditulis dengan amat cermat.)

Hollandsworth menuturkan, Colloff bisa sangat mudah memasuki hati dan pikiran subjek karena ia seorang pendengar yang sangat sabaran. “Dia tinggal mendengarkan dan membiarkan orang bergantung padanya.” Colloff pribadi yang menyenangkan dan siap ketawa kapan pun.

Dan jalinan seperti ini dibangun olehnya bertahun-tahun dengan para narasumbernya.

 

JIKA ORANG TAK MENYAMBUT TELEPONNYA, ia mengirim surat, dan ia meladeninya dengan wawancara si subjek dan menjaga hubungan hangat dengan narasumber bahkan sekalipun di luar topik tulisan. Colloff berkata ia mau mewawancarai para narasumber, yang segera bikin mereka ketagihan, dan ia mengerahkan kemampuan terbaik atas jerat pukau macam ini. Ia makan malam dengan keluarga narasumber, jalan bareng dengan mereka ke tempat kehidupan mereka berubah, dan membaca ribuan halaman berkas pengadilan.

Intimasi ini menggelegak dalam kekuatan narasinya. Dalam satu cerita berjudul “The Witness,” profil tentang Michelle Lyons yang menyaksikan 278 eksekusi mati di negara bagian Texas, Colloff mendiami memori Lyons.

Ia masih mengingat ibunda Ricky McGinn, seorang perempuan sepuh yang menghadiri eksekusi putranya dengan mengenakan gaun kembang dan mutiara. Michelle tak pernah lupa melihat si ibu berusaha bangkit dari kursi roda sehingga bisa menyaksikan lewat kaca besar yang memisahkannya dari bilik hukuman mati. Di seberangnya, terbaring putranya, yang dihukum mati karena memerkosa dan membunuh gadis berusia duabelas tahun. McGinn terbaring telentang, tubuhnya dilintangi pengikat tali kulit, bebat infus menempel kedua lengannya. Si perempuan tua itu, tangan keriputnya memegang gelas kuat-kuat, menyaksikan dengan saksama tubuh putranya perlahan mengendur. Michelle memikirkan si ibu saat berangkat kerja pagi itu. Tatkala cakrawala Houston tersibak di depannya, ia menyadari wajahnya basah oleh air mata.

“Aku tak punya trik apa pun,” ujar Colloff. “Aku hanya berusaha jadi orang yang menyenangkan dan berharap hal itu bisa bekerja.”

Colloff tetap membuka pintu dialog terjalin dengan para narasumber sekalipun ceritanya sudah tuntas ditulis. Hasilnya, sumber datang kembali dan berbagi cerita dengannya.

Claire Wilson, subjek dari artikel “The Reckoning,” juga muncul dalam “96 Minutes.” Michelle Lyons telah jadi salah satu sumber bagi para penulis di majalah itu selama lebih dari satu dekade. Mereka ngobrol pada satu hari, dan Lyons berkata kepada Colloff bahwa ia terganggu pada beberapa eksekusi mati yang ia saksikan, bagian dari pekerjaannya. Komentar itu berbuah sebuah feature, dan feature ini menjadi nominasi kelima Colloff dalam Anugerah Majalah Nasional.

Hubungan Colloff dengan para narasumbernya adalah sebuah warisan dari kemampuannya sebagai seorang pewawancara. Untuk siap wawancara, ia berkata “mengemas segalanya dengan matang”—melakukan riset dan menyusun sebuah daftar pertanyaan.

Tapi, sewaktu wawancara berjalan, ia hanya sesekali melihat daftar itu cuma untuk memastikan tak ada pertanyaan satu pun yang terlewat.

“Wawancara yang baik adalah sebuah percakapan,” catat Colloff. “Bukanlah sebuah interogasi, yang membuat kamu berusaha menggali sesuatu dengan mengajukan tuduhan.” Ia tak suka memakai alat perekam; alih-alih cuma mendengarkan. Usai wawancara, ia akan merekam apa yang diingatnya dari percakapan tadi.

Meski begitu, ujar Hollandsworth, pastilah ada satu daftar pengacara distrik yang menyesal telah mengobrol dengan Colloff: “Dia seorang pendengar yang baik. Kamu ingin menceritakan semua kepadanya.”

Itu benar belaka. Aku belajar langsung selagi berusaha mewawancarainya untuk tulisan ini. Colloff menyiapkan temu wawancara ini dengan membaca artikelku dan bertanya tentang tulisanku dan keluargaku. Pada akhir obrolan, ia bisa dengan gampang menulis profilku. Itulah sihirnya.

Salah satu cerita paling menonjol seorang sumber membuka diri kepada Colloff selama penelitiannya adalah untuk laporan naratif “Unholy Act,” kisah tentang sebuah kasus tak terpecahkan dan seorang pendeta yang menyimpan rahasia gelap. Ia muncul di ambang pintu John Feit, tertuduh pembunuh yang tak menjawab telepon dan suratnya. Ia mengakiri ceritanya dengan kata-kata mengerikan sebagai respons atas satu permintaan wawancara:

Dia mematung sejenak di sana, seolah merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ada banyak hal yang bisa dia katakan bahwa dia tidak melakukannya: Bahwa dia tidak bersalah. Bahwa pembunuhan Irene adalah suatu kejahatan tak berperikemanusiaan. Bahwa dia bosan dengan orang asing yang mengetuk pintunya, menanyakan tentang hal-hal mengerikan yang kejadiannya sudah lama sekali. Sebagai gantinya, dia mengatakan sesuatu yang akan saya pikirkan berkali-kali pada minggu-minggu mendatang.

“Spekulasi itu menggelitikku,” ujarnya. Lalu dia berbalik untuk menutup pintu, menambahkan, “Semoga Tuhan memberkatimu, sayangku.”

Cerita ini juga jadi segelintir tulisan di mana Colloff memasukkan dirinya ke dalam laporannya. Saat itu, katanya menjelaskan, “Tak ada cara lain yang lebih baik dari itu.” John Feit ditangkap tahun lalu.

Kemampuan gaib Colloff mendorong sumber mau terbuka tak berarti tulisannya bisa berhasil. Colloff menjauhi cerita ketika ia tak bisa mendapatkan detail yang ia butuhkan, sumbernya tak kunjung datang atau menolak bicara.

“Terkadang kamu tinggal mengisi lubang cerita, dan itu bikin ceritanya makin menarik, dan terkadang kamu tak bisa dan kamu harus berlalu pergi,” katanya.

Sekali pernah ia membuang cerita yang kini terkenal mengenai Cameron Todd Willingham, korban keliru terpidana mati atas kejahatan yang tak pernah dilakukannya membunuh istri dan anaknya. Ia kalah gesit oleh David Grann, yang mengalahkannya mendapatkan seorang sumber. “Grann menulis kisah itu luar biasa,” ujar Colloff. “Aku tidak marah.”

Sosok yang sangat berpengaruh pada tulisan Colloff adalah teman dan sejawatnya, Kate Rodemann, yang bekerja sebagai wakil pemimpin redaksi Texas Monthly. Rodemann mengajari Colloff menahan diri dari menyisipkan suara editorial dalam tulisannya dan, sebaliknya, menulis dengan cara simpel dan metodis sesuai fakta.

Colloff menjelaskannya ketika tahun 2010 ia menulis tentang Anthony Graves, yang keliru didakwa atas pembunuhan enam anggota keluarga di Somerville, Texas, dan dijatuhi hukuman mati. Saat menulis kisah itu, Colloff dongkol atas fakta-fakta pada kasus tersebut, dan draf awal tulisannya berlumur kemarahan moral.

“Kate bekerja denganku untuk membuang emosi dan, karena itu, membuat naskah tersebut jauh lebih bertenaga dan meyakinkan. Sarannya, jika aku hanya menyuguhkan fakta-fakta pada kasus itu dan tidak menyelipkan suara editorial, dan menyuguhkan kepada pembaca apa yang mereka pikirkan, kesimpulannya akan sama—bahwa Anthony tak bersalah. Tapi karena para pembaca dituntun untuk menjalin potongan-potongan kisah dan dirancang untuk mencapai kesimpulan itu di kepalanya sendiri, mereka akan semakin terperangah dibuatnya.”

Baru-baru ini fokus Colloff bergeser dari kisah kriminal ke cerita yang menggambarkan dampak politik nasional terhadap kehidupan personal, meski pelajaran dari cerita dan fokusnya tetaplah sama. Ia menjelaskan, contoh terbaik dari seni bercerita yang terus ia pancang adalah sebuah film dokumenter The Thin Blue Line (1988)—dipuji sebagai salah satu karya sinema politis yang signifikan secara kultural, historis, dan estetis.

“Film itu secara visual memikat dan sangat menggugah, dan setiap aspeknya adalah karya naratif terbaik. Tetapi inti kekuatannya adalah sebuah karya jurnalisme investigasi yang brilian. Ia menciptakan ketidakadilan yang menyeramkan,” ujar Colloff.

Colloff menghabiskan sebagian besar kariernya untuk jurnalisme naratif (longform journalism). Bahkan proyek belajar mandirinya di Brown pun sepanjang 4.000 kata, yang menyuguhkan profil penanda kota di seputar Rhode Island. Terlepas dari latar belakangnya, Colloff tak meremehkan cerita pendek. “Menggali cerita dengan cepat dan melaporkan dengan seketika juga penting, tetapi aku kira kamu takkan cukup cuma begitu. Kamu harus punya beberapa cerita yang dilaporkan lebih mendalam. Meski begitu, tak ada yang tahu bagaimana hal itu seketika mungkin dilakukan.”

Agaknya kini Texas Monthly telah memecahkan misteri. Hollandsworth menjelaskan, majalah ini dibangun dengan sebuah warisan kisah yang kaya. “Orang kadang berpikir Texas itu edan, dan cerita-cerita kriminal terjadi begitu saja di sini. Tetapi aku tak berpikir demikian. Kisah kejahatan terjadi di mana pun di dunia—mau di tempat seperti Oklahoma, misalnya. Tapi tak ada yang namanya Oklahoma Monthly untuk meliputnya.” Ia diam sejenak. “Mengapa? Well, itu di luar kuasaku, kukira.”

Sebagian jawabannya karena Emmis Communications mengucurkan duit buat laporan-laporan mendalam nan panjang. Penjualan majalah ini pada 2016—dari Emmis ke firma ekuitas Genesis Park LP berbasis di Houston—menandakan masa depan oasis di tengah gurun ini agak suram. Meski begitu, editor baru Tim Taliaferro dalam satu wawancara mengatakan Colloff akan tetap menjadi jantung ruang redaksi: “Kami semua mengandalkannya.”

Beberapa hari kemudian, ia menambahkan, dalam sebuah catatan kepada pembaca setelah CJR menurunkan artikel tentang masa depan majalah itu: “Izinkan saya juga berkata bahwa saya berkomitmen meliput isu politik, sebagaimana Texas Monthly telah melakukannya sejak ia berdiri, dan menjunjung tradisi juurnalisme naratif.”

Sementara bagi Colloff, ia berkata, ia tengah mempertimbangkan proyek menulis buku utuh, tetapi topik yang ia siapkan belum mantap benar. Selagi begitu, ia tengah mengerjakan sebuah cerita besar yang bikin ia bergairah, tetapi hanya itu yang bisa ia bagi kepada kita.*

__________

Lyz Lenz tinggal di Iowa, redaktur pelaksana The Rumpus. Tulisannya terbit di Pacific Standard, Marie Claire, Jezebel, dan The Washington Post. Twitter dia: @lyzl.

Pamela Colloff sejak Maret 2017 direkrut sebagai reporter senior di ProPublica dan penulis lapangan di The New York Times Magazine (Baca rilisnya di sini)

Sebagian karya Colloff bisa Anda tengok di SINI

Karya sinemanya, sebagai produser dan penulis, bisa Anda lihat di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s