Kategori: #longform

Menulis Peradilan Sesat: ‘Jangan Takut dengan Kalimatmu Sendiri’—Belajar dari Pamela Colloff

‘Aku masukkan semua material liputan—wawancara setiap orang, kutipan, dan sebagainya—ke satu dokumen; dan itulah nyawa ceritaku,’ Pamela Colloff.

Bagaimana Membakar Sebuah Buku

Dinukil dari Buku Perpustakaan, karya nonfiksi Susan Orlean—terbit Oktober 2018. Terinspirasi dari peristiwa bersejarah terbakarnya sebuah perpustakaan di California, Orlean menantang rasa hormatnya: membakar cetakan terbaru Fahrenheit 451.

oleh Susan Orlean

Aku memutuskan membakar sebuah buku, karena aku ingin melihat dan merasakan apa yang akan dilihat dan dirasakan Harry di hari itu jika dia berada di perpustakaan itu, jika dia menyalakan api.

Membakar sebuah buku sungguh luar biasa sulit buatku. Sebenarnya, melakukannya sangat mudah, tapi menyiapkannya sungguh pukimak. Masalahnya aku takkan pernah punya dorongan hati buat merusak sebuah buku. Bahkan pada buku yang tak kuinginkan, atau pada buku-buku yang sangat usang dan rusak sehingga tak bisa dibaca lagi, lengket seperti getah.

Aku menumpuknya dengan niat membuangnya, dan kemudian, setiap kali tiba waktunya, aku tak kuasa melakukannya. Aku senang jika buku-buku itu kuberikan atau kudonasikan. Tapi aku tak bisa membuang buku ke tong sampah, tak peduli seberapa keras aku mencobanya. Pada saat-saat terakhir, sesuatu yang lengket menempel kedua lenganku, dan sebuah sensasi yang menimbulkan rasa jijik tumbuh dalam benakku. Seringkali aku berdiri di dekat tong sampah, memegang sebuah buku yang sampulnya robek dan jilidannya rusak, menimbang-nimbang dengan buku terjuntai, dan akhirnya, aku membiarkan tong sampah itu tertutup dan aku menyeret kakiku dengan si buku pukimak—serdadu yang babak belur, lusuh, dan terluka yang punya kesempatan hidup di hari lain.

Satu-satunya hal nyaris sebanding perasaan ini yang pernah kulakukan saat aku berusaha membuang tanaman, bahkan sekalipun tanaman paling bondas, berkutu, berakar bengkok di dunia. Sensasi melempar sebuah benda bernyawa itulah yang membuatku mual. Memiliki perasaan yang sama pada sebuah buku mungkin tampak janggal, tapi inilah alasanku mengapa buku punya jiwa—alasan apalagi emangnya sehingga aku begitu enggan melemparnya?

Bukan pada perkara bahwa aku membuang sehimpun jilidan kertas yang mudah dicetak ulang. Bukan seperti itu perasaanku. Sebuah buku terasa seperti sehimpun wujud yang hidup saat ini, dan juga hidup dalam ruang dan waktu, sejak sepetik ide meresap dalam alam pikir penulis hingga saat dilahirkan dari mesin cetak—garis hidup yang berlanjut ketika seseorang duduk dengannya dan mengaguminya, dan terus merentang dari waktu ke waktu ke waktu. Sekali kata-kata dan pikiran dituangkan, buku bukan lagi sekadar kertas dan tinta dan lem: Ia semacam daya hidup manusia. Penyair Milton pernah menyebut kualitas yang terkandung dalam buku sebagai “potensi kehidupan.” Aku tak yakin aku punya kemampuan sebagai pembunuh.

Sangat mudah menyalin apa pun hari ini, dan kebanyakan buku hadir dalam kelipatan tiada habisnya; satu buku tak lagi menyimpan keunikan ketika lahir dari proses yang rumit dan sulit. Jadi membakar sebuah buku biasa seharusnya mudah buatku. Tapi ternyata tidak; tidak sama sekali. Aku bahkan tak bisa memilih sebuah buku buat kubakar.

Pertama kupikir aku bisa membakar sebuah buku yang tak kusuka, tapi itu tampak terlalu agresif, seolah-olah aku menyukai tindakan eksekusi. Aku tahu aku takkan sanggup membakar sebuah buku yang kusuka. Aku pikir aku mampu membakar salah satu buku karyaku, tapi rupanya terlalu menguras batinku secara psikologis, dan aku punya banyak sekali salinan bukuku yang telah menjadi semacam sebuah komoditas lazim di rumahku, lebih seperti tepung atau tisu kertas ketimbang buku dalam pengertian sesungguhnya. Jadi ketika aku membuat keputusan membakar sebuah buku, aku memillah-milahnya berminggu-minggu, berusaha keras membuat standar apa yang bisa kupakai sebagai pijakan untuk memilih salah satunya. Segalanya keliru. Tatkala aku nyaris menyerah dengan gagasan itu, suamiku memberiku sebuah salinan terbaru Fahrenheit 451, buku karya Ray Bradbury tentang kekuatan menakutkan atas pembakaran buku, dan kutahu buku inilah yang bisa kupakai.

Aku memilih hari yang hangat dan tenang dan mendaki puncak bukit di halaman belakang rumah. Lembah San Fernando terhampar di depanku—segala pucuk pohon dan rumah dan gedung membaur berbintik-bintik; selayang selimut pucat tersulam di sana-sini dengan pijar suar merah, dan di atasnya, di langit biru, sebuah pesawat melintas, menyeret ekornya berjejak busa putih. Aku telah tinggal di Los Angles selama empat tahun. Aku tak pernah berpikir soal kebakaran sebelumnya, tapi kini aku tahu pikiran itu bercabang liar, dan aku harus menyiapkan diri untuk melumat serpihan-serpihan abu dan memadamkan kuncup-kuncup percik api yang melayang-layang.

Aku telah belajar banyak sejak pindah ke Los Angeles. Aku tahu Westside dari Eastside; aku tahu menghindari macet pada malam Oscar; aku tahu isyarat manis dan sanjungan sungguh elok yang bergema pada siapa pun di sini yang meratapi hidupnya bak segulung singkat cerita. Aku bisa membayangkan Harry Peak sekarang karena aku melihatnya setiap hari pada seorang pramusaji tampan yang menyiapkan meja untukku, dan di tempat gym ekstra yang kadang kala kutemui saat ada syuting film di lingkunganku—aku bisa mengenali pose mereka yang serba risau, seakan-akan setiap saat dijalari potensi mengubah seluruh hidup mereka. Aku melihatnya pada setiap orang yang mematut laptop di sebuah kedai kopi, menulis sepotong peran, dan pada gadis-gadis cantik yang memakai terlalu banyak maskara dan cat kuku di toko kelontong. Aku menyukai Los Angeles; aku bahkan menyukai dandanannya, ketamakannya, kedunguannya yang ambisius, ke-Harry-annya, karena berdenyut dengan emosi dan angan-angan dan keputusasaan, tersuguhkan dalam cara paling telanjang.

Tapi kini aku berada di atas bukit untuk membakar sebuah buku, jadi aku berpaling dari lembah dan meletakkan Fahrenheit 451.

Aku menaruh sekendi air, kotak korekapi bergambar ayam jago, dan kertas aluminium tempat aku meletakkan buku. Aku tak yakin apakah buku itu akan terbakar seketika atau api merambat pelan-pelan; merasa sangsi apakah langsung meletup atau aku akan duduk dan menyaksikan api menjilati halaman demi halaman demi halaman. Aku memilih membakar buku bersampul lunak (paperback), meskipun buku itu di perpustakaan bersampul keras (hardcover), karena aku khawatir buku hardcover bakal lama terbakar sehingga tetanggaku bakal melihat asap dan membunyikan alarm. Orang-orang di California bahkan melompat untuk mengurusi api, dan sejujurnya, aku agak takut atas apa yang mungkin terjadi jika api meletup tanpa kendali.

Aku menggores korek pertama dan gagal, jadi aku menyalakan korek kedua, yang meletik sepercik lidah api. Aku menuntunnya ke sampul buku Fahrenheit 451, yang dihiasi gambar geretan. Api meretih bak manik air dari pentol korek menuju sudut sampul. Kemudian menjalar. Berjalan mengarungi sampul buku nyaris seakan menggulungnya, seperti sebuah karpet, tapi ketika tergulung, sampulnya menghilang. Kemudian setiap lembar dalam buku itu terbakar.

Api pertama kali merembet ke sebuah pagina dengan pijar oranye dan pinggiran hitam. Lalu, dalam sekejap, percik oranye-hitam itu menyebar ke seluruh halaman, dan pagina itu lenyap—pembakaran nyaris seketika—dan seluruh buku itu terlumat dalam beberapa detik. Terjadi begitu cepat seakan-akan buku itu meledak; buku itu ada sana dan kemudian dalam sekejap hangus dan sementara hari masih hangat, langit masih biru, aku tak bergeser sedikit pun, kertas aluminium itu mengilap dan kosong kecuali remah-remah hitam berserak di atasnya.

Tiada apa pun yang tersisa, tiada jejak apa pun yang menyerupai sebuah buku, sekeping cerita, selembar halaman, sepetik ide.

Aku diberitahu bahwa api besar itu nyalang, garang, berangin, mengerang. Yang ini, sebaliknya, terjadi nyaris tanpa suara, hanya terdengar udara lembut berembus, lebih seperti berdesing, tatkala buku itu terbakar. Lembar demi lembar meranggas begitu cepat hingga nyaris meretih; suaranya lembut, seperti desis, atau seperti suara percik air dari pancuran.

Segera setelahnya, aku merasa seakan melompat dari pesawat, mungkin suatu reaksi alamiah atas perbuatan yang kutentang begitu kuat—ada rasa terpesona membetot naluriku sendiri, rasa girang betapa cantiknya nyalang api, dan rasa takut mengerikan pada daya tariknya dan kesadaran betapa cepat sehimpun wujud yang pepak kisah-kisah manusia dapat dibuat lenyap seketika.*

____

Susan Orlean, staf penulis The New Yorker, menulis banyak sekali buku; salah duanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: The Orchid Thief, 1998 (Pencuri Anggrek, Penerbit Banana, 2007); Rin Tin Tin: The Life and the Legend, 2011 (Rin Tin Tin – Kisah Hidup Seekor Anjing, Ufuk Press, 2012)

Menerabas Jalan Buntu: Bagaimana David Grann menulis Kisah Epik “The White Darkness”

Ketika sang pengarang bertarung dari badai es dalam dirinya untuk menuturkan hikayat penjelajahan dan tragedi penaklukan modern.

Tautan artikel orisinal | oleh Steve Oney

Henry-Worsley2
Photo by antantarctic/Shutterstock

KALIMAT pembuka itu menghardik David Grann setahun sebelum ia merampungkan cerita epiknya dan setahun setelah peristiwanya sendiri dilukiskan:

Pria itu merasa serupa sebuah noktah yang hanyut dalam padang beku yang hampa. Tiap langkah yang ia tuju semata hamparan es merentang ke sudut Bumi: es putih dan es biru, bibir sungai es dan bilah-bilah es curam. Sejarak mata memandang tiada makhluk bernyawa satu pun. Tak ada beruang dan bahkan seekor burung. Tiada apa pun selain dia.

Februari 2017, Grann tengah menyusuri jalanan London sesudah menghabiskan beberapa hari memilukan saat berbincang dengan janda, anak-anak, teman dan karib dekat Henry Worsley, pensiunan perwira Inggris berusia 55 tahun, yang tewas selagi menantang maut: berjalan kaki sendirian dan tanpa bantuan (ia harus menyeret perbekalan dengan sebuah kereta luncur), dari satu sisi Antartika ke sisi lain—bentang alam buas berjarak lebih dari 1.610 kilometer. (Sebagai perbandingan: Jarak Jakarta ke Surabaya sekitar 770 km.)

“Saya ingin merumuskan jantung pertanyaan mengenai kehidupan Worsley,” ujar Grann menjelaskan pengalamannya menyusun kalimat pembuka atas kisah yang kemudian berjudul “The White Darkness,” artikel sepanjang 21.000 kata yang terbit di The New Yorker bulan lalu.

“Apa yang menghambat tekad manusia saat menghadapi rintangan tak tertaklukkan? Kita semua menghadapi pertanyaan itu.”

Begitulah, segelintir dari banyak keganjilan saat menyuguhkan dilema pokok Worsley, Grann menyoroti kondisi universal. Mengutip novelis Thomas Pynchon, sebagaimana disajikan “The White Darkness”: “Kita semua memiliki Antartika dalam diri kita”—suatu tempat yang melabuhkan kita menyibak pencarian atas jati diri kita.

Pertemuan Grann dengan keluarga dan sejawat Worsley jauh setelahnya. Grann, yang menulis The Lost City of Z—kisah lain tentang obsesi manusia dalam penaklukan—mengirim surel ke janda si penjelajah sesudah ia membaca obituari di koran Inggris dan berpikir: Ini bakal jadi cerita yang menakjubkan. Tapi respons yang ia terima: Tak ada yang mau bicara.

Grann kecewa. Tapi ia adalah penulis yang tak gampang puas diri. Buku ketiganya, Killers of the Flower Moon, terbit beberapa bulan lalu, dan promosi atas buku itu telah berjalan. Ia kembali ke rutinitasnya: melakukan reportase untuk The New Yorker mengenai sepasang pengacara California yang amoral menuduh seorang ibu dari Perhimpunan Orangtua-Guru (PTA) menggunakan narkoba.

Tapi, usai liputan beberapa waktu, kisah kriminal itu berantakan: Christopher Goffard dari LA Times telah menggali semuanya. Grann akhirnya memutuskan kembali ke ide kisah Worsley. Kali ini ia menerima jawaban yang meyakinkan dan segera terbang ke Inggris. Tiada persiapan sebelumnya bahwa pertemuan pertamanya dengan keluarga Worsley berjalan sangat emosional.

“Saya menulis banyak orang yang melakukan perbuatan sinting,” ujar Grann, yang buku keduanya, The Devil and Sherlock Holmes, merupakan galeri para penipu dan pembunuh ulung. “Ketika berusaha merekam kisah hidup mereka, saya berusaha memahami mereka. Tapi dengan Henry dan setiap orang yang berhubungan dekat dengannya, ada perkara yang lebih dari sekadar pemahaman. Tumbuh perasaan peduli saya. Sebuah hubungan emosional. Saya merasakan tragedi, dukacita. Reporter diharuskan tidak memihak, tetapi ada saatnya lebih baik perasaanmu dibiarkan berkembang.”

Kisah itu berkembang menjadi tak cuma sebuah cerita—ini adalah warisan, lengkap dengan segudang koleksi pribadi Worsley dan tulisan tangan Joanna, janda sang penjelajah, yang tersuguhkan untuk Grann. “Ia mengizinkan saya membaca buku tulis dan diari Henry, dan mendengarkan rekaman suara dari ekspedisi tersebut.”

Buku harian itu, terutama dari jenis buku saku Inggris, berisi fragmen puisi dan prosa yang ditulis Worsley selama bertahun-tahun dalam upayanya menangkap dan menyimpan perasaan terdalam. Ia mengutip baris-baris kalimat dari Kipling hingga Lance Armstrong. Worsley meyakini kekuatan tekad dan mengumpulkan semboyan. Di antaranya: “Dengan ketahanan, kita mampu menaklukkan” atau “Senantiasa menyongsong langkah ke depan.”

Catatan harian Worsley bahkan sangat bermanfaat. “Di satu halaman ia mencatat garis bujur, garis lintang, suhu, dan jarak kilometer demi kilometer selama ekspedisi Antartika,” ujar Grann. “Di halaman lain ia melukiskan lebih banyak kisah personal. Rangkaian tulisan tangan yang kasar, yang mencatat peristiwa yang dialaminya. Ia menggambarkan bagaimana rasanya pergi ke toilet dalam cuaca yang sangat dingin.”

“Ini jenis informasi yang kelak memuluskan tulisanmu. Catatan rinci kehidupannya selagi ia terus menantang dirinya menerabas rintangan,” ujar Grann.

Dengan sumber yang begitu kaya, Grann mengajukan ide tulisan itu ke Daniel Zalewski, editornya di The New Yorker, dan menerima balasan bahwa artikel tak boleh lebih dari 8.000 kata—yang nyatanya sulit bagi Grann. “Saya yang terburuk,” ujarnya. “Saya selalu berkata ceritanya akan lebih ringkas tapi ternyata sepanjang itu, selalu delapan kali lebih panjang dan delapan kali lebih lama.”

Masalah utama yang dihadapi Grann saat menulis “The White Darkness” adalah topiknya terlalu rumit. Tak cuma ia ingin membangun adegan demi adegan perjalanan fatal Worsley tahun 2016, tapi juga ia ingin mengisahkan detail demi detail kisah sukses grup penjelajah yang dipimpin Worsley pada 2009, pencapaian yang gagal dilakukan Sir Ernest Shackleton dalam ekspedisinya tahun 1914.

Shackleton adalah sumber inspirasi Worsley. Faktanya, Henry Worsley adalah kerabat jauh Frank Worsley, kapten kapal Shackleton, Endurance. Henry terpacu bahwa misinya adalah menuntaskan ekspedisi Shackleton. Bagi Grann, narasi yang tumpang-tindih (kisah antara Worsley dan Shackleton) memberinya kesempatan untuk menangkap tragedi modern dan pendahulunya di era Edwardian sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan apa makna dari penjelajahan tersebut.

(Dalam satu paragraf, Grann menulis: Henry Worsley membaca segala hal yang terkait tentang Shackleton dan para penjelajah kutub Bumi. Ia gembira ketika mengetahui bahwa Frank Worsley, seorang orang kepercayaan dari salah satu ekspedisi Shackleton, adalah kerabat jauhnya, dan menulis memoar menggentarkan yang ia gambarkan menantang “serangkaian badai, angin, dan topan salju tanpa kenal rasa takut.”)

“Setiap cerita memiliki tantangannya sendiri,” ujar Grann, “tapi di tengah jalan, saya menghadapi jalan buntu. Sangatlah susah menggabungkan begitu banyak informasi. Saya harus memahami hubungan antara Henry dan Shackleton. Saya harus memahami geografi Antartika. Masalahnya, saya tak pernah ke sana. Saya tak pernah menulis tentang sebuah tempat yang belum saya kunjungi. Ketika saya menulis ‘The Lost City of Z,’ saya pergi ke Amazon.”

Editornya, Zalewski, menggenapkan kecemasan draf pertama karangannya. “Daniel berkata, ‘Saya tak merasakan tempat yang kau tulis.’”

Karena itulah Grann kembali bekerja, dan mencurahkan waktu untuk belajar mengenal Antartika. “Tempat itu sangat asing bagiku. Apa yang tidak saya pahami adalah Antartika sebenarnya padang sunyi.”

Daya dobrak Grann memungkinkannya melihat lanskap alam tersebut, yang gilirannya memandu dia memasuki bagian cerita yang paling dramatis—upaya Worsley yang tersesat dan berusaha mendaki dan menuruni puncak es tanpa kenal ampun dan keputusannya, 175,4 km lebih pendek dari tujuannya, hanya untuk mengakui kegagalan dan akhirnya memanggil ambulans udara. Worsley meninggal terserang radang selaput paru (peritonitis) di rumah sakit.

“Bagian terakhir,” ujar sang pengarang, “saya menulisnya dengan cepat.”

Penggarapannya yang lama rupanya menuai berkah yang tak disangka-sangka. Sebelum ia merampungkan naskahnya, Joanna Worsley dan anak mereka (Max dan Alicia) terbang ke Antartika untuk menabur abu suami dan ayah mereka. Kunjungan itu memberi Grann sebuah penutup yang solid, jalan membawa pulang hidup kehidupan manusia dari pemburuannya atas sang tokoh utama.

Meski nyaris tiga kali lebih panjang dari yang semula ditugaskan, artikelnya nyaris tak mendapatkan banyak penyuntingan. “Saya mengira-ngira seberapa panjang nanti yang ditayangkan,” ujar Grann. “Rupanya tak banyak yang dipotong.”

Bagian terbaik dari narasinya—berkat akses penulis ke catatan yang cermat ditulis Worsley—tak cuma menggambarkan sang penjelajah bergulat dengan lanskap alam yang brutal, melainkan juga mengajak pembaca menyelami kegelisahannya yang terdalam. Tingkat keintiman sang penulis dengan subjek ceritanya menyuguhkan sebuah jurnalisme dengan kualitas yang sangat tinggi, tetapi juga membuat sang pengarang khawatir apakah penulis di masa depan akan seberuntung dia.

“Saya menyesal kita hidup di dunia tanpa dokumen dan tulisan tangan,” ia berkata. “Saya takkan menyelesaikan kisah ini tanpa buku tulis dan diari Henry. Media sosial bersifat sementara. Cuma titik kecil dan lenyap dengan cepat. Dengan Henry, saya memiliki barang fisik yang seutuhnya. Karena itulah saya bisa merekonstruksi keseharian dan pikirannya dengan sudut pandang yang begitu istimewa, yang semakin sulit dipahami dalam pelaporan. Tak peduli seberapa penting kisah yang kamu tuturkan, kamu takkan cakap menuliskannya ketika tak ada catatan.”*

__________________

Catatan: David Grann, staf penulis untuk The New Yorker sejak 2003. Pengarang The Lost City of Z: A Tale of Deadly Obsession in the Amazon (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Buku terbarunya, Killers of the Flower Moon: The Osage Murders and the Birth of the FBI, menjadi finalis National Book Award 2017.

Mari berkenalan dengan Pamela Colloff, penulis yang bagusnya brengsek banget di Texas

“Tak banyak penulis unik seperti Pam setiap hari. Dalam segala aspek di bisnis ini, ia seperti unicorn—diburu oleh chupacabra, dimakan oleh Bigfoot.”

oleh Lyz Lenz | 24 Februari 2017 | Columbia Journalism Review.

 

Pamela Colloff
©Jeff Wilson

 

PAMELA COLLOFF, yang baru lulus dan enggak punya kerjaan, pergi dari New York bareng temannya, Margaret Brown, pada 1994 dengan Volvo butut tanpa tujuan pasti. Mereka bokek dan pengin mengisi hidup sepenuhnya dengan petualangan dan seni. Pada akhirnya mereka berkelana ke Austin, Texas—negara bagian AS di kawasan tengah-selatan dan berbatasan dengan Meksiko.

Rencananya, mereka di sana cuma sebentar, tetapi Colloff malah enggak pengin cabut. Sewa rumah di sana murah, cuma 300 dolar AS sebulan, dan kondisi ini bikin ia punya waktu menulis.

Dan ada perihal lain: Texas bikin hatinya kepincut.

“Habis aku tiba ke sini, aku selalu punya banyak ide. Kupikir karena ini berbeda dan segalanya serba baru, aku jadi punya banyak ide menulis,” ujarnya.

Di sinilah, di rumah yang serba kebetulan, di luar pusat media tradisional di Amerika, Colloff menemukan panggilannya dan membangun sebuah dinasti.

Direkrut oleh Texas Monthly sebagai penulis pada 1997, ia kini menjadi redaktur eksekutif dan salah satu arsitek yang memimpin majalah tersebut menata reputasi nasional dalam laporan kriminal mendalam dan feature panjang. Di sebuah era yang menuntut serba tergesa-gesa, ketekunannya dalam investigasi, wawancara, dan menyingkap karakter membuatnya diganjar enam nominasi Anugerah Majalah Nasional (National Magazine Awards), lebih dari penulis perempuan dalam sejarah penghargaan tersebut (ia menang satu kali).

(lebih…)

Dilema Ivan Ilyich

Kemajuan sains melambari proses penuaan dan sekarat ke dalam pelukan pengalaman medis.
ATUL GAWANDE
dolgados-cartoon-on-medicine
©2011 Roy Dolgado. Sumber kartun di sini

SAYA belajar banyak hal di sekolah medis, tapi kematian tidak. Meski saya disuguhkan mayat kasar dan kesat untuk dibedah di masa pendidikan perdana, hal ini semata demi mempelajari anatomi tubuh manusia. Buku pelajaran kuliah kami nyaris kosong mengenai kondisi penuaan atau kepikunan atau sekarat. Mereka agaknya mengesampingkan soal proses kematian tersingkap, pengalaman orang menjelang sakratul maut, dan bagaimana hal itu mempengaruhi orang-orang di dekatnya. Cara kami melihat kematian, begitu pula cara profesor kami melihatnya, dan tujuan pendidikan medis dikembangkan adalah demi menyelamatkan nyawa, bukan bagaimana merawat orang yang sekarat.

Kesempatan sekali yang saya ingat ketika membahas kematian sewaktu kami mendiskusikan selama satu jam Kematian Ivan Ilyich, novelet klasik Tolstoy. Itu berlangsung saat seminar mingguan dengan tema Pasien-Dokter—satu rangkaian dari upaya kampus agar kami lebih bertekad menjadi dokter sekaligus lebih manusiawi. Beberapa pekan kami akan memperagakan etiket menangani pasien; di pekan lain kami mempelajari imbas sosio-ekonomi dan politik pada kesehatan. Dan pada satu petang kami diajak merenungkan penderitaan Ivan Ilyich yang terbaring sakit dan kian merosot akibat sejumlah penyakit tak dikenali dan mustahil diobati.

Dalam cerita itu, Ivan Ilyich berusia 45 tahun, seorang hakim tingkat madya Saint Petersburg yang kehidupannya lebih banyak berkisar mengurusi hal remeh dan status sosial. Satu hari dia jatuh dari anaktangga dan mengalami nyeri di pinggang. Bukannya berkurang rasa sakit itu malah tambah parah dan dia tak sanggup bekerja. Semula dikenal “pria yang cerdas, bertutur kata halus, giat, dan ramah,” kini dia jadi pria pemurung dan melas. Teman dan rekannya menghindarinya. Istrinya sudah gonta-ganti dokter dengan ongkos yang tambah mahal untuk mengobatinya, dan mereka tak mampu mendiagnosis penyakitnya, serta bermacam obat yang diberikan tak bisa menyembuhkannya. Bagi Ilyich, situasi itu menyiksa, dan dia bertambah gusar dan marah. (lebih…)

Rahasia Jurnalisme Data

“Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami.”

Hassel Fallas • ProPublica • 4 Nov 2013

djh_2
Ilustrasi diambil dari sini

 

SAYA MENGHABISKAN beberapa pekan terakhir di AS dalam program Douglas Tweedale Memorial Fellowship bersama International Center for Journalists, dan berbincang dengan sejumlah ruang redaksi Amerika soal pendekatan jurnalisme data. Saya bagi apa yang saya pelajari.

Langkah terbaik memulai jurnalisme data: kau hanya perlu memulainya. Ketika kau mengawalinya, kau jangan takut gagal. Setiap kesalahan bikin pengalaman dan pengetahuan kau bertambah, bagi perkembangan dirimu dan untuk meningkatkan kualitas jurnalisme yang kau praktikkan.

Mudah bagi kau berkata “aku tak pandai dalam matematika” dan memutuskan jurnalisme data bukanlah bidangku. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya juga tidak pandai dalam matematika sampai saya putuskan untuk merobohkan dinding mental itu, dan mendapati bahwa cara belajar terbaik dan termudah adalah mengaplikasikan teori ke dalam proyek nyata.

(lebih…)

Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

(lebih…)