Tag: Cikeusik

Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

Catatan atas persidangan kasus serangan mematikan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang digelar secara simultan selama 5 bulan pada 2011. Para pelaku pembunuhan dan pengeroyokan hanya dihukum 3-6 bulan penjara; adapun seorang Ahmadi, yang mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya, diseret ke pengadilan di bawah hukum compang-camping dengan vonis 6 bulan penjara. Saya menyentuh kembali esai ini lantaran diminta untuk memeriksa dokumentasi naratif mengenai persekusi terhadap muslim Ahmadiyah di Indonesia, sejak kemunculan fatwa MUI sampai SKB 2008, dalam sebuah buku yang direncanakan terbit akhir tahun ini.
kartun-rest-in-peace-rip-penegakan-hukum-hendrikus-david-arie-mulyatno-sp
“Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum” ©2013 Hendrikus David Arie Mulyatno. Karikatur ini terbit di Suara Pembaruan edisi 17 Oktober 2013 dan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Sumber dari sini.

 

SIDANG KASUS CIKEUSIK berlangsung di Pengadilan Negeri Serang, Banten. Ke-12 terdakwa, dalam 11 berkas, menjalani proses persidangan sejak 26 April 2011, berlangsung di tiga ruangan terpisah, berjalan simultan, satu demi satu terdakwa diproses, setiap Selasa dan Kamis.

Kasus ini juga menjerat Deden Sudjana dari muslim Ahmadiyah. Pada 20 Mei, Sudjana resmi ditahan di Lapas Serang. Pada 8 Juni, ia menjalani sidang perdana. Sudjana diancam pidana penghasutan, melawan perintah petugas, dan penganiayaan[1]. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, salah satu kuasa hukum dari sebuah koalisi bernama Tim Advokasi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara[2], menyatakan dakwaan terhadap Sudjana merupakan bentuk “kriminalisasi dan viktimisasi terhadap korban.” Sudjana diancam maksimal 6 tahun penjara.

Dokumentasi @cikeusiktrial atas proses persidangan, terungkap “fakta-fakta hukum” yang bisa kita pelajari dari beberapa saksi guna menelusuri seluruh kasus ini. Ada beberapa saksi yang keterangannya dapat menjelaskan jejaring mobilisasi, hasutan, dan pelaku, yang sedikit-banyak berperan dalam insiden penyerangan dan pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah di Cikeusik.

Namun, di sisi lain, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam proses persidangan. Hakim dan jaksa lebih berkutat pada “siapa yang menyerang lebih dulu” ketimbang, misalnya, menelusuri jejaring pelaku dan keterlibatan terdakwa dalam perkara. Mereka lebih mengedepankan logika dan pandangan agama daripada pandangan hukum yang menyangkut sidang pidana.[3]

(lebih…)

Iklan

Persekusi Muslim Ahmadiyah

Rumah seorang muslim Ahmadiyah di kampung Cicakra, Cianjur, yang dibakar akibat kebencian anti-Ahmadiyah, akhir Juli 2011.

TAHUN ini pemerintahan Yudhoyono perlu membuktikan lagi bahwa Indonesia menganut pinsip kebebasan beragama. Pada Mei 2011, Indonesia kembali terpilih untuk kali ketiga sebagai negara anggota Dewan HAM PBB. Dalam poin “komitmen dan janji sukarela” kepada Majelis Umum PBB—prasyarat bagi kandidat negara anggota—disebutkan negara Indonesia berlandaskan “prinsip kebebasan beragama dan toleransi” yang menjadi “bukti demokrasi dan Islam dapat hidup berdampingan secara damai.”

Namun pernyataan itu bisa mengecoh, jika bukan menutupi, fakta-fakta di ranah kebebasan beragama di dalam negeri, di mana kasus-kasus kekerasan terhadap minoritas agama, terutama jemaat muslim Ahmadiyah, kian menguat sekaligus meluas. Berkebalikan dengan solusi pemanis bibir—politik idiomatik Yudhoyono yang gemar bikin janji dan pidato, kasus-kasus persekusi itu meningkat di bawah pemerintahannya. (lebih…)

‘Apa Salah Kami?’

Al-quran dibakar massa penyerang di Cisalada, 1 Oktober 2010.

CISALADA sebuah perkampungan tipikal provinsi Jawa Barat. Ia dikelilingi sawah dan kebun, sekira 20 kilometer dari kota Bogor. Warga bekerja petani, sebagian pensiunan. Kehidupan berjalan tenang dan lambat. Menjelang sore, anak-anak bermain di lapangan bulutangkis, sebelah madrasah dan, bersama orangtua, menuju masjid guna ibadah maghrib. Suasana terlihat normal sampai kemudian, di tengah meningkatnya kekerasan minoritas agama, warga Cisalada berselimut ketakutan dalam arus kebencian anti-Ahmadiyah saat penyerangan awal Oktober 2010.

Para penyerang dari dua kampung tetangga, berjarak sekira 500 meter. Mulanya 30-an remaja, usia 14-17 tahun, berusaha membakar masjid tapi segera dihentikan warga Cisalada. Lantas, disulut isu membela diri atau sudah dirancang sebelumnya, 300-an orang dewasa berdatangan dan menjadikan Cisalada sebagai panggung parade kebencian.

Para penyerang melempar batu dan bom molotov. Membakar sebagian rumah dan bangunan masjid. Isi rumah dijarah. Kaca jendela pecah. Pintu dirusak. Sekira 50 Al-quran dilalap api. Madrasah dibakar. Mereka teriak: “Podaran!” “Ahmadiyah anjing!”—seraya takbir. Di sisi serupa, warga Cisalada mengucapkan “Astaghfirullah” sembari sembunyi di kebun belakang rumah atau lari ke sawah. Pada akhirnya, polisi dari kantor terdekat, sekira 20 menit dari lokasi kejadian, datang dua jam kemudian. Itu sangat terlambat. Alasan polisi: jalan diblokade. Hingga tengah malam, api masih berkobar sejak prakarsa serangan dimulai pukul 19:00. Saat bersamaan pula saluran air dari sumber telaga telah dimatikan lebih dulu. (lebih…)

‘A Man with a Few Words’

Hari terakhir Tubagus Chandra

DERING PONSEL JAM 11 malam membangunkan Tubagus Chandra. Beberapa saat kemudian dia berkata kepada istrinya: “Ada tugas jaga.”

Ina Sakinah mendengar dalam keadaan mengantuk.

“Mesti ke Pandeglang. Ke Cikeusik,” katanya.

Ina menyahut “Jangan…” lebih karena dia tahu suaminya tak biasa terjaga malam. Ina memahami kebiasaan Chandra selama delapan tahun pernikahan mereka. Sabtu malam itu, 5 Februari, Chandra tidur pukul 8 malam.

“Ya, udah,” kata Ina, “Saya bawain baju.”

“Ah, bawa baju segala! Besok juga pulang.”

“Ah, besok, besok pulang tea di Kawalu, tahu-tahu seminggu!” jawab Ina.

Ina merujuk kecamatan di Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat panti asuhan Khasanah Kautsar (artinya ‘wawasan yang kaya’) milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Panti tersebut digembok oleh Kasat Intel Polres pada 8 Desember 2010. Ada sepuluh anak asuh di panti itu, di antaranya dua anak pengungsi dari Lombok yang jadi korban penyerangan dan pengusiran keluarga Ahmadi pada 2001. Chandra terlibat dalam tugas pengamanan di panti itu sesudah gembok dibuka pada 10 Januari 2011. (lebih…)