Penulis: Fahri Salam

menulis dan meliput, tinggal di Jogja, minat pada sastra, politik, dan sejarah.

Kenangan-kenangan Sipon

Ia telah menancapkan tekad, dan bersikukuh, bahwa selama jasad suaminya belum terlihat dengan mata kepala sendiri, maka sepanjang itu pula pencariannya tetap tiada henti.

SITI DYAH SUJIRAH bingung sendirian sepanjang perjalanan di kereta menuju Jakarta itu. Ia tak tahu mesti berkata apa kepada Saiyem dan Wito, orangtua suaminya. Ia tahu selama ini telah berbohong kepada mereka. Meskipun yang ia lakukan demi kebaikan, namun saat itu ia merasa sangat bersalah.

Sipon gamang. Terasa terdampar di persimpangan di antara dua pilihan: apakah harus ia katakan dengan jujur saat itu juga ataukah memendamnya dan membiarkan mereka mengetahuinya dari mulut orang lain. Toh, pikir Sipon, tanpa ia mengutarakan langsung, mereka sendiri akan tahu ketika hari penghargaan itu tiba, di mana untuk tujuan itulah mereka pergi ke Jakarta.

Perempuan kelahiran 21 September 1966 itu teramat mengerti jika ia mengatakannya secara jujur maka itu akan menghancurkan perasaan kedua orangtua suaminya. Bagi mereka, keberangkatan ke Jakarta saat itu untuk bertemu si anak sulung tersayang. Sebab sekian tahun mereka tak pernah bertemu. Sebab itu mereka rindu. Sangat rindu. (lebih…)

Iklan

Jokpin

Ayahnya mengharapkan jadi pastur, jalan puisi menjadikannya penyair.
Copy of jokpin 4
Foto-foto oleh Kiki Kurniawan

TUBUHNYA kurus. Bibir bawah tebal. Sepasang mata menjorok ke dalam. Alis lebat. Rambut  terpotong pendek dan ditumbuhi uban. Wajah tirus. Pembawaan kalem. Ia pendiam. Pelamun suntuk. Perokok berat. Dua bungkus dalam sehari. Jenis rokok yang sama selama 25 tahun – pernah seniman monolog Butet Kartaredjasa berkomentar, harusnya produsen rokok itu memberinya penghargaan. ”Bayangkan, sudah 25 tahun!” Ia tertawa.

Sesungguhnya, ia tipe manusia konvensional dalam memerlakukan dunia keseharian. Ia minum dari gelas yang sama, duduk di bangku yang sama, menikmati saat rehat di waktu yang sama; bertahun-tahun tanpa nada perubahan dramatis. Nurnaeni menceritakan, saat masih tinggal di Patangpuluhan, suaminya tak pernah beranjak dari kursi ruang tamu yang sama. Bahkan sekalipun ada kursi kosong di sekitarnya! (lebih…)