Kategori: Cerita

Bagaimana Membakar Sebuah Buku

Dinukil dari Buku Perpustakaan, karya nonfiksi Susan Orlean—terbit Oktober 2018. Terinspirasi dari peristiwa bersejarah terbakarnya sebuah perpustakaan di California, Orlean menantang rasa hormatnya: membakar cetakan terbaru Fahrenheit 451.

oleh Susan Orlean

Aku memutuskan membakar sebuah buku, karena aku ingin melihat dan merasakan apa yang akan dilihat dan dirasakan Harry di hari itu jika dia berada di perpustakaan itu, jika dia menyalakan api.

Membakar sebuah buku sungguh luar biasa sulit buatku. Sebenarnya, melakukannya sangat mudah, tapi menyiapkannya sungguh pukimak. Masalahnya aku takkan pernah punya dorongan hati buat merusak sebuah buku. Bahkan pada buku yang tak kuinginkan, atau pada buku-buku yang sangat usang dan rusak sehingga tak bisa dibaca lagi, lengket seperti getah.

Aku menumpuknya dengan niat membuangnya, dan kemudian, setiap kali tiba waktunya, aku tak kuasa melakukannya. Aku senang jika buku-buku itu kuberikan atau kudonasikan. Tapi aku tak bisa membuang buku ke tong sampah, tak peduli seberapa keras aku mencobanya. Pada saat-saat terakhir, sesuatu yang lengket menempel kedua lenganku, dan sebuah sensasi yang menimbulkan rasa jijik tumbuh dalam benakku. Seringkali aku berdiri di dekat tong sampah, memegang sebuah buku yang sampulnya robek dan jilidannya rusak, menimbang-nimbang dengan buku terjuntai, dan akhirnya, aku membiarkan tong sampah itu tertutup dan aku menyeret kakiku dengan si buku pukimak—serdadu yang babak belur, lusuh, dan terluka yang punya kesempatan hidup di hari lain.

Satu-satunya hal nyaris sebanding perasaan ini yang pernah kulakukan saat aku berusaha membuang tanaman, bahkan sekalipun tanaman paling bondas, berkutu, berakar bengkok di dunia. Sensasi melempar sebuah benda bernyawa itulah yang membuatku mual. Memiliki perasaan yang sama pada sebuah buku mungkin tampak janggal, tapi inilah alasanku mengapa buku punya jiwa—alasan apalagi emangnya sehingga aku begitu enggan melemparnya?

Bukan pada perkara bahwa aku membuang sehimpun jilidan kertas yang mudah dicetak ulang. Bukan seperti itu perasaanku. Sebuah buku terasa seperti sehimpun wujud yang hidup saat ini, dan juga hidup dalam ruang dan waktu, sejak sepetik ide meresap dalam alam pikir penulis hingga saat dilahirkan dari mesin cetak—garis hidup yang berlanjut ketika seseorang duduk dengannya dan mengaguminya, dan terus merentang dari waktu ke waktu ke waktu. Sekali kata-kata dan pikiran dituangkan, buku bukan lagi sekadar kertas dan tinta dan lem: Ia semacam daya hidup manusia. Penyair Milton pernah menyebut kualitas yang terkandung dalam buku sebagai “potensi kehidupan.” Aku tak yakin aku punya kemampuan sebagai pembunuh.

Sangat mudah menyalin apa pun hari ini, dan kebanyakan buku hadir dalam kelipatan tiada habisnya; satu buku tak lagi menyimpan keunikan ketika lahir dari proses yang rumit dan sulit. Jadi membakar sebuah buku biasa seharusnya mudah buatku. Tapi ternyata tidak; tidak sama sekali. Aku bahkan tak bisa memilih sebuah buku buat kubakar.

Pertama kupikir aku bisa membakar sebuah buku yang tak kusuka, tapi itu tampak terlalu agresif, seolah-olah aku menyukai tindakan eksekusi. Aku tahu aku takkan sanggup membakar sebuah buku yang kusuka. Aku pikir aku mampu membakar salah satu buku karyaku, tapi rupanya terlalu menguras batinku secara psikologis, dan aku punya banyak sekali salinan bukuku yang telah menjadi semacam sebuah komoditas lazim di rumahku, lebih seperti tepung atau tisu kertas ketimbang buku dalam pengertian sesungguhnya. Jadi ketika aku membuat keputusan membakar sebuah buku, aku memillah-milahnya berminggu-minggu, berusaha keras membuat standar apa yang bisa kupakai sebagai pijakan untuk memilih salah satunya. Segalanya keliru. Tatkala aku nyaris menyerah dengan gagasan itu, suamiku memberiku sebuah salinan terbaru Fahrenheit 451, buku karya Ray Bradbury tentang kekuatan menakutkan atas pembakaran buku, dan kutahu buku inilah yang bisa kupakai.

Aku memilih hari yang hangat dan tenang dan mendaki puncak bukit di halaman belakang rumah. Lembah San Fernando terhampar di depanku—segala pucuk pohon dan rumah dan gedung membaur berbintik-bintik; selayang selimut pucat tersulam di sana-sini dengan pijar suar merah, dan di atasnya, di langit biru, sebuah pesawat melintas, menyeret ekornya berjejak busa putih. Aku telah tinggal di Los Angles selama empat tahun. Aku tak pernah berpikir soal kebakaran sebelumnya, tapi kini aku tahu pikiran itu bercabang liar, dan aku harus menyiapkan diri untuk melumat serpihan-serpihan abu dan memadamkan kuncup-kuncup percik api yang melayang-layang.

Aku telah belajar banyak sejak pindah ke Los Angeles. Aku tahu Westside dari Eastside; aku tahu menghindari macet pada malam Oscar; aku tahu isyarat manis dan sanjungan sungguh elok yang bergema pada siapa pun di sini yang meratapi hidupnya bak segulung singkat cerita. Aku bisa membayangkan Harry Peak sekarang karena aku melihatnya setiap hari pada seorang pramusaji tampan yang menyiapkan meja untukku, dan di tempat gym ekstra yang kadang kala kutemui saat ada syuting film di lingkunganku—aku bisa mengenali pose mereka yang serba risau, seakan-akan setiap saat dijalari potensi mengubah seluruh hidup mereka. Aku melihatnya pada setiap orang yang mematut laptop di sebuah kedai kopi, menulis sepotong peran, dan pada gadis-gadis cantik yang memakai terlalu banyak maskara dan cat kuku di toko kelontong. Aku menyukai Los Angeles; aku bahkan menyukai dandanannya, ketamakannya, kedunguannya yang ambisius, ke-Harry-annya, karena berdenyut dengan emosi dan angan-angan dan keputusasaan, tersuguhkan dalam cara paling telanjang.

Tapi kini aku berada di atas bukit untuk membakar sebuah buku, jadi aku berpaling dari lembah dan meletakkan Fahrenheit 451.

Aku menaruh sekendi air, kotak korekapi bergambar ayam jago, dan kertas aluminium tempat aku meletakkan buku. Aku tak yakin apakah buku itu akan terbakar seketika atau api merambat pelan-pelan; merasa sangsi apakah langsung meletup atau aku akan duduk dan menyaksikan api menjilati halaman demi halaman demi halaman. Aku memilih membakar buku bersampul lunak (paperback), meskipun buku itu di perpustakaan bersampul keras (hardcover), karena aku khawatir buku hardcover bakal lama terbakar sehingga tetanggaku bakal melihat asap dan membunyikan alarm. Orang-orang di California bahkan melompat untuk mengurusi api, dan sejujurnya, aku agak takut atas apa yang mungkin terjadi jika api meletup tanpa kendali.

Aku menggores korek pertama dan gagal, jadi aku menyalakan korek kedua, yang meletik sepercik lidah api. Aku menuntunnya ke sampul buku Fahrenheit 451, yang dihiasi gambar geretan. Api meretih bak manik air dari pentol korek menuju sudut sampul. Kemudian menjalar. Berjalan mengarungi sampul buku nyaris seakan menggulungnya, seperti sebuah karpet, tapi ketika tergulung, sampulnya menghilang. Kemudian setiap lembar dalam buku itu terbakar.

Api pertama kali merembet ke sebuah pagina dengan pijar oranye dan pinggiran hitam. Lalu, dalam sekejap, percik oranye-hitam itu menyebar ke seluruh halaman, dan pagina itu lenyap—pembakaran nyaris seketika—dan seluruh buku itu terlumat dalam beberapa detik. Terjadi begitu cepat seakan-akan buku itu meledak; buku itu ada sana dan kemudian dalam sekejap hangus dan sementara hari masih hangat, langit masih biru, aku tak bergeser sedikit pun, kertas aluminium itu mengilap dan kosong kecuali remah-remah hitam berserak di atasnya.

Tiada apa pun yang tersisa, tiada jejak apa pun yang menyerupai sebuah buku, sekeping cerita, selembar halaman, sepetik ide.

Aku diberitahu bahwa api besar itu nyalang, garang, berangin, mengerang. Yang ini, sebaliknya, terjadi nyaris tanpa suara, hanya terdengar udara lembut berembus, lebih seperti berdesing, tatkala buku itu terbakar. Lembar demi lembar meranggas begitu cepat hingga nyaris meretih; suaranya lembut, seperti desis, atau seperti suara percik air dari pancuran.

Segera setelahnya, aku merasa seakan melompat dari pesawat, mungkin suatu reaksi alamiah atas perbuatan yang kutentang begitu kuat—ada rasa terpesona membetot naluriku sendiri, rasa girang betapa cantiknya nyalang api, dan rasa takut mengerikan pada daya tariknya dan kesadaran betapa cepat sehimpun wujud yang pepak kisah-kisah manusia dapat dibuat lenyap seketika.*

____

Susan Orlean, staf penulis The New Yorker, menulis banyak sekali buku; salah duanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: The Orchid Thief, 1998 (Pencuri Anggrek, Penerbit Banana, 2007); Rin Tin Tin: The Life and the Legend, 2011 (Rin Tin Tin – Kisah Hidup Seekor Anjing, Ufuk Press, 2012)

Iklan

Bagaimana kita selalu ingin mendengarkan kisah

KEMARIN malam aku bertemu dengan teman lama. Aku kira sebutan “teman lama” kuranglah mewakili. Atau aku ingin mengatakan begini: dia karib yang kamu kenal di satu kota lantas kamu pindah kota, dan setiap karib itu datang ke kota tempatmu tinggal, atau sebaliknya, kalian saling menyempatkan waktu untuk bertemu. Dengan “teman lama” itu adalah jenis laku persahabatan seperti itu. Saya kini di Jogja. Ia di Jakarta. Jadi, kemarin malam kami bertemu di sebuah warung kopi di pusat kota. Dan bilamana ada dua karib yang dipisahkan jarak, ucapan pertama yang lazimnya keluar adalah “Hai, apa kabarmu?”—atau semacam itu.

Lantas, obrolan berikutnya berdasarkan deret hitung yang dimulai dari jejak terbaru di belakang punggungmu: apa yang kamu lakukan barusan, apa yang kulakukan di kota ini, atau pertanyaan itu bisa disimpulkan dalam satu pertanyaan lazim: “Dalam rangka apa?” Dan seakan-akan setiap apa yang kita lakukan memiliki tujuan.

Namun jenis pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang dibikin sebagai bentuk profesionalisme—istilah “profesional”, meski sesaat, tampaknya dapat menghibur. (Contoh: Kamu bisa melihat seseorang yang mengenakan pakaian seragam, jenis pekerjaan yang membutuhkan atribut, tersenyum profesional saat kamu membutuhkan sesuatu yang praktis). Pertanyaan itu akan menguap seiring obrolan mulai ke segala arah, dipantik dari apa yang muncul di kepalamu, dan di suatu tempat di benakmu ada tombol yang bila kamu tekan kamu menemukan mesin-cerita-di-dalam-dirimu. Seperti itulah.

Ia bilang ia barusan mengetik-ulang 2 tjerita edjaan lama yang diminta kawannya yang pengarang. Satu tjerita berkisah tentang suami-istri petani penggarap lahan tumpang dengan banyak anak dan istri si petani itu hamil tua lantas melahirkan saat di ladang lalu secepat kilat, dengan detail yang kosong, si suami membawa istrinya dengan gerobak mesin ke saudaranya dan di dalam gerobak itu ada anak-anak mereka.

Tjerita lainnya mengenai seorang pegawai anonim di tengah masyarakat birokratis yang mencari kehangatan di musim dingin ke sebuah gedung kementerian lalu pegawai anonim itu disuruh meminta mengumpulkan sumbangan bagi pegawai yang mendapat kesulitan dan rupanya menghasilkan cukup banyak uang dan dia punya ide tipuan untuk melakukan hal sama lantas dia menimbang uang sumbangan itu untuk hidupnya di musim panas tapi kemudian saat hari itu tiba dia meninggal mendadak, tanpa sebab yang jelas, dan orang2 di kementerian merasa kasihan karena pegawai anonim itu telah berjasa mengumpukan banyak uang untuk orang yang kena musibah (yang sebetulnya fiktif tapi mereka tak mengetahuinya) lalu mereka menyumbang untuk pemakamannya sebesar jumlah uang selama ini dia kumpulkan.

Aku tertawa mendengar cerita itu.

Ia bilang kata-kata dari edjaan lawas itu ada yang tak diketahuinya—sungguh membuat kita merasa berada ratusan kilometer dari gajah purba yang menyusut sebesar semut. Ia mengetiknya dalam ejaan sekarang.

Well, kubilang, perjalananku kali ini ditemani Amin Maalouf, pengarang kelahiran Beirut, lewat novelnya yang diterbitkan YOI, Cadas Tanios, yang kubaca lagi. Kubilang Ronny Agustinus memberi kredensial pada kualitas terjemahan Ida Sundari Husen, yang disinggung di blognya bahwa penerjemahnya telah “menghadirkan mahakarya Amin Maalouf … ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat memikat.” Kubilang Maalouf, sependek yang kubaca, belum banyak diserap para pengarang Indonesia. Karena kami sama-sama membaca karya Gabriel García Márquez dan Pramoedya Ananta Toer, kubilang apa yang kutahu saja, atau kurasakan: Maalouf berada di antara kedua style mereka. Ia tidak semenggebu dan seheroik penceritaan a la Gabo tapi juga tak serealis Pram. Aku mengutip kalimat pertama sebuah bab di novel Tanios, “Pada masa itu langit begitu rendah, saking rendahnya sampai orang-orang harus berjalan menunduk.” Ia merespons dengan berkata HA, lantas tertawa, lalu mengangguk-anggukkan kepala. (Belakangan, saat aku mengetik ini, dengan membuka lagi rujukan kalimat itu, teks persisnya, “Pada masa itu, langit demikian rendah sehingga tak seorang pun berani berdiri tegak.”) Kalimat itu adalah simbolisme atas kekuasaan.

Obrolan lain bahwa ia akan keluar kota besok, dan bagaimana kini ia tinggal di sebuah rumah di mana untuk ke kantornya ia menggunakan kereta dan, dari sistem baru yang belum pernah kualami, tiket kereta dalam kota di Jakarta menggunakan kartu. Aku pengin tahu bagaimana Sistem itu membentuk Perjalanan yang Sistematis lewat Transportasi yang Efektif. Kubilang, sembari mengingat-ingat, terakhir kali aku memakai kereta komuter pada akhir 2012 saat aku harus mengantar sepeda lipat ke karib pemilik sepeda itu dan hari itu hujan lebat dan beberapa hari kemudian aku pindah kota ke Jogja.

Kami memang sering bercerita mengenai sesuatu yang tak ada sangkut-pautnya sama sekali mengenai “dalam rangka apa”, tapi seringkali terkait pada satu peristiwa. Terakhir, pada saat Kelud metelus, ia harus pulang dari kota S menuju Jakarta dan bandara di sana tutup karena berselimut abu dan ia akhirnya naik kereta. Kereta itu melewati stasiun Tugu dan ia sempat memfotonya dan ia menunjukkan padaku sebuah mobil pengangkut minyak yang tertutup abu. Kubilang juga abu Kelud telah menghentikan rutinitasku seperti lampu yang mendadak padam. Kita merasa sia-sia membersihkannya bila hujan belum juga turun karena, pada saat aku naik ke atap genteng rumah, seluruh yang kita lihat adalah selimut putih pucat. Kuingat lagi kini bahwa angin yang menderu dari arah utara mengibaskan abu sangat tajam itu sampai membentuk lapisan-lapisan ringan dan memedihkan mataku dan aku bagai menjumpai sekumpulan arwah yang tersesat.

Kami terus mengisahkan sejumlah hal lain. Namun, pada satu titik, mesin-cerita-di-dalam-dirimu telah habis dayanya, atau kau ingin mengakhirinya. Saatnya kau membutuhkan tempat untuk berbaring.

Di luar, suara kendaraan masih terdengar. Sudah tengah malam. Kota ini, kini yang tampak dari sudut benakku, terlalu asing kendati aku pernah melintasinya selama empat tahun. Kusebut “melintasi” karena aku tak benar-benar memasukinya. Ramai sekali, ya, kataku. Seakan-akan itu adalah keanehan atau pengalaman pertama yang ganjil.

Kami berpisah di sebuah jalan.

Sebuah Halte

Di jalan yang lurus itu ada sebuah halte. Pudar warna hijau termakan waktu, tersusun rangka yang sudah berkarat—mengingatkan pada usia Bapak—dan kesepian di antara riuh kendaraan; nasib malang dari kebutuhan para pelaju yang mengandalkan kehadirannya.

Satu demi satu, setiap hari, bus yang berhenti di halte itu menciumi penumpang, sapaan yang terasa aneh bagi yang berharap akan tiba yang tepat, ke suatu tujuan tanpa perlu bertemu dengan yang lambat. Di tengah klakson yang adu-gegas, pertemuan halte dan bus seakan kisah cinta yang kuno. Adakah yang lebih tua dari umur sebuah jalan?

Seorang ibu, yang setia menunggu di halte itu, mendengar dengung dalam kepala: suara anaknya yang menolak kisah lama; legenda yang pernah mengisi lagu-lagu masa kanaknya. Perubahan, kata si ibu dalam diam yang hiruk, tak pernah serumit ini. Kita semakin tua sementara anak-anak semakin dewasa.

Kota juga kian mengabaikan usia tua. Seseorang, yang kebetulan menjadi walikota, perlu membangun sebuah taman, dengan air mancur yang sulit dijelaskan sumbernya, penuh warna lampu di pohonan palsu.

Di sebuah halte, mendadak saja, bersitatap dan mengobrol demi menunggu bus yang akan membawa kita pulang, terasa seperti rutin yang asing. Alamat tujuan dan rumah pulang adalah kepastian. Di sesela itu ada rasa kantuk, semangat yang menyebar dalam dada saat tanggal muda, serta hubungan yang dekat antara jari dan telepon pintar..

Si Bocah dan Pesawat Terbang

PETANG tadi seorang bocah, yang memegang mainan pesawat plastik bercat hijau dengan tali pengikat, berusaha terbang melintasi jalan ubin di depan rumah. Mesin pesawat itu berdengung dari mulutnya, tidak mengarah pada satu tujuan sebagaimana kamu merencanakan perjalanan, tapi si bocah kembali berputar menyeret pesawatnya — yang sejak tadi menyaruk tanah — dari ujung ke ujung gang. Ayahnya, tapi kupikir kakeknya, menyetop lintasan si bocah untuk mengambil jas hujan yang dijemur di pagar rumah yang kutempati; dan, saat berbalik melenggang halaman yang dirimbuni pohonan rambutan, si bocah mengikutinya sembari terus menarik pesawat itu.

Tiba-tiba hujan, yang menderas sedari pagi dengan gelegarnya yang meninabobokan, turun kembali dengan cara sesulit kamu menduga kematian.

Petang pun menyelam dengan rautnya yang basah. Si bocah telah menghilang. Jalan kembali sepi. Dan seperti himne, suara jangkrik bersahutan dari sepetak tanah liar di belakang rumah yang gelap.

Duapuluh tahun dari sekarang si bocah takkan mengingat dia pernah terbang dalam angan-angan.*

Buat seorang karib…

PAGI HARI pertama 2013, dari jendela kamar, saya memandang tumpukan dahan yang mengering, coklat, dan basah. Mereka ditumpuk di tepi tembok rumah belakang, disela petak kosong yang beberapa minggu lalu dibersihkan dari rerumput liar dan tanaman rambat. Di bawah penampung air berdiri pohon kedondong; satu-dua daun kuning memberi kontras pada dedaunan hijau yang merambati dahannya. Tanah berpasir, kini telah tumbuh lagi tanaman-tanaman mungil, hijau dan sederhana, menyimpan jejak hujan semalaman. Ada yang layu. Ada yang hilang. Angin tipis mengalir lewat celah jendela.

Pesta tahun baru masih tersimpan dalam suara saat langit dipadati gelegar petasan dan kembang api. Hingga pagi itu suaranya masih terasa seakan sedetik lalu. Saya menimbang-nimbang: saat sebagian besar orang menyambut pesta yang berulang-ulang ini, kamu justru tengah melafalkan doa mengiringi jenazah Mama kamu. Bahkan, tanpa momen sekontras itu, kematian tetap menyakitkan.

Sampai tengah malam sebelum paginya saya ke Jogja, kita masih menyimpan harapan untuk kesembuhan Mama-mu. Namun ada jeda dari nada suaramu, yang bergetar, kala menceritakan kabar kesehatan si Mama. Dan dengan selancar itu, saya sadari betapa dekatnya kamu menemani bulan-bulan pengobatan Mama kamu. Selebihnya, untuk sebagian besar, kita bicara ihwal yang menyelipkan tawa: rutinitas kerja, karib kita yang menikah, dan pembicaraan kesukaan.

Kamu masih sempat berkabar kala saya sudah di Stasiun Senen dan kita masih berharap Mama kamu lekas membaik. Hingga berjam-jam telepon seluler saya mati, dan saat diaktifkan setiba tujuan, kabar itu muncul semisterius kematian.

Ah, bilamana saya menuntut, tidakkah Tuhan mengundurkan rencananya sesudah malam Tahun Baru, sehingga kita yang dekat dengan yang sakit, yang koma, masih bisa sejenak berdoa menyambut persalinan tahun. Namun, kita tahu, kita tak pernah bisa.

Di pagi hari itu, saya memandang keluar jendela. Sekumpulan burung berkicau di kebun nangka di balik pagar tembok. Daun gugur dan tumbuh. Dan dalam situasimu, hati-yang-lapang berkeras menuntut lebih luas dari langit dan lebih dalam dari samudera.

Semoga tabah dan kamu segera baik, kawan… *

Upaya Menyambut Hujan

TAK ADA YANG PAS mendapatkan keberuntungan melihat hujan selain menatapnya lewat pintu Kopaja, sembari duduk di tepi bangku belakang kala Jakarta memuntahkan para pekerja bergegas pulang. Dari permainan dadu para filsuf ribuan tahun lalu, saya menyadari situasi di mana waktu berpihak pada saya. Dengan kenyamanan yang mewah di tengah penumpang yang berdesak-desakan, oksigen menyusut, dan bau keringat menguar, jarum-jarum hujan pun mengayun ke mulut pintu Kopaja, dan seketika percikannya menyapa saya.

Inilah saat yang tepat menyambut hujan. Tak ada yang lain. Bahkan saya sudah mengidamkannya saat lapisan mendung bergelayut sedari sore, menetap di sana sekukuh langit, dan terus berkelebat kala saya berada di angkot, menyusuri Slipi menuju Tenabang. Di bawah jalan layang, saya disambut deru angin yang deras menerpa wajah. Selintas kemudian, seiring Kopaja yang saya tumpangi kelak mencapai Cikini, lanskap di luar pun mencair, hujan turun malu-malu dan, persis saat itu, di Jalan Jatibaru, Eva Casssidy melantunkan “Ain’t No Sunshine”; suaranya mengembang melalui earphone. Mendadak saya menjadi kanak lagi.

Kedua penumpang, yang mengapit saya, tertidur. Di luar, dalam rahasia yang saya simpan, permainan pun dimulai. Ada mereka yang berlari kecil menghindari hujan, menepi di bawah pohon. Ada yang berjalan di trotoar sambil mengetatkan jaket bertudung. Ada seorang polisi yang kuyup mengatur lalu-lintas. Ada yang terpaksa naik Kopaja meski berdiri persis di gigir pintu, yang segera tersiram tempias hujan ketika, di lintasan Kebon Sirih, hujan kian kekal. Di suatu titik, sesudah Kopaja melewati Tugu Tani, tiga perempuan berdiri di bawah satu payung.

Saya mengingat-ingat terakhir kali saya melihat hujan. Sepertinya itu butuh konsentrasi, dan hal itu sulit saat kau berada di sebuah bus mungil yang jalannya berderak seperti lelaki tua. Mata saya tetap terjaga dan memandang ekspresi kelehahan para penumpang yang–seakan membentuk persekutuan rahasia–seringkali menghela nafas. Tepat di TIM saya turun. Hujan membahana. Dengan langkah lebar, sembari berlari kecil, saya menerabas tirai hujan. Kelak, dikejar jadwal putar sebuah film Iran, A Separation, saya menyimpan hujan di dalam sepatu. Itu terasa sepanjang film, kaos kaki yang basah, dan rasanya saya telah menyambut hujan dengan cara yang esoknya masih saya rawat dalam ingatan.*

Pertemuan

Seorang remaja menjual sop buah di tepi jalan itu. Ia menunggu pembeli seraya menghitung impian di dalam laci gerobak, yang selalu berisi peruntungan.

Kadang ada seorang pria datang di sela hari yang panas, memanggilnya Dek–mengingatkan pada ponakannya yang ditinggalkan kematian si ayah–dan remaja itu segera membuat sop buah.

Ia lantas mengambil sehelai kantung plastik, memasukkan pecahan-pecahan es, menuangkan bebuahan yang diirisnya: alpukat, nangka, melon, parutan kelapa, beberapa butir kelengkeng. Ia bekerja dengan diam dan canggung, seakan-akan menghitung impian dalam kepalanya yang bergerak-gerak.

Setiap pagi seorang penjual soto dari Madura membuka tenda dan memugar gerobak, dan hanya ia yang menemani si remaja, yang datang menyusul, yang tak pernah diketahui waktunya oleh si pria karena semalaman dihajar pekerjaan dan terjaga saat si remaja dan sop buahnya itu sudah ada di tepi jalan itu, sebagai selembar sejarah sehari-hari.

Mereka mengingat-ingat apa yang telah menyatukan sebuah tempat, dengan misteri perjalanan, dan lintasan aspal yang tak pernah tertidur.*

— lt. 3 | 05:00