Tag: Orde Baru

Buku “Dapur Media”

©Yayasan Pantau, Maret 2013
©Yayasan Pantau, Maret 2013

SAYA HENDAK MENGENALKAN buku Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia yang baru saja diterbitkan Yayasan Pantau, satu organisasi yang belakangan lebih sering bergiat di pelatihan penulisan, tempat saya biasa menumpang ngetik di Jakarta. Kebetulan saya menyunting buku tersebut bersama Basillius Triharyanto.

Isi buku itu berisi 9 liputan media, sebagian pernah dimuat majalah Pantau, termasuk narasi Tempo dan Kompas yang ditulis Coen Husain Pontoh. Liputan lain: Jawa Pos oleh Max Wangkar, Bisnis Indonesia (Eriyanto), Suara Timor Timur (Irawan Saptono), dan Sriwijaya Pos – satu koran lokal di Palembang – oleh Taufik Wijaya. Tiga liputan terbaru datang dari Lilik HS yang menulis Kaskus, Komarudin soal Yahoo! Indonesia, plus Triharyanto yang membahas isu serikat pekerja media lewat kasus Luviana dari Metro TV. Kesemua narasi ini bercerita tentang dinamika ruang redaksi — salah satu pembahasan penting bila Anda mempelajari jurnalisme — dan dalam titik kisar tertentu menjelaskan sejarah ekonomi-politik Indonesia pasca-1965.

David Hill, yang menulis Pers di Masa Orde Baru (Obor, 2011), menuliskan pengantar guna memberi konteks perkembangan pers dan diskusi yang mengiringinya, selain masalah-masalah khusus yang dihadapi media di Indonesia pasca-Soeharto. Ariel Heryanto dan Janet Steele memberikan “endorsement” buku.

Sudah banyak penelitian tentang industri media di negara kepulauan ini, termasuk yang mutakhir dari CIPG yang menyoroti konglomerasi media. Dari ribuan media, hanya segolongan kecil pemiliknya, mengikuti sentralisme kekuasaan dari warisan Orde Baru, betapapun sejak adanya desentralisasi politik dan keuangan, peta ekonomi-politik berubah … begitupula korupsinya.

Tentu saja, ada banyak celah yang bisa mengisi ruang diskusi dan peliputan soal jurnalisme di Indonesia. Buku Dapur Media, yang bisa dipakai untuk studi kasus media-media ini, hanyalah salah satunya. Soal lain adalah peta kepentingan politik pemilik media. Ini menguat terutama sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa di mana ada begitu banyak media partisan, termasuk Yudhohono sendiri dengan harian Jurnal Nasional-nya. Isu itu juga yang diuraikan secara dramatis oleh sineas Ucu Agustin dalam film Di Balik Frekuensi, khusus menyinggung media televisi.

Terakhir, sebagaimana David Hill mengingatkan dalam pengantar buku ini, tanggungjawab media terhadap publik — yang seyogyanya sudah jadi prinsip dasar dari jurnalisme — takkan bisa sepenuhnya berjalan sendiri di tengah kontestasi kepentingan politik yang tengah dihadapi di Indonesia. Ia perlu bekerjasama dengan, dan didukung oleh, unsur-unsur penggiat demokrasi. Dan bila bentuk-bentuk advokasi publik itu terbentur tembok — dengan pembatasan-pembatasan yang dibikin pemilik media bersangkutan — maka kita tak henti-henti mengingatkannya. Semoga buku ini menjadi bagian di dalamnya.*

Iklan

Kutu Subversif dalam Rambut Gondrong

PADA dekade pertama Orde Baru, ihwal rambut gondrong  menjadi anasir serius dalam pemberitaan-pemberitaan media Jakarta. Rambut gondrong dianggap tak mencerminkan “kepribadian bangsa.” Militer pun perlu membikin satu kebijakan khusus untuk perkara ini. Terjadi razia di jalan-jalan. Bukan senjata yang ditenteng—modal utama saat membungkam komunisme sepuluh tahun sebelumnya, melainkan gunting! Otoritarianisme, dengan logika rust en orde ala ekonomi pembangunan, kian menjalar ke batas paling personal dari hak invidu menentukan idealisasinya.

Dalam buku Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an, Aria Wiratma Yudhistira mengurai persoalan sepele ini menjadi kajian sejarah sosial yang unik tentang periode awal Orde Baru. Ia menelusuri suratkabar dan majalah guna menarasikan paranoid yang melingkupi lingkaran pemerintahan Soeharto. Perkara rambut gondrong, sesuatu yang bertalian dengan gaya hidup seseorang, menjadi pintu masuk demi melihat praktik kekuasaan Orde Baru yang kian berlaku bak penjara panoptikon bertembok eufemisme itu. (lebih…)

Wasiat Terakhir

Satu jenderal belajar mengaji lalu mati.

SEWAKTU BUKUNYA MULAI naik cetak, Agus Wirahadikusuma terlihat senang. Dia membuka pintu rumah dan mengatakan kepada istrinya, ”Kalau buku saya jadi, akan bagus sekali!” Dia menunjukkan salinan buku kepada Tri Rachmaningsih. ”Tugas keluarga yang menyebarkan,” katanya, seakan-akan itu suatu wasiat.

Contoh buku yang dibawa ini masih berhalaman kosong tapi sudah bersampul. Pola-pola ukiran mushaf menghiasi bidang tengah sampul depan. Bercorak flora, bentuk simetris, dominan hijau serta garis tepi bersepuh emas. Ukiran ini membungkus judul buku Shalat, Shalawat, Doa, yang dilukis kaligrafi oleh Baiquni M. Yasin. Nama “Agus Wirahadikusuma” juga diukir dalam bentuk kaligrafi, terletak di bagian bawah dan dibikin mencekung seolah-olah tengadah. Judul buku berhuruf Latin ditempatkan di bagian atas dari ukiran tersebut. Semua itu berwarna emas. (lebih…)