Menulis Peradilan Sesat: ‘Jangan Takut dengan Kalimatmu Sendiri’—Belajar dari Pamela Colloff

Beberapa pekan lalu, salah satu reporter favoritku, Pamela Colloff, mengisahkan proses dia menulis dalam satu konferensi ‘literary nonfiction’. Isinya menurutku berguna dan relevan terutama bagi yang ingin mengungkap skandal-skandal hukum, topik polisi salah tangkap atau peradilan sesat—tema yang sesekali jadi perhatian oleh dapur redaksi Jakarta. Tirto, tempat aku bekerja, sesekali menggarap topik ini, baik di kanal Current Issue maupun rubrik In-Depth—divisi di mana aku editornya.

Aku pernah menerjemahkan profil Colloff mengenai karier jurnalismenya di Texas Monthly. Sejak 2017, Colloff bergabung di ProPublica sebagai reporter senior dan di The New York Times sebagai penulis lapangan. ProPublica adalah media nirlaba yang berfokus pada laporan-laporan investigasi dan kolaborasi, sementara NYT adalah salah satu etalase laporan bertenaga mungkin tak cuma di AS tapi juga di dunia. Kedua media ini berbasis di New York. (Soal apa itu newsroom nirlaba, aku akan membahas kapan-kapan kalau ingin dan woles banget.)

Saya sangat suka membaca dapur tulisan atau rahasia wartawan mengesekusi gagasan liputan menjadi laporan naratif yang bagus. Semakin sulit atau kompleks gagasannya dan berat tantangannya, semakin tertarik aku ingin tahu bagaimana prosesnya. Laporan-laporan Colloff termasuk dalam kategori tersebut: topiknya rumit, napas kemanusiaanya kuat, tapi sejauh ini—dari kisah Anthony Graves sampai Joe Bryan—dia berhasil mewujudkannya ke dalam narasi yang tajam, tangkas, dan sempurna. Pendeknya, rumus cerita yang sukses: suatu peristiwa bisa datang dari mana saja dan biasanya mengandung elemen perkakas cerita yang sangat khusus sekali, tapi spirit kemanusiaan dan keadilan merupakan nilai universal—menerabas ruang dan waktu.

Artikel yang terbit di Nieman Stryboard itu menyebut “true crime story” sedang dieksplorasi gila-gilaan dalam jurnalisme, berbuah kisah investigatif, menjadi buku, menjadi serial dokumenter. Namun, catat artikel itu, kegilaan macam itu sangat mudah menjadi ekspolitatif.

Catatan peringatan itu datang dari Pamela Colloff, yang membagikan pengalamannya selama menggarap isu peradilan. Ia berkata kisah peradilan terbaik dituturkan dengan memadukan kepedulian dan kepekaan. Ia mencontohkan An Unbelievable Story of Rape, laporan naratif yang memenangkan Pulitzer Prize, ditulis oleh Christian Miller dari ProPublica dan Ken Armstrong dari The Marshall Project, yang dituturkan dari sudut pandang korban.

Mengaku ia tak selalu mendapatkan apa yang diinginkannnya, saat memulai proyek liputan, Colloff mula-mula menjalin kontak dengan subjek ceritanya—entah penyintas kekerasan seksual, narapidana atau anggota keluarga korban—biasanya dengan menyampaikan semacam surat pengantar dan penjelasan mengenai tekadnya mengeksplorasi cerita bersangkutan.

Saat proses wawancara, ia berusaha menjadi pendengar yang simpatik. Ia membiarkan narasumber memandu percakapan, bagaimana dan kapan ceritanya dibagikan. Pendekatan ini membuat narasumber merasa mengendalikan pembicaraan dan memiliki kepercayaan luar biasa sehingga memungkinkannya bisa membagikan setiap inci rahasia cerita, yang mungkin jarang diutarakan ke banyak orang.

Selama menulis dan penyuntingan, ia tetap menjalin kontak dengan para narsumber, mempertimbangkan materi-materi sensitif sebelum naskah dirilis sehingga mereka bisa menyiapkan diri dari sorotan publik. Hal ini juga membantunya dalam proses pemeriksaan fakta.

Pada akhirnya, Colloff dituntun oleh pemikiran utama: menulis cerita yang adil adalah tekanan luar biasa besarnya; sama besarnya dengan kewajiban kita untuk bekerja sebaik-baiknya.

Ini petikan dari beberapa poin yang ia bagikan dalam wawancara yang mungkin bisa kita pelajari:

Ide cerita

Soal gagasan cerita, dari mana datangnya, apakah dari orang lain mengingat ia kian dikenal, jawabannya:

  • Pakai Google Alerts. Kamu bisa googling bagaimana menggunakannya. (Aku misalnya mendapatkan kabar-kaar terbaru tentang militer Indonesia dari Google Alerts yang masuk ke email.)
  • Ngobrol banyak dengan para pengacara.
  • Siapa pun di sekitar kamu. Contoh: Ia kenal dengan seorang PNS yang menyaksikan 278 eksekusi mati—jadilah The Witness.

Proses riset dan peliputan

Ia menyebut metode Lawrence Wright yang terkenal dengan sistem kartu indeksnya: mengurutkan materi liputan ke dalam katalog berdasarkan subjek cerita; tujuan utamanya adalah menyibak DNA cerita. (“Aku paham ini terlihat kuno,” kata Wright tentang metodenya, “tapi aku belum menemukan cara yang lebih baik.” Kamu bisa baca Metode Prosa Nonfiksi Wright.)

Colloff bercerita ia membaca berton material liputan, terutama saat ia menggarap sebuah kasus kriminal. Transkrip pengadilan. Dokumen perintah dan penangkapan, olah TKP, penindakan dan sebagainya. Kliping berita. Ia menyusun dari atas ke bawah daftar prioritas orang-orang yang mungkin mau diajak bicara hingga mereka yang irit bicara. Ia memulainya dari daftar teratas. Untuk orang yang emoh ngomong, ia akan berusaha bicara dengan teman-temannya sehingga jaringan teman ini bisa ngomong ke si narasumber bahwa Collof orangnya asyik pas ngobrol, enggak menakutkan seperti yang dibayangkan.

Cara kerja di atas itu penting terutama kasus yang ia tulis seringnya di kota kecil atau dusun, sebab pada mulanya kita tidak tahu mana lawan dan kawan. Kadang berhasil sebaliknya: mereka akan ngomong, ‘Oh, kamu udah ngobrol sama Joko? OK, aku kasih tahu, ya, apa yang dia omongkan itu ember. Jangan percaya, deh.” Maka, kita ketemu dengan lawannya, katakanlah bernama Bowo, dan ia ngoceh banyak ke kita.

Proses menulis

Saat orang mulai bertanya apa yang aku tahu dari kasus itu, dari situlah aku bisa memulai ke proses menulis, ujar Colloff.

“Atau, ketika aku mendapatlan narasumber nomor 28,” dan ia bercerita tentang apa yang terjadi di hari itu, “lalu aku nyaris enggak menulis sama sekali karena aku sudah tahu.”

Kuncinya adalah jika liputannya tidak bergerak ke sumber-sumber lain dari daftar yang sudah ia susun itu, ceritanya tidak jadi apa-apa. Tekanan tenggat, yang bisa sangat berat, tentu saja jadi faktor lain kita harus menyelesaikan liputan. Beberapa proyeknya membutuhkan waktu lama, jadi investasi waktu juga penting bagi ceritanya.

Ia juga takkan menulis selagi masih liputan. Ia mulai menulis ketika tahu apa akhir ceritanya. Rumusnya: sisa cerita adalah tekad meraih akhir cerita.

Konsep itu hanya mungkin dipegang dengan mengumpulkan sebanyak mungkin material, turun ke lapangan, menggali sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, selama liputan.

“Aku kumpulkan segunung catatan ke dalam outline yang makin lama makin membengkak,” ujarnya. “Aku ragu outline adalah kata yang tepat karena aku sebenarnya menempatkan semua catatan ke dalam satu dokumen sehingga aku bisa melakukan kata kunci pencarian. Catatan itu bisa berisi setiap wawancara dan kutipan yang ingin kupakai.”

Menulis di waktu pagi, enggak membuka email, hal-hal apa pun yang mengganggu saat menulis, kata Colloff tentang kapan waktu yang enak bagi dia menulis.

“Enggak akan ngajak orang makan siang kecuali aku udah selesaikan ceritanya. Enggak pergi buat ngopi. Mikir kerja saja dan menuangkan tulisan seharian. Kadang pergi ke warkop yang enggak ada Wifi, ponsel dijauhkan, dan berusaha terus menulis. Kadang ke warkop dan tempatnya ramai, maka kuping ditutupi earphone.”

Revisi dan Editing

Tugas pekerjaan ini memadukan kisah naratif yang mendalam dengan kepentingan publik; suatu laporan yang bertanggungjawab.

Ia bilang ia terus berusaha membuat narasi yang mulus. Aspek penceritaanya bagus dan pertanggungjawabannya beres.

Editor memberi arahan yang spesifik atau apa yang dinginkan buat kulakukan, ujarnya.

“Kenapa aku mencintai pekerjaan ini karena aku serasa belajar setiap hari. Ada banyak revisi. Editor aku sangat pintar dan relasi kami saling percaya. Aku boleh menunjukkan mereka apa yang mungkin tak harus diungkapkan di awal, aku juga mendengar mereka menyarankan ada hal-hal yang macet dan kita butuh mendekatinya secara berbeda.”

Baca: Saran bagi Editor

My two cents

Skip Hollandsworth berkata, ‘Stop mengandalkan kutipan. Jangan takut menulis apa yang dipikirkan atau apa yang memotivasi narasumber kamu ke dalam kata-katammu sendiri karena hal ini membuat tulisanmu lebih baik.’

Dan dia bener, kata Colloff. “Sekali kamu menghilangkan kutipan, kamu memerankan diri sebagai pemilik cerita.”

Itulah yang kukatakan kepada reporter muda. Bekerja di surat kabar, kamu mungkin menyertakan kutipan ke nyaris semua paragraf. Tapi, jika kamu mengerjakan sebuah tulisan yang memikat, kamu harus belajar menjadi pencerita.

2 pemikiran pada “Menulis Peradilan Sesat: ‘Jangan Takut dengan Kalimatmu Sendiri’—Belajar dari Pamela Colloff

  1. Aku suka karena termotivasi. Aku adalah orangnya menginginkan menjadi penulis namaun aku sering kaku dengan tulisan yang aku ketik. Jadi, yang kk tuankan ini suatau panah bagi aku.

  2. Aku suka karena termotivasi. Aku adalah orangnya menginginkan menjadi penulis namun aku sering kaku dengan tulisan yang aku ketik. Jadi, yang kk tuankan ini suatau panah bagi aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s