Filep Karma

FK
Filep Karma di stasiun Tugu Yogyakarta setelah datang menghadiri sidang pra-peradilan atas kasus rasialisme yang menimpa mahasiswa Papua. ©2016

Ia besar bukan dengan peluru. Dan satu setengah bulan usai kejatuhan Soeharto menyulut bara kebebasan politik di Papua yang nantinya berumur pendek, sebutir peluru melesat begitu dekat hingga menggores sebilah pipinya dan ia merasakan panas dari timah api yang terbakar memancar di belakangnya. Ia bersyukur, bagaimanapun, dan menyadari berhari-hari kemudian saat dirawat di ranjang rumah sakit di samping seorang polisi, si opsir itu mengatakan bahwa peluru tersebut, yang akan membunuhnya bersama ratusan orang Papua lain yang dibuang ke laut di hari aksi menuntut referendum, sudah pasti datang dari penembak jitu. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara dan ia mengajukan banding dan bebas. Tetapi, dengan menyimpan hati nurani yang makin bergolak, ia kembali mencium bilik jeruji negara Indonesia—kali ini dalam tempo yang panjang—dan itulah senjatanya: Seseorang dengan sepenuh sadar mengangkut kata-kata kebebasan yang diringkus dari kemerdekaan dan kemanusiaan yang dibunuh, dan sebab itulah ia dibui, dan kata-kata itu bukannya padam tapi justru kian menemukan api. (lebih…)

Sang Pengoceh, Mario Vargas Llosa

MENAMATKAN Sang Pengoceh, novel Vargas Llosa terjemahan Ronny Agustinus terbitan OAK. Merasa asyik pas sepertiga akhir. Bab terbaik saat penyingkapan ketika si pengoceh, seorang mahasiswa dengan riwayat keluarga Yahudi (bangsa pengelana), pergi ke hutan Amazon di masa “generasi bunga”, lalu terpikat pada satu suku di sana, bergumul dengan mereka, menjadi pendengar, dan menjalani perilaku khas dari suku tersebut yang meninggalkan apa yang kita sebut “kediaman yang tetap”; komunitas kecil yang marjinal ini terus berjalan, nomaden, sebab jika berdiam terlampau lama, matahari akan jatuh, terjadilah kekacauan, bencana, sebuah kiamat. Vargas Llosa membangun dua jalur cerita, selang-seling, yang pertama bab si ‘aku’—katakanlah Vargas Llosa sendiri—yang penasaran pada Saúl Zuratas, si mahasiswa etnologi itu yang jadi karibnya di kampus, atas sebab-sebab ia mengalami “pencerahan” atau “kelahiran baru” dari orang kota menjadi “mualaf Machiguenga, dan lantas jadi pengoceh.” Cerita kedua soal kisah Machiguenga sendiri, menuturkan kosmos dan kebudayaan mereka, dongeng, bualan, fiksi, gosip, dan lelucon mereka. Ada pertaruhan: dua narator yang harus berbeda—dan kita mendapatinya. Narator Vargas Llosa sangat tertata bahasanya; narator soal dongeng Machiguenga berisi seperti racauan, igauan, atau seperti judul novelnya: mengoceh tiada henti. Dalam keluarga-keluarga kecil Machiguenga yang berdiaspora di hutan Amazonia, peran si pengoceh menjadi sentral dari kosmos kehidupan mereka sebagai pengabar, mengikat dan menata jati diri plus perasaan manunggal akan komunitas senasib-sepenanggungan yang tercerai-berai.

Apa yang bikin novel ini mendatangkan banyak kajian adalah komentar-komentar politiknya soal peran keilmuan yang membawa misi “pengetahuan” sekaligus relasi parasitnya terhadap subjek riset yang seringkali membawa misi “pembaratan.” Saúl adalah pribadi yang secara intelektual menentang kampusnya (dan di belakangnya proyek-proyek kajian) untuk menundukkan Machiguenga dengan dalih “pemberadaban” untuk berdiam di satu tempat, tidak lagi berpencar, sebab secara inheren melawan jagat moral dan mitos suku tersebut. Apa yang terjadi pada mereka, sebagaimana komunitas-komunitas lain yang mendiami Amazonia, yang kita baca dari literatur-literatur soal lingkungan, adalah perkembangan keterdesakan yang meminggirkan, mula-mula lewat penaklukan pasukan Inca, lalu penjelajah, kaum misionaris dan bangsa Spanyol, cukong-cukong komoditas hutan, dan demam emas. Disusul kemudian penetrasi dari maskapai-maskapai pertambangan multinasional, perdagangan kokain, lalu pemberontakan (kaum gerilyawan dan atau narko-gerilyawan), dan apa yang belakangan jadi nomenklatur politik global: terorisme dan kontra-terorisme. Secara tidak langsung, saya teringat atas apa yang terjadi pada komunitas suku di Jambi, di Borneo, atau bangsa Papua di Papua Barat, dan komunitas-komunitas lebih kecil di hutan-hutan di Jawa. Novel ini, dengan sendirinya, menantang secara pemikiran.

Vargas Llosa juga memakai pendekatan analogi, dunia paralel, atas dunia minor Saúl dan dunia bangsanya. Mesin analogi ini bekerja dengan membandingkan, atau menautkan, nasib komunitas Machiguenga dan bangsa Yahudi (dalam istilah di novel ini “Yahwe-Tasurinchi”) yang terus berjalan, berpindah-pindah, berpencar ke seluruh dunia, memanggul nasib sebagai orang dan masyarakat yang kerap disalahkan, dikambinghitamkan, biang keladi dan mendapat cap pelbagai stigma, apabila terjadi kemalangan, bencana, atas nasib buruk orang lain. (Dalam kasus di Indonesia dijatuhkan pada “orang Tionghoa” dan “PKI”.) Paralelisme lain adalah sosok Saúl Zuratas sendiri, yang punya tanda lahir berupa tompel besar di sebagian wajahnya, sehingga dipanggil “Mascarita” (Muka Tompel), yang membuatnya “jadi marjinal di antara yang marjinal,” terus disepelekan dan diejek oleh “orang dan masyarakat normal”, betapapun Saúl adalah pribadi yang pasivis dan panjang akal. Noda ungu tua raksasa ini, bagi Saúl yang meyakini satu-satunya pahlawan literatur di dunia adalah Franz Kafka, dibandingkan sebagaimana nasib Gregor Samsa yang mendadak, ketika bangun di satu pagi, menjadi seekor serangga raksasa. Kisah Saúl karena tompelnya ini (dalam novel disebut “Gregor-Tasurinchi”), yang bikin ia dikucilkan dan bikin malu orang dan perasaan rendah diri yang menggerogoti jiwanya, disebut sebagai “kesurupan jelek,” sebelum kemudian ia pelan-pelan mengatasinya (atau sadar dari kesurupan) dan bahkan ia bisa membuat lelucon atasnya.

Usai menamatkan, dan mengantongi motif cerita yang sudah agak dikenali, saya membuka lagi bab awal novel Sang Pengoceh, dengan membawa pertanyaan: Apa arti tompel dari sebagian muka Saúl untuk kita, sebagai warga negara-bangsa, yang dari seorang pribadi tak sempurna ini pada akhirnya bikin dia, secara transformatif, menanggalkan kehidupan lamanya, menutupi jejak masa lalunya, dan lantas menjadi sosok yang sepenuhnya baru sebagai si pengoceh?

Saya teringat perjalanan-perjalanan singkat saya di luar Jawa, tetapi yang terus saya ingat adalah perjalanan pertama saya ke selatan Papua, tiga atau empat tahun lalu. Di sana saya bertemu dengan orang-orang dari keluarga-keluarga yang meninggalkan kampungnya, untuk “turun ke Merauke” ketika tanah-tanah mereka, yang semula hanya dikenali lewat kepemilikan bersama dengan patokan faam, dipaksa untuk dicacah, dibelah-belah, diberi garis batas oleh “orang-orang perusahaan” yang membawa kantong-kantong uang, dan tanah-tanah itu diambil sebagai lahan-lahan perkebunan dan pertanian raksasa demi apa yang disebut oleh janji pemerintah Indonesia saat itu “lumbung pangan, yang akan memberi makan rakyat Indonesia, kemudian dunia.” Bagaimana nasib para faam ini sekarang? Satu sore itu, ketika saya mengobrol dengan para bapak di halaman rumah tempat mereka menumpang sementara di kota Merauke, meninggalkan istri dan anak, untuk menuntut hak tanah (dan konsesi uang yang dibayar tidak sesuai janji), mengisahkan bagaimana “orang-orang perusahaan” ini, dengan bahasa yang terdengar rapi dan santun, berkata muluk-muluk hanya untuk akhirnya mendapati mereka mewakili “abu nawas tinggi”: sang penipu ulung.

Dalam kehidupan kita, barangkali, sejak lahir kita membawa “tompel Saúl”: pertanyaan yang mengusik secara moral maupun posisi dan pandangan politik kita terhadap peran kita secara tidak langsung telah mengusir dan meminggirkan “suku-suku adat” di sepanjang hutan-hutan dunia. Peran yang sama, barangkali, ketika kita melihat kemelaratan yang mencolok, pemiskinan luar biasa, tapi kita tidak tahu harus berbuat apa, atau kalaupun bisa bertindak, efek dan jangkauannya sangat terbatas.

Dalam novel Sang Pengoceh, sang seripigari—seorang tabib—berkata kepada Saúl: “Lahir dengan wajah sepertimu bukanlah kejahatan terburuk; kejahatan terburuk adalah tidak menyadari kewajiban.”●

Membunuh dihukum ringan, Membela dihukum berat: Persidangan Cikeusik

Catatan atas persidangan kasus serangan mematikan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang digelar secara simultan selama 5 bulan pada 2011. Para pelaku pembunuhan dan pengeroyokan hanya dihukum 3-6 bulan penjara; adapun seorang Ahmadi, yang mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawanya, diseret ke pengadilan di bawah hukum compang-camping dengan vonis 6 bulan penjara. Saya menyentuh kembali esai ini lantaran diminta untuk memeriksa dokumentasi naratif mengenai persekusi terhadap muslim Ahmadiyah di Indonesia, sejak kemunculan fatwa MUI sampai SKB 2008, dalam sebuah buku yang direncanakan terbit akhir tahun ini.
kartun-rest-in-peace-rip-penegakan-hukum-hendrikus-david-arie-mulyatno-sp
“Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum” ©2013 Hendrikus David Arie Mulyatno. Karikatur ini terbit di Suara Pembaruan edisi 17 Oktober 2013 dan meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Sumber dari sini.

 

SIDANG KASUS CIKEUSIK berlangsung di Pengadilan Negeri Serang, Banten. Ke-12 terdakwa, dalam 11 berkas, menjalani proses persidangan sejak 26 April 2011, berlangsung di tiga ruangan terpisah, berjalan simultan, satu demi satu terdakwa diproses, setiap Selasa dan Kamis.

Kasus ini juga menjerat Deden Sudjana dari muslim Ahmadiyah. Pada 20 Mei, Sudjana resmi ditahan di Lapas Serang. Pada 8 Juni, ia menjalani sidang perdana. Sudjana diancam pidana penghasutan, melawan perintah petugas, dan penganiayaan[1]. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, salah satu kuasa hukum dari sebuah koalisi bernama Tim Advokasi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara[2], menyatakan dakwaan terhadap Sudjana merupakan bentuk “kriminalisasi dan viktimisasi terhadap korban.” Sudjana diancam maksimal 6 tahun penjara.

Dokumentasi @cikeusiktrial atas proses persidangan, terungkap “fakta-fakta hukum” yang bisa kita pelajari dari beberapa saksi guna menelusuri seluruh kasus ini. Ada beberapa saksi yang keterangannya dapat menjelaskan jejaring mobilisasi, hasutan, dan pelaku, yang sedikit-banyak berperan dalam insiden penyerangan dan pembunuhan terhadap muslim Ahmadiyah di Cikeusik.

Namun, di sisi lain, terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam proses persidangan. Hakim dan jaksa lebih berkutat pada “siapa yang menyerang lebih dulu” ketimbang, misalnya, menelusuri jejaring pelaku dan keterlibatan terdakwa dalam perkara. Mereka lebih mengedepankan logika dan pandangan agama daripada pandangan hukum yang menyangkut sidang pidana.[3]

(lebih…)

Dilema Ivan Ilyich

Kemajuan sains melambari proses penuaan dan sekarat ke dalam pelukan pengalaman medis.
ATUL GAWANDE
dolgados-cartoon-on-medicine
©2011 Roy Dolgado. Sumber kartun di sini

SAYA belajar banyak hal di sekolah medis, tapi kematian tidak. Meski saya disuguhkan mayat kasar dan kesat untuk dibedah di masa pendidikan perdana, hal ini semata demi mempelajari anatomi tubuh manusia. Buku pelajaran kuliah kami nyaris kosong mengenai kondisi penuaan atau kepikunan atau sekarat. Mereka agaknya mengesampingkan soal proses kematian tersingkap, pengalaman orang menjelang sakratul maut, dan bagaimana hal itu mempengaruhi orang-orang di dekatnya. Cara kami melihat kematian, begitu pula cara profesor kami melihatnya, dan tujuan pendidikan medis dikembangkan adalah demi menyelamatkan nyawa, bukan bagaimana merawat orang yang sekarat.

Kesempatan sekali yang saya ingat ketika membahas kematian sewaktu kami mendiskusikan selama satu jam Kematian Ivan Ilyich, novelet klasik Tolstoy. Itu berlangsung saat seminar mingguan dengan tema Pasien-Dokter—satu rangkaian dari upaya kampus agar kami lebih bertekad menjadi dokter sekaligus lebih manusiawi. Beberapa pekan kami akan memperagakan etiket menangani pasien; di pekan lain kami mempelajari imbas sosio-ekonomi dan politik pada kesehatan. Dan pada satu petang kami diajak merenungkan penderitaan Ivan Ilyich yang terbaring sakit dan kian merosot akibat sejumlah penyakit tak dikenali dan mustahil diobati.

Dalam cerita itu, Ivan Ilyich berusia 45 tahun, seorang hakim tingkat madya Saint Petersburg yang kehidupannya lebih banyak berkisar mengurusi hal remeh dan status sosial. Satu hari dia jatuh dari anaktangga dan mengalami nyeri di pinggang. Bukannya berkurang rasa sakit itu malah tambah parah dan dia tak sanggup bekerja. Semula dikenal “pria yang cerdas, bertutur kata halus, giat, dan ramah,” kini dia jadi pria pemurung dan melas. Teman dan rekannya menghindarinya. Istrinya sudah gonta-ganti dokter dengan ongkos yang tambah mahal untuk mengobatinya, dan mereka tak mampu mendiagnosis penyakitnya, serta bermacam obat yang diberikan tak bisa menyembuhkannya. Bagi Ilyich, situasi itu menyiksa, dan dia bertambah gusar dan marah. (lebih…)

Saran bagi Editor

HUBUNGAN PENULIS DAN EDITOR bisa berbuntut jadi relasi yang peka. Penulis mungkin menganggap editor sebagai orang yang gemar mencari-cari kesalahan, memeriksa secara detail dari perkara remeh seperti ejaan, kendati yang lebih penting adalah memelototi logika bahasa, struktur cerita, dan lebih utuh lagi: gagasan yang disampaikan penulis apakah solid atau lemah. Sementara editor mungkin saja melihat penulis sebagai primadona. Keduanya, bila sama-sama enggak rapi menanganinya, bisa meruncing jadi tekanan yang bikin frustrasi, dan gilirannya kemungkinan: 1. naskah bakal kelar lama; 2. mereka saling memendam rasa sengit; 3. ketidaksabaran menghancurkan orisinalitas; 4. kombinasi 2 dan 3 membuat kemungkinan ke-5: naskah akhir menjadi lebih buruk dari naskah awalnya.

(lebih…)

Rahasia Jurnalisme Data

“Media harus tampil ke depan sekarang ini, terpanggil, bikin data yang berguna tersaji ‘lebih dikenal’ dan tersedia bagi orang lain untuk dimanfaatkan lagi. Antarkan data supaya ia bernyawa, sebab kegelapan dan korupsi membunuh rakyat di tempat seperti kami.”

Hassel Fallas • ProPublica • 4 Nov 2013

djh_2
Ilustrasi diambil dari sini

 

SAYA MENGHABISKAN beberapa pekan terakhir di AS dalam program Douglas Tweedale Memorial Fellowship bersama International Center for Journalists, dan berbincang dengan sejumlah ruang redaksi Amerika soal pendekatan jurnalisme data. Saya bagi apa yang saya pelajari.

Langkah terbaik memulai jurnalisme data: kau hanya perlu memulainya. Ketika kau mengawalinya, kau jangan takut gagal. Setiap kesalahan bikin pengalaman dan pengetahuan kau bertambah, bagi perkembangan dirimu dan untuk meningkatkan kualitas jurnalisme yang kau praktikkan.

Mudah bagi kau berkata “aku tak pandai dalam matematika” dan memutuskan jurnalisme data bukanlah bidangku. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya juga tidak pandai dalam matematika sampai saya putuskan untuk merobohkan dinding mental itu, dan mendapati bahwa cara belajar terbaik dan termudah adalah mengaplikasikan teori ke dalam proyek nyata.

(lebih…)

Rumah Kertas, Carlos María Domínguez

MEMBACA Rumah Kertas adalah membayangkan kawasan Amerika Latin sebagai imajinasi politik, dan nilai penting novel ini terletak pada metafora yang kental dengan ironi. Sebagai pembaca manasuka atas karya pengarang dari Selatan, dan sumbangsihnya berkat karya-karya terjemahan Ronny Agustinus lewat penerbitnya (Marjin Kiri) maupun blognya (‘Sastra Alibi‘), Rumah Kertas adalah penjelajahan yang mempercakapkan buku dengan buku, suatu perjumpaan (antar-entitas bubur kayu lunak) yang menyiratkan apa yang ditulis pengarangnya sebagai usaha “… melacak peta sastra Amerika Latin dalam perjalanannya melalui Eropa,” namun akhirnya menemukan “ambisi yang tampak pretensius dibandingkan perjalanan yang ditempuh buku-buku itu sendiri.” Inilah, ujar si tokoh, “temuanku sekaligus kegagalanku.”

María Domínguez begitu percaya diri membangun sebuah kisah dalam novel tipis (hanya 76 halaman) lewat isyarat buku karangan Joseph Conrad, dan kalimat pembuka novelnya, tentang penggandrung buku yang tewas ditabrak di jalan raya karena sedang menyuntuki baris puisi dari penyair kesukaannya, memberi jalan lepas pada sebuah kisah detektif sekaligus bukan, justru karena kisahnya bukanlah pada kematian itu melainkan jalinan labirin mengenali posisi “sastra Amerika Latin di pentas dunia.” Rumah Kertas, selain menjelaskan visi pengarangnya, juga meladeni banyak gosip, pertemanan dan pertengkaran, cemooh dan kasih sayang, antara para pengarang dan karya-karyanya dan para pembaca. Sesekali ia juga mengomentari sifat despotik rezim diktator dan perubahan masyarakat yang memperlakukan ponsel dan gawai sebagai “wabah kelisanan”, termasuk para penulis yang lebih gemar berpolemik sebagai “medan tempur riuh rendah” alih-alih mempercakapkan pengalaman menulis itu sendiri (Ya, anda menemukan hal sama seperti ini di Indonesia).

Bagian yang paling bikin saya terhenyak adalah ketika si tokoh mendatangi sebuah pondok tempat si biliofil gila itu, yang dibangun oleh tumpukan ribuan buku, di “tempat yang terlupa, di ujung dunia” yang melumatkan “hubungannya yang akrab dengan aspek-aspek paling pelik dari buku-buku telah berakhir dengan terdampar di pantai sepi terpencil.” Itu saat si tokoh mencari-cari apa yang sebetulnya tak terpahami, gambaran yang hanya bisa ia duga-duga bila bukan kesia-siaan, dari sisa-sisa reruntuk pondok itu bersama halaman-halaman buku yang rompal dan jasad karya-karya para raksasa yang telah memancarkan pengaruh dan meliputi kesusasteraan Amerika Latin. Saya membacanya sebagai metafora—ia adalah atlas bagi para pengarang sebagai navigasi membangun jalan karyanya sendiri setelah betapa menawan dan beringas sekaligus rapuhnya warisan-warisan karya para pengarang terkenal sebelum mereka. Barangkali juga sepenuhnya bukanlah metafora, tetapi María Domínguez menghamparkan pembaca pada prakonsepsi sewaktu si tokoh sesaat “membayangkan akan menemukan edisi pertama Alt, satu lagi Darío, dalam kondisi prima, … tapi yang tercerabut malah bata mustahil kerangka García Márquez, bubur lengket yang dulunya Lope de Vega, sampul kaku Balzac.” (Gambaran ini seketika membuat saya berpikir: Kau takkan mungkin menyamai Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tetapi kau bisa hanya bila kau serius mendalami dan mengambil gagasan dalam novel-novelnya dan, bersama pengaruh-pengaruh lain, kau mengaduknya dalam sebuah karya yang sepenuhnya milik kau; tetapi, di saat bersamaan atau nantinya, dalam hukum waktu yang menggilas, mayoritas dari kita makin menjauh dari karya-karya Pram, sebagaimana kita sama sekali tak membaca karya Balzac, Borges, Lorca, atau lainnya.)

Saya membaca Rumah Kertas dengan rasa ngeri, betapa pun buku ini mengisahkan kegilaan seorang bibliofil. Satu kalimat yang terus menghantui saya: “Dipaksa memilih antara buku dengan hidup itu sendiri, orang-orang memilih menjadi algojonya.”

Ya, kita semua lahir, dan tumbuh, dari negeri yang mengagungkan penjagal!*

Sisi Gelap Jurnalisme ‘Longform’

Literary Hub • 16 Juni 2016
“Ada perbedaan nyata antara menginginkan cepat sampai ke kampung atau rumahsakit tempat orang-orang sekarat menghadapi ajal mengerikan, dan menginginkan orang sekarat jelang mati terserah di kampung atau rumahsakit mana saja yang nanti saya datangi.”

Oleh Luke Mogelson

PADA MUSIM SEMI 2013, saya berada di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, selama sebulan untuk meliput aksi protes yang lantas jadi pemberontakan sampai kemudian menyulut perang. Saat itu Aleppo terbelah menjadi dua kubu, satu oleh kaum pemberontak, satunya oleh pasukan rezim. Kehidupan di kubu pemberontak—satu-satunya yang bisa saya akses—dirundung bahaya dan sengsara. Nyaris saban hari jet-jet tempur dan mortir dan misil rezim secara acak membumihanguskan target sipil: rumah, pasar, rumahsakit, dan sekolah. Meski begitu, banyak penduduk dari kubu pemberontak terus melakukan aktivitas bepergian ke kubu rezim guna bekerja dan mengunjungi kerabat. Untuk mencapai pos pemeriksaan menentukan, orang-orang ini melintasi sebuah kawasan tak bertuan yang memudahkan mereka jadi buruan tanpa henti dari para sniper rezim seakan latihan menembak saja. Di antara mereka yang berhasil melewati pos pemeriksaan akan bernasib ditangkap, disiksa, dan dieksekusi oleh para agen dari bermacam pasukan keamanan rezim. 

Ada sebatang sungai yang melewati Aleppo dari kedua kubu itu, dan kadangkala mayat-mayat dibuang ke sana, mengapung dari wilayah yang dikuasai kubu rezim sampai ke kubu pemberontak. Mereka yang kehilangan orang yang dicintainya akan berkerumun di tepi sungai, di balik bayangan sebuah jembatan yang menghalangi garis pandang para penembak jitu. Mereka akan menatap air sungai yang keruh. Mereka akan menatap, dan mereka akan menunggu. Selama beberapa minggu, bersama penerjemah dan fotografer, saya mengunjungi jembatan itu setiap hari, saat airnya pasang dan arusnya kuat. Saya ingin mengajak bicara dengan orang yang menanti-nanti tubuh jenazah sanak-keluarganya—tapi juga, lebih dari itu, saya ingin ada di sana, dengan mereka, saat seorang mayat tiba. Berbeda dengan wartawan yang menuliskan kembali adegan-adegan kejadian yang lewat, melalui wawancara, saya ingin melakukan yang terbaik dengan mengamatinya dari dekat. Demi sejumlah alasan: detail mengerikan dan nyata, runtutan seketika yang menggoncang, humor terlupakan—perihal yang menghidupi jenis nonfiksi yang paling saya nikmati saat membacanya, dan karenanya nonfiksi macam itu yang hendak saya tulis.

(lebih…)