Tag: Jurnalisme

Menerabas Jalan Buntu: Bagaimana David Grann menulis Kisah Epik “The White Darkness”

Ketika sang pengarang bertarung dari badai es dalam dirinya untuk menuturkan hikayat penjelajahan dan tragedi penaklukan modern.

Tautan artikel orisinal | oleh Steve Oney

Henry-Worsley2
Photo by antantarctic/Shutterstock

KALIMAT pembuka itu menghardik David Grann setahun sebelum ia merampungkan cerita epiknya dan setahun setelah peristiwanya sendiri dilukiskan:

Pria itu merasa serupa sebuah noktah yang hanyut dalam padang beku yang hampa. Tiap langkah yang ia tuju semata hamparan es merentang ke sudut Bumi: es putih dan es biru, bibir sungai es dan bilah-bilah es curam. Sejarak mata memandang tiada makhluk bernyawa satu pun. Tak ada beruang dan bahkan seekor burung. Tiada apa pun selain dia.

Februari 2017, Grann tengah menyusuri jalanan London sesudah menghabiskan beberapa hari memilukan saat berbincang dengan janda, anak-anak, teman dan karib dekat Henry Worsley, pensiunan perwira Inggris berusia 55 tahun, yang tewas selagi menantang maut: berjalan kaki sendirian dan tanpa bantuan (ia harus menyeret perbekalan dengan sebuah kereta luncur), dari satu sisi Antartika ke sisi lain—bentang alam buas berjarak lebih dari 1.610 kilometer. (Sebagai perbandingan: Jarak Jakarta ke Surabaya sekitar 770 km.)

“Saya ingin merumuskan jantung pertanyaan mengenai kehidupan Worsley,” ujar Grann menjelaskan pengalamannya menyusun kalimat pembuka atas kisah yang kemudian berjudul “The White Darkness,” artikel sepanjang 21.000 kata yang terbit di The New Yorker bulan lalu.

“Apa yang menghambat tekad manusia saat menghadapi rintangan tak tertaklukkan? Kita semua menghadapi pertanyaan itu.”

Begitulah, segelintir dari banyak keganjilan saat menyuguhkan dilema pokok Worsley, Grann menyoroti kondisi universal. Mengutip novelis Thomas Pynchon, sebagaimana disajikan “The White Darkness”: “Kita semua memiliki Antartika dalam diri kita”—suatu tempat yang melabuhkan kita menyibak pencarian atas jati diri kita.

Pertemuan Grann dengan keluarga dan sejawat Worsley jauh setelahnya. Grann, yang menulis The Lost City of Z—kisah lain tentang obsesi manusia dalam penaklukan—mengirim surel ke janda si penjelajah sesudah ia membaca obituari di koran Inggris dan berpikir: Ini bakal jadi cerita yang menakjubkan. Tapi respons yang ia terima: Tak ada yang mau bicara.

Grann kecewa. Tapi ia adalah penulis yang tak gampang puas diri. Buku ketiganya, Killers of the Flower Moon, terbit beberapa bulan lalu, dan promosi atas buku itu telah berjalan. Ia kembali ke rutinitasnya: melakukan reportase untuk The New Yorker mengenai sepasang pengacara California yang amoral menuduh seorang ibu dari Perhimpunan Orangtua-Guru (PTA) menggunakan narkoba.

Tapi, usai liputan beberapa waktu, kisah kriminal itu berantakan: Christopher Goffard dari LA Times telah menggali semuanya. Grann akhirnya memutuskan kembali ke ide kisah Worsley. Kali ini ia menerima jawaban yang meyakinkan dan segera terbang ke Inggris. Tiada persiapan sebelumnya bahwa pertemuan pertamanya dengan keluarga Worsley berjalan sangat emosional.

“Saya menulis banyak orang yang melakukan perbuatan sinting,” ujar Grann, yang buku keduanya, The Devil and Sherlock Holmes, merupakan galeri para penipu dan pembunuh ulung. “Ketika berusaha merekam kisah hidup mereka, saya berusaha memahami mereka. Tapi dengan Henry dan setiap orang yang berhubungan dekat dengannya, ada perkara yang lebih dari sekadar pemahaman. Tumbuh perasaan peduli saya. Sebuah hubungan emosional. Saya merasakan tragedi, dukacita. Reporter diharuskan tidak memihak, tetapi ada saatnya lebih baik perasaanmu dibiarkan berkembang.”

Kisah itu berkembang menjadi tak cuma sebuah cerita—ini adalah warisan, lengkap dengan segudang koleksi pribadi Worsley dan tulisan tangan Joanna, janda sang penjelajah, yang tersuguhkan untuk Grann. “Ia mengizinkan saya membaca buku tulis dan diari Henry, dan mendengarkan rekaman suara dari ekspedisi tersebut.”

Buku harian itu, terutama dari jenis buku saku Inggris, berisi fragmen puisi dan prosa yang ditulis Worsley selama bertahun-tahun dalam upayanya menangkap dan menyimpan perasaan terdalam. Ia mengutip baris-baris kalimat dari Kipling hingga Lance Armstrong. Worsley meyakini kekuatan tekad dan mengumpulkan semboyan. Di antaranya: “Dengan ketahanan, kita mampu menaklukkan” atau “Senantiasa menyongsong langkah ke depan.”

Catatan harian Worsley bahkan sangat bermanfaat. “Di satu halaman ia mencatat garis bujur, garis lintang, suhu, dan jarak kilometer demi kilometer selama ekspedisi Antartika,” ujar Grann. “Di halaman lain ia melukiskan lebih banyak kisah personal. Rangkaian tulisan tangan yang kasar, yang mencatat peristiwa yang dialaminya. Ia menggambarkan bagaimana rasanya pergi ke toilet dalam cuaca yang sangat dingin.”

“Ini jenis informasi yang kelak memuluskan tulisanmu. Catatan rinci kehidupannya selagi ia terus menantang dirinya menerabas rintangan,” ujar Grann.

Dengan sumber yang begitu kaya, Grann mengajukan ide tulisan itu ke Daniel Zalewski, editornya di The New Yorker, dan menerima balasan bahwa artikel tak boleh lebih dari 8.000 kata—yang nyatanya sulit bagi Grann. “Saya yang terburuk,” ujarnya. “Saya selalu berkata ceritanya akan lebih ringkas tapi ternyata sepanjang itu, selalu delapan kali lebih panjang dan delapan kali lebih lama.”

Masalah utama yang dihadapi Grann saat menulis “The White Darkness” adalah topiknya terlalu rumit. Tak cuma ia ingin membangun adegan demi adegan perjalanan fatal Worsley tahun 2016, tapi juga ia ingin mengisahkan detail demi detail kisah sukses grup penjelajah yang dipimpin Worsley pada 2009, pencapaian yang gagal dilakukan Sir Ernest Shackleton dalam ekspedisinya tahun 1914.

Shackleton adalah sumber inspirasi Worsley. Faktanya, Henry Worsley adalah kerabat jauh Frank Worsley, kapten kapal Shackleton, Endurance. Henry terpacu bahwa misinya adalah menuntaskan ekspedisi Shackleton. Bagi Grann, narasi yang tumpang-tindih (kisah antara Worsley dan Shackleton) memberinya kesempatan untuk menangkap tragedi modern dan pendahulunya di era Edwardian sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan apa makna dari penjelajahan tersebut.

(Dalam satu paragraf, Grann menulis: Henry Worsley membaca segala hal yang terkait tentang Shackleton dan para penjelajah kutub Bumi. Ia gembira ketika mengetahui bahwa Frank Worsley, seorang orang kepercayaan dari salah satu ekspedisi Shackleton, adalah kerabat jauhnya, dan menulis memoar menggentarkan yang ia gambarkan menantang “serangkaian badai, angin, dan topan salju tanpa kenal rasa takut.”)

“Setiap cerita memiliki tantangannya sendiri,” ujar Grann, “tapi di tengah jalan, saya menghadapi jalan buntu. Sangatlah susah menggabungkan begitu banyak informasi. Saya harus memahami hubungan antara Henry dan Shackleton. Saya harus memahami geografi Antartika. Masalahnya, saya tak pernah ke sana. Saya tak pernah menulis tentang sebuah tempat yang belum saya kunjungi. Ketika saya menulis ‘The Lost City of Z,’ saya pergi ke Amazon.”

Editornya, Zalewski, menggenapkan kecemasan draf pertama karangannya. “Daniel berkata, ‘Saya tak merasakan tempat yang kau tulis.’”

Karena itulah Grann kembali bekerja, dan mencurahkan waktu untuk belajar mengenal Antartika. “Tempat itu sangat asing bagiku. Apa yang tidak saya pahami adalah Antartika sebenarnya padang sunyi.”

Daya dobrak Grann memungkinkannya melihat lanskap alam tersebut, yang gilirannya memandu dia memasuki bagian cerita yang paling dramatis—upaya Worsley yang tersesat dan berusaha mendaki dan menuruni puncak es tanpa kenal ampun dan keputusannya, 175,4 km lebih pendek dari tujuannya, hanya untuk mengakui kegagalan dan akhirnya memanggil ambulans udara. Worsley meninggal terserang radang selaput paru (peritonitis) di rumah sakit.

“Bagian terakhir,” ujar sang pengarang, “saya menulisnya dengan cepat.”

Penggarapannya yang lama rupanya menuai berkah yang tak disangka-sangka. Sebelum ia merampungkan naskahnya, Joanna Worsley dan anak mereka (Max dan Alicia) terbang ke Antartika untuk menabur abu suami dan ayah mereka. Kunjungan itu memberi Grann sebuah penutup yang solid, jalan membawa pulang hidup kehidupan manusia dari pemburuannya atas sang tokoh utama.

Meski nyaris tiga kali lebih panjang dari yang semula ditugaskan, artikelnya nyaris tak mendapatkan banyak penyuntingan. “Saya mengira-ngira seberapa panjang nanti yang ditayangkan,” ujar Grann. “Rupanya tak banyak yang dipotong.”

Bagian terbaik dari narasinya—berkat akses penulis ke catatan yang cermat ditulis Worsley—tak cuma menggambarkan sang penjelajah bergulat dengan lanskap alam yang brutal, melainkan juga mengajak pembaca menyelami kegelisahannya yang terdalam. Tingkat keintiman sang penulis dengan subjek ceritanya menyuguhkan sebuah jurnalisme dengan kualitas yang sangat tinggi, tetapi juga membuat sang pengarang khawatir apakah penulis di masa depan akan seberuntung dia.

“Saya menyesal kita hidup di dunia tanpa dokumen dan tulisan tangan,” ia berkata. “Saya takkan menyelesaikan kisah ini tanpa buku tulis dan diari Henry. Media sosial bersifat sementara. Cuma titik kecil dan lenyap dengan cepat. Dengan Henry, saya memiliki barang fisik yang seutuhnya. Karena itulah saya bisa merekonstruksi keseharian dan pikirannya dengan sudut pandang yang begitu istimewa, yang semakin sulit dipahami dalam pelaporan. Tak peduli seberapa penting kisah yang kamu tuturkan, kamu takkan cakap menuliskannya ketika tak ada catatan.”*

__________________

Catatan: David Grann, staf penulis untuk The New Yorker sejak 2003. Pengarang The Lost City of Z: A Tale of Deadly Obsession in the Amazon (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Buku terbarunya, Killers of the Flower Moon: The Osage Murders and the Birth of the FBI, menjadi finalis National Book Award 2017.

Iklan

Mari berkenalan dengan Pamela Colloff, penulis yang bagusnya brengsek banget di Texas

“Tak banyak penulis unik seperti Pam setiap hari. Dalam segala aspek di bisnis ini, ia seperti unicorn—diburu oleh chupacabra, dimakan oleh Bigfoot.”

oleh Lyz Lenz | 24 Februari 2017 | Columbia Journalism Review.

 

Pamela Colloff
©Jeff Wilson

 

PAMELA COLLOFF, yang baru lulus dan enggak punya kerjaan, pergi dari New York bareng temannya, Margaret Brown, pada 1994 dengan Volvo butut tanpa tujuan pasti. Mereka bokek dan pengin mengisi hidup sepenuhnya dengan petualangan dan seni. Pada akhirnya mereka berkelana ke Austin, Texas—negara bagian AS di kawasan tengah-selatan dan berbatasan dengan Meksiko.

Rencananya, mereka di sana cuma sebentar, tetapi Colloff malah enggak pengin cabut. Sewa rumah di sana murah, cuma 300 dolar AS sebulan, dan kondisi ini bikin ia punya waktu menulis.

Dan ada perihal lain: Texas bikin hatinya kepincut.

“Habis aku tiba ke sini, aku selalu punya banyak ide. Kupikir karena ini berbeda dan segalanya serba baru, aku jadi punya banyak ide menulis,” ujarnya.

Di sinilah, di rumah yang serba kebetulan, di luar pusat media tradisional di Amerika, Colloff menemukan panggilannya dan membangun sebuah dinasti.

Direkrut oleh Texas Monthly sebagai penulis pada 1997, ia kini menjadi redaktur eksekutif dan salah satu arsitek yang memimpin majalah tersebut menata reputasi nasional dalam laporan kriminal mendalam dan feature panjang. Di sebuah era yang menuntut serba tergesa-gesa, ketekunannya dalam investigasi, wawancara, dan menyingkap karakter membuatnya diganjar enam nominasi Anugerah Majalah Nasional (National Magazine Awards), lebih dari penulis perempuan dalam sejarah penghargaan tersebut (ia menang satu kali).

(lebih…)

Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

(lebih…)

Seni Menulis Profil

Obrolan sekilas bersama David Remnick, pemimpin redaksi The New Yorker, yang menulis profil Bruce Springsteen, musisi yang disebut sebagai penyair dari kelas pekerja Amerika.

remnick-on-bruce

David Remnick menulis untuk bersenang-senang. Ini mungkin sentimen aneh yang datang dari pemimpin redaksi The New Yorker, majalah yang dikenal berkat tradisi ulung sastrawinya dan prestise jurnalistiknya. Tapi “bersenang-senang” dalam pengertian ini janganlah dibaca sebagai perihal sepele. Apa yang dimaksud Remnick bermain-main dalam menulis ialah tapal-jejak naskah-naskah profil New Yorker, yang membuat penulis majalah itu berminggu-minggu atau berbulan-bulan meneliti dengan cermat dan bepergian ke sana kemari dan menayangkan ribuan kata. Dalam kesempatan naskah profil terbarunya yang komprehensif tentang Bruce Springsteen sepanjang 15 ribu kata (terbit dalam edisi 30 Juli 2012 berjudul “We are Alive”), kami menggali pemikirannya soal seni menulis profil kiwari dan bagaimana bentuk penulisan sosok itu bermula dan berkembang di majalah tersebut. (lebih…)

Buku “Dapur Media”

©Yayasan Pantau, Maret 2013
©Yayasan Pantau, Maret 2013

SAYA HENDAK MENGENALKAN buku Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia yang baru saja diterbitkan Yayasan Pantau, satu organisasi yang belakangan lebih sering bergiat di pelatihan penulisan, tempat saya biasa menumpang ngetik di Jakarta. Kebetulan saya menyunting buku tersebut bersama Basillius Triharyanto.

Isi buku itu berisi 9 liputan media, sebagian pernah dimuat majalah Pantau, termasuk narasi Tempo dan Kompas yang ditulis Coen Husain Pontoh. Liputan lain: Jawa Pos oleh Max Wangkar, Bisnis Indonesia (Eriyanto), Suara Timor Timur (Irawan Saptono), dan Sriwijaya Pos – satu koran lokal di Palembang – oleh Taufik Wijaya. Tiga liputan terbaru datang dari Lilik HS yang menulis Kaskus, Komarudin soal Yahoo! Indonesia, plus Triharyanto yang membahas isu serikat pekerja media lewat kasus Luviana dari Metro TV. Kesemua narasi ini bercerita tentang dinamika ruang redaksi — salah satu pembahasan penting bila Anda mempelajari jurnalisme — dan dalam titik kisar tertentu menjelaskan sejarah ekonomi-politik Indonesia pasca-1965.

David Hill, yang menulis Pers di Masa Orde Baru (Obor, 2011), menuliskan pengantar guna memberi konteks perkembangan pers dan diskusi yang mengiringinya, selain masalah-masalah khusus yang dihadapi media di Indonesia pasca-Soeharto. Ariel Heryanto dan Janet Steele memberikan “endorsement” buku.

Sudah banyak penelitian tentang industri media di negara kepulauan ini, termasuk yang mutakhir dari CIPG yang menyoroti konglomerasi media. Dari ribuan media, hanya segolongan kecil pemiliknya, mengikuti sentralisme kekuasaan dari warisan Orde Baru, betapapun sejak adanya desentralisasi politik dan keuangan, peta ekonomi-politik berubah … begitupula korupsinya.

Tentu saja, ada banyak celah yang bisa mengisi ruang diskusi dan peliputan soal jurnalisme di Indonesia. Buku Dapur Media, yang bisa dipakai untuk studi kasus media-media ini, hanyalah salah satunya. Soal lain adalah peta kepentingan politik pemilik media. Ini menguat terutama sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa di mana ada begitu banyak media partisan, termasuk Yudhohono sendiri dengan harian Jurnal Nasional-nya. Isu itu juga yang diuraikan secara dramatis oleh sineas Ucu Agustin dalam film Di Balik Frekuensi, khusus menyinggung media televisi.

Terakhir, sebagaimana David Hill mengingatkan dalam pengantar buku ini, tanggungjawab media terhadap publik — yang seyogyanya sudah jadi prinsip dasar dari jurnalisme — takkan bisa sepenuhnya berjalan sendiri di tengah kontestasi kepentingan politik yang tengah dihadapi di Indonesia. Ia perlu bekerjasama dengan, dan didukung oleh, unsur-unsur penggiat demokrasi. Dan bila bentuk-bentuk advokasi publik itu terbentur tembok — dengan pembatasan-pembatasan yang dibikin pemilik media bersangkutan — maka kita tak henti-henti mengingatkannya. Semoga buku ini menjadi bagian di dalamnya.*

Naskah Nonfiksi 2012 yang Patut Dibaca [versi saya]

BILA ADA YANG BERTANYA mana saja naskah jurnalisme, atau nonfiksi, yang dianggap terbaik bagi saya untuk tahun 2012, saya akan memilih beberapa di antaranya, dan di antara mereka, sebenarnya, adalah kawan saya sendiri, yang kebetulan saya baca tulisannya lewat internet. Saya terinspirasi dari situs Longform dan Longreads yang biasa mengkurasi beragam naskah panjang, yang umumnya terbit dari media di daratan Inggris dan Amerika Serikat. Ini juga kecenderungan dari munculnya media sosial macam Facebook dan Twitter dalam arus informasi yang maha dahsyat di mana, akhirnya, diperlukan semacam agregator atau navigasi dari seseorang atau lembaga (apapun kecenderungan kesukaannya) untuk memilah mana yang menurutnya layak dibaca sembari mengungkapkan alasannya (bila diperlukan).

Setiap tahun juga ranah jurnalisme di Indonesia menggelar penghargaan sesuai kriteria dari inisiator, misalnya yang sering dilakukan Adiwarta Award dan Mochtar Lubis Award. Ini belum termasuk dari institusi pemerintah dan lembaga donor macam UNICEF yang kerapkali bikin penghargaan untuk karya jurnalisme di sini. Pemilihan saya, sebagaimana seseorang memilih, punya kesan subjektif, namun sesungguhnya dari apa yang disebut “politik pemilihan” biasanya terletak seberapa meyakinkan Anda memilih, misalnya, warna merah, bukannya warna hijau. Ia juga kadang diiringi dampak tulisan ini terhadap audiens. Boleh jadi di situlah perbedaan antara satu penulis dan penulis lain. Sebuah naskah tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua, misalnya, tentu punya audiens  berbeda sama sekali dengan satu naskah tentang pagelaran busana pakaian renang. Benarlah kemudian apa sering diungkapkan pengarang bahwa setiap tulisan punya pembacanya sendiri; bahwa setiap anak rohani mencari terang sendiri di tengah kerumunan yang seringkali sesak.

[] Kekerasan Massal  dan Manusia Bebas dalam The Act of Killing

Inilah kali pertama saya membaca ulasan tentang film garapan Joshua Oppenheimer, yang ditulis Ronny Agustinus di Jurnal Footage, awal September. Agustinus membahas secara komprehensif dari film yang banyak dipuji kritikus tentang peristiwa pembantaian orang-orang yang dituduh ‘komunis’ pada 1965-1966. Alih-alih merekam testimoni korban, Oppenheimer mengulik pelaku kejahatan kemanusiaan yang berfokus pada sosok Anwar Congo dan peran koleganya dari Pemuda Pancasila di Medan. Agustinus memberi tekanan pada implikasi sosial-politik dari pembunuhan massal ini, yang hingga kini tak pernah diakui oleh negara sebagai “pelanggaran hak asasi manusia.” Komnas HAM periode lalu telah menyelesaikan hasil penyelidikannya atas peristiwa ini, tapi Kejaksaan Agung menolaknya dengan alasan “tak lengkap” untuk diusut proses hukum lebih lanjut. Sesungguhnya film Oppenheimer secara terang menghantam kita; bahwa para pelakunya sendiri tak merasa bersalah atas pembunuhan yang mereka lakukan, dan situasi tersebut didukung oleh negara. Apa dampaknya? Anda bisa mengukurnya dari serangan terhadap minoritas agama pasca-Soeharto.

[] Liputan Khusus Tempo: “Pengakuan Algojo 1965”

Film The Act of Killing juga mempengaruhi sudut pandang baru dalam peristiwa 1965-1966, dan itu dipakai Tempo edisi awal Oktober, dengan 69 halaman di antaranya melampirkan peran dan pengakuan pelaku. Ariel Heryanto berkontribusi membahas film-film seputar 65, dan menyebut TAoK disandingkan dengan karya Buru – Pramoedya Ananta Toer. Liputan ini juga memantik respon dari kalangan Nahdliyin yang tersinggung karena merasa dipojokkan dan menuduh Tempo melakukan eror untuk isu pembantaian di Kediri — sesuatu yang akan terus kita dengar, dan seringkali perdebatan jadi memanas, bila kita membahas topik 1965. Tim redaksi menyiapkan liputan ini selama dua minggu. Berkat liputan ini, Tempo menerima Yap Thiam Hien Award, merujuk advokat HAM asal Aceh, yang ikut membidani Lembaga Bantuan Hukum. Tahun lalu YTH Award diberikan kepada aktivis (alm) Asmara Nababan.

[] Polisi Anti-Teror Mengembangkan Target

Nivell Rayda, wartawan Jakarta Globe, menulis tentang pesakitan politik dari Maluku, yang disiksa oleh Unit Datasemen Khusus kontraterorisme, atau biasa dikenal Densus 88. Para pesakitan politik ini ditangkap karena mengungkapkan pandangan politiknya secara damai. Ada yang dipenjara hingga 20 tahun. Rayda menegaskan peran Densus 88, yang dibentuk dalam kampanye “perang melawan terorisme” bikinan pemerintahan Bush, di Indonesia justru kemudian dipakai untuk mengatasi konflik lahan, seperti di Bima, dan proyek “separatisme” di Papua. Unit antiteror ini mendapat pelatihan dari AS dan Australia dan seringkali melakukan eksekusi mati secara sewenang-wenang. Kita juga bisa sandingkan isu ini dengan agenda pemerintahan Yudhyono yang mengesahkan UU Intelijen serta RUU Kamnas yang dikritik tajam karena kekhawatiran kembali ke “negara teror” Orde Baru.

[] MIFEE Datang Tanah pun Hilang

Fajar Riadi menulis artikel yang sungguh panjang tentang kecemasan warga Papua di Marauke, dan dampak serius bagi Papua secara luas, tentang proyek MIFEE, atau Merauke Integrated Food and Energy Estate. Proyek penetrasi negara dan menggandeng para pemodal mahakaya dari Jakarta dan luar negeri ini sungguh menakutkan. Sejak digagas pada 2007 dan diluncurkan pada 2010, proyek ini telah meluaskan area lahan sebesar 2,5 juta hektare (2,5 ukuran negara Belgia atau lebih dari 2 kali lipat pulau Bali), yang akan dijadikan ladang produksi sawit, jagung, bubur kertas, dll. Konflik antar-faam besar terjadi karena saling mengklaim tanah milik dan mendapat limpahan duit dari jual-beli tanah untuk sedikitnya 36 perusahaan yang terlibat dalam proyek ini. Riadi juga mengulas migrasi penduduk non-Papua yang terus bertambah dari tahun ke tahun, sementara jumlah penduduk Papua kian menyusut.

[] Dari Lukit hingga Tebet Dalam

Bila ada nama jurnalis yang setahun terakhir meliput soal konflik-konflik lahan, saya akan menjawab dengan pasti: dialah Anugerah Perkasa. Nugie, wartawan Binis Indonesia, menulis banyak liputan panjang, dari Riau hingga Subang, dari Sumatera Selatan hingga isu-isu lingkungan di Jakarta. Salah satunya naskah tentang para aktivis Pulau Padang yang mengancam akan melakukan aksi bakar diri di depan Istana Presiden sebagai bentuk perlawanan terhadap PT Riau Andalan Pulp Paper. Para aktivis dan petani ini pernah melakukan demonstrasi di depan gedung parlemen Senayan tapi tak mendapat respon memuaskan dari politisi-politisi. Geram dengan tiadanya ketegasan menteri kehutanan, mereka kemudian ancam bakar diri pada aksi terpisah. Sebagian besar liputan panjang Nugie diumuat online, biasanya secara serial, dan kemudian diunggah penulisnya secara utuh dalam blognya. Isu konflik lahan merupakan salah satu isu krusial sepanjang sejarah moderen Indonesia.

[] Hidup dengan Tiga Huruf

Bayu Maitra dari majalah Reader’s Digest menulis cerita humanis tentang mereka yang tertular virus HIV/AIDS di Wamena dan Jayapura, provinsi Papua, dimuat Oktober. Dia menulis dengan bahasa yang lancar dan mengeksplorasi psikologis pengidap yang acapkali mendapat stigma, yang makin memperdalam perasaan putus-asa. Data kementerian kesehatan 2012, Papua dan Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat pengidap AIDS tertinggi di Indonesia.

[] Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam

Rusdi Mathari mengulik aktor-aktor lokal dalam peristiwa serangan terhadap pengikut Syiah di Sampang, Madura. Naskah ini mendalam secara sosial dan memetakan asal mula kebencian terhadap Tajuk Muluk, ulama Syiah, dan pengikutnya hingga apapun yang berhubungan dengannya dicap “sesat”–sesuatu yang makin memperuncing konflik dan mendorong serangan mematikan. Kebebasan beragama di Indonesia di bawah pemerintahan Yudhoyono menjadi sorotan tajam. Tahun 2011 terjadi pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah dan tahun 2012 menyasar Syiah serta komunitas pengajian di Aceh. Persekusi minoritas agama di Indonesia kian menakutkan.

SAYA memilih naskah di atas di antara yang saya ingat pada tahun ini, dan setelah dilihat kembali, semuanya berhubungan dengan isu hak asasi manusia. Anda pasti punya pilhan sendiri. []

“Filosofi Investigasi”

KELAS dibuka dengan perkenalan oleh Andreas Harsono selaku moderator. Dia mengawali dengan kontrak belajar, misalnya larangan merokok bagi para peserta dan pengampu di ruangan kelas. Dia juga mengenalkan George Junus Aditjondro, duduk di sofa di sampingnya, sebagai fasilitator kursus.

Peserta kemudian mendapat giliran mengenalkan satu demi satu. Mereka juga menceritakan alasan atau motivasi serta harapan ikutan kursus ini. Aditjondoro memperhatikan setiap peserta sembari melihat lembaran kertas yang dipegangnya, berisi daftar nama mereka. (lebih…)