Kategori: Cerita

Bagaimana kita selalu ingin mendengarkan kisah

KEMARIN malam aku bertemu dengan teman lama. Aku kira sebutan “teman lama” kuranglah mewakili. Atau aku ingin mengatakan begini: dia karib yang kamu kenal di satu kota lantas kamu pindah kota, dan setiap karib itu datang ke kota tempatmu tinggal, atau sebaliknya, kalian saling menyempatkan waktu untuk bertemu. Dengan “teman lama” itu adalah jenis laku persahabatan seperti itu. Saya kini di Jogja. Ia di Jakarta. Jadi, kemarin malam kami bertemu di sebuah warung kopi di pusat kota. Dan bilamana ada dua karib yang dipisahkan jarak, ucapan pertama yang lazimnya keluar adalah “Hai, apa kabarmu?”—atau semacam itu.

Lantas, obrolan berikutnya berdasarkan deret hitung yang dimulai dari jejak terbaru di belakang punggungmu: apa yang kamu lakukan barusan, apa yang kulakukan di kota ini, atau pertanyaan itu bisa disimpulkan dalam satu pertanyaan lazim: “Dalam rangka apa?” Dan seakan-akan setiap apa yang kita lakukan memiliki tujuan.

Namun jenis pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang dibikin sebagai bentuk profesionalisme—istilah “profesional”, meski sesaat, tampaknya dapat menghibur. (Contoh: Kamu bisa melihat seseorang yang mengenakan pakaian seragam, jenis pekerjaan yang membutuhkan atribut, tersenyum profesional saat kamu membutuhkan sesuatu yang praktis). Pertanyaan itu akan menguap seiring obrolan mulai ke segala arah, dipantik dari apa yang muncul di kepalamu, dan di suatu tempat di benakmu ada tombol yang bila kamu tekan kamu menemukan mesin-cerita-di-dalam-dirimu. Seperti itulah.

Ia bilang ia barusan mengetik-ulang 2 tjerita edjaan lama yang diminta kawannya yang pengarang. Satu tjerita berkisah tentang suami-istri petani penggarap lahan tumpang dengan banyak anak dan istri si petani itu hamil tua lantas melahirkan saat di ladang lalu secepat kilat, dengan detail yang kosong, si suami membawa istrinya dengan gerobak mesin ke saudaranya dan di dalam gerobak itu ada anak-anak mereka.

Tjerita lainnya mengenai seorang pegawai anonim di tengah masyarakat birokratis yang mencari kehangatan di musim dingin ke sebuah gedung kementerian lalu pegawai anonim itu disuruh meminta mengumpulkan sumbangan bagi pegawai yang mendapat kesulitan dan rupanya menghasilkan cukup banyak uang dan dia punya ide tipuan untuk melakukan hal sama lantas dia menimbang uang sumbangan itu untuk hidupnya di musim panas tapi kemudian saat hari itu tiba dia meninggal mendadak, tanpa sebab yang jelas, dan orang2 di kementerian merasa kasihan karena pegawai anonim itu telah berjasa mengumpukan banyak uang untuk orang yang kena musibah (yang sebetulnya fiktif tapi mereka tak mengetahuinya) lalu mereka menyumbang untuk pemakamannya sebesar jumlah uang selama ini dia kumpulkan.

Aku tertawa mendengar cerita itu.

Ia bilang kata-kata dari edjaan lawas itu ada yang tak diketahuinya—sungguh membuat kita merasa berada ratusan kilometer dari gajah purba yang menyusut sebesar semut. Ia mengetiknya dalam ejaan sekarang.

Well, kubilang, perjalananku kali ini ditemani Amin Maalouf, pengarang kelahiran Beirut, lewat novelnya yang diterbitkan YOI, Cadas Tanios, yang kubaca lagi. Kubilang Ronny Agustinus memberi kredensial pada kualitas terjemahan Ida Sundari Husen, yang disinggung di blognya bahwa penerjemahnya telah “menghadirkan mahakarya Amin Maalouf … ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat memikat.” Kubilang Maalouf, sependek yang kubaca, belum banyak diserap para pengarang Indonesia. Karena kami sama-sama membaca karya Gabriel García Márquez dan Pramoedya Ananta Toer, kubilang apa yang kutahu saja, atau kurasakan: Maalouf berada di antara kedua style mereka. Ia tidak semenggebu dan seheroik penceritaan a la Gabo tapi juga tak serealis Pram. Aku mengutip kalimat pertama sebuah bab di novel Tanios, “Pada masa itu langit begitu rendah, saking rendahnya sampai orang-orang harus berjalan menunduk.” Ia merespons dengan berkata HA, lantas tertawa, lalu mengangguk-anggukkan kepala. (Belakangan, saat aku mengetik ini, dengan membuka lagi rujukan kalimat itu, teks persisnya, “Pada masa itu, langit demikian rendah sehingga tak seorang pun berani berdiri tegak.”) Kalimat itu adalah simbolisme atas kekuasaan.

Obrolan lain bahwa ia akan keluar kota besok, dan bagaimana kini ia tinggal di sebuah rumah di mana untuk ke kantornya ia menggunakan kereta dan, dari sistem baru yang belum pernah kualami, tiket kereta dalam kota di Jakarta menggunakan kartu. Aku pengin tahu bagaimana Sistem itu membentuk Perjalanan yang Sistematis lewat Transportasi yang Efektif. Kubilang, sembari mengingat-ingat, terakhir kali aku memakai kereta komuter pada akhir 2012 saat aku harus mengantar sepeda lipat ke karib pemilik sepeda itu dan hari itu hujan lebat dan beberapa hari kemudian aku pindah kota ke Jogja.

Kami memang sering bercerita mengenai sesuatu yang tak ada sangkut-pautnya sama sekali mengenai “dalam rangka apa”, tapi seringkali terkait pada satu peristiwa. Terakhir, pada saat Kelud metelus, ia harus pulang dari kota S menuju Jakarta dan bandara di sana tutup karena berselimut abu dan ia akhirnya naik kereta. Kereta itu melewati stasiun Tugu dan ia sempat memfotonya dan ia menunjukkan padaku sebuah mobil pengangkut minyak yang tertutup abu. Kubilang juga abu Kelud telah menghentikan rutinitasku seperti lampu yang mendadak padam. Kita merasa sia-sia membersihkannya bila hujan belum juga turun karena, pada saat aku naik ke atap genteng rumah, seluruh yang kita lihat adalah selimut putih pucat. Kuingat lagi kini bahwa angin yang menderu dari arah utara mengibaskan abu sangat tajam itu sampai membentuk lapisan-lapisan ringan dan memedihkan mataku dan aku bagai menjumpai sekumpulan arwah yang tersesat.

Kami terus mengisahkan sejumlah hal lain. Namun, pada satu titik, mesin-cerita-di-dalam-dirimu telah habis dayanya, atau kau ingin mengakhirinya. Saatnya kau membutuhkan tempat untuk berbaring.

Di luar, suara kendaraan masih terdengar. Sudah tengah malam. Kota ini, kini yang tampak dari sudut benakku, terlalu asing kendati aku pernah melintasinya selama empat tahun. Kusebut “melintasi” karena aku tak benar-benar memasukinya. Ramai sekali, ya, kataku. Seakan-akan itu adalah keanehan atau pengalaman pertama yang ganjil.

Kami berpisah di sebuah jalan.

Iklan

Sebuah Halte

Di jalan yang lurus itu ada sebuah halte. Pudar warna hijau termakan waktu, tersusun rangka yang sudah berkarat—mengingatkan pada usia Bapak—dan kesepian di antara riuh kendaraan; nasib malang dari kebutuhan para pelaju yang mengandalkan kehadirannya.

Satu demi satu, setiap hari, bus yang berhenti di halte itu menciumi penumpang, sapaan yang terasa aneh bagi yang berharap akan tiba yang tepat, ke suatu tujuan tanpa perlu bertemu dengan yang lambat. Di tengah klakson yang adu-gegas, pertemuan halte dan bus seakan kisah cinta yang kuno. Adakah yang lebih tua dari umur sebuah jalan?

Seorang ibu, yang setia menunggu di halte itu, mendengar dengung dalam kepala: suara anaknya yang menolak kisah lama; legenda yang pernah mengisi lagu-lagu masa kanaknya. Perubahan, kata si ibu dalam diam yang hiruk, tak pernah serumit ini. Kita semakin tua sementara anak-anak semakin dewasa.

Kota juga kian mengabaikan usia tua. Seseorang, yang kebetulan menjadi walikota, perlu membangun sebuah taman, dengan air mancur yang sulit dijelaskan sumbernya, penuh warna lampu di pohonan palsu.

Di sebuah halte, mendadak saja, bersitatap dan mengobrol demi menunggu bus yang akan membawa kita pulang, terasa seperti rutin yang asing. Alamat tujuan dan rumah pulang adalah kepastian. Di sesela itu ada rasa kantuk, semangat yang menyebar dalam dada saat tanggal muda, serta hubungan yang dekat antara jari dan telepon pintar..

Si Bocah dan Pesawat Terbang

PETANG tadi seorang bocah, yang memegang mainan pesawat plastik bercat hijau dengan tali pengikat, berusaha terbang melintasi jalan ubin di depan rumah. Mesin pesawat itu berdengung dari mulutnya, tidak mengarah pada satu tujuan sebagaimana kamu merencanakan perjalanan, tapi si bocah kembali berputar menyeret pesawatnya — yang sejak tadi menyaruk tanah — dari ujung ke ujung gang. Ayahnya, tapi kupikir kakeknya, menyetop lintasan si bocah untuk mengambil jas hujan yang dijemur di pagar rumah yang kutempati; dan, saat berbalik melenggang halaman yang dirimbuni pohonan rambutan, si bocah mengikutinya sembari terus menarik pesawat itu.

Tiba-tiba hujan, yang menderas sedari pagi dengan gelegarnya yang meninabobokan, turun kembali dengan cara sesulit kamu menduga kematian.

Petang pun menyelam dengan rautnya yang basah. Si bocah telah menghilang. Jalan kembali sepi. Dan seperti himne, suara jangkrik bersahutan dari sepetak tanah liar di belakang rumah yang gelap.

Duapuluh tahun dari sekarang si bocah takkan mengingat dia pernah terbang dalam angan-angan.*

Buat seorang karib…

PAGI HARI pertama 2013, dari jendela kamar, saya memandang tumpukan dahan yang mengering, coklat, dan basah. Mereka ditumpuk di tepi tembok rumah belakang, disela petak kosong yang beberapa minggu lalu dibersihkan dari rerumput liar dan tanaman rambat. Di bawah penampung air berdiri pohon kedondong; satu-dua daun kuning memberi kontras pada dedaunan hijau yang merambati dahannya. Tanah berpasir, kini telah tumbuh lagi tanaman-tanaman mungil, hijau dan sederhana, menyimpan jejak hujan semalaman. Ada yang layu. Ada yang hilang. Angin tipis mengalir lewat celah jendela.

Pesta tahun baru masih tersimpan dalam suara saat langit dipadati gelegar petasan dan kembang api. Hingga pagi itu suaranya masih terasa seakan sedetik lalu. Saya menimbang-nimbang: saat sebagian besar orang menyambut pesta yang berulang-ulang ini, kamu justru tengah melafalkan doa mengiringi jenazah Mama kamu. Bahkan, tanpa momen sekontras itu, kematian tetap menyakitkan.

Sampai tengah malam sebelum paginya saya ke Jogja, kita masih menyimpan harapan untuk kesembuhan Mama-mu. Namun ada jeda dari nada suaramu, yang bergetar, kala menceritakan kabar kesehatan si Mama. Dan dengan selancar itu, saya sadari betapa dekatnya kamu menemani bulan-bulan pengobatan Mama kamu. Selebihnya, untuk sebagian besar, kita bicara ihwal yang menyelipkan tawa: rutinitas kerja, karib kita yang menikah, dan pembicaraan kesukaan.

Kamu masih sempat berkabar kala saya sudah di Stasiun Senen dan kita masih berharap Mama kamu lekas membaik. Hingga berjam-jam telepon seluler saya mati, dan saat diaktifkan setiba tujuan, kabar itu muncul semisterius kematian.

Ah, bilamana saya menuntut, tidakkah Tuhan mengundurkan rencananya sesudah malam Tahun Baru, sehingga kita yang dekat dengan yang sakit, yang koma, masih bisa sejenak berdoa menyambut persalinan tahun. Namun, kita tahu, kita tak pernah bisa.

Di pagi hari itu, saya memandang keluar jendela. Sekumpulan burung berkicau di kebun nangka di balik pagar tembok. Daun gugur dan tumbuh. Dan dalam situasimu, hati-yang-lapang berkeras menuntut lebih luas dari langit dan lebih dalam dari samudera.

Semoga tabah dan kamu segera baik, kawan… *

Upaya Menyambut Hujan

TAK ADA YANG PAS mendapatkan keberuntungan melihat hujan selain menatapnya lewat pintu Kopaja, sembari duduk di tepi bangku belakang kala Jakarta memuntahkan para pekerja bergegas pulang. Dari permainan dadu para filsuf ribuan tahun lalu, saya menyadari situasi di mana waktu berpihak pada saya. Dengan kenyamanan yang mewah di tengah penumpang yang berdesak-desakan, oksigen menyusut, dan bau keringat menguar, jarum-jarum hujan pun mengayun ke mulut pintu Kopaja, dan seketika percikannya menyapa saya.

Inilah saat yang tepat menyambut hujan. Tak ada yang lain. Bahkan saya sudah mengidamkannya saat lapisan mendung bergelayut sedari sore, menetap di sana sekukuh langit, dan terus berkelebat kala saya berada di angkot, menyusuri Slipi menuju Tenabang. Di bawah jalan layang, saya disambut deru angin yang deras menerpa wajah. Selintas kemudian, seiring Kopaja yang saya tumpangi kelak mencapai Cikini, lanskap di luar pun mencair, hujan turun malu-malu dan, persis saat itu, di Jalan Jatibaru, Eva Casssidy melantunkan “Ain’t No Sunshine”; suaranya mengembang melalui earphone. Mendadak saya menjadi kanak lagi.

Kedua penumpang, yang mengapit saya, tertidur. Di luar, dalam rahasia yang saya simpan, permainan pun dimulai. Ada mereka yang berlari kecil menghindari hujan, menepi di bawah pohon. Ada yang berjalan di trotoar sambil mengetatkan jaket bertudung. Ada seorang polisi yang kuyup mengatur lalu-lintas. Ada yang terpaksa naik Kopaja meski berdiri persis di gigir pintu, yang segera tersiram tempias hujan ketika, di lintasan Kebon Sirih, hujan kian kekal. Di suatu titik, sesudah Kopaja melewati Tugu Tani, tiga perempuan berdiri di bawah satu payung.

Saya mengingat-ingat terakhir kali saya melihat hujan. Sepertinya itu butuh konsentrasi, dan hal itu sulit saat kau berada di sebuah bus mungil yang jalannya berderak seperti lelaki tua. Mata saya tetap terjaga dan memandang ekspresi kelehahan para penumpang yang–seakan membentuk persekutuan rahasia–seringkali menghela nafas. Tepat di TIM saya turun. Hujan membahana. Dengan langkah lebar, sembari berlari kecil, saya menerabas tirai hujan. Kelak, dikejar jadwal putar sebuah film Iran, A Separation, saya menyimpan hujan di dalam sepatu. Itu terasa sepanjang film, kaos kaki yang basah, dan rasanya saya telah menyambut hujan dengan cara yang esoknya masih saya rawat dalam ingatan.*

Pertemuan

Seorang remaja menjual sop buah di tepi jalan itu. Ia menunggu pembeli seraya menghitung impian di dalam laci gerobak, yang selalu berisi peruntungan.

Kadang ada seorang pria datang di sela hari yang panas, memanggilnya Dek–mengingatkan pada ponakannya yang ditinggalkan kematian si ayah–dan remaja itu segera membuat sop buah.

Ia lantas mengambil sehelai kantung plastik, memasukkan pecahan-pecahan es, menuangkan bebuahan yang diirisnya: alpukat, nangka, melon, parutan kelapa, beberapa butir kelengkeng. Ia bekerja dengan diam dan canggung, seakan-akan menghitung impian dalam kepalanya yang bergerak-gerak.

Setiap pagi seorang penjual soto dari Madura membuka tenda dan memugar gerobak, dan hanya ia yang menemani si remaja, yang datang menyusul, yang tak pernah diketahui waktunya oleh si pria karena semalaman dihajar pekerjaan dan terjaga saat si remaja dan sop buahnya itu sudah ada di tepi jalan itu, sebagai selembar sejarah sehari-hari.

Mereka mengingat-ingat apa yang telah menyatukan sebuah tempat, dengan misteri perjalanan, dan lintasan aspal yang tak pernah tertidur.*

— lt. 3 | 05:00

Stasiun

Aku biarkan kamu berjalan di dalam tubuhku selagi aku tertidur, sederas apapun hujan awal tahun ini, atau sedingin apapun udaranya, dan saat-saat yang sudah lama kuidamkan: seketika pagi dan secangkir kopi. Namun belum pernah sesulit itu aku menerima stasiun sebagai bagian dari situasi ini, tempat yang sepertinya hanya menyimpan pertemuan dan perpisahan, berlalu begitu rutin seperti angin tak mengenal musim. Apakah yang perlu dikatakan?

Selembar tiket yang kusimpan dalam saku celana telah cukup jauh membawaku ke sini, sementara hujan yang gelisah telah berhenti di belakangmu. Di atas kepala kita, tulang-tulang atap, membeku dan dingin. Di bawah kaki kita, lintasan yang seringkali dengan kebetulan misterius menghubungkan kita pada nasib baik. Tetapi kerap juga hanya selembar peta dan kita menelusurinya dengan bayangan sendiri-sendiri.

Seseorang boleh saja begitu ringan melangkah, bersama impiannya berpindah dari kota ke kota, dan sebuah kota lain di dalam banyak impian lain, sekaligus mengabaikan bau tanah basah tempatnya melintas. Namun betapa sulit aku bicara, untuk menenangkan, sebab sejumlah kata, sekawanan percakapan, yang kucari-cari di dalam sosok kita yang lain, akhirnya, dibawa angin yang tak mengenal nada. Apakah yang kucatat dari perjalanan-perjalanan rutin ini?

Selagi kereta bergerak, seorang pekerja semen di depanku merindukan anaknya. Kami mengobrol hingga larut malam dan kami jatuh tertidur dan kutemukan kamu berjalan di dalam tubuhku.*