Kategori: Keseharian

Langit Pagi Jakarta

Kelak saya merindukan ini: setiap pagi saya dapat melihat langit Jakarta dari jendela kamar; pengantar hari yang mewah dari antara orang-orang yang bergegas ke jalan raya, menuju tempat kerja, segera setelah mereka terjaga. Saya bukan dari sekumpulan pekerja, yang harus lekas meninggalkan kamar atau rumah, dan mencium lebih dini udara jalan. Ini adalah pengabaian total dari sebuah kota yang tidak memberi waktu para pemukimnya mendongak ke langit, kecuali bila cuaca buruk, dan tersebab dari perasaan cemas, mereka bertanya-tanya: “apakah hari ini akan hujan, apakah saya bisa datang tepat dari mesin-tak-bicara-yang-menuntut-saya-tak-dibolehkan-terlambat, bagaimana ya bila hujan dan macet?” Hal semacam itu hanya sesekali melintas dalam benak saya, tentu saja jika ada keperluan yang sangat mendesak untuk bertemu di suatu tempat. Selebihnya: saya menikmati langit dari jendela, pagi-pagi, selagi penjaga kost masih meringkuk di kursi di balik pagar, sebelum ada seseorang yang membuang sampah, sebelum semuanya terjadi dalam kebiasaan hari yang rutin. (lebih…)

Iklan

Kedatangan

Aku kuatir lupa bahwa pernah suatu hari kakak sulungku datang dan menginap semalam di kost. Ini juga semacam aku bicara dengan kamar sendiri, artinya blog sendiri, karena sejatinya suasana kamar kost di Jekardah nyaris paralel dengan isi blog ini. Ia berupa kesunyian. Aku menyukai nama ‘desolate room’. Dengan kata lain aku ingin menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran si Kamar, taruhlah bila ia punya kesadaran, kala dikunjungi kakakku untuk kali pertama, yang terjadi kemarin sore?

Udara ruangan kamar diisi obrolan tentang buku dan sejarah, selain soal keluarga. Gara-gara nggak jadi pindah, koleksi buku punyaku ditumpuk di atas meja tulis, tentu saja itu bikin buku kusut, nggak asik sekali bila hendak mengambil salah satu buku di bawah tumpukan. Sesudah maghrib, aku tunjukin Al quran jilid I versi terjemahan dan tafsir Ahmadiyah. Kakakku membacanya sekilas. Di keluarga kami, kakak adalah satu-satunya yang paling paham agama.  Jilid I itu berisi surat 1 hingga surat 9, dari Al-Baqarah hingga At-Taubah.  Ada tiga jilid seluruhnya. Ahmadiyah minoritas muslim di Indonesia yang menghadapi persekusi selama 10 tahun terakhir ini. Aku menyimpannya sekadar untuk koleksi sejak mengikuti kasus kekerasan terhadap komunitas keagamaan ini setahun terakhir.

Buku lain juga dibaca-baca kakakku, termasuk buku kumpulan artikel sejarah Jacques Leclerc terbitan Marjin Kiri, Mencari Kiri: Kaum Revolusioner Indonesia dan Revolusi Mereka,  salah satu esai di dalamnya tentang profil Amir Sjarifuddin. Kami juga bicara sastra, politik, sepakbola, dan cerita tiga putri kakakku. Ibu dan Mbak aku di Indramayu juga menelepon, termasuk kakakku yang lain, yang kambuh lagi epilepsinya. Akhirnya, mengikuti kebiasaan sejak aku sering mengambil buku koleksinya bila berkunjung ke rumahnya di Cirebon, dia juga minta “jatah” buku koleksiku. Aku menyilakan novel Orhan Pamuk dan Salman Rushdie.

Aku mengantarnya pulang ke Gambir pagi ini. Di stasiun aku iseng mengirimkan salam kepada tiga malaikat kici kakakku, direkam lewat video dengan smartphone. Aku juga melihat ponakan-ponakan, saudaraku yang lain di Banten (ihwal keperluan kakakku mampir ke tempatku setelah besuk paman yang sakit di Binuangeun), lewat smartphone tersebut. Rasanya berwarna bagi adik macam aku yang jarang pulang dan menengok anggota keluarga dan saudara sendiri.

Seharian ini aku terus bertanya, apa kesan si Kamar, si Desolate Room? Aku harap kesannya juga berwarna.*

Kelas Brastagi

SELAMA lima hari, dari 27 September – 1 Oktober, saya dan Budi Setiyono dari Pantau mendatangi Brastagi untuk kelas penulisan nonfiksi. Panitia acara ini dari Suara USU—sebuah pers kampus yang berumur hampir 20 tahun. Pesertanya dari beragam daerah: Aceh, Denpasar, Jogja, Makassar, Malang, Minangkabau, Pekanbaru. Brastagi (juga ditulis Berastagi) merupakan daerah dingin, sekira 2 jam dengan mobil dari Medan, masuk dalam kabupaten Karo.

Panitia menyewa 2 mobil berpenumpang masing-masing sekira 20 orang untuk mendatangi sebuah villa Batu Merah, di seberang hotel Mikie Holiday, pada sore hari Selasa. Malamnya para peserta kelas memperkenalkan diri. Sekitar 19 peserta, rata-rata berusia 20 tahun, dari masing-masing pers kampus ingin mengenal lebih dalam tentang narrative reporting. Mereka juga umumnya punya impian pribadi kelak, dalam lima tahun misalnya, hendak mengembangkan kemampuan menulis sebagai jurnalis. (lebih…)

Yang Hilang dan Yang Tersimpan

BELAKANGAN ini saya sering memikirkan koleksi buku saya meski tergolong sedikit. Gara-garanya, saya membaca satu novel tipis Haruki Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin. Isi novel tersebut nggak ada hubungan dengan cerita buku namun saya mengingat Murakami dengan secuil kisah kehilangan.

Mulanya, novel Norwegian Wood yang saya baca sejak di Jogja. Saya tergolong telat mengenal Murakami. Saya baca novel yang kini difilmkan itu dalam perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, entah bagaimana (sekarang saya sering lupa), novel tersebut nggak terselip dalam rak buku di Jogja. (lebih…)