Tag: Korupsi

Aditjondro & Buku

GJA booksSAYA menyapanya “Mas Junus” untuk George Junus Aditjondro (GJA), doktor lulusan Cornell (1992), dikenal lewat pelbagai risetnya tentang korupsi keluarga Cendana (Soeharto dkk) pada dasawarsa terakhir pemerintahan Orde Baru. Perkenalan pertama saya saat mengontaknya sebagai narasumber untuk esai analisis mengenai pelarangan buku yang ditulis orang Papua (GJA ke Papua sejak 1980-an). Kali kedua, saat Yayasan Pantau—tempat saya bergiat sewaktu di Jakarta—mengundangnya sebagai pengampu kelas “reportase investigasi” pada 2011, sebelum setahun berikutnya ia sakit kronis.

Saat ia terbaring koma di Yogyakarta, tempat ia mengajar sebagai dosen tamu di Sanata Dharma, saya menjenguknya, juga ketika dalam proses pemulihan rawat jalan di rumahnya. Pada September 2014 ia meninggalkan Yogya ke Palu, Sulawesi Tengah, tempat ia bermukim bersama istrinya Tante Erna.

Saya menulis liputan tentang buku-buku yang ia tinggalkan di Yogya, kini dalam pengawasan pengelolaan oleh Iboekoe, dan naskah tersebut dilansir di Pindai. Ini liputan tercepat, juga dengan naskah panjang yang saya tulis tergegas (semalaman), tentang seseorang yang saya anggap sebagai salah satu guru saya dalam bersikap kritis—betapapun ia pribadi yang tidak mudah. Ini pula naskah reportase terbaru sejak terakhir saya menulis kisah penyiksaan terhadap orang Papua di Merauke, dimuat Indoprogress (belakangan juga dimuat Pantau sebagai pemberi dana liputan tersebut).

Naskah tentang buku-buku dan persona Mas Junus itu, pada akhirnya, ada yang memberi komentar yang bikin saya lega: naskah itu kurang kohesif (mbulet). Itu bikin saya tahu soal celah dari naskah tersebut mengingat, dalam segi pengerjaan, saya tidak bisa mengambil jarak, kurang adanya pengendapan. Seorang narasumber juga, sesudah membacanya, memberi catatan koreksi, yang sudah dilampirkan dalam naskah tersebut esoknya.

Saya tentu senang dengan komentar kritis (terimakasih Mas Yusi, lagi-lagi!) atas naskah tersebut. Bila ada waktu dan tenaga (juga kesempatan), saya akan memoles dan mengisahkan profil Mas Junus lebih mendalam lagi (mungkin sebuah biografi). Baru-baru ini misalnya saya membaca biografi Herbert Feith, ahli Indonesia dari Australia (bukunya yang terkenal tentang perdebatan “demokrasi konstitusional” Indonesia tahun 1960-an). Buku tersebut kaya sekali dengan rujukan (sebagaimana lazimnya) dan sejumlah narasumber penting. Saya kira, bila ada ambisi menuliskan GJ Aditjondro dalam bentuk biografi, ia akan setara dalam substansi buku tentang Feith itu (ditulis Jemma Purdey). Sebagaimana saya tulis dalam reportase di Pindai, persahabatan Aditjondro merentang luas, dari Salatiga sampai Timor Leste, dari Australia sampai negara-negara Asia Tenggara dan Pasifik. Ini sejalan kariernya sebagai akademisi, intelektual, peneliti, pedagog, dan penulis. Lingkaran anak-anak muda Mas Junus juga sangat beragam.

Naskah itu juga memberi kabar yang agaknya bakal menyenangkan. Kolega dari satu penerbit sudah lama mencari materi-materi pengajaran Mas Junus, di ruang kelas maupun pelatihan di sejumlah lembaga nonpemerintah, untuk dibukukan. Kami akhirnya mendapatkan sejumlah materi tersebut dari kenalan yang menyapa Aditjondro sebagai “Abang”. Ini menarik. Saya tentu bersemangat atas rencana penerbitan buku Aditjondro yang bisa dipakai oleh para peneliti dan kaum dosen, yang menggali dari bacaan dan pengalaman GJA sebagai akademisi dan aktivis yang kiprahnya dimulai sejak akhir 1970-an.

Semoga rencana buku itu terjadi dan kita bisa membacanya pada tahun ini.*

Iklan

Gurita Cikeas!

GEORGE JUNUS Aditjondro orang yang nyentrik. Sehelai kain tenun, tersampir di lehernya, selalu menemani penampilannya. Ia lebih suka mengenakan pakaian kaos dan kemana-mana beralas sandal-sepatu. Tubuhnya gemuk dan usianya 64 tahun. Akhir November 2009, kami bertemu di sebuah hotel di Jakarta untuk persiapan kursus investigasi. Saat itu cambangnya yang lebat mengitari dagunya. Alamak! Hippies banget, batin saya.

Kami mengobrol lebih dari tiga jam sambil sarapan pagi. Saya menangkap kesan, Aditjondro orang yang menuntut lawan bicaranya untuk paham banyak hal. Salah satu bahan diskusi kami mengenai metode “concept mapping.” Ini teknik yang akan diajarkan di kelas kursus, biasa diterapkan dalam metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial. Ia sebuah metodologi bagaimana memetakan gambaran besar tentang sebuah kasus seraya mencari akar-akar penyebabnya. Kami juga menyinggung skandal Bank Century yang memang lagi ramai jadi sorotan media. Penguasaan “concept mapping,” hemat Aditjondro, sangat diperlukan dalam melihat kasus macam skandal bail-out Bank Century dengan banyak faktor dan aktor itu.

Namun, saya tidak tahu saat itu Aditjondro tengah menyusun buku terbarunya yang sebulan kemudian menjadi kontroversi. (lebih…)