Dilema Ivan Ilyich

Kemajuan sains melambari proses penuaan dan sekarat ke dalam pelukan pengalaman medis.
ATUL GAWANDE
dolgados-cartoon-on-medicine
©2011 Roy Dolgado. Sumber kartun di sini

SAYA belajar banyak hal di sekolah medis, tapi kematian tidak. Meski saya disuguhkan mayat kasar dan kesat untuk dibedah di masa pendidikan perdana, hal ini semata demi mempelajari anatomi tubuh manusia. Buku pelajaran kuliah kami nyaris kosong mengenai kondisi penuaan atau kepikunan atau sekarat. Mereka agaknya mengesampingkan soal proses kematian tersingkap, pengalaman orang menjelang sakratul maut, dan bagaimana hal itu mempengaruhi orang-orang di dekatnya. Cara kami melihat kematian, begitu pula cara profesor kami melihatnya, dan tujuan pendidikan medis dikembangkan adalah demi menyelamatkan nyawa, bukan bagaimana merawat orang yang sekarat.

Kesempatan sekali yang saya ingat ketika membahas kematian sewaktu kami mendiskusikan selama satu jam Kematian Ivan Ilyich, novelet klasik Tolstoy. Itu berlangsung saat seminar mingguan dengan tema Pasien-Dokter—satu rangkaian dari upaya kampus agar kami lebih bertekad menjadi dokter sekaligus lebih manusiawi. Beberapa pekan kami akan memperagakan etiket menangani pasien; di pekan lain kami mempelajari imbas sosio-ekonomi dan politik pada kesehatan. Dan pada satu petang kami diajak merenungkan penderitaan Ivan Ilyich yang terbaring sakit dan kian merosot akibat sejumlah penyakit tak dikenali dan mustahil diobati.

Dalam cerita itu, Ivan Ilyich berusia 45 tahun, seorang hakim tingkat madya Saint Petersburg yang kehidupannya lebih banyak berkisar mengurusi hal remeh dan status sosial. Satu hari dia jatuh dari anaktangga dan mengalami nyeri di pinggang. Bukannya berkurang rasa sakit itu malah tambah parah dan dia tak sanggup bekerja. Semula dikenal “pria yang cerdas, bertutur kata halus, giat, dan ramah,” kini dia jadi pria pemurung dan melas. Teman dan rekannya menghindarinya. Istrinya sudah gonta-ganti dokter dengan ongkos yang tambah mahal untuk mengobatinya, dan mereka tak mampu mendiagnosis penyakitnya, serta bermacam obat yang diberikan tak bisa menyembuhkannya. Bagi Ilyich, situasi itu menyiksa, dan dia bertambah gusar dan marah. (lebih…)

Iklan

Saran bagi Editor

HUBUNGAN PENULIS DAN EDITOR bisa berbuntut jadi relasi yang peka. Penulis mungkin menganggap editor sebagai orang yang gemar mencari-cari kesalahan, memeriksa secara detail dari perkara remeh seperti ejaan, kendati yang lebih penting adalah memelototi logika bahasa, struktur cerita, dan lebih utuh lagi: gagasan yang disampaikan penulis apakah solid atau lemah. Sementara editor mungkin saja melihat penulis sebagai primadona. Keduanya, bila sama-sama enggak rapi menanganinya, bisa meruncing jadi tekanan yang bikin frustrasi, dan gilirannya kemungkinan: 1. naskah bakal kelar lama; 2. mereka saling memendam rasa sengit; 3. ketidaksabaran menghancurkan orisinalitas; 4. kombinasi 2 dan 3 membuat kemungkinan ke-5: naskah akhir menjadi lebih buruk dari naskah awalnya.

(lebih…)

Rahasia Jurnalisme Data

“Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami.”

Hassel Fallas • ProPublica • 4 Nov 2013

djh_2
Ilustrasi diambil dari sini

 

SAYA MENGHABISKAN beberapa pekan terakhir di AS dalam program Douglas Tweedale Memorial Fellowship bersama International Center for Journalists, dan berbincang dengan sejumlah ruang redaksi Amerika soal pendekatan jurnalisme data. Saya bagi apa yang saya pelajari.

Langkah terbaik memulai jurnalisme data: kau hanya perlu memulainya. Ketika kau mengawalinya, kau jangan takut gagal. Setiap kesalahan bikin pengalaman dan pengetahuan kau bertambah, bagi perkembangan dirimu dan untuk meningkatkan kualitas jurnalisme yang kau praktikkan.

Mudah bagi kau berkata “aku tak pandai dalam matematika” dan memutuskan jurnalisme data bukanlah bidangku. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya juga tidak pandai dalam matematika sampai saya putuskan untuk merobohkan dinding mental itu, dan mendapati bahwa cara belajar terbaik dan termudah adalah mengaplikasikan teori ke dalam proyek nyata.

(lebih…)

Rumah Kertas, Carlos María Domínguez

MEMBACA Rumah Kertas adalah membayangkan kawasan Amerika Latin sebagai imajinasi politik, dan nilai penting novel ini terletak pada metafora yang kental dengan ironi. Sebagai pembaca manasuka atas karya pengarang dari Selatan, dan sumbangsihnya berkat karya-karya terjemahan Ronny Agustinus lewat penerbitnya (Marjin Kiri) maupun blognya (‘Sastra Alibi‘), Rumah Kertas adalah penjelajahan yang mempercakapkan buku dengan buku, suatu perjumpaan (antar-entitas bubur kayu lunak) yang menyiratkan apa yang ditulis pengarangnya sebagai usaha “… melacak peta sastra Amerika Latin dalam perjalanannya melalui Eropa,” namun akhirnya menemukan “ambisi yang tampak pretensius dibandingkan perjalanan yang ditempuh buku-buku itu sendiri.” Inilah, ujar si tokoh, “temuanku sekaligus kegagalanku.”

María Domínguez begitu percaya diri membangun sebuah kisah dalam novel tipis (hanya 76 halaman) lewat isyarat buku karangan Joseph Conrad, dan kalimat pembuka novelnya, tentang penggandrung buku yang tewas ditabrak di jalan raya karena sedang menyuntuki baris puisi dari penyair kesukaannya, memberi jalan lepas pada sebuah kisah detektif sekaligus bukan, justru karena kisahnya bukanlah pada kematian itu melainkan jalinan labirin mengenali posisi “sastra Amerika Latin di pentas dunia.” Rumah Kertas, selain menjelaskan visi pengarangnya, juga meladeni banyak gosip, pertemanan dan pertengkaran, cemooh dan kasih sayang, antara para pengarang dan karya-karyanya dan para pembaca. Sesekali ia juga mengomentari sifat despotik rezim diktator dan perubahan masyarakat yang memperlakukan ponsel dan gawai sebagai “wabah kelisanan”, termasuk para penulis yang lebih gemar berpolemik sebagai “medan tempur riuh rendah” alih-alih mempercakapkan pengalaman menulis itu sendiri (Ya, anda menemukan hal sama seperti ini di Indonesia).

Bagian yang paling bikin saya terhenyak adalah ketika si tokoh mendatangi sebuah pondok tempat si biliofil gila itu, yang dibangun oleh tumpukan ribuan buku, di “tempat yang terlupa, di ujung dunia” yang melumatkan “hubungannya yang akrab dengan aspek-aspek paling pelik dari buku-buku telah berakhir dengan terdampar di pantai sepi terpencil.” Itu saat si tokoh mencari-cari apa yang sebetulnya tak terpahami, gambaran yang hanya bisa ia duga-duga bila bukan kesia-siaan, dari sisa-sisa reruntuk pondok itu bersama halaman-halaman buku yang rompal dan jasad karya-karya para raksasa yang telah memancarkan pengaruh dan meliputi kesusasteraan Amerika Latin. Saya membacanya sebagai metafora—ia adalah atlas bagi para pengarang sebagai navigasi membangun jalan karyanya sendiri setelah betapa menawan dan beringas sekaligus rapuhnya warisan-warisan karya para pengarang terkenal sebelum mereka. Barangkali juga sepenuhnya bukanlah metafora, tetapi María Domínguez menghamparkan pembaca pada prakonsepsi sewaktu si tokoh sesaat “membayangkan akan menemukan edisi pertama Alt, satu lagi Darío, dalam kondisi prima, … tapi yang tercerabut malah bata mustahil kerangka García Márquez, bubur lengket yang dulunya Lope de Vega, sampul kaku Balzac.” (Gambaran ini seketika membuat saya berpikir: Kau takkan mungkin menyamai Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tetapi kau bisa hanya bila kau serius mendalami dan mengambil gagasan dalam novel-novelnya dan, bersama pengaruh-pengaruh lain, kau mengaduknya dalam sebuah karya yang sepenuhnya milik kau; tetapi, di saat bersamaan atau nantinya, dalam hukum waktu yang menggilas, mayoritas dari kita makin menjauh dari karya-karya Pram, sebagaimana kita sama sekali tak membaca karya Balzac, Borges, Lorca, atau lainnya.)

Saya membaca Rumah Kertas dengan rasa ngeri, betapa pun buku ini mengisahkan kegilaan seorang bibliofil. Satu kalimat yang terus menghantui saya: “Dipaksa memilih antara buku dengan hidup itu sendiri, orang-orang memilih menjadi algojonya.”

Ya, kita semua lahir, dan tumbuh, dari negeri yang mengagungkan penjagal!*

Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

(lebih…)

Potret Hemingway

Orang-orang meniru cacatnya, mencuri irama dan ritmenya, dan menyebutnya sebagai ‘Mazhab Menulis Hemingway.’

Oleh Lillian Ross

 

ernest-hemingway_1936815b

 

AKU BERTEMU ERNEST HEMINGWAY kali pertama saat hari sebelum Natal pada 1947 di Ketchum, Idaho. Saat itu aku dalam perjalanan pulang menuju New York dari Meksiko, tempat aku menemui Sidney Franklin, matador Amerika dari Brooklyn, untuk kutulis sosoknya buat rubrik profil di The New Yorker.

Hemingway sudah lama mengenal Franklin sebagai matador di Spanyol pada akhir 1920-an dan awal 1930-an. Aku pergi melihat sejumlah corrida—gelanggang pertarungan—bersama Franklin di Meksiko, dan mendapati diriku terhenyak dan ketakutan sampai mati kaku saat menyaksikan untuk kali pertama adu manusia versus banteng di sebuah arena. Meski aku mengapresiasi usaha mati-matian matador dengan jubah merahnya mengalahkan banteng, dan atmosfer seremonial bersemangat yang menyelimutinya, aku tak begitu jatuh cinta pada permainan ini. Kupikir yang membuatku tertarik adalah bagaimana Franklin, anak dari polisi pekerja keras di Flatbush, menjadi seorang matador.

Sewaktu Franklin berkata Hemingway adalah orang Amerika pertama yang bicara dengan cerdas tentang adu matador versus banteng, aku menelepon Hemingway di Ketchum. Hemingway menyukai liburan di sana, bermain ski dan berburu, jauh dari rumahnya di San Francisco de Paula, dekat Havana, Kuba. Ia kemudian membeli sebuah rumah di Ketchum. Saat kutelepon, Hemingway sedang menginap di sebuah kabin turis bersama istrinya, Mary, dan anak-anaknya—John, Patrick, dan Gregory—serta beberapa teman mancing dia dari Kuba. Ia bermurah hati mengundangku dalam perjalanan pulang ke Timur.

Pukul 7 pagi, aku melihat Hemingway di depan kabin turis setelah kereta tiba. Ia berdiri di atas hamparan salju yang keras, dalam suhu dingin yang kering minus 10 derajat, beralas sandal kamar tanpa kaos kaki. Ia mengenakan pantolan Western dengan sabuk Indian bergesper perak dan kaos olahraga tipis berkerah dengan saku kancing model Western. Kumisnya kelabu, tapi saat itu dagunya belum bercambang. Dalam pelbagai foto yang dikenang, Hemingway kelak menampilkan bakat seorang patriark yang memancar keagungan dan inosens—suatu aura yang entah bagaimana tampaknya tak pernah bertentangan dengan sifat kasarnya.

(lebih…)

Mari Mati Bareng

Mengapa bunuh diri berkelompok begitu populer di Jepang?

Oleh David Samuels

The Atlantic | Mei 2007

shinjuku-street

I

Kematian di Saitama

10 MARET 2006, sebuah mobil ditemukan di kawasan hutan Saitama, satu prefektur pinggiran kota dekat Tokyo. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci. Petugas yang diminta menyelidiki lokasi itu menemukan sesuatu sangat familier: sekantong plastik berisi kemasan pil tidur yang tercecer, dan pembakar arang yang mengisap oksigen dari mobil, menyebabkan sesak napas lima pria dan seorang wanita. Dua minggu sesudah kejadian itu saya mendatangi markas besar kepolisian Saitama dan bertemu jurubicara polisi, seorang pria paruh baya berperawakan tinggi-kurus yang semula menolak menjawab pertanyaan apa pun tentang kasus terbaru sekawanan orang yang bunuh diri di prefekturnya. Setelan abu-abu dan kacamata berbingkai hitam yang ia pakai, serta pulpen ganda yang terselip di saku kemejanya, memberinya kesan sangat culun dari karakter manga. Selama lawatan dua minggu saya di Jepang, lima mobil berisi jasad orang-orang mati ditemukan di kawasan hutan di Tokyo. Itu menandakan betapa akrabnya kasus-kasus mengerikan tersebut sampai-sampai urgensinya tak lebih dari sepotong berita numpang-lewat di koran-koran lokal.

“Kami tidak tahu apakah para korban saling mengenal satu sama lain atau bagaimana mereka menjadi akrab,” ujar jurubicara polisi itu sambil mencekal kuat-kuat tas kantor di pangkuannya. Tidak seperti pembunuhan, bunuh diri bukanlah kejahatan sehingga para penyelidik kesulitan mencari pembenaran untuk memecahkan kasus-kasus itu. “Memang,” katanya melanjutkan, “sampai hari ini, 15 hari setelah fakta itu, kami tidak menyadari bagaimana mereka kemudian saling mengenal, atau tidak ada bukti pelanggaran hukum sama sekali menyangkut insiden itu, meski penyelidikan jalan terus.”

Dari 2003 hingga 2005, 180 orang mati dalam 61 kasus yang dilaporkan terkait bunuh diri berkelompok yang dibantu lewat jaringan dunia maya di Jepang. (Sejauh ini tak ada data statistik yang diunggah ke publik untuk tahun 2006.) Kecuali dua kasus, mayoritas lain menunjukkan olah jejak yang amat lazim: Para korban bertemu secara daring (online), memakai nama akun samaran, dan kemudian meminum pil tidur dan menggunakan briket, pembakar arang, dan mengunci mobil atau van yang seketika mengubahnya jadi kamar gas.

(lebih…)