Ziarah

Mbak tanya sebulan lalu: Apakah kamu akan pulang? 

Sesungguhnya, ia mengingatkan: kita akan merayakan 3 tahun Emak. Saudara-saudara akan berkumpul. Oh ya, dia bilang, jangan sampai lewat pas tahlil di hari itu.

Sesungguhnya, aku tak menyadarinya sama sekali sampai Mbak mengingatkan.

Lalu, peristiwa itu merayap. Lantas membulat. 2 Desember 2015, suara dari ujung telepon yang sangat kukenali berkata dengan cara orang mengabarkan kematian: Emak sudah tiada; kami menunggumu.

Itu adalah perjalanan terpanjang dalam sehari. Naik bus melewati separuh Pulau Jawa (sampai kini aku masih berpikir: kenapa enggak naik kereta? Kenapa harus perlu drama?), turun di sebuah kota yang asing, pindah ke bus lain, dan berlanjut naik ojek pada dini hari di bawah langit gerimis tanpa helm, sempat terlewat sampai di satu jalan sepi dekat kuburan, dan berbalik arah dan menemukan jalan pulang. Seakan-akan, bila diringkas perjalanan ini, saya tengah mengenang masa remaja dan dewasaku dalam hubungan jauh-dekat-dengan-rumah.

Saya tiba persis ketika sebagian orang sudah terlelap, sebagian lagi masih mengobrol dengan suara dipelankan, dan saudaraku mengaji dan saudaraku yang lain tersedu, dan yang melantunkan Yasin dan yang menangis tiada bedanya.

Tiga tahun kemudian, saya tak pernah bermimpi tentang Emak.

Apakah Emak sangat jauh dari orbit kehidupan saya sekarang? Apakah ia cuma masa lalu? Ia adalah Matriark. Ia adalah Pengurus dan Pelaksana Rumah Tangga. Ia adalah Ibu.

Kemarin, dalam usianya yang sudah abadi, sementara anak-anaknya makin menua, dan Bapak pun makin mengerut, Emak tertutup dan tenggelam dalam gelombang tanaman rambat. Kami menyadari perkara alpa yang semula akan kami bawa dari rumah: cangkul dan golok.

Maka, dengan tangan kosong, rumput-rumput liar di atas tubuh Emak dicabut. Lalu air kembang disiram ke atasnya. Dan tangan si Hidup mengusap nisan si Mati, dengan cara seorang anak menghormati ibubumi.

Kita akan tunggu setahun lagi, baru bisa kita pugar dengan keramik, kata saudaraku. Sementara ini, saudaraku yang lain melanjutkan, kita tinggikan lagi undukan tanahnya. 

Biar terlihat, dia meneruskan.

Saya kangen Emak yang terlihat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s