Kategori: Solitude

21215

EMAK meninggal dengan membawa ucapan yang kemudian selalu aku ingat lewat potongan pembicaraan dengan anak perempuanya: Saya tidak ingin cepat mati. Kenyataan ia akhirnya dirawat lagi ke klinik seperti biasanya, yang sudah ia jalani selama empat tahun terakhir karena merasa “cocok”, telah membuat anak-anaknya—terutama satu-satunya anak perempuannya—terlalu menuruti keinginannya. Dalam seminggu sepulang dari klinik, ia mengeluh sulit bernapas, memuntahkan isi makanan, sampai harus diberi infus di rumah. Ia juga segera meninggalkan kasur di dalam kamar menuju ranjang di ruang tengah agar Bapak bisa mengurusnya lebih lekas. Ketika anaknya menyarankan untuk dibawa ke rumahsakit umum, ia menolak, dan selalu menyebut nama klinik itu, yang mau tak mau, akhirnya menuruti kemauan keras sekaligus manjanya. Pada malam setelah dirawat, ia mau makan buah dan bisa tertidur. Itulah malam ketika aku menelepon Mbak dan percakapan kami, setidaknya sampai saat itu, masih terlihat baik-baik saja. Pada siang hari sebelumnya, ia minta “anak-anakku” pulang, demikian Mbak berkata. Kami tidak tahu bahwa panggilan itu adalah isyarat. (lebih…)

Kakak Pulang #2

Buku saku Yasin 40 hari Kak Wali, diedit-ulang oleh Mas Nur dari foto kamera HP saya yang (hanya Tuhan yang tahu) akan jadi satu-satunya gambar yang pas untuk dijadikan foto perkabungan.

KAKAK datang padaku dalam mimpi sehari jelang 100 hari dia pulang. Aku mencari-carinya saat hendak pergi, kukira aku memang akan pergi, dan anehnya (tak ada yang lebih aneh dari mimpi yang penuh rahasia), aku kehilangan pakaian, kukira aku nyaris telanjang, lalu (bersama Hadi, anak sulungnya) aku diajak ke sebuah tempat mirip pasar dan bertemu kakak hanya untuk menanyakan di mana semua pakaianku. Kak Wali menunjuk sebuah lemari di sebuah sudut yang dihela meja-meja panjang, berdiri menjorok hingga tak terlihat. Dia bilang, itu lemari pakaian Kak Tasrif. Aku membuka pintu lemari dan kutemukan beberapa pakaian dan kupilih salah satunya yang segera kukenakan. Lalu, sedetik kemudian (waktu melambat di kala mimpi), aku menyadari bahwa aku akan pergi untuk mengunjungi kakak. Aku menoleh padanya saat kakiku berjalan menjauhinya dan kakak berdiri di sana—di tepi meja di antara keramaian (aku mendengar suara berseliweran seperti berada di pasar)—dan ujung topi di kepalanya menaungi senyumnya, seolah-olah itu salam perpisahan. Kelak, saat aku tiba di rumah esok hari untuk mengenang 100 hari kakak, aku melihat Kak Tasrif mengenakan kaos punyaku, yang sebelumnya kucari-cari di Jakarta, menganggapnya hilang saat aku mungkin lupa menjemur kaos tersebut di lantai atap kost yang kutempati. (lebih…)

Kakak Pulang

KAKAK PULANG dengan tubuh menyusut dan wajah tak kukenal. Berat badannya merosot hingga cuma 50 kilogram dan tulang-tulangnya terlihat seperti serat pada selembar daun. Ia terbaring di Ruang Isolasi sejak sore itu, mulut mengerjap-ngerjap seperti seekor ikan, dengan selang oksigen memompa perutnya yang sekeras punggung piring plastik. Hanya perut dan mukanya yang terlihat, sebagian tubuhnya diselimuti selendang milik Emak, dan rahangnya menonjol dengan garis pipi mencengkung seperti danau.

Hanya rahang itulah yang terus membayang sesudah kakak pulang, dan kelak, saat kita tahu ia tak akan pernah hadir di masa depan, rahang kakak yang sakit itu menutupi segala ingatan dari kakak yang sehat, kakak yang—setelah membuka album lama—tengah tersenyum di bawah topi putih selagi menggenggam botol Cola, yang bermain dengan putri bungsunya di kursi busa panjang di rumah Emak dan Bapak, yang bertahun-tahun lalu, menjelang ia menikah dan memiliki dua anak, memakai baju dan jins putih, duduk bersama adik dan paman dengan sebelah kaki terangkat ke kursi pada saat di mana kita percaya usia justru tetap mengekalkan kita sebagai kanak-kanak, yang menangis bukan karena kehilangan. Itulah kakak yang terbahak bersama adik saat Lebaran sewaktu putra sulungnya, yang masih balita, berteriak sembari mengarahkan telunjuk ke mata kamera. Saat, dengan cara kanak-kanak pula, kita tertawa tanpa alasan selain bahagia dan sebelum akhirnya, kini sesudah kakak pulang, kita tertawa sekaligus kadang-kadang merasa ada seseorang yang hilang dari hidup kita. Atau kita hanya ingin berbagi tawa dengan kakak. (lebih…)

Rumah

APAKAH rumah sesungguhnya? Tokoh Shadow dalam Dewa-dewa Amerika, sebuah novel yang terbuka dalam beragam genre—gabungan fantasi dan petualangan, psikologis dan hikayat—karya Neil Gaiman, justru agak limbung menjelaskan konsep akan kepulangan setelah akhirnya memahami apa yang ia yakini dan apa yang ia lakukan. Shadow bertanya-tanya di sebuah kota wisata di Islandia: “Apakah rumah adalah sesuatu yang terjadi pada suatu tempat setelah beberapa lama, atau ia sesuatu yang kau temukan kalau kau berjalan dan menunggu dan menginginkannya cukup lama.”

Saya malah mengingat perjalanan saya ke Kupang, anehnya saya tak ingat kapan persisnya, di mana saya melihat rumah-rumah yang dinding dan atapnya disusun dari pelepah gewang, sejenis palem, lantai tanah. Mereka menyebutnya bebak. Di tempat-tempat yang menelusup lebih ke dalam, terus menembus jalan-jalan berangkal batu kapur, bebakbebak itu berdiri di antara gerumbulan semak kering, dan debu dan langit musim kemarau yang memedihkan mata. Orang-orang tersenyum bulat, memerlihatkan gigi mereka yang mengunyah daun merah, sepasang mata menyiratkan ketangkasan, muka keriput dan kulit secoklat besi berkarat. Tak ada rumah yang tak ada penghuninya, meski kau melihat semacam keheningan total di bawah matahari yang membakar telapak kakimu. (lebih…)

Ikan Bumbu Kenari

IBU MEMASAK ikan kembung goreng bumbu kenari. Ibu membeli pepes tahu. Ibu membuat sambal kacang dan mengupas kulit ketimun. Ibu membungkus paket lauk itu plus nasi dengan kertas koran lantas diikat dengan karet gelang. Ibu memberikannya padaku buat bekal puasa.

Ibu mengira aku akan berangkat setelah magrib. Ibu mungkin memahami percakapan kemarin petang, saat anaknya yang sulung dan aku terlibat dalam satu obrolan di atas tikar plastik, di depan televisi, tempat kami berbuka. Si sulung berkata tentang menu ikan segera setelah memarkir sepedamotor, tiga jam perjalanan dari Cherbon, ”Pak… Pak belem lauk geh!” (lebih…)