Ikan Bumbu Kenari

IBU MEMASAK ikan kembung goreng bumbu kenari. Ibu membeli pepes tahu. Ibu membuat sambal kacang dan mengupas kulit ketimun. Ibu membungkus paket lauk itu plus nasi dengan kertas koran lantas diikat dengan karet gelang. Ibu memberikannya padaku buat bekal puasa.

Ibu mengira aku akan berangkat setelah magrib. Ibu mungkin memahami percakapan kemarin petang, saat anaknya yang sulung dan aku terlibat dalam satu obrolan di atas tikar plastik, di depan televisi, tempat kami berbuka. Si sulung berkata tentang menu ikan segera setelah memarkir sepedamotor, tiga jam perjalanan dari Cherbon, ”Pak… Pak belem lauk geh!” Continue reading “Ikan Bumbu Kenari”

Racun Tambang Emas Indonesia

Lebih dari sejuta penambang skala kecil di negeri ini terpapar racun merkuri, menyebabkan anak lahir lumpuh.

Oleh Richard C. Paddock

IPAN, 16 BULAN, menderita kejang kali ketiga pagi ini. Kepalanya kelewat gede dari badannya dan kakinya setipis tongkat. Punggungnya melengkung, anggota tubuhnya kaku. Ia menangis kesakitan.

Ibunya, Fatimah, berusaha menenangkan Ipan, tapi tak banyak yang ia bisa lakukan. Seorang dukun berkata jiwa anaknya kerasukan arwah monyet, kalong, dan gurita. Atas saran si dukun, Fatimah dan suaminya, Nursah, mengganti nama putranya dari Iqbal ke Ipan dan menyuapi Ipan dengan nasi kepal isi daging cumi.

“Kata dukun, itulah mengapa kaki Ipan terlihat seperti kaki monyet,” ujar Nursah. “Sebetulnya saya tak percaya, tapi saya akan berusaha segala cara.”

Dokter mengatakan dalang sebenarnya sangatlah gamblang: keracunan merkuri. Orangtuanya penambang skala kecil yang biasa memakai logam berat itu untuk memproses emas selama bertahun-tahun sebelum Ipan lahir, termasuk ketika Fatimah mengandung.

Continue reading “Racun Tambang Emas Indonesia”

Proses (Prosa) Wright

Lawrence Wright bicara soal pendekatan “bagal” dan kartu 4×6 cm dalam menggarap prosa nonfiksi. 

Oleh Joanna Cattanach

John Rosman/OPB
John Rosman/OPB

LAWRENCE WRIGHT bersandar di pinggir kolam renang di Pakistan. Pikirannya berkutat pada panggilan telepon yang ia terima berjam-jam lalu. Apakah ia harus di sini ataukah pulang? Seorang sahabat yang baik mestinya pulang. Seorang penulis yang baik mestinya tinggal.

Tetapi ia tak bisa menjadi keduanya—sebagai teman maupun penulis yang baik; tidak untuk cerita yang sedang ia kerjakan.

Kabar itu bikin ia nelangsa. Seorang temannya meninggal, karib baiknya, dan Wright memilih tinggal. Ia mematung di tepi kolam di Pakistan ketimbang terbang ke Austin dan menghadiri pemakaman sahabatnya. Ketimbang menghabiskan waktu bersama istrinya, Roberta, dan kedua anaknya, Gordon dan Caroline. Ia memilih menulis melebihi kehidupan keluarganya, meneliti melebihi persahabatan, Pakistan melebihi seorang kawan dekat.

Wright merosot ke perairan kolam yang gelap, pikirannya berkecamuk; merasa pedih atas kehilangan sahabat baiknya dan jenis teman yang tak kuasa ia lakukan: meninggalkan Pakistan dan mendatangi pemakaman. Ia bertanya-tanya: apakah sebesar itu ia berkorban untuk prosa yang sedang ia garap, dan apakah selayak itu? Continue reading “Proses (Prosa) Wright”

“O”, Eka Kurniawan

O dll
Puthut EA, Eka Kurniawan, Yusi A. Pareanom, AS Laksana, Linda Christanty — dua nama terakhir segeralah menerbitkan novel!🙂

BARU menamatkan O. Di awal rada bosan. Bagian tengah sampai akhir sangat menyenangkan. Novel dengan gagasan yang kompleks dan main-mainnya brengsek. Lewat O, Eka menurutku bikin standar tinggi dalam seni novel. Ia tak hanya bisa menghidupkan monyet, tapi juga mengocok kisah cinta sebagai dongeng politis.

Jika Halimunda selesai dibaca sebagai latar era pergolakan Indonesia dalam sejarah politik modern, maka Rawa Kalong adalah antitesisnya soal kehidupan pinggiran dari dunia politik Orde Brengseknya Soeharto. Selama duabelas tahun sejak novel perdananya terbit, dari Cantik itu Luka sampai O, Eka kian tebal saja mematangkan gagasan politisnya lewat seni bercerita. Bedanya: O menampakkan keseriusannya menggarap unsur main-main dalam novel.

Personifikasi Kaisar Dangdut bisa dibikin sangat konyol, dan kekuasaan Soeharto bisa digambarkan dalam cara ejekan penuh keriangan. Adapun Jakarta adalah alegori para begal, anjing, pengamen, babi, pemulung; singkatnya, lapisan kehidupan yang gelap dari pandangan novelis Indonesia kebanyakan.

O adalah proyek penulisnya menafsir kisah yang terdapat dalam Hikayat Seribu Satu Malam, atau kita bisa juga menyebutnya mengambil dari surat dalam Alquran. Hasilnya adalah dunia jenaka yang memadukan filsafat, politik, komedi, dan budaya populer Indonesia.

Kesabaran Eka membangun plot, dan menghidupkan puluhan karakter, dari manusia sampai binatang atau dunia Animal Farm-nya Orwell, bagiku, menggagumkan. Salah satu bacaan yang asyik tahun ini, bersanding dengan dongeng tapir buntung Raden Mandasia!

29 April 2016 — Catatan di Facebook, diunggah di sini karena bagaimanapun blog tetaplah arsiparis terbaik di tengah banjir informasi.