Penulis: Fahri Salam

menulis dan meliput, tinggal di Jogja, minat pada sastra, politik, dan sejarah.

Ziarah

Mbak tanya sebulan lalu: Apakah kamu akan pulang? 

Sesungguhnya, ia mengingatkan: kita akan merayakan 3 tahun Emak. Saudara-saudara akan berkumpul. Oh ya, dia bilang, jangan sampai lewat pas tahlil di hari itu.

Sesungguhnya, aku tak menyadarinya sama sekali sampai Mbak mengingatkan.

Lalu, peristiwa itu merayap. Lantas membulat. 2 Desember 2015, suara dari ujung telepon yang sangat kukenali berkata dengan cara orang mengabarkan kematian: Emak sudah tiada; kami menunggumu.

Itu adalah perjalanan terpanjang dalam sehari. Naik bus melewati separuh Pulau Jawa (sampai kini aku masih berpikir: kenapa enggak naik kereta? Kenapa harus perlu drama?), turun di sebuah kota yang asing, pindah ke bus lain, dan berlanjut naik ojek pada dini hari di bawah langit gerimis tanpa helm, sempat terlewat sampai di satu jalan sepi dekat kuburan, dan berbalik arah dan menemukan jalan pulang. Seakan-akan, bila diringkas perjalanan ini, saya tengah mengenang masa remaja dan dewasaku dalam hubungan jauh-dekat-dengan-rumah.

Saya tiba persis ketika sebagian orang sudah terlelap, sebagian lagi masih mengobrol dengan suara dipelankan, dan saudaraku mengaji dan saudaraku yang lain tersedu, dan yang melantunkan Yasin dan yang menangis tiada bedanya.

Tiga tahun kemudian, saya tak pernah bermimpi tentang Emak.

Apakah Emak sangat jauh dari orbit kehidupan saya sekarang? Apakah ia cuma masa lalu? Ia adalah Matriark. Ia adalah Pengurus dan Pelaksana Rumah Tangga. Ia adalah Ibu.

Kemarin, dalam usianya yang sudah abadi, sementara anak-anaknya makin menua, dan Bapak pun makin mengerut, Emak tertutup dan tenggelam dalam gelombang tanaman rambat. Kami menyadari perkara alpa yang semula akan kami bawa dari rumah: cangkul dan golok.

Maka, dengan tangan kosong, rumput-rumput liar di atas tubuh Emak dicabut. Lalu air kembang disiram ke atasnya. Dan tangan si Hidup mengusap nisan si Mati, dengan cara seorang anak menghormati ibubumi.

Kita akan tunggu setahun lagi, baru bisa kita pugar dengan keramik, kata saudaraku. Sementara ini, saudaraku yang lain melanjutkan, kita tinggikan lagi undukan tanahnya. 

Biar terlihat, dia meneruskan.

Saya kangen Emak yang terlihat!

Iklan

Mari berkenalan dengan Pamela Colloff, penulis yang bagusnya brengsek banget di Texas

“Tak banyak penulis unik seperti Pam setiap hari. Dalam segala aspek di bisnis ini, ia seperti unicorn—diburu oleh chupacabra, dimakan oleh Bigfoot.”

oleh Lyz Lenz | 24 Februari 2017 | Columbia Journalism Review.

 

Pamela Colloff
©Jeff Wilson

 

PAMELA COLLOFF, yang baru lulus dan enggak punya kerjaan, pergi dari New York bareng temannya, Margaret Brown, pada 1994 dengan Volvo butut tanpa tujuan pasti. Mereka bokek dan pengin mengisi hidup sepenuhnya dengan petualangan dan seni. Pada akhirnya mereka berkelana ke Austin, Texas—negara bagian AS di kawasan tengah-selatan dan berbatasan dengan Meksiko.

Rencananya, mereka di sana cuma sebentar, tetapi Colloff malah enggak pengin cabut. Sewa rumah di sana murah, cuma 300 dolar AS sebulan, dan kondisi ini bikin ia punya waktu menulis.

Dan ada perihal lain: Texas bikin hatinya kepincut.

“Habis aku tiba ke sini, aku selalu punya banyak ide. Kupikir karena ini berbeda dan segalanya serba baru, aku jadi punya banyak ide menulis,” ujarnya.

Di sinilah, di rumah yang serba kebetulan, di luar pusat media tradisional di Amerika, Colloff menemukan panggilannya dan membangun sebuah dinasti.

Direkrut oleh Texas Monthly sebagai penulis pada 1997, ia kini menjadi redaktur eksekutif dan salah satu arsitek yang memimpin majalah tersebut menata reputasi nasional dalam laporan kriminal mendalam dan feature panjang. Di sebuah era yang menuntut serba tergesa-gesa, ketekunannya dalam investigasi, wawancara, dan menyingkap karakter membuatnya diganjar enam nominasi Anugerah Majalah Nasional (National Magazine Awards), lebih dari penulis perempuan dalam sejarah penghargaan tersebut (ia menang satu kali).

(lebih…)

Sang Pengoceh, Mario Vargas Llosa

MENAMATKAN Sang Pengoceh, novel Vargas Llosa terjemahan Ronny Agustinus terbitan OAK. Merasa asyik pas sepertiga akhir. Bab terbaik saat penyingkapan ketika si pengoceh, seorang mahasiswa dengan riwayat keluarga Yahudi (bangsa pengelana), pergi ke hutan Amazon di masa “generasi bunga”, lalu terpikat pada satu suku di sana, bergumul dengan mereka, menjadi pendengar, dan menjalani perilaku khas dari suku tersebut yang meninggalkan apa yang kita sebut “kediaman yang tetap”; komunitas kecil yang marjinal ini terus berjalan, nomaden, sebab jika berdiam terlampau lama, matahari akan jatuh, terjadilah kekacauan, bencana, sebuah kiamat. Vargas Llosa membangun dua jalur cerita, selang-seling, yang pertama bab si ‘aku’—katakanlah Vargas Llosa sendiri—yang penasaran pada Saúl Zuratas, si mahasiswa etnologi itu yang jadi karibnya di kampus, atas sebab-sebab ia mengalami “pencerahan” atau “kelahiran baru” dari orang kota menjadi “mualaf Machiguenga, dan lantas jadi pengoceh.” Cerita kedua soal kisah Machiguenga sendiri, menuturkan kosmos dan kebudayaan mereka, dongeng, bualan, fiksi, gosip, dan lelucon mereka. Ada pertaruhan: dua narator yang harus berbeda—dan kita mendapatinya. Narator Vargas Llosa sangat tertata bahasanya; narator soal dongeng Machiguenga berisi seperti racauan, igauan, atau seperti judul novelnya: mengoceh tiada henti. Dalam keluarga-keluarga kecil Machiguenga yang berdiaspora di hutan Amazonia, peran si pengoceh menjadi sentral dari kosmos kehidupan mereka sebagai pengabar, mengikat dan menata jati diri plus perasaan manunggal akan komunitas senasib-sepenanggungan yang tercerai-berai.

Apa yang bikin novel ini mendatangkan banyak kajian adalah komentar-komentar politiknya soal peran keilmuan yang membawa misi “pengetahuan” sekaligus relasi parasitnya terhadap subjek riset yang seringkali membawa misi “pembaratan.” Saúl adalah pribadi yang secara intelektual menentang kampusnya (dan di belakangnya proyek-proyek kajian) untuk menundukkan Machiguenga dengan dalih “pemberadaban” untuk berdiam di satu tempat, tidak lagi berpencar, sebab secara inheren melawan jagat moral dan mitos suku tersebut. Apa yang terjadi pada mereka, sebagaimana komunitas-komunitas lain yang mendiami Amazonia, yang kita baca dari literatur-literatur soal lingkungan, adalah perkembangan keterdesakan yang meminggirkan, mula-mula lewat penaklukan pasukan Inca, lalu penjelajah, kaum misionaris dan bangsa Spanyol, cukong-cukong komoditas hutan, dan demam emas. Disusul kemudian penetrasi dari maskapai-maskapai pertambangan multinasional, perdagangan kokain, lalu pemberontakan (kaum gerilyawan dan atau narko-gerilyawan), dan apa yang belakangan jadi nomenklatur politik global: terorisme dan kontra-terorisme. Secara tidak langsung, saya teringat atas apa yang terjadi pada komunitas suku di Jambi, di Borneo, atau bangsa Papua di Papua Barat, dan komunitas-komunitas lebih kecil di hutan-hutan di Jawa. Novel ini, dengan sendirinya, menantang secara pemikiran.

Vargas Llosa juga memakai pendekatan analogi, dunia paralel, atas dunia minor Saúl dan dunia bangsanya. Mesin analogi ini bekerja dengan membandingkan, atau menautkan, nasib komunitas Machiguenga dan bangsa Yahudi (dalam istilah di novel ini “Yahwe-Tasurinchi”) yang terus berjalan, berpindah-pindah, berpencar ke seluruh dunia, memanggul nasib sebagai orang dan masyarakat yang kerap disalahkan, dikambinghitamkan, biang keladi dan mendapat cap pelbagai stigma, apabila terjadi kemalangan, bencana, atas nasib buruk orang lain. (Dalam kasus di Indonesia dijatuhkan pada “orang Tionghoa” dan “PKI”.) Paralelisme lain adalah sosok Saúl Zuratas sendiri, yang punya tanda lahir berupa tompel besar di sebagian wajahnya, sehingga dipanggil “Mascarita” (Muka Tompel), yang membuatnya “jadi marjinal di antara yang marjinal,” terus disepelekan dan diejek oleh “orang dan masyarakat normal”, betapapun Saúl adalah pribadi yang pasivis dan panjang akal. Noda ungu tua raksasa ini, bagi Saúl yang meyakini satu-satunya pahlawan literatur di dunia adalah Franz Kafka, dibandingkan sebagaimana nasib Gregor Samsa yang mendadak, ketika bangun di satu pagi, menjadi seekor serangga raksasa. Kisah Saúl karena tompelnya ini (dalam novel disebut “Gregor-Tasurinchi”), yang bikin ia dikucilkan dan bikin malu orang dan perasaan rendah diri yang menggerogoti jiwanya, disebut sebagai “kesurupan jelek,” sebelum kemudian ia pelan-pelan mengatasinya (atau sadar dari kesurupan) dan bahkan ia bisa membuat lelucon atasnya.

Usai menamatkan, dan mengantongi motif cerita yang sudah agak dikenali, saya membuka lagi bab awal novel Sang Pengoceh, dengan membawa pertanyaan: Apa arti tompel dari sebagian muka Saúl untuk kita, sebagai warga negara-bangsa, yang dari seorang pribadi tak sempurna ini pada akhirnya bikin dia, secara transformatif, menanggalkan kehidupan lamanya, menutupi jejak masa lalunya, dan lantas menjadi sosok yang sepenuhnya baru sebagai si pengoceh?

Saya teringat perjalanan-perjalanan singkat saya di luar Jawa, tetapi yang terus saya ingat adalah perjalanan pertama saya ke selatan Papua, tiga atau empat tahun lalu. Di sana saya bertemu dengan orang-orang dari keluarga-keluarga yang meninggalkan kampungnya, untuk “turun ke Merauke” ketika tanah-tanah mereka, yang semula hanya dikenali lewat kepemilikan bersama dengan patokan faam, dipaksa untuk dicacah, dibelah-belah, diberi garis batas oleh “orang-orang perusahaan” yang membawa kantong-kantong uang, dan tanah-tanah itu diambil sebagai lahan-lahan perkebunan dan pertanian raksasa demi apa yang disebut oleh janji pemerintah Indonesia saat itu “lumbung pangan, yang akan memberi makan rakyat Indonesia, kemudian dunia.” Bagaimana nasib para faam ini sekarang? Satu sore itu, ketika saya mengobrol dengan para bapak di halaman rumah tempat mereka menumpang sementara di kota Merauke, meninggalkan istri dan anak, untuk menuntut hak tanah (dan konsesi uang yang dibayar tidak sesuai janji), mengisahkan bagaimana “orang-orang perusahaan” ini, dengan bahasa yang terdengar rapi dan santun, berkata muluk-muluk hanya untuk akhirnya mendapati mereka mewakili “abu nawas tinggi”: sang penipu ulung.

Dalam kehidupan kita, barangkali, sejak lahir kita membawa “tompel Saúl”: pertanyaan yang mengusik secara moral maupun posisi dan pandangan politik kita terhadap peran kita secara tidak langsung telah mengusir dan meminggirkan “suku-suku adat” di sepanjang hutan-hutan dunia. Peran yang sama, barangkali, ketika kita melihat kemelaratan yang mencolok, pemiskinan luar biasa, tapi kita tidak tahu harus berbuat apa, atau kalaupun bisa bertindak, efek dan jangkauannya sangat terbatas.

Dalam novel Sang Pengoceh, sang seripigari—seorang tabib—berkata kepada Saúl: “Lahir dengan wajah sepertimu bukanlah kejahatan terburuk; kejahatan terburuk adalah tidak menyadari kewajiban.”●

Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

Catatan atas persidangan kasus serangan mematikan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang digelar secara simultan selama 5 bulan pada 2011. Para pelaku pembunuhan dan pengeroyokan hanya dihukum 3-6 bulan penjara; adapun seorang Ahmadi, yang mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya, diseret ke pengadilan di bawah hukum compang-camping dengan vonis 6 bulan penjara. Saya menyentuh kembali esai ini lantaran diminta untuk memeriksa dokumentasi naratif mengenai persekusi terhadap muslim Ahmadiyah di Indonesia, sejak kemunculan fatwa MUI sampai SKB 2008, dalam sebuah buku yang direncanakan terbit akhir tahun ini.
kartun-rest-in-peace-rip-penegakan-hukum-hendrikus-david-arie-mulyatno-sp
“Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum” ©2013 Hendrikus David Arie Mulyatno. Karikatur ini terbit di Suara Pembaruan edisi 17 Oktober 2013 dan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Sumber dari sini.

 

SIDANG KASUS CIKEUSIK berlangsung di Pengadilan Negeri Serang, Banten. Ke-12 terdakwa, dalam 11 berkas, menjalani proses persidangan sejak 26 April 2011, berlangsung di tiga ruangan terpisah, berjalan simultan, satu demi satu terdakwa diproses, setiap Selasa dan Kamis.

Kasus ini juga menjerat Deden Sudjana dari muslim Ahmadiyah. Pada 20 Mei, Sudjana resmi ditahan di Lapas Serang. Pada 8 Juni, ia menjalani sidang perdana. Sudjana diancam pidana penghasutan, melawan perintah petugas, dan penganiayaan[1]. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, salah satu kuasa hukum dari sebuah koalisi bernama Tim Advokasi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara[2], menyatakan dakwaan terhadap Sudjana merupakan bentuk “kriminalisasi dan viktimisasi terhadap korban.” Sudjana diancam maksimal 6 tahun penjara.

Dokumentasi @cikeusiktrial atas proses persidangan, terungkap “fakta-fakta hukum” yang bisa kita pelajari dari beberapa saksi guna menelusuri seluruh kasus ini. Ada beberapa saksi yang keterangannya dapat menjelaskan jejaring mobilisasi, hasutan, dan pelaku, yang sedikit-banyak berperan dalam insiden penyerangan dan pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah di Cikeusik.

Namun, di sisi lain, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam proses persidangan. Hakim dan jaksa lebih berkutat pada “siapa yang menyerang lebih dulu” ketimbang, misalnya, menelusuri jejaring pelaku dan keterlibatan terdakwa dalam perkara. Mereka lebih mengedepankan logika dan pandangan agama daripada pandangan hukum yang menyangkut sidang pidana.[3]

(lebih…)

Dilema Ivan Ilyich

Kemajuan sains melambari proses penuaan dan sekarat ke dalam pelukan pengalaman medis.
ATUL GAWANDE
dolgados-cartoon-on-medicine
©2011 Roy Dolgado. Sumber kartun di sini

SAYA belajar banyak hal di sekolah medis, tapi kematian tidak. Meski saya disuguhkan mayat kasar dan kesat untuk dibedah di masa pendidikan perdana, hal ini semata demi mempelajari anatomi tubuh manusia. Buku pelajaran kuliah kami nyaris kosong mengenai kondisi penuaan atau kepikunan atau sekarat. Mereka agaknya mengesampingkan soal proses kematian tersingkap, pengalaman orang menjelang sakratul maut, dan bagaimana hal itu mempengaruhi orang-orang di dekatnya. Cara kami melihat kematian, begitu pula cara profesor kami melihatnya, dan tujuan pendidikan medis dikembangkan adalah demi menyelamatkan nyawa, bukan bagaimana merawat orang yang sekarat.

Kesempatan sekali yang saya ingat ketika membahas kematian sewaktu kami mendiskusikan selama satu jam Kematian Ivan Ilyich, novelet klasik Tolstoy. Itu berlangsung saat seminar mingguan dengan tema Pasien-Dokter—satu rangkaian dari upaya kampus agar kami lebih bertekad menjadi dokter sekaligus lebih manusiawi. Beberapa pekan kami akan memperagakan etiket menangani pasien; di pekan lain kami mempelajari imbas sosio-ekonomi dan politik pada kesehatan. Dan pada satu petang kami diajak merenungkan penderitaan Ivan Ilyich yang terbaring sakit dan kian merosot akibat sejumlah penyakit tak dikenali dan mustahil diobati.

Dalam cerita itu, Ivan Ilyich berusia 45 tahun, seorang hakim tingkat madya Saint Petersburg yang kehidupannya lebih banyak berkisar mengurusi hal remeh dan status sosial. Satu hari dia jatuh dari anaktangga dan mengalami nyeri di pinggang. Bukannya berkurang rasa sakit itu malah tambah parah dan dia tak sanggup bekerja. Semula dikenal “pria yang cerdas, bertutur kata halus, giat, dan ramah,” kini dia jadi pria pemurung dan melas. Teman dan rekannya menghindarinya. Istrinya sudah gonta-ganti dokter dengan ongkos yang tambah mahal untuk mengobatinya, dan mereka tak mampu mendiagnosis penyakitnya, serta bermacam obat yang diberikan tak bisa menyembuhkannya. Bagi Ilyich, situasi itu menyiksa, dan dia bertambah gusar dan marah. (lebih…)

Saran bagi Editor

HUBUNGAN PENULIS DAN EDITOR bisa berbuntut jadi relasi yang peka. Penulis mungkin menganggap editor sebagai orang yang gemar mencari-cari kesalahan, memeriksa secara detail dari perkara remeh seperti ejaan, kendati yang lebih penting adalah memelototi logika bahasa, struktur cerita, dan lebih utuh lagi: gagasan yang disampaikan penulis apakah solid atau lemah. Sementara editor mungkin saja melihat penulis sebagai primadona. Keduanya, bila sama-sama enggak rapi menanganinya, bisa meruncing jadi tekanan yang bikin frustrasi, dan gilirannya kemungkinan: 1. naskah bakal kelar lama; 2. mereka saling memendam rasa sengit; 3. ketidaksabaran menghancurkan orisinalitas; 4. kombinasi 2 dan 3 membuat kemungkinan ke-5: naskah akhir menjadi lebih buruk dari naskah awalnya.

(lebih…)

Rahasia Jurnalisme Data

“Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami.”

Hassel Fallas • ProPublica • 4 Nov 2013

djh_2
Ilustrasi diambil dari sini

 

SAYA MENGHABISKAN beberapa pekan terakhir di AS dalam program Douglas Tweedale Memorial Fellowship bersama International Center for Journalists, dan berbincang dengan sejumlah ruang redaksi Amerika soal pendekatan jurnalisme data. Saya bagi apa yang saya pelajari.

Langkah terbaik memulai jurnalisme data: kau hanya perlu memulainya. Ketika kau mengawalinya, kau jangan takut gagal. Setiap kesalahan bikin pengalaman dan pengetahuan kau bertambah, bagi perkembangan dirimu dan untuk meningkatkan kualitas jurnalisme yang kau praktikkan.

Mudah bagi kau berkata “aku tak pandai dalam matematika” dan memutuskan jurnalisme data bukanlah bidangku. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya juga tidak pandai dalam matematika sampai saya putuskan untuk merobohkan dinding mental itu, dan mendapati bahwa cara belajar terbaik dan termudah adalah mengaplikasikan teori ke dalam proyek nyata.

(lebih…)