Bagaimana Membakar Sebuah Buku

Dinukil dari Buku Perpustakaan, karya nonfiksi Susan Orlean—terbit Oktober 2018. Terinspirasi dari peristiwa bersejarah terbakarnya sebuah perpustakaan di California, Orlean menantang rasa hormatnya: membakar cetakan terbaru Fahrenheit 451.

oleh Susan Orlean

Aku memutuskan membakar sebuah buku, karena aku ingin melihat dan merasakan apa yang akan dilihat dan dirasakan Harry di hari itu jika dia berada di perpustakaan itu, jika dia menyalakan api.

Membakar sebuah buku sungguh luar biasa sulit buatku. Sebenarnya, melakukannya sangat mudah, tapi menyiapkannya sungguh pukimak. Masalahnya aku takkan pernah punya dorongan hati buat merusak sebuah buku. Bahkan pada buku yang tak kuinginkan, atau pada buku-buku yang sangat usang dan rusak sehingga tak bisa dibaca lagi, lengket seperti getah.

Aku menumpuknya dengan niat membuangnya, dan kemudian, setiap kali tiba waktunya, aku tak kuasa melakukannya. Aku senang jika buku-buku itu kuberikan atau kudonasikan. Tapi aku tak bisa membuang buku ke tong sampah, tak peduli seberapa keras aku mencobanya. Pada saat-saat terakhir, sesuatu yang lengket menempel kedua lenganku, dan sebuah sensasi yang menimbulkan rasa jijik tumbuh dalam benakku. Seringkali aku berdiri di dekat tong sampah, memegang sebuah buku yang sampulnya robek dan jilidannya rusak, menimbang-nimbang dengan buku terjuntai, dan akhirnya, aku membiarkan tong sampah itu tertutup dan aku menyeret kakiku dengan si buku pukimak—serdadu yang babak belur, lusuh, dan terluka yang punya kesempatan hidup di hari lain.

Satu-satunya hal nyaris sebanding perasaan ini yang pernah kulakukan saat aku berusaha membuang tanaman, bahkan sekalipun tanaman paling bondas, berkutu, berakar bengkok di dunia. Sensasi melempar sebuah benda bernyawa itulah yang membuatku mual. Memiliki perasaan yang sama pada sebuah buku mungkin tampak janggal, tapi inilah alasanku mengapa buku punya jiwa—alasan apalagi emangnya sehingga aku begitu enggan melemparnya?

Bukan pada perkara bahwa aku membuang sehimpun jilidan kertas yang mudah dicetak ulang. Bukan seperti itu perasaanku. Sebuah buku terasa seperti sehimpun wujud yang hidup saat ini, dan juga hidup dalam ruang dan waktu, sejak sepetik ide meresap dalam alam pikir penulis hingga saat dilahirkan dari mesin cetak—garis hidup yang berlanjut ketika seseorang duduk dengannya dan mengaguminya, dan terus merentang dari waktu ke waktu ke waktu. Sekali kata-kata dan pikiran dituangkan, buku bukan lagi sekadar kertas dan tinta dan lem: Ia semacam daya hidup manusia. Penyair Milton pernah menyebut kualitas yang terkandung dalam buku sebagai “potensi kehidupan.” Aku tak yakin aku punya kemampuan sebagai pembunuh.

Sangat mudah menyalin apa pun hari ini, dan kebanyakan buku hadir dalam kelipatan tiada habisnya; satu buku tak lagi menyimpan keunikan ketika lahir dari proses yang rumit dan sulit. Jadi membakar sebuah buku biasa seharusnya mudah buatku. Tapi ternyata tidak; tidak sama sekali. Aku bahkan tak bisa memilih sebuah buku buat kubakar.

Pertama kupikir aku bisa membakar sebuah buku yang tak kusuka, tapi itu tampak terlalu agresif, seolah-olah aku menyukai tindakan eksekusi. Aku tahu aku takkan sanggup membakar sebuah buku yang kusuka. Aku pikir aku mampu membakar salah satu buku karyaku, tapi rupanya terlalu menguras batinku secara psikologis, dan aku punya banyak sekali salinan bukuku yang telah menjadi semacam sebuah komoditas lazim di rumahku, lebih seperti tepung atau tisu kertas ketimbang buku dalam pengertian sesungguhnya. Jadi ketika aku membuat keputusan membakar sebuah buku, aku memillah-milahnya berminggu-minggu, berusaha keras membuat standar apa yang bisa kupakai sebagai pijakan untuk memilih salah satunya. Segalanya keliru. Tatkala aku nyaris menyerah dengan gagasan itu, suamiku memberiku sebuah salinan terbaru Fahrenheit 451, buku karya Ray Bradbury tentang kekuatan menakutkan atas pembakaran buku, dan kutahu buku inilah yang bisa kupakai.

Aku memilih hari yang hangat dan tenang dan mendaki puncak bukit di halaman belakang rumah. Lembah San Fernando terhampar di depanku—segala pucuk pohon dan rumah dan gedung membaur berbintik-bintik; selayang selimut pucat tersulam di sana-sini dengan pijar suar merah, dan di atasnya, di langit biru, sebuah pesawat melintas, menyeret ekornya berjejak busa putih. Aku telah tinggal di Los Angles selama empat tahun. Aku tak pernah berpikir soal kebakaran sebelumnya, tapi kini aku tahu pikiran itu bercabang liar, dan aku harus menyiapkan diri untuk melumat serpihan-serpihan abu dan memadamkan kuncup-kuncup percik api yang melayang-layang.

Aku telah belajar banyak sejak pindah ke Los Angeles. Aku tahu Westside dari Eastside; aku tahu menghindari macet pada malam Oscar; aku tahu isyarat manis dan sanjungan sungguh elok yang bergema pada siapa pun di sini yang meratapi hidupnya bak segulung singkat cerita. Aku bisa membayangkan Harry Peak sekarang karena aku melihatnya setiap hari pada seorang pramusaji tampan yang menyiapkan meja untukku, dan di tempat gym ekstra yang kadang kala kutemui saat ada syuting film di lingkunganku—aku bisa mengenali pose mereka yang serba risau, seakan-akan setiap saat dijalari potensi mengubah seluruh hidup mereka. Aku melihatnya pada setiap orang yang mematut laptop di sebuah kedai kopi, menulis sepotong peran, dan pada gadis-gadis cantik yang memakai terlalu banyak maskara dan cat kuku di toko kelontong. Aku menyukai Los Angeles; aku bahkan menyukai dandanannya, ketamakannya, kedunguannya yang ambisius, ke-Harry-annya, karena berdenyut dengan emosi dan angan-angan dan keputusasaan, tersuguhkan dalam cara paling telanjang.

Tapi kini aku berada di atas bukit untuk membakar sebuah buku, jadi aku berpaling dari lembah dan meletakkan Fahrenheit 451.

Aku menaruh sekendi air, kotak korekapi bergambar ayam jago, dan kertas aluminium tempat aku meletakkan buku. Aku tak yakin apakah buku itu akan terbakar seketika atau api merambat pelan-pelan; merasa sangsi apakah langsung meletup atau aku akan duduk dan menyaksikan api menjilati halaman demi halaman demi halaman. Aku memilih membakar buku bersampul lunak (paperback), meskipun buku itu di perpustakaan bersampul keras (hardcover), karena aku khawatir buku hardcover bakal lama terbakar sehingga tetanggaku bakal melihat asap dan membunyikan alarm. Orang-orang di California bahkan melompat untuk mengurusi api, dan sejujurnya, aku agak takut atas apa yang mungkin terjadi jika api meletup tanpa kendali.

Aku menggores korek pertama dan gagal, jadi aku menyalakan korek kedua, yang meletik sepercik lidah api. Aku menuntunnya ke sampul buku Fahrenheit 451, yang dihiasi gambar geretan. Api meretih bak manik air dari pentol korek menuju sudut sampul. Kemudian menjalar. Berjalan mengarungi sampul buku nyaris seakan menggulungnya, seperti sebuah karpet, tapi ketika tergulung, sampulnya menghilang. Kemudian setiap lembar dalam buku itu terbakar.

Api pertama kali merembet ke sebuah pagina dengan pijar oranye dan pinggiran hitam. Lalu, dalam sekejap, percik oranye-hitam itu menyebar ke seluruh halaman, dan pagina itu lenyap—pembakaran nyaris seketika—dan seluruh buku itu terlumat dalam beberapa detik. Terjadi begitu cepat seakan-akan buku itu meledak; buku itu ada sana dan kemudian dalam sekejap hangus dan sementara hari masih hangat, langit masih biru, aku tak bergeser sedikit pun, kertas aluminium itu mengilap dan kosong kecuali remah-remah hitam berserak di atasnya.

Tiada apa pun yang tersisa, tiada jejak apa pun yang menyerupai sebuah buku, sekeping cerita, selembar halaman, sepetik ide.

Aku diberitahu bahwa api besar itu nyalang, garang, berangin, mengerang. Yang ini, sebaliknya, terjadi nyaris tanpa suara, hanya terdengar udara lembut berembus, lebih seperti berdesing, tatkala buku itu terbakar. Lembar demi lembar meranggas begitu cepat hingga nyaris meretih; suaranya lembut, seperti desis, atau seperti suara percik air dari pancuran.

Segera setelahnya, aku merasa seakan melompat dari pesawat, mungkin suatu reaksi alamiah atas perbuatan yang kutentang begitu kuat—ada rasa terpesona membetot naluriku sendiri, rasa girang betapa cantiknya nyalang api, dan rasa takut mengerikan pada daya tariknya dan kesadaran betapa cepat sehimpun wujud yang pepak kisah-kisah manusia dapat dibuat lenyap seketika.*

____

Susan Orlean, staf penulis The New Yorker, menulis banyak sekali buku; salah duanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: The Orchid Thief, 1998 (Pencuri Anggrek, Penerbit Banana, 2007); Rin Tin Tin: The Life and the Legend, 2011 (Rin Tin Tin – Kisah Hidup Seekor Anjing, Ufuk Press, 2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s