Gladwellian

Bagaimana kita boleh tak setuju dengan satu gagasan namun terlibat di dalamnya.

SAYA sedang (pura-pura) bahagia. Alasannya sederhana: setiap kena bete-attack [ini entri pertama dalam kamusku sekarang], saya selalu ambil buku Malcolm Gladwell. Saya suka bagaimana Gladwell bercerita. Dia penulis yang tidak perfeksionis tapi, sebagaimana dia mengingatkan, menggugah pembaca untuk masuk [terlibat] dalam gagasannya.

Itulah warning yang dia tulis dalam pengantar untuk buku terbarunya, What the Dog Saw. Ini kumpulan artikelnya, yang terbaik menurut pilihan dia dan editornya, sepanjang dia bekerja untuk The New Yorker sejak 1996. Oh ya! Ini satu majalah yang aku suka.

Gladwell, kelahiran Inggris, besar di Ontario, kini tinggal di New York City, salah satu dari “100 orang paling berpengaruh” oleh Time Magazine pada 2005. Dia mengawali karier sebagai jurnalis di American Spectator. Kariernya makin berkembang setelah jadi penulis liputan bisnis lantas sains di harian Washington Post pada 1987. Dua ranah isu itu yang kelak diperdalamnya lagi pada majalah New Yorker, yang terkenal dengan ‘narrative reporting’ itu.
(lebih…)

Iklan

Gurita Cikeas!

GEORGE JUNUS Aditjondro orang yang nyentrik. Sehelai kain tenun, tersampir di lehernya, selalu menemani penampilannya. Ia lebih suka mengenakan pakaian kaos dan kemana-mana beralas sandal-sepatu. Tubuhnya gemuk dan usianya 64 tahun. Akhir November 2009, kami bertemu di sebuah hotel di Jakarta untuk persiapan kursus investigasi. Saat itu cambangnya yang lebat mengitari dagunya. Alamak! Hippies banget, batin saya.

Kami mengobrol lebih dari tiga jam sambil sarapan pagi. Saya menangkap kesan, Aditjondro orang yang menuntut lawan bicaranya untuk paham banyak hal. Salah satu bahan diskusi kami mengenai metode “concept mapping.” Ini teknik yang akan diajarkan di kelas kursus, biasa diterapkan dalam metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial. Ia sebuah metodologi bagaimana memetakan gambaran besar tentang sebuah kasus seraya mencari akar-akar penyebabnya. Kami juga menyinggung skandal Bank Century yang memang lagi ramai jadi sorotan media. Penguasaan “concept mapping,” hemat Aditjondro, sangat diperlukan dalam melihat kasus macam skandal bail-out Bank Century dengan banyak faktor dan aktor itu.

Namun, saya tidak tahu saat itu Aditjondro tengah menyusun buku terbarunya yang sebulan kemudian menjadi kontroversi. (lebih…)

17 Desember: Aku dan Jam Dinding

PADA hari saat aku tambah usia, jam dinding di rumah dinyatakan “mati.”

Saat seharusnya pukul 9 malam, kata ponakanku, jarum jam malah menunjukkan pukul 4 sore. Paginya, ia diturunkan. Dengan selamat. Dinyatakan telah “stres.” Kena “penuaan usia.” Bapak bilang, “sudah waktunya.”

“Mungkin umurnya sudah 20 tahun,” dia menambahkan.

Kemana ia dimakamkan? (lebih…)

Dunia Putu Oka

PUTU Oka Sukanta tersenyum hangat, “Silakan… Silakan…,” seraya merentangkan tangan dan menyambut para tamu, sekitar 20-an orang yang datang ke Taman Sringanis. Ini sebuah lahan seluas 1,000 m² di Cipaku, Bogor Selatan, milik Putu Oka bersama istri Suhendah Lasmadiwati. Ratusan varietas tanaman tumbuh semarak di dalam pot-pot kecil serta tertanam kokoh di petak-petak tanah.

Gerbang taman sederhana, berupa jaring-jaring kawat, menjadi pintu masuk utama. Alas ubin sejauh lima meter menghubungkan teras rumah. Pandangan lurus ke depan terlihat satu bangunan memanjang dua lantai, terbagi ruangan apotik serta ruang ibadah, ruang penginapan dan kamar-kamar. (lebih…)

Pak Tua dan Macan Betina

“Salah pemerintah kalau gigimu bolong. Salah pemerintah kalau kau sakit gigi.”

pak tua

LUIS  Sepulvedapengarang Cile, yang eksil ke Jerman lantaran pandangan politiknya melawan diktator Augusto Pinochet, pada 1989 menerbitkan novel Un viejo que leía novelas de amor (The Old Man Who Read Love Stories). Ia novel ringkas, diterjemahkan penerbit Marjin Kiri,  “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.” Novel ini juga dibikin versi film.

Pada 1970-an, di tengah Perang Dingin, kawasan Amerika Latin di-militerisasi-kan berkat bantuan Amerika Serikat. Praktis, negara-negara yang memangku ideologi sosialisme, semuanya dibabat. Sepulveda memilih eksil ke Eropa, karena di negara-negara tetangga juga tak aman bagi penulis dengan sikap dan pandangan seperti dia.

Pembukaannya menarik, dimulai dari seorang dokter gigi yang bertugas mencabut gigi-gigi para pemukim baru di satu kawasan Amazon (dia datang secara reguler), dan satu soal belakangan (penarik kisah novel ini) saat seorang penambang emas tewas oleh macan betina yang buas di musim hujan.

Tokoh kuncinya, alias mesin ceritanya, adalah Pak Tua (pendatang mula-mula), bernama Antonio José Bolivar Proaño (mengingatkan saya pada pendiri legendaris Amerika Latin, Simon Bolivar). Dia orang yang kesepian di masa tua. Istrinya meninggal jauh sebelum mereka bisa memahami kontur kehidupan di tengah hutan. Dia berbaur dengan penduduk lokal Amazon untuk tahu bagaimana “memperlakukan alam.” Terang, ini kisah dengan muatan politis yang sangat kental, kisah soal lingkungan, bertahun-tahun sebelum manusia diingatkan apa yang sekarang tenar disebut “perubahan iklim” atau “green movement” atau “ekologi politik.”

Kisah akhirnya, Pak Tua bergelut dengan macan betina yang ngamuk (ditinggal anaknya serta si jantan). Pemenangnya adalah Pak Tua, tapi dengan lirisisme. Sebab dari pertarungan itu (dengan konteks proyek transmigarasi, pejabat-pejabat yang korup dan sebagainya), tak ada yang betul-betul sebagai pemenang.

Si Pak Tua kembali ke gubuknya, dengan kesenangan membaca kisah cinta picisan, tapi diingatkan bahwa “kisah-kisah cinta macam itu terkadang meninabobokan kita akan realitas sosial dan politik […] dengan kata-kata yang demikian indah sampai kadang membuat [kita] lupa akan kebiadaban umat manusia.”

Saya suka sekali novel ini, tertawa geli, dengan narasi yang surealis dari Sepúlveda, menempatkan psikologi politik ke dalam benak tokoh-tokohnya, terutama si Pak Tua, di tengah sakit gigi-geraham kiri saya yang bolong, yang merupakan salah pemerintah. 😀

* Untuk tinjauan politik novel pengarang Cile yang lain, Isabel Allende, sila baca di sini.

Dari Konstitusi hingga Hak Asasi Manusia

Buyung 1JULI lalu Adnan Buyung Nasution datang untuk berdiskusi bersama peserta kursus menulis dari Eka Tjipta Foundation. “Bang Buyung” tampil rapi, rambut putih tebal, kemeja lengan panjang, pantalon hitam, sepatu boot, duduk bersila di atas karpet lantai 39. Diskusi dilakukan untuk bicara soal buku-bukunya, termasuk Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959.

Bang Buyung meniti karier di bidang hukum sebagai jaksa pada 1957. Pada akhir 1960an, dia ikut dalam protes melawan kediktatoran Presiden Soekarno. Pada 1974, dia ditahan 13 bulan oleh pemerintahan Presiden Soeharto dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta. Dia lantas mendirikan Lembaga Bantuan Hukum bersama pengacara Yap Thiam Hien. Pada 1980an, dia studi doktoral di Universitas Utrecht dan menulis thesis soal Konstituante 1956-1959. (lebih…)

Bredel Buku Papua

Bagaimana pemerintah Indonesia terus menekan suara orang Papua

 

KABAR buruk pembungkaman kemerdekan berbicara dan berpendapat kembali terjadi. Sasarannya sebuah buku karya orang Papua, “Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat,” yang ditulis Socratez Sofyan Yoman, seorang pendeta sekaligus Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (The Fellowship of Baptist Churches of Papua). Buku ini diterbitkan Galangpress dari Yogyakarta, Desember 2007.

Kejaksaan Agung melarang buku Yoman beredar di pasaran. Keputusannya bernomor 052/A/JA/06/2008, ditandatangi Jaksa Agung Republik Indonesia Hendarman Supandji, pada 20 Juni 2008. Ia diedarkan ke seluruh institusi kejaksaan se-Indonesia. Dasarnya, Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963, 23 April 1963, tentang “Pengamanan Terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Menganggu Ketertiban Umum.” (lebih…)