Kategori: Keseharian

Kucing, Pekerjaan Rumah, dan Bacaan

Sejumlah bacaan untuk naskah tentang Aceh
Sejumlah bacaan untuk naskah tentang Aceh

SAYA dikejutkan pada akhir tahun lalu, empat kucing di rumah meninggal akibat virus mematikan dalam sepekan. Itu juga pelajaran yang kelak menjadi bekal bagi kami: bagaimana merawat kucing-kucing kampung yang kadung datang ke kehidupan kami, bahkan ketika pada awalnya hanya dari kehilangan ikan banjar goreng di dapur, disantap dengan sentosa dalam lambung si kucing yang, seperti umumnya kucing, tak menunjukkan rona muka bersalah kemudian.

Dan cerita setelahnya bukanlah sejarah, tapi saat ini.

Ada rengekan saban pagi dan petang untuk jadwal makan. Malam-malam, ketika terjangan birahi membadai dari si kucing, ada ngeong memekakkan di sembarang tempat yang tidak romantis amat: di tepi dinding sumur, di atas genteng, di lorong gelap. Pada bulan puasa tahun lalu menjelang Lebaran, ia melahirkan, dengan tiga anak; satu jantan, dua betina. Kami meninggalkan mereka dengan makanan yang cukup untuk tiga hari saat mudik. Pada pertengahan Agustus, ketika saya di Aceh, mereka sudah bisa bermain di luar dan mulai memiliki nama. Kami juga mendapatkan dua ekor tambahan sebagai adopsi, yang kami kira sementara tapi justru selamanya. Sampai musim hujan yang tiba pada akhir tahun, musim buruk yang menewaskan banyak kucing (demikian menurut dokter hewan keliling), membuat mereka terserang epidemi. Kami masih baru dalam merawat, dan hal ini jadi keteledoran utama dari kematian mereka, ketika dokter hanya berani memeriksa dua kucing yang sudah dalam keadaan menjemput maut. Itu virus yg terkenal yang melumpuhkan kesehatan kucing seketika. Besoknya, dan nyaris selama sepekan, kami mengubur satu demi satu kucing di satu kebun di depan rumah. Serangan itu hanya menyisakan satu ekor jantan, dan si induk betina pun selamat.

Pada pergantian tahun, kami memutuskan pindah.

Di tempat baru kami cepat menjaga si kitten jantan dalam keadaan yang pendiam, barangkali sedih, barangkali pula tengah melawan virus yang gagal membunuhnya. Terbiasa dikelilingi banyak kucing, dan merasa si jantan mungkin juga kesepian, pada satu malam, saya membawa seekor anak kucing betina yang satu kakinya terluka, lagi-lagi datang begitu saja di tengah obrolan saya dan teman-teman di sebuah pendopo. Ia kemudian bisa berjalan normal dan mulai bermain dengan si jantan yang selamat. Ada bonus tambahan, lagi-lagi, si induk betina melahirkan lagi. Kemudian, seekor kucing betina di kampung tempat kami tinggal sering datang ke rumah dan, mau tidak mau, ia pun kami adopsi. Lalu ada rintihan dari seekor bayi kucing yang dibuang di sebuah petak kosong di tepi jalan, yang suaranya terdengar dari rumah kami, pada malam buta. Ia kelak mengalami luka pada satu matanya, dan ia mendapatkan asupan susu dari si induk betina. Kini kami memiliki delapan ekor kucing sembari mengendalikan populasi mereka. Bulan ini ada dua betina yang akan kami bawa untuk disteril lewat satu perkumpulan pecinta kucing lokal sesudah dua kucing lain sudah dipadamkan birahinya secara medis.

Kucing-kucing, anda tahu, menyimpan jalinan perasaan yang adiktif. Mereka makhluk egosentris, memandang diri mereka sebagai majikan sekaligus, mengutip Murakami, “makhluk kecil yang lemah dan mudah terluka.” Sekali anda merawat, anda sulit melepasnya.

Tetapi, pada saat bersamaan, saya masih membawa pekerjaan dari tahun lalu. Pelan dan sangat pelan, pada akhirnya, saya bisa menyelesaikannya pada bulan lalu, sehimpun naskah dari riset saya di Aceh. Dan itu adalah proses belajar bagi saya pribadi, secara pemikiran, sebab ada banyak buku yang saya baca, ada sebagian laporan di sebagian jurnal yang perlu bagi saya untuk membacanya dengan penuh sabar. Ia akan terbit pada pertengahan tahun ini.

Meski begitu, ada selalu kesempatan lain untuk mencuri waktu guna membuka buku yang berminat, dengan sukarela, untuk saya baca. Ada buku narasi nonfiksi terjemahan: Negeri Fast Food karangan Eric Schlosser, wartawan Atlantic Monthly, dicetak ulang Insist lewat ‘print on demand’; dan yang kedua, The Lost City of Z (Gramedia, 2015) karangan David Grann, wartawan The New Yorker. Pada satu malam saya juga membaca sekumpulan cerita pendek terbaru dari Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Bentang Pustaka, 2015). Saya mungkin akan mengulas buku-buku yang sudah selesai saya baca, kendati kadang itu seringnya saya abaikan.

Ketiganya—kucing, pekerjaan menulis dan menyunting, membaca—bermuara pada satu tempat: rumah.

Tahun lalu: ada dua buku yang saya ikut terlibat di dalamnya, sebagai penyunting dan penulis. Tahun ini, untuk sementara, ada satu buku yang akan terbit. Mungkin ada sejumlah lain yang menyusul. Tahun ini pula saya telah menimbang beberapa isu, juga sejumlah profil, yang akan saya pilih salah satunya untuk saya lakukan liputan, satu kesenangan yang terakhir saya jalani tiga tahun lalu. Tentu saja, saya harus menyelesaikan sejumlah deadline lain.

Imbasnya pula, jurnal pribadi ini tambah sepi sonder disapa.[]

Apa yang akan saya lakukan di hari pemilihan

DALAM EDISI 1, Mafalda—cewek paling kocak se-komik politik (perlukah saya sebut sedunia?)—mengatakan kalau POLITIK adalah kata jorok. Dalam usia saya melewati angka 30, tak sekalipun saya ikut pesta politik di Indonesia. Kini ada sihir baru, dalil yang dihembuskan sejak Soeharto jatuh, bahwa “Waktu Anda 5 menit di Tempat Pembuangan Pemungutan Sampah Suara menentukan NASIB BANGSA 5 tahun ke depan.” Saya tak mengira betapa beratnya jadi pemilih.

Misalnya saya jadi ibu saya (Ia kini berjalan dengan bantuan dipapah—Semoga Tuhan memberinya umur panjang dan kesembuhan), dalam seluruh hidupnya, sekali lagi, ia akan memilih seorang caleg. Dipastikan puluhan caleg telah menjanjikan macam-macam, termasuk mengaspal jalan kampung (Padahal yang dibutuhkan pelebaran sungai yang menyusut jadi selangkahan kaki dari selebar tiga perahu sewaktu saya kecil) atau telah memberinya uang. Pada hari berikutnya sesudah memilih, ia akan di rumah seraya menyembuhkan kakinya dari serangan diabetes basah. Ia akan menunggu hari rutin berobat jalan. Hingga akhir tahun (sesuai harapan saya), pelan-pelan lukanya sembuh dan kering. Dalam empat tahun ke depan ia akan melihat cucu-cucunya tak bisa lagi digendong, dan ia juga menyaksikan cucunya bertambah. Pada 2019 caleg lama dan baru akan datang lagi, menjanjikan macam-macam lagi, dan sekali lagi ia menjadi pemilih. Bangsa Memanggil Tugas 5 Menit Dalam Hidup Anda. Jangan Sia-Siakan. Mari Mencoblos. Begitulah seterusnya.

Sekarang, dalam seruan yang diulang-ulang nyaris seperti kebohongan, ibu saya menentukan Nasib Bangsa. Panggilan mulia, sebagaimana sering kita baca dari cerita pahlawan atau pecundang, datang pertama-tama bukan dari langit, tapi dari kehendak. Orang menyebutnya ambisi. Bayangkan, semua orang punya ambisi yang sama: nasib bangsa 5 tahun ke depan di tangan Anda. Saya tak mengira betapa beratnya jadi seorang pesimis.

Dua hari terakhir sebelum pemilihan caleg, didorong oleh riuh-rendah (termasuk pawai simpatisan parpol di jalan-jalan raya, tentu saja dengan menaikkan desibel suara diwakli oleh knalpot), saya mencari-cari calon saya di dapil saya untuk nanti saya akan membuang suara (mereka menyebutnya Aspirasi) lewat kotak buaya suara. Saya hanya mengenal satu nama, tetangga saya, rumah yang saya tempati adalah bekas miliknya, sebelum dijual di mana hasilnya ia pakai untuk kampanye. Istri saya menyarankan, kendati saya menimbang sudah telat banget, untuk datang ke Pak RT guna mencari tahu Cara Mendaftar Sebagai Pemilih bagi Pendaftar Penduduk Sementara. Siang ini, saya terkejut betapa dorongan untuk “memilih tidak memilih” lebih besar. Mengapa? Saya mencari-cari tahu dan saya tak punya alasan yang bagus. Namun saya justru punya bayangan Apa yang akan Saya Lakukan di Hari Pemilihan.

Saya akan bangun siang. Dini hari sebelumnya saya menonton bola. Sesudah bangun, saya akan menyapu halaman. Saya akan mencuci piring dan gelas kotor. Malam sebelumnya kami mengundang teman-teman untuk ngopi bareng di rumah. Saya akan menyaksikan sehari tanpa keramaian pencoblosan. Mungkin malam atau esoknya saya akan tahu apakah tetangga saya menangguk suara yang memberinya jalan sebagai Wakil Rakyat ke DPRD Kabupaten. Tapi sebatas penasaran. Selebihnya, seperti hal terdekat dari hidup saya, hal semacam itu kalah penting dari kucing kami apakah telah hamil atau belum. Lantas saya akan mengomel jika pemerintahan ini sungguh buruk. Saya akan diingatkan oleh Orang Paling Benar Se-Indonesia kalau saya tak berhak mengomel karena saya tak ikut mencoblos. Seharian saat pencoblosan saya sudah membayangkan kalau saya akan membaca cerita-cerita Feng Menglong (saya bahkan tak sabar untuk mengulas buku tsb).

Demikianlah. Lima tahun ke depan saya masih tak tahu saya ada di mana. Tapi Indonesia, negara-bangsa itu, masih ada di antara Samudera Indonesia dan Laut Cina Selatan. Namun, saya berharap Papua sudah memisahkan diri. Dan, sebagaimana ibu saya, mengutip Mafalda, saya sedih harus meninggalkan kehidupan buta huruf.[]

Bagaimana kita selalu ingin mendengarkan kisah

KEMARIN malam aku bertemu dengan teman lama. Aku kira sebutan “teman lama” kuranglah mewakili. Atau aku ingin mengatakan begini: dia karib yang kamu kenal di satu kota lantas kamu pindah kota, dan setiap karib itu datang ke kota tempatmu tinggal, atau sebaliknya, kalian saling menyempatkan waktu untuk bertemu. Dengan “teman lama” itu adalah jenis laku persahabatan seperti itu. Saya kini di Jogja. Ia di Jakarta. Jadi, kemarin malam kami bertemu di sebuah warung kopi di pusat kota. Dan bilamana ada dua karib yang dipisahkan jarak, ucapan pertama yang lazimnya keluar adalah “Hai, apa kabarmu?”—atau semacam itu.

Lantas, obrolan berikutnya berdasarkan deret hitung yang dimulai dari jejak terbaru di belakang punggungmu: apa yang kamu lakukan barusan, apa yang kulakukan di kota ini, atau pertanyaan itu bisa disimpulkan dalam satu pertanyaan lazim: “Dalam rangka apa?” Dan seakan-akan setiap apa yang kita lakukan memiliki tujuan.

Namun jenis pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang dibikin sebagai bentuk profesionalisme—istilah “profesional”, meski sesaat, tampaknya dapat menghibur. (Contoh: Kamu bisa melihat seseorang yang mengenakan pakaian seragam, jenis pekerjaan yang membutuhkan atribut, tersenyum profesional saat kamu membutuhkan sesuatu yang praktis). Pertanyaan itu akan menguap seiring obrolan mulai ke segala arah, dipantik dari apa yang muncul di kepalamu, dan di suatu tempat di benakmu ada tombol yang bila kamu tekan kamu menemukan mesin-cerita-di-dalam-dirimu. Seperti itulah.

Ia bilang ia barusan mengetik-ulang 2 tjerita edjaan lama yang diminta kawannya yang pengarang. Satu tjerita berkisah tentang suami-istri petani penggarap lahan tumpang dengan banyak anak dan istri si petani itu hamil tua lantas melahirkan saat di ladang lalu secepat kilat, dengan detail yang kosong, si suami membawa istrinya dengan gerobak mesin ke saudaranya dan di dalam gerobak itu ada anak-anak mereka.

Tjerita lainnya mengenai seorang pegawai anonim di tengah masyarakat birokratis yang mencari kehangatan di musim dingin ke sebuah gedung kementerian lalu pegawai anonim itu disuruh meminta mengumpulkan sumbangan bagi pegawai yang mendapat kesulitan dan rupanya menghasilkan cukup banyak uang dan dia punya ide tipuan untuk melakukan hal sama lantas dia menimbang uang sumbangan itu untuk hidupnya di musim panas tapi kemudian saat hari itu tiba dia meninggal mendadak, tanpa sebab yang jelas, dan orang2 di kementerian merasa kasihan karena pegawai anonim itu telah berjasa mengumpukan banyak uang untuk orang yang kena musibah (yang sebetulnya fiktif tapi mereka tak mengetahuinya) lalu mereka menyumbang untuk pemakamannya sebesar jumlah uang selama ini dia kumpulkan.

Aku tertawa mendengar cerita itu.

Ia bilang kata-kata dari edjaan lawas itu ada yang tak diketahuinya—sungguh membuat kita merasa berada ratusan kilometer dari gajah purba yang menyusut sebesar semut. Ia mengetiknya dalam ejaan sekarang.

Well, kubilang, perjalananku kali ini ditemani Amin Maalouf, pengarang kelahiran Beirut, lewat novelnya yang diterbitkan YOI, Cadas Tanios, yang kubaca lagi. Kubilang Ronny Agustinus memberi kredensial pada kualitas terjemahan Ida Sundari Husen, yang disinggung di blognya bahwa penerjemahnya telah “menghadirkan mahakarya Amin Maalouf … ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat memikat.” Kubilang Maalouf, sependek yang kubaca, belum banyak diserap para pengarang Indonesia. Karena kami sama-sama membaca karya Gabriel García Márquez dan Pramoedya Ananta Toer, kubilang apa yang kutahu saja, atau kurasakan: Maalouf berada di antara kedua style mereka. Ia tidak semenggebu dan seheroik penceritaan a la Gabo tapi juga tak serealis Pram. Aku mengutip kalimat pertama sebuah bab di novel Tanios, “Pada masa itu langit begitu rendah, saking rendahnya sampai orang-orang harus berjalan menunduk.” Ia merespons dengan berkata HA, lantas tertawa, lalu mengangguk-anggukkan kepala. (Belakangan, saat aku mengetik ini, dengan membuka lagi rujukan kalimat itu, teks persisnya, “Pada masa itu, langit demikian rendah sehingga tak seorang pun berani berdiri tegak.”) Kalimat itu adalah simbolisme atas kekuasaan.

Obrolan lain bahwa ia akan keluar kota besok, dan bagaimana kini ia tinggal di sebuah rumah di mana untuk ke kantornya ia menggunakan kereta dan, dari sistem baru yang belum pernah kualami, tiket kereta dalam kota di Jakarta menggunakan kartu. Aku pengin tahu bagaimana Sistem itu membentuk Perjalanan yang Sistematis lewat Transportasi yang Efektif. Kubilang, sembari mengingat-ingat, terakhir kali aku memakai kereta komuter pada akhir 2012 saat aku harus mengantar sepeda lipat ke karib pemilik sepeda itu dan hari itu hujan lebat dan beberapa hari kemudian aku pindah kota ke Jogja.

Kami memang sering bercerita mengenai sesuatu yang tak ada sangkut-pautnya sama sekali mengenai “dalam rangka apa”, tapi seringkali terkait pada satu peristiwa. Terakhir, pada saat Kelud metelus, ia harus pulang dari kota S menuju Jakarta dan bandara di sana tutup karena berselimut abu dan ia akhirnya naik kereta. Kereta itu melewati stasiun Tugu dan ia sempat memfotonya dan ia menunjukkan padaku sebuah mobil pengangkut minyak yang tertutup abu. Kubilang juga abu Kelud telah menghentikan rutinitasku seperti lampu yang mendadak padam. Kita merasa sia-sia membersihkannya bila hujan belum juga turun karena, pada saat aku naik ke atap genteng rumah, seluruh yang kita lihat adalah selimut putih pucat. Kuingat lagi kini bahwa angin yang menderu dari arah utara mengibaskan abu sangat tajam itu sampai membentuk lapisan-lapisan ringan dan memedihkan mataku dan aku bagai menjumpai sekumpulan arwah yang tersesat.

Kami terus mengisahkan sejumlah hal lain. Namun, pada satu titik, mesin-cerita-di-dalam-dirimu telah habis dayanya, atau kau ingin mengakhirinya. Saatnya kau membutuhkan tempat untuk berbaring.

Di luar, suara kendaraan masih terdengar. Sudah tengah malam. Kota ini, kini yang tampak dari sudut benakku, terlalu asing kendati aku pernah melintasinya selama empat tahun. Kusebut “melintasi” karena aku tak benar-benar memasukinya. Ramai sekali, ya, kataku. Seakan-akan itu adalah keanehan atau pengalaman pertama yang ganjil.

Kami berpisah di sebuah jalan.

Pulang

LEBARAN tahun ini tak biasanya saya tak semangat mudik. Biasanya saya akan mengosongkan satu minggu sebelum dan sesudah Lebaran di rumah. Mungkin karena saya sudah menikah. Mungkin jika kelak kita sudah punya anak, kataku pada istri (kami masih canggung menyebut sapaan ini sebagaimana ia menyebutku suami), lebaran artinya berkunjung ke rumah kakek-nenek (semoga Tuhan memberi mereka umur panjang). Bila akhirnya anda tahu sesuatu yang disebut “rumah”, perjalanan pulang (ke kampung halaman) beralih makna jadi pergi.

Kemarin Emak bilang adalah lumrah bila kita sudah menikah akan menemukan alasan untuk tidak pulang. Tapi saya tahu, dalam jalinan janin bayi yang pernah lahir dari rahimnya, Emak merindukan anak-anaknya. Saya akan pulang menjenguk Emak sesudah lebaran, kataku. Sesungguhnya saya khawatir mengenai kondisinya. Berobat kesana-kemari, gonta-ganti dokter hingga sakitnya kian membaik, kabar dari Mbak saya, Emak bilang ia ingin segera sembuh. Mas juga sebelum hari lahirnya (saya belakangan tahu dari pesan pengingat di Facebok) mengatakan ada baiknya saya meluangkan waktu menengok Emak. Mas sudah dua kali, katanya. Bapak juga sempat jatuh, kata Mbak, tapi baik-baik saja, syukurlah. Kasihan Bapak, kata Mbak dalam percakapan terakhir, ia mengurus Emak selama bulan puasa. Kak Tasrif juga dalam keinginan yang meluap. Sakitnya gampang kambuh. Kok ramai sekali? Emak bilang lewat telepon, Suara anak-anak, mereka sudah pulang. Emak menjawab seraya tawa sederhana. Pasti di rumah ramai dengan mereka, batin saya. Mereka akan main playstation hingga malam. Saya takkan bisa tenang. Tapi Kak Tasrif mendapatkan hiburan. Ia lupa sejenak atas keinginannya yang memuncak. Sakitnya bisa mereda dan stabil.

Bahkan dalam keadaan setelah menikah, jalinan itu akan selalu terhubung, dan jauh lebih kuat. Seorang sahabat mengabarkan Papanya meninggal. Ia bilang ia takkan sama lagi. Dua tahun lalu saya menghadapi kepergian orang terdekat, hal pertama dalam hidup saya. Pada lebaran tahun lalu Emak tersedu. Saat saya sungkem di atas pelaminan, tatkala Emak duduk di kursi, airmatanya memburai. Aku ingat kakakmu, kata Emak. Dalam detik yang berdebar, saya juga melihat mata istri kakak yang sembab.

Saya memapah Emak dan Bapak sewaktu berjalan ke rumah mempelai. Jempol kakinya bengkak, dipoles dengan perban, dan ia hanya bisa memakai sandal jepit. Ia kesulitan. Saya memasangkan sandal jepit ke kakinya. Saya tak tahu apa yang dipikirkannya. Saat pulang terakhir sewaktu ia merayakan pernikahan saya, Emak sibuk dengan tamu-tamu undangan. Kami sedikit berbincang. Sewaktu pamit saya melihatnya kian tua. Barangkali ia terus mengenang putranya yang meninggal. Kesehatannya menurun sejak itu.

Mungkin saja pulang artinya menemukan tahun-tahun yang hilang.*

Pada Mulanya Perjalanan

SETIAP MELAKUKAN PERJALANAN darat yang jauh, saya kerap mengandaikan jadi seseorang yang lain. Hal itu akan terbentuk saat melihat lanskap sebuah perkampungan di tepi jalan, atau sosok orang selintas, melalui jendela kaca mobil atau mencuri pandang selagi sepedamotor melaju kencang.

Misalnya saat kemarin saya menghabiskan waktu enam jam dari Jogja menuju Pati, sebuah daerah di pinggiran utara Jawa Tengah. Saat saya melintasi Sragen sehabis Solo, saya melihat sosok seorang kakek, berpeci hitam dengan baju batik, berpenampilan rapi, sedang berdiri di tepi jalan. Saya mengandai-andai: Bagaimana jika saya menjadi putranya? Apa yang sedang dilakukan Pak Tua tersebut, mungkin tengah menunggu bus umum, mungkin sedang menunggu jemputan, mungkin–dengan melihat pakaiannya–dia hendak menghadiri acara penting keluarga atau, mungkin saja, dia hendak mengambil uang pensiun di sebuah kantor pos?

Misalnya saya menjadi salah satu putranya, malam sebelumnya dia menelepon. Pak Tua itu mengabarkan hendak main ke rumah tempat saya tinggal dan terpisah darinya, dia bilang hendak menengok cucunya–artinya anak saya, mengingat saya sudah cukup umur untuk jadi seorang ayah. Dia kesepian. Istrinya–yang artinya ibu saya–telah mengucapkan sayonara pada dunia lebih dulu, dan dia bilang kangen, atau sebetulnya ucapan kangen itu lebih untuk menepis rasa bosan menjalani hidup tua sendirian. Saya, karena jadi putra yang paling dekat dengannya, mengiyakan dan bilang akan menjemput dia setiba di kota tempat saya tinggal. Mengingat Pak Tua Berpeci Hitam Berpakaian Batik itu agaknya menuju jalur tempat saya menghela–artinya ke arah Purwodadi, atau daerah sebelum Purwodadi–maka bolehlah saya bilang saya tinggal di sekitar daerah tersebut, katakanlah, daerah saya setelah melewati Kedungombo.

Kedungombo, sebuah perbukitan yang dibelah ruas jalan raya dipayungi pepohonan, benar-benar tempat menyeramkan jika kita tak tahu cara menikmati perjalanan yang curam, berliku, sepi, perkampungan yang jarang, angin yang gaduh dari pucuk dahan-dahan pohon yang saling membentur. Itu semua memberi perasaan rawan, setidaknya jika kita memikirkan sesuatu yang buruk. Tapi, tentu saja, tidak bagi Pak Tua, yang sudah sering melintasi jalan tersebut dan sangat mengenalinya hanya dengan memejamkan mata. Begitulah. Dia tiba dengan sebuah bus umum, turun di tepi jalan, dan saya lantas menjemputnya. Dia menginap sampai bosan di rumah, bermain bersama cucunya, lalu dia ingat pada istrinya–ibu saya dalam cerita ini–dan pada akhir pekan ini, sebelum ibadah shalat Jumat, dia harus berziarah ke makam istrinya. Dia sudah punya tabungan cerita mengenai saya dan anak saya, yang akan dia dongengkan di pusara ibu saya.

Atau barangkali, Pak Tua itu hanya ingin berpenampilan rapi saja, sebetulnya tak kemana-mana, memiliki rasa iseng yang kelewat awet dalam hidupnya, berdiri di tepi jalan, dan dia pengin–pada suatu hari, saat dia melakukan itu–ada pejalan dari kota yang jauh akan melihatnya, lalu mengingat dia dan membayangkannya sebagai cucunya.

Saya kira hal terakhir itulah yang hendak dimaksudkan untuk sebuah cerita.

Saya ingat, saat usia SMA, tempat saya pernah menikmati institusi sekolah terakhir di Cirebon, saya biasa pulang ke Indramayu. Dengan bus umum jurusan Jakarta, pada akhir pekan, saya kerap dihantui perasaan membayangkan menjadi seseorang yang lain, tinggal di sebuah kampung di mana saya hanya melihat mulut gang kampung tersebut di tepi jalan raya selagi bus membawa saya ke kampung kelahiran. Bahkan, bertahun-tahun kemudian, saya sering merangkai cerita dari lamunan yang merambang itu.

Dulu saya menyukai cerita-cerita fiksi dari Seno Gumira Ajidarma. Dalam satu cerita yang saya baca di lembar koran minggu–mungkin saat saya SMA, mungkin saat saya sudah di Jogja–Ajidarma menulis kesannya dalam perjalanan di negeri asing tempat dia menjumpai seorang perempuan memegang payung atau benda lain (saya lupa), yang intinya dia mengandai-andai dan merangkai cerita dari situ. Ketika saya pergi ke Ambon, dan diantar ke sebuah tempat yang jadi lokasi wisata orang ramai–si pengantar bilang “dari sini kita bisa melihat seluruh pemandangan Ambon beserta lautnya”–perhatian saya terjerat pada sosok perempuan, berdiri di muka pagar, mengenakan rok, dan tangannya memegang payung yang terlipat, berkacamata (hingga sekarang saya masih ingat sebagian detail tersebut) dan, tiba-tiba saja, saya sudah melamunkan cerita-dalam-kepala mengenai si perempuan asing itu; bukannya tertarik pada bukit terkenal di Ambon.

Suatu hari seorang perajin kata menulis bahwa kisah-kisah, dalam bentuknya yang panjang hingga jadi sebuah novel, atau suatu realitas tak mungkin dibentuk dalam cerita lain selain fiksi, dapat bermula dari pertanyaan “what if”. Bagaimana seandainya presiden kita suatu hari mengalami buta total, dalam pengertian harfiah? Bagaimana jika kita terbangun di suatu pagi hari dan mendapati tubuh kita sebagai kecoa besar seperti Gregor Samsa? Bagaimana bila kita duduk saja di belakang meja dan, untuk tujuan main-main, kita membayangkan saja pemimpin kita selagi tiba di New York mengalami peristiwa ganjil saat hendak menerima penghargaan, bermil-mil dari tempatnya berdiri, Istana Presiden di Jakarta Pusat diterjang badai angin sesaat namun cukup hebat merontokkan pagar dan pos pengamanan? Tanpa diduga oleh prediksi ekonom dan perancang neraca pembangunan, badai angin itu telah memicu gerakan oposisi yang besar, berkumpul di jantung ibukota, lalu sekumpulan orang telah bersiap menyambut Tuan Presiden di bandara, yang membuat dia harus dievakuasi dengan helikopter tentara untuk dibawa ke Istana Cikeas.

Anak saya suatu kali, untuk tugas sekolahnya, membaca berita itu bertahun-tahun kemudian dari sebuah koran digital, dan bertanya-tanya mengenai penyebab badai angin tersebut.*

Grand Voyage

SEMINGGU LALU, setelah kami pernah ke ujung barat pulau Jawa sewaktu saya kecil, saya melakukan perjalanan jauh kembali bersama Emak dan Bapak. Tujuannya ujung utara Jawa Tengah. Bolak-balik, kami menghabiskan waktu 24 jam, dengan sesekali istirahat di tengah perjalanan, berkat supir ajaib yang belakangan KO saat waktu tempuh menuju pulang hanya tersisa 30 menit, yang digantikan Kakak Sulung—pada akhirnya, dia pun menyetir mobilnya sesuai rencana semula.

Emak sebelumnya sakit lama gara-gara sebuah luka di jempol kaki, yang bikin dia tak bebas berjalan, dan berhenti bekerja. Bapak, sebelum Emak jatuh sakit, pada suatu hari yang buruk merasakan kedua kakinya lemas, berjalan tertatih seperti bocah dua tahun, dan dampaknya bisa terlihat dari cara berjalannya seperti harimau jantan yang sepuh setelah dia sembuh total. Itu semua membuat mereka makin sering minum obat yang semula minum obat terbatas. Sebuah minyak yang baunya seperti rempah, entah apa namanya, menjadi teman perjalanan Bapak. Emak sendiri membawa sebuah botol Aqua berisi air putih biasa tapi telah didoakan oleh orang pintar. Itu memberi kepercayaan pada mereka bahwa mereka sekuat kayu jati, betapapun kayu jati tak pernah diberi obat cairan maupun jamu-jamuan.

Perjalanannya sendiri—sebagaiman kisah keluarga—berisi doa saat bertolak pada dini hari, lantas obrolan yang bersemangat, yang kehilangan semangat setelah mobil melintasi Pekalongan, yang makin malas mengobrol menjelang siang, yang mengantuk sesudah melewati Semarang, dan kelelahan setiba tujuan. Hal itu diulangi lagi saat kami pulang, hanya saja dengan putaran kota sebaliknya.

Saya mengingat-ingat perjalanan itu bak seorang kanak yang tengah menyaksikan film kartun penuh ketertarikan. Mereka contoh sahih dari pasangan yang tua bersama. Tentu saja ada pertengkaran-pertengkaran selagi mereka menjalaninya. Hal itulah yang membuat saya tersenyum dan mendapatkan kesenangan tersendiri dari permainan nasib.

Semoga kita semua bahagia.*

Fundraising untuk Biaya Pengobatan George Junus Aditjondro

Kepada kawan-kawan yang baik,

Kami dan kolega dekat keluarga George Junus Aditjondro dan Erna Tenge, serta Enrico Aditjondro, hendak galang dana guna bantu biaya pengobatan Aditjondro yang dirawat di rumahsakit Bethesda, Yogyakarta. Sejak awal Juni, Aditjondro mengalami stroke akut, langsung dibawa ke UGD dan, dalam waktu begitu cepat, menjalani operasi bedah guna mengeluarkan darah membeku di otak kecil. Kini Aditjondro dirawat di ICU kamar 10.

Dia sempat keluar dari ICU tapi cuma bertahan sehari. Kondisi tubuhnya sulit untuk stabil. Infeksi paru-paru, diabetes, jantung, memicu apa yang disebut dokter “sulit memprediksi” progresi kesembuhannya. Dia kadang membaik tapi juga, serumit selang ventilator yang ditanam di tubuhnya, bisa cepat memburuk. (lebih…)