Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

(lebih…)

Iklan

Potret Hemingway

Orang-orang meniru cacatnya, mencuri irama dan ritmenya, dan menyebutnya sebagai ‘Mazhab Menulis Hemingway.’

Oleh Lillian Ross

 

ernest-hemingway_1936815b

 

AKU BERTEMU ERNEST HEMINGWAY kali pertama saat hari sebelum Natal pada 1947 di Ketchum, Idaho. Saat itu aku dalam perjalanan pulang menuju New York dari Meksiko, tempat aku menemui Sidney Franklin, matador Amerika dari Brooklyn, untuk kutulis sosoknya buat rubrik profil di The New Yorker.

Hemingway sudah lama mengenal Franklin sebagai matador di Spanyol pada akhir 1920-an dan awal 1930-an. Aku pergi melihat sejumlah corrida—gelanggang pertarungan—bersama Franklin di Meksiko, dan mendapati diriku terhenyak dan ketakutan sampai mati kaku saat menyaksikan untuk kali pertama adu manusia versus banteng di sebuah arena. Meski aku mengapresiasi usaha mati-matian matador dengan jubah merahnya mengalahkan banteng, dan atmosfer seremonial bersemangat yang menyelimutinya, aku tak begitu jatuh cinta pada permainan ini. Kupikir yang membuatku tertarik adalah bagaimana Franklin, anak dari polisi pekerja keras di Flatbush, menjadi seorang matador.

Sewaktu Franklin berkata Hemingway adalah orang Amerika pertama yang bicara dengan cerdas tentang adu matador versus banteng, aku menelepon Hemingway di Ketchum. Hemingway menyukai liburan di sana, bermain ski dan berburu, jauh dari rumahnya di San Francisco de Paula, dekat Havana, Kuba. Ia kemudian membeli sebuah rumah di Ketchum. Saat kutelepon, Hemingway sedang menginap di sebuah kabin turis bersama istrinya, Mary, dan anak-anaknya—John, Patrick, dan Gregory—serta beberapa teman mancing dia dari Kuba. Ia bermurah hati mengundangku dalam perjalanan pulang ke Timur.

Pukul 7 pagi, aku melihat Hemingway di depan kabin turis setelah kereta tiba. Ia berdiri di atas hamparan salju yang keras, dalam suhu dingin yang kering minus 10 derajat, beralas sandal kamar tanpa kaos kaki. Ia mengenakan pantolan Western dengan sabuk Indian bergesper perak dan kaos olahraga tipis berkerah dengan saku kancing model Western. Kumisnya kelabu, tapi saat itu dagunya belum bercambang. Dalam pelbagai foto yang dikenang, Hemingway kelak menampilkan bakat seorang patriark yang memancar keagungan dan inosens—suatu aura yang entah bagaimana tampaknya tak pernah bertentangan dengan sifat kasarnya.

(lebih…)

Mari Mati Bareng

Mengapa bunuh diri berkelompok begitu populer di Jepang?

Oleh David Samuels

The Atlantic | Mei 2007

shinjuku-street

I

Kematian di Saitama

10 MARET 2006, sebuah mobil ditemukan di kawasan hutan Saitama, satu prefektur pinggiran kota dekat Tokyo. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci. Petugas yang diminta menyelidiki lokasi itu menemukan sesuatu sangat familier: sekantong plastik berisi kemasan pil tidur yang tercecer, dan pembakar arang yang mengisap oksigen dari mobil, menyebabkan sesak napas lima pria dan seorang wanita. Dua minggu sesudah kejadian itu saya mendatangi markas besar kepolisian Saitama dan bertemu jurubicara polisi, seorang pria paruh baya berperawakan tinggi-kurus yang semula menolak menjawab pertanyaan apa pun tentang kasus terbaru sekawanan orang yang bunuh diri di prefekturnya. Setelan abu-abu dan kacamata berbingkai hitam yang ia pakai, serta pulpen ganda yang terselip di saku kemejanya, memberinya kesan sangat culun dari karakter manga. Selama lawatan dua minggu saya di Jepang, lima mobil berisi jasad orang-orang mati ditemukan di kawasan hutan di Tokyo. Itu menandakan betapa akrabnya kasus-kasus mengerikan tersebut sampai-sampai urgensinya tak lebih dari sepotong berita numpang-lewat di koran-koran lokal.

“Kami tidak tahu apakah para korban saling mengenal satu sama lain atau bagaimana mereka menjadi akrab,” ujar jurubicara polisi itu sambil mencekal kuat-kuat tas kantor di pangkuannya. Tidak seperti pembunuhan, bunuh diri bukanlah kejahatan sehingga para penyelidik kesulitan mencari pembenaran untuk memecahkan kasus-kasus itu. “Memang,” katanya melanjutkan, “sampai hari ini, 15 hari setelah fakta itu, kami tidak menyadari bagaimana mereka kemudian saling mengenal, atau tidak ada bukti pelanggaran hukum sama sekali menyangkut insiden itu, meski penyelidikan jalan terus.”

Dari 2003 hingga 2005, 180 orang mati dalam 61 kasus yang dilaporkan terkait bunuh diri berkelompok yang dibantu lewat jaringan dunia maya di Jepang. (Sejauh ini tak ada data statistik yang diunggah ke publik untuk tahun 2006.) Kecuali dua kasus, mayoritas lain menunjukkan olah jejak yang amat lazim: Para korban bertemu secara daring (online), memakai nama akun samaran, dan kemudian meminum pil tidur dan menggunakan briket, pembakar arang, dan mengunci mobil atau van yang seketika mengubahnya jadi kamar gas.

(lebih…)

Kisah Penjual Buku yang Pergi Terlalu Cepat

“Pada masa jayanya, Jalan al-Mutanabbi mewujudkan pepatah lawas: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Baghdad yang membaca.”

oleh Anthony Shadid

The Washington Post | 12 Maret 2007

al-mutanabbi-street-nine-months-after-the-bombing-ap-photo-khalid-mohammed
Seorang pria Irak melihat-lihat buku di Jalan al-Mutanabbi, 9 bulan setelah pemboman. ©2007 AP Photo/ Khalid Mohammed (sumber foto: http://goo.gl/sTPqnz)

Itu musim panas 2003, sewaktu Irak diliputi separuh kebenaran soal pendudukan dan pembebasan, sebelum berbalik aksi-aksi nihilistik berwujud pembantaian. Mohammed Hayawi, seorang pria botak, tengah berdiri di tokonya, Tokobuku Renaisans, di jalan al-Mutanabbi yang terkenal.

Di rak setinggi delapan baris berjejal buku-buku karya penyair komunis dan ulama syahid, terjemahan Shakespeare, kitab ramalan astrolog Lebanon, sekuplet 44 jilid karya ayatullah yang dihormati, dan risalah dari pemikir saklek abad pertengahan Ibnu Taimiyyah. Rak-rak buku berdebu menyesaki lantai ubin krem, membentang dan bernoda terbalut usia. Di ruangan sempit, Hayawi menyejukkan diri dengan sebuah kipas; keringat mengucur deras di mukanya yang tembam dan membasahi kemeja birunya.

Kami bertemu sebelum invasi Amerika, dan nyaris setahun kemudian, ia segera mengenaliku.

“Abu Laila,” katanya, memanggilku dengan nama putriku.

Nyaris saban kali bilamana kami berjumpa, ia selalu mengutarakan sepotong kalimat yang sama. “Aku menantang setiap orang, Abu Laila, untuk mengungkapkan apa yang terjadi, apa yang terjadi kini, dan apa yang akan terjadi di masa depan.” Dan, seraya minum secangkir teh yang mengepul hangat bahkan di hari yang panas, ia menggelengkan kepalanya.

Sebuah bom mobil meledak pekan lalu di Jalan al-Mutanabbi, meninggalkan sepotong jejak yang kian lazim saja di Baghdad, suatu gambaran akan kekacauan, kekejaman yang memilukan, dan situasi tak terbayangkan yang terus berulang. Sedikitnya 26 orang tewas. Hayawi si penjual buku salah satunya.

(lebih…)

Seni Menulis Profil

Obrolan sekilas bersama David Remnick, pemimpin redaksi The New Yorker, yang menulis profil Bruce Springsteen, musisi yang disebut sebagai penyair dari kelas pekerja Amerika.

remnick-on-bruce

David Remnick menulis untuk bersenang-senang. Ini mungkin sentimen aneh yang datang dari pemimpin redaksi The New Yorker, majalah yang dikenal berkat tradisi ulung sastrawinya dan prestise jurnalistiknya. Tapi “bersenang-senang” dalam pengertian ini janganlah dibaca sebagai perihal sepele. Apa yang dimaksud Remnick bermain-main dalam menulis ialah tapal-jejak naskah-naskah profil New Yorker, yang membuat penulis majalah itu berminggu-minggu atau berbulan-bulan meneliti dengan cermat dan bepergian ke sana kemari dan menayangkan ribuan kata. Dalam kesempatan naskah profil terbarunya yang komprehensif tentang Bruce Springsteen sepanjang 15 ribu kata (terbit dalam edisi 30 Juli 2012 berjudul “We are Alive”), kami menggali pemikirannya soal seni menulis profil kiwari dan bagaimana bentuk penulisan sosok itu bermula dan berkembang di majalah tersebut. (lebih…)

Filep Karma

FK
Filep Karma di stasiun Tugu Yogyakarta setelah datang menghadiri sidang pra-peradilan atas kasus rasialisme yang menimpa mahasiswa Papua. ©2016

Ia besar bukan dengan peluru. Dan satu setengah bulan usai kejatuhan Soeharto menyulut bara kebebasan politik di Papua yang nantinya berumur pendek, sebutir peluru melesat begitu dekat hingga menggores sebilah pipinya dan ia merasakan panas dari timah api yang terbakar memancar di belakangnya. Ia bersyukur, bagaimanapun, dan menyadari berhari-hari kemudian saat dirawat di ranjang rumah sakit di samping seorang polisi, si opsir itu mengatakan bahwa peluru tersebut, yang akan membunuhnya bersama ratusan orang Papua lain yang dibuang ke laut di hari aksi menuntut referendum, sudah pasti datang dari penembak jitu. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara dan ia mengajukan banding dan bebas. Tetapi, dengan menyimpan hati nurani yang makin bergolak, ia kembali mencium bilik jeruji negara Indonesia—kali ini dalam tempo yang panjang—dan itulah senjatanya: Seseorang dengan sepenuh sadar mengangkut kata-kata kebebasan yang diringkus dari kemerdekaan dan kemanusiaan yang dibunuh, dan sebab itulah ia dibui, dan kata-kata itu bukannya padam tapi justru kian menemukan api. (lebih…)

Racun Tambang Emas Indonesia

Lebih dari sejuta penambang skala kecil di negeri ini terpapar racun merkuri, menyebabkan anak lahir lumpuh.

Oleh Richard C. Paddock

IPAN, 16 BULAN, menderita kejang kali ketiga pagi ini. Kepalanya kelewat gede dari badannya dan kakinya setipis tongkat. Punggungnya melengkung, anggota tubuhnya kaku. Ia menangis kesakitan.

Ibunya, Fatimah, berusaha menenangkan Ipan, tapi tak banyak yang ia bisa lakukan. Seorang dukun berkata jiwa anaknya kerasukan arwah monyet, kalong, dan gurita. Atas saran si dukun, Fatimah dan suaminya, Nursah, mengganti nama putranya dari Iqbal ke Ipan dan menyuapi Ipan dengan nasi kepal isi daging cumi.

“Kata dukun, itulah mengapa kaki Ipan terlihat seperti kaki monyet,” ujar Nursah. “Sebetulnya saya tak percaya, tapi saya akan berusaha segala cara.”

Dokter mengatakan dalang sebenarnya sangatlah gamblang: keracunan merkuri. Orangtuanya penambang skala kecil yang biasa memakai logam berat itu untuk memproses emas selama bertahun-tahun sebelum Ipan lahir, termasuk ketika Fatimah mengandung.

(lebih…)