Ikan Bumbu Kenari

IBU MEMASAK ikan kembung goreng bumbu kenari. Ibu membeli pepes tahu. Ibu membuat sambal kacang dan mengupas kulit ketimun. Ibu membungkus paket lauk itu plus nasi dengan kertas koran lantas diikat dengan karet gelang. Ibu memberikannya padaku buat bekal puasa.

Ibu mengira aku akan berangkat setelah magrib. Ibu mungkin memahami percakapan kemarin petang, saat anaknya yang sulung dan aku terlibat dalam satu obrolan di atas tikar plastik, di depan televisi, tempat kami berbuka. Si sulung berkata tentang menu ikan segera setelah memarkir sepedamotor, tiga jam perjalanan dari Cherbon, ”Pak… Pak belem lauk geh!” Lanjutkan membaca “Ikan Bumbu Kenari”

Mari Mati Bareng

Mengapa bunuh diri berkelompok begitu populer di Jepang?

Oleh David Samuels

The Atlantic | Mei 2007

shinjuku-street

I

Kematian di Saitama

10 MARET 2006, sebuah mobil ditemukan di kawasan hutan Saitama, satu prefektur pinggiran kota dekat Tokyo. Jendelanya tertutup rapat dan terkunci. Petugas yang diminta menyelidiki lokasi itu menemukan sesuatu sangat familier: sekantong plastik berisi kemasan pil tidur yang tercecer, dan pembakar arang yang mengisap oksigen dari mobil, menyebabkan sesak napas lima pria dan seorang wanita. Dua minggu sesudah kejadian itu saya mendatangi markas besar kepolisian Saitama dan bertemu jurubicara polisi, seorang pria paruh baya berperawakan tinggi-kurus yang semula menolak menjawab pertanyaan apa pun tentang kasus terbaru sekawanan orang yang bunuh diri di prefekturnya. Setelan abu-abu dan kacamata berbingkai hitam yang ia pakai, serta pulpen ganda yang terselip di saku kemejanya, memberinya kesan sangat culun dari karakter manga. Selama lawatan dua minggu saya di Jepang, lima mobil berisi jasad orang-orang mati ditemukan di kawasan hutan di Tokyo. Itu menandakan betapa akrabnya kasus-kasus mengerikan tersebut sampai-sampai urgensinya tak lebih dari sepotong berita numpang-lewat di koran-koran lokal.

“Kami tidak tahu apakah para korban saling mengenal satu sama lain atau bagaimana mereka menjadi akrab,” ujar jurubicara polisi itu sambil mencekal kuat-kuat tas kantor di pangkuannya. Tidak seperti pembunuhan, bunuh diri bukanlah kejahatan sehingga para penyelidik kesulitan mencari pembenaran untuk memecahkan kasus-kasus itu. “Memang,” katanya melanjutkan, “sampai hari ini, 15 hari setelah fakta itu, kami tidak menyadari bagaimana mereka kemudian saling mengenal, atau tidak ada bukti pelanggaran hukum sama sekali menyangkut insiden itu, meski penyelidikan jalan terus.”

Dari 2003 hingga 2005, 180 orang mati dalam 61 kasus yang dilaporkan terkait bunuh diri berkelompok yang dibantu lewat jaringan dunia maya di Jepang. (Sejauh ini tak ada data statistik yang diunggah ke publik untuk tahun 2006.) Kecuali dua kasus, mayoritas lain menunjukkan olah jejak yang amat lazim: Para korban bertemu secara daring (online), memakai nama akun samaran, dan kemudian meminum pil tidur dan menggunakan briket, pembakar arang, dan mengunci mobil atau van yang seketika mengubahnya jadi kamar gas.

Lanjutkan membaca “Mari Mati Bareng”

Kisah Penjual Buku yang Pergi Terlalu Cepat

“Pada masa jayanya, Jalan al-Mutanabbi mewujudkan pepatah lawas: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Baghdad yang membaca.”

oleh Anthony Shadid

The Washington Post | 12 Maret 2007

al-mutanabbi-street-nine-months-after-the-bombing-ap-photo-khalid-mohammed
Seorang pria Irak melihat-lihat buku di Jalan al-Mutanabbi, 9 bulan setelah pemboman. ©2007 AP Photo/ Khalid Mohammed (sumber foto: http://goo.gl/sTPqnz)

Itu musim panas 2003, sewaktu Irak diliputi separuh kebenaran soal pendudukan dan pembebasan, sebelum berbalik aksi-aksi nihilistik berwujud pembantaian. Mohammed Hayawi, seorang pria botak, tengah berdiri di tokonya, Tokobuku Renaisans, di jalan al-Mutanabbi yang terkenal.

Di rak setinggi delapan baris berjejal buku-buku karya penyair komunis dan ulama syahid, terjemahan Shakespeare, kitab ramalan astrolog Lebanon, sekuplet 44 jilid karya ayatullah yang dihormati, dan risalah dari pemikir saklek abad pertengahan Ibnu Taimiyyah. Rak-rak buku berdebu menyesaki lantai ubin krem, membentang dan bernoda terbalut usia. Di ruangan sempit, Hayawi menyejukkan diri dengan sebuah kipas; keringat mengucur deras di mukanya yang tembam dan membasahi kemeja birunya.

Kami bertemu sebelum invasi Amerika, dan nyaris setahun kemudian, ia segera mengenaliku.

“Abu Laila,” katanya, memanggilku dengan nama putriku.

Nyaris saban kali bilamana kami berjumpa, ia selalu mengutarakan sepotong kalimat yang sama. “Aku menantang setiap orang, Abu Laila, untuk mengungkapkan apa yang terjadi, apa yang terjadi kini, dan apa yang akan terjadi di masa depan.” Dan, seraya minum secangkir teh yang mengepul hangat bahkan di hari yang panas, ia menggelengkan kepalanya.

Sebuah bom mobil meledak pekan lalu di Jalan al-Mutanabbi, meninggalkan sepotong jejak yang kian lazim saja di Baghdad, suatu gambaran akan kekacauan, kekejaman yang memilukan, dan situasi tak terbayangkan yang terus berulang. Sedikitnya 26 orang tewas. Hayawi si penjual buku salah satunya.

Lanjutkan membaca “Kisah Penjual Buku yang Pergi Terlalu Cepat”

Seni Menulis Profil

Obrolan sekilas bersama David Remnick, pemimpin redaksi The New Yorker, yang menulis profil Bruce Springsteen, musisi yang disebut sebagai penyair dari kelas pekerja Amerika.

remnick-on-bruce

David Remnick menulis untuk bersenang-senang. Ini mungkin sentimen aneh yang datang dari pemimpin redaksi The New Yorker, majalah yang dikenal berkat tradisi ulung sastrawinya dan prestise jurnalistiknya. Tapi “bersenang-senang” dalam pengertian ini janganlah dibaca sebagai perihal sepele. Apa yang dimaksud Remnick bermain-main dalam menulis ialah tapal-jejak naskah-naskah profil New Yorker, yang membuat penulis majalah itu berminggu-minggu atau berbulan-bulan meneliti dengan cermat dan bepergian ke sana kemari dan menayangkan ribuan kata. Dalam kesempatan naskah profil terbarunya yang komprehensif tentang Bruce Springsteen sepanjang 15 ribu kata (terbit dalam edisi 30 Juli 2012 berjudul “We are Alive”), kami menggali pemikirannya soal seni menulis profil kiwari dan bagaimana bentuk penulisan sosok itu bermula dan berkembang di majalah tersebut. Lanjutkan membaca “Seni Menulis Profil”

Filep Karma

FK
Filep Karma di stasiun Tugu Yogyakarta setelah datang menghadiri sidang pra-peradilan atas kasus rasialisme yang menimpa mahasiswa Papua. ©2016

Ia besar bukan dengan peluru. Dan satu setengah bulan usai kejatuhan Soeharto menyulut bara kebebasan politik di Papua yang nantinya berumur pendek, sebutir peluru melesat begitu dekat hingga menggores sebilah pipinya dan ia merasakan panas dari timah api yang terbakar memancar di belakangnya. Ia bersyukur, bagaimanapun, dan menyadari berhari-hari kemudian saat dirawat di ranjang rumah sakit di samping seorang polisi, si opsir itu mengatakan bahwa peluru tersebut, yang akan membunuhnya bersama ratusan orang Papua lain yang dibuang ke laut di hari aksi menuntut referendum, sudah pasti datang dari penembak jitu. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara dan ia mengajukan banding dan bebas. Tetapi, dengan menyimpan hati nurani yang makin bergolak, ia kembali mencium bilik jeruji negara Indonesia—kali ini dalam tempo yang panjang—dan itulah senjatanya: Seseorang dengan sepenuh sadar mengangkut kata-kata kebebasan yang diringkus dari kemerdekaan dan kemanusiaan yang dibunuh, dan sebab itulah ia dibui, dan kata-kata itu bukannya padam tapi justru kian menemukan api. Lanjutkan membaca “Filep Karma”

Racun Tambang Emas Indonesia

Lebih dari sejuta penambang skala kecil di negeri ini terpapar racun merkuri, menyebabkan anak lahir lumpuh.

Oleh Richard C. Paddock

IPAN, 16 BULAN, menderita kejang kali ketiga pagi ini. Kepalanya kelewat gede dari badannya dan kakinya setipis tongkat. Punggungnya melengkung, anggota tubuhnya kaku. Ia menangis kesakitan.

Ibunya, Fatimah, berusaha menenangkan Ipan, tapi tak banyak yang ia bisa lakukan. Seorang dukun berkata jiwa anaknya kerasukan arwah monyet, kalong, dan gurita. Atas saran si dukun, Fatimah dan suaminya, Nursah, mengganti nama putranya dari Iqbal ke Ipan dan menyuapi Ipan dengan nasi kepal isi daging cumi.

“Kata dukun, itulah mengapa kaki Ipan terlihat seperti kaki monyet,” ujar Nursah. “Sebetulnya saya tak percaya, tapi saya akan berusaha segala cara.”

Dokter mengatakan dalang sebenarnya sangatlah gamblang: keracunan merkuri. Orangtuanya penambang skala kecil yang biasa memakai logam berat itu untuk memproses emas selama bertahun-tahun sebelum Ipan lahir, termasuk ketika Fatimah mengandung.

Lanjutkan membaca “Racun Tambang Emas Indonesia”

Proses (Prosa) Wright

Lawrence Wright bicara soal pendekatan “bagal” dan kartu 4×6 cm dalam menggarap prosa nonfiksi. 

Oleh Joanna Cattanach

John Rosman/OPB
John Rosman/OPB

LAWRENCE WRIGHT bersandar di pinggir kolam renang di Pakistan. Pikirannya berkutat pada panggilan telepon yang ia terima berjam-jam lalu. Apakah ia harus di sini ataukah pulang? Seorang sahabat yang baik mestinya pulang. Seorang penulis yang baik mestinya tinggal.

Tetapi ia tak bisa menjadi keduanya—sebagai teman maupun penulis yang baik; tidak untuk cerita yang sedang ia kerjakan.

Kabar itu bikin ia nelangsa. Seorang temannya meninggal, karib baiknya, dan Wright memilih tinggal. Ia mematung di tepi kolam di Pakistan ketimbang terbang ke Austin dan menghadiri pemakaman sahabatnya. Ketimbang menghabiskan waktu bersama istrinya, Roberta, dan kedua anaknya, Gordon dan Caroline. Ia memilih menulis melebihi kehidupan keluarganya, meneliti melebihi persahabatan, Pakistan melebihi seorang kawan dekat.

Wright merosot ke perairan kolam yang gelap, pikirannya berkecamuk; merasa pedih atas kehilangan sahabat baiknya dan jenis teman yang tak kuasa ia lakukan: meninggalkan Pakistan dan mendatangi pemakaman. Ia bertanya-tanya: apakah sebesar itu ia berkorban untuk prosa yang sedang ia garap, dan apakah selayak itu? Lanjutkan membaca “Proses (Prosa) Wright”

“O”, Eka Kurniawan

O dll
Puthut EA, Eka Kurniawan, Yusi A. Pareanom, AS Laksana, Linda Christanty — dua nama terakhir segeralah menerbitkan novel!🙂

BARU menamatkan O. Di awal rada bosan. Bagian tengah sampai akhir sangat menyenangkan. Novel dengan gagasan yang kompleks dan main-mainnya brengsek. Lewat O, Eka menurutku bikin standar tinggi dalam seni novel. Ia tak hanya bisa menghidupkan monyet, tapi juga mengocok kisah cinta sebagai dongeng politis.

Jika Halimunda selesai dibaca sebagai latar era pergolakan Indonesia dalam sejarah politik modern, maka Rawa Kalong adalah antitesisnya soal kehidupan pinggiran dari dunia politik Orde Brengseknya Soeharto. Selama duabelas tahun sejak novel perdananya terbit, dari Cantik itu Luka sampai O, Eka kian tebal saja mematangkan gagasan politisnya lewat seni bercerita. Bedanya: O menampakkan keseriusannya menggarap unsur main-main dalam novel.

Personifikasi Kaisar Dangdut bisa dibikin sangat konyol, dan kekuasaan Soeharto bisa digambarkan dalam cara ejekan penuh keriangan. Adapun Jakarta adalah alegori para begal, anjing, pengamen, babi, pemulung; singkatnya, lapisan kehidupan yang gelap dari pandangan novelis Indonesia kebanyakan.

O adalah proyek penulisnya menafsir kisah yang terdapat dalam Hikayat Seribu Satu Malam, atau kita bisa juga menyebutnya mengambil dari surat dalam Alquran. Hasilnya adalah dunia jenaka yang memadukan filsafat, politik, komedi, dan budaya populer Indonesia.

Kesabaran Eka membangun plot, dan menghidupkan puluhan karakter, dari manusia sampai binatang atau dunia Animal Farm-nya Orwell, bagiku, menggagumkan. Salah satu bacaan yang asyik tahun ini, bersanding dengan dongeng tapir buntung Raden Mandasia!

29 April 2016 — Catatan di Facebook, diunggah di sini karena bagaimanapun blog tetaplah arsiparis terbaik di tengah banjir informasi.